Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Tamu Tidak Diundang


__ADS_3

"Kamu sudah selesai?"


Jay yang mendengar suara langkah kaki menoleh. Di sana, tampak sosok Ark yang berjalan dengan ekspresi tenang. Meski pakaiannya tampak compang-camping, tubuhnya benar-benar tampak baik.


Tampak lebih tampan daripada sebelumnya!


Ark terkejut ketika melihat Jay berada di lantai tiga. Orang itu benar-benar telah memanen daging dari para zombie dari lantai pertama sampai ke tiga tanpa dia suruh. Sebuah pemandangan aneh yang membingungkan.


"Sungguh ... aku benar-benar penasaran dan ingin melihat siapa yang bisa membuatmu menjatuhkan dua katana, bahkan sampai membuatmu babak belur.


Omong-omong, aku sudah mengambil kembali katana milikmu. Sedangkan soal zombie besar itu ..."


Jay mengacak-acak rambutnya sendiri dengan ekspresi tertekan.


"Tampaknya Miracle Root yang aku dapatkan benar-benar sia-sia!!! Makhluk itu terus beregenerasi dan sangat sulit dibunuh!


Seandainya saja aku mendapatkan kemampuan makhluk itu!"


Melihat ke arah Jay yang tertekan, Ark menghiburnya.


"Biarkan saja. Lebih baik jika kita mencari Miracle Root dari makhluk selain zombie setelah evolusi ke-2."


"Hah?! Maksudmu ... ada makhluk lain selain zombie yang selamat?"


"Seharusnya banyak makhluk lain, seperti beberapa binatang yang bermutasi."


"Apakah itu aman?!"


"Siapa tahu jika kita tidak mencobanya?"


"Ugh! Kenapa kamu suka mencoba-coba hal aneh?! Bagaimana kalau suatu hari kita mati karena percobaan aneh yang kita lakukan?"


"Itu berarti kita kurang beruntung."


"..."


Melihat ke arah sahabatnya, Ark tersenyum. Dia sekarang merasakannya. Meski telah kehilangan beberapa orang yang berharga dalam hidupnya, masih banyak orang yang masih hidup dan bisa dia selamatkan. Seperti sahabatnya yang kurang pintar dan tidak kompeten.


"Omong-omong ... makhluk dengan regenerasi super, kah?"


Ark bergumam. Mendengar ucapan Jay membuatnya mengingat beberapa makhluk yang memiliki kemampuan itu. Bahkan, dia mengingat kalau ada makhluk yang bahkan bisa segera menumbuhkan anggota tubuhnya ketika dipotong. Tentu saja, makhluk semacam itu tidak akan muncul pada tahap awal penggabungan dunia.


"Hey! Apa yang sedang kamu lamunkan, Ark?"


"Bukan apa-apa."


Melihat ke arah Ark yang tampak mencurigakan, Jay tidak bisa tidak merasa penasaran. Seolah-olah tersengat listrik, pemuda itu tiba-tiba terkejut dan berseru.


"Kamu pasti sedang memikirkan Stacy!"


"Hah?!"


Ark memandang Jay dengan ekspresi aneh di wajahnya.

__ADS_1


"Jangan pikir kamu bisa membodohi aku, Ark. Aku melihatnya dengan kedua mataku sendiri! Kalian berdua berpelukan di ruang santai!


Kamu bilang perempuan hanya akan memperlambat perkembangan kita! Hanya buang-buang tenaga! Namun nyatanya ...


Kamu benar-benar malah asyik bersama dengan Stacy! Dasar pengkhianat!"


"..."


Ark tercengang. Melihat ke arah Jay yang merasa depresi karena kehilangan Miracle Root dan tidak bisa mendapatkan wanita, pemuda itu akhirnya tertawa.


"Apanya yang lucu?!"


"Tidak. Maksudku ... Aku benar-benar tidak memiliki hubungan lebih dari "guru dan murid" dengan Stacy. Bahkan, jika aku memang menginginkan wanita ..." Ark mengangkat bahu dengan ekspresi tak acuh di wajahnya. "Hal tersebut tidak akan terlalu berpengaruh. Lagipula, aku bukan amatir yang baru beberapa hari memegang pedang."


"Hey! Itu curang!!!"


Menyadari bahwa sahabatnya benar-benar menggunakan titik lemahnya untuk lari dari peraturan yang mereka buat, Jay merasa semakin tertekan.


"Sudahlah." Ark yang telah mengemasi barang-barang miliknya menatap ke arah Jay. "Mari kita kumpulkan semua mayat zombie dan kuburkan di satu tempat."


"Hah?! Haruskah kita melakukannya?


