
Tiga hari kemudian, di markas Silver Cross.
Sosok Ark datang bersama Finn, Huginn, dan Muninn. Dia hanya membawa hewan peliharaannya karena tidak ingin mengganggu aktivitas anggota lain yang sudah terjadwal hanya untuk beberapa masalah yang bisa ditanganinya sendiri. Selain itu, pemuda tersebut juga ingin melihat bagaimana markas Silver Cross yang sekarang.
“Memang, mereka juga tidak akan berjalan di tempat.”
Melihat tempat perlindungan yang tampaknya lebih aman dengan pagar pembatas, menara pengawas, dan banyak hal lainnya ... Ark tersenyum. Meski tidak melakukan sesuatu yang besar seperti Sword of Sufferings, tetapi mereka jelas sangat berkembang. Bagi pemuda itu, mereka luar biasa karena tidak seperti dirinya yang mengulang semuanya.
Meski di kehidupan sebelumnya Ark luar biasa, tetapi pada awalnya, dia hanya ahli dalam membunuh dan bertahan hidup. Baru bertahun-tahun lamanya ketika populasi manusia menipis, dia baru mulai mempelajari banyak hal. Setelah akumulasi bertahun-tahun, barulah dia menjadi serba bisa.
Ark menggelengkan kepalanya. Melihat kekompakan Silver Cross dimana mereka bisa membagi semuanya sesuai keahlian dan berjalan sejauh ini, dia mengangguk puas.
“Sudah lama tidak bertemu dengan anda, Tuan Hades.”
Mendengar itu, Ark yang beru saja turun dari punggung Finn menoleh. Di kejauhan, tampak sosok Siegfried yang mengangguk ke arahnya. Melihat ekspresinya yang begitu tenang dan jauh lebih dewasa, pemuda itu berkata.
“Sudah lama, Siegfried. Tampaknya kamu sudah berkembang jauh.”
“Masih belum seberapa,” balas Siegfried tanpa kesombongan atau rendah hati.
Melihat Siegfried yang telah berada di puncak level 2 bahkan tanpa bergabung dengan Sword of Sufferings, Ark menghela napas dalam hati. Jika bukan karena rasa hormat Siegfried kepada atasannya yang begitu tulus, dia ingin merekrutnya ke Sword of Sufferings.
Dengan bakat Siegfried, Ark yakin kalau orang itu bisa menjadi salah satu pilar Sword of Sufferings. Jelas, bakatnya setidaknya sama dengan Saito yang sekarang lepas landas menyusul dan melewati banyak orang lainnya.
“Apakah orang itu tidak datang?”
“Biarkan beliau tinggal di rumah. Bepergian dalam cuaca seperti ini jelas tidak cocok dengan kondisi tubuhnya.”
“Bagaimana kalau langsung menemui Julian?”
“Baik.” Siegfried mengangguk.
Berbeda dengan Ark yang datang sendiri, Siegfried datang dengan bawahannya. Bahkan jika dua kelompok sudah beraliansi dan tinggal berdekatan. Anggota Silver Cross dan Black Panther jelas memiliki kebiasaan untuk berhati-hati.
__ADS_1
Lagipula, membawa sesuatu (perasaan) terlalu dalam bisa saja berakibat lebih fatal dan menyakitkan jika suatu hal buruk terjadi.
Setelah menyuruh bawahannya untuk menunggu di tempat penerimaan tamu, Siegfried pun ikut masuk ke dalam gedung bersama dengan Ark. Tentu saja, Ark juga meninggalkan Finn, Huginn, dan Muninn agar mereka menunggu di gedung luar markas Silver Cross. Biarkan ketiga hewan peliharaannya bersantai dan bermalas-malasan.
Dengan begitu, Ark dan Siegfried akhirnya masuk ke dalam markas Silver Cross.
***
Sekitar setengah jam kemudian, di ruang kecil yang bersih dan rapi.
Tiga orang duduk di kursi masing-masing mengeliling sebuah meja bundar yang tidak terlalu besar. Ark bersandar, memejamkan mata dengan santai. Siegfried terus memandangan Julian dengan ekspresi serius. Tampaknya menunggu pria itu mengatakan sesuatu terlebih dahulu.
Setelah beberapa saat, teh panas disajikan, dan Julian akhirnya berbicara.
“Hey, tidak bisakah situasinya menjadi lebih hangat? Kita berada dalam aliansi, ok? Jika orang melihat, mereka mungkin berpikir kalau tiga kelompok kita bermusuhan.”
Julian tidak bisa tidak menghela napas dalam hati. Biasanya dia cukup pendiam, tetapi masih agak ramah. Namun dihadapkan dengan dua patung es di depannya, pria itu merasa dirinya tidak ada apa-apanya.
Ark hanya mengatakan sesuatu ketika penting, atau merasa ada sesuatu yang menarik. Dia mungkin paling berbicara ketika menjelaskan sesuatu atau memberi nasihat. Sedangkan Siegfried, semakin lama, tampaknya pemuda itu lebih menghargai kata-kata seperti emas. Sama sekali tidak banyak berbicara dalam menghadapi banyak hal. Lebih banyak mendengarkan, memikirkan, lalu memberi pendapat apakah kelompoknya setuju atau tidak.
Hal semacam itu pernah terjadi, kan?”
Ark masih memejamkan mata. Pemuda itu berkata dengan nada tak acuh. Kecuali di depan keluarganya (Sword of Sufferings), biasanya dia lebih dingin ketika menghadapi orang lain. Meski Julian dan Siegfried cukup akrab dengannya, Ark jelas menganggap mereka sebagai orang luar.
“Ini berbeda dengan biasanya, Ark. Tindakan para zombie sangat berbeda dengan biasanya. Mereka menjadi lebih ganas, tampaknya menggila. Namun ada yang lebih aneh.
Entah kenapa, aku merasa seperti ada yang mengendalikan dan mengarahkan mereka. Lagipula, pola zombie menyerang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Mereka lebih teratur, datang dan pergi dengan jumlah tertentu. Tidak mudah ditipu sepertia sebelumnya.”
Julian langsung berbicara dengan ekspresi serius. Mendengar itu, ekspresi Siegfried juga berubah. Dia tahu, meski kelompok mereka bisa dibilang kelompok tingkat tinggi dibandingkan kelompok di luar sana. Namun, jika melawan pasukan zombie level 2 yang terarah ... mereka jelas masih sangat kerepotan dan dalam bahaya.
“Apakah itu nyata?” tanya Siegfried dengan ekspresi serius.
“Jika tidak, kenapa aku harus repot-repot mengajak kalian berdiskusi di depat ini? Apakah kamu pikir aku begitu menganggur sehingga bisa menghabiskan waktu dengan kalian. Maaf, pekerjaan kami masih sangat menumpuk dan musim dingin membuat mereka (tugas-tugas) semakin berantakan.”
__ADS_1
“Lalu, apa yang kamu inginkan, Julian? Membuat aliansi untuk misi pemusnahan seperti biasa, kan?” tanya Ark.
“YA!”
Julian mengangguk dengan ekspresi tegas. Meski dibilang aliansi, dua kelompok lain sebenarnya tahu kalau yang paling berperan adalah Sword of Sufferings. Mereka sebenarnya malu, tetapi hanya bisa menelan semuanya rasa malu dalam diam.
“Selain itu, aku memiliki permintaan penting untukmu, Ark. Ini masalah nyawa banyak orang, jadi tolong kamu pertimbangkan baik-baik.”
Julian menatap ke arah Ark dengan ekspresi tulus. Jelas, dia berharap kalau pemuda itu bisa membantunya. Lagipula, pria tersebut tidak berbohong, semuanya menyangkut nyawa banyak orang.
“Aku minta tolong agar kamu-“
“Aku menolak.”
Sebelum Julian berbicara, Ark langsung membalasnya dengan ekspresi tak acuh. Dia kemudian melirik ke arah Julian dan Siegfried.
“Kamu ingin aku menampung rakyat untuk sementara waktu, kan? Hal semacam itu tidak bisa dilakukan. Aku sama sekali tidak mau. Bahkan jika kalian memohon, aku tetap akan menolak.
Jadi tolong ingatkan orang-orang, rakyat di bawah pemerintahan kalian, jangan berani-berani mencoba mendekati markas utama Sword of Sufferings. Jika tidak ...”
Ark menatap ke arah kedua orang dengan mata merah yang berkilat dingin.
“Aku tidak akan ragu untuk meluncurkan