Maksudku, ini bukan perumahan kita tinggal. Baunya tidak akan mengganggu. Lagipula, biasanya kita tidak melakukan hal-hal ini, kan?"


"Ini untuk jaga-jaga."


Meski tidak tahu dan tidak melakukannya di awal, Ark merasa kalau menghabisi zombie di tahap awal secara besar-besaran mungkin akan membawa efek lain. Apa yang dia takutkan adalah, apa yang dia lakukan malah akan membawa perubahan besar yang justru akan membuat situasi berbahaya.


"Baiklah. Lagipula, kamu ketuanya."


"Apakah ada yang salah?"


"Tidak." Ark menggelengkan kepalanya.


"Omong-omong ... kita pergi cukup lama. Apakah kamu tidak khawatir dengan keadaan dua orang itu?"


"Hm?" Ark mengangkat alisnya. "Tidak juga."


"Kenapa?!"


"Setelah menyingkirkan semua ini, kita akan mencari beberapa tanaman di taman belakang. Seharusnya ada beberapa hal yang bisa kita bawa kembali."


Melihat ke arah Ark yang mengalihkan pembicaraan, Jay tercengang. Menghela napas tanpa daya, pemuda itu menjawab.


"Aku mengerti."


***


Sementara itu, dalam sebuah toserba yang terbengkalai.


"Hujan telah reda."


Melihat ke hujan yang reda di luar toserba, Darin berkata dengan ekspresi tenang. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Stacy yang duduk santai sambil menatap langit kelabu dengan kedua kaki berayun ringan. Tampaknya bosan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padamu selama tiga hari ini, Stacy? Sejak kapan kamu begitu akrab dengan Kak Ark."


"Jangan berbicara padaku seolah-olah kita akrab, Cupu."


Stacy menjawab tanpa menoleh. Masih menatap ke langit suram, gadis itu akhirnya menghela napas.


"Ini sangat membosankan sekaligus menyebalkan. Jika seperti ini, aku tidak akan segera bertemu dengan Tuan. Apakah hujan ini berbahaya?


Tuan mengkhawatirkan keselamatanku, jadi aku tidak boleh ceroboh. Aku tidak boleh merepotkan dia."


Stacy bergumam sendiri. Karena ruangan agak sempit dan sunyi, Darin juga mendengarnya. Hanya saja, selain penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi, dia masih diam dan tidak berani banyak bicara karena Stacy telah memperingatkan dirinya.


Melihat ke arah pedang yang ada di pinggang Stacy, pemuda tersebut tahu bahwa item itu asli. Sama sekali bukan mainan yang dibawa untuk mengecoh lawan.


"Hey, Darin?"


"Apa?"


Darin terkejut karena Stacy tiba-tiba mengajaknya berbicara.


"Apakah Juana benar-benar meninggalkan kamu dan memilih sepupunya? Sama sekali tidak memikirkan perasaanmu?"


"Itu ..."


Darin memegang lengannya yang lumpuh. Mengingat Juana yang pergi meninggalkan dirinya sendiri, dadanya terasa agak sesak. Pemuda itu memelototi Stacy dengan ekspresi marah.


"Apakah kamu juga ingin mengejek kebodohanku?! Kamu pasti menganggapku gila, kan?!"


"Tidak juga."


Mendengar jawaban sembrono itu, Darin menatap ke arah sahabat gadis yang dia suka. Kali ini, pemuda tersebut benar-benar tidak tahu apa yang Stacy pikirkan. Gadis itu menjadi agak aneh sejak kembali bersama dengan Ark dan Jay.


"Apakah Juana menganggap Tuan pembohong? Berpikir kalau Tuan dan Jay hanya main-main dengan hidupnya?"


"..."


Darin diam sejenak. Setelah beberapa saat, pemuda itu akhirnya menghela napas panjang. Benar-benar merasa agak tertekan ketika menjawab.


"Seperti yang kamu lihat ... begitulah kenyataannya."


"Oh." Stacy kembali menjawab dengan nada santai. "Jadi begitu."


"Ada apa?"


Darin mengangkat alisnya. Benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya Stacy inginkan.


"Bukan apa-apa."


Stacy berkata dengan nada santai. Dia kemudian turun dari meja tempatnya duduk. Memiringkan kepalanya, dia menatap ke kejauhan.


Mendengar beberapa langkah kaki dari kejauhan, gadis itu menoleh ke arah Darin. Memiliki senyum main-main di wajahnya, dia berkata.


"Tampaknya ada tamu untukmu, Darin."

__ADS_1


Mendengar ucapan Stacy, ekspresi Darin tiba-tiba berubah menjadi jelek.


>> Bersambung.


__ADS_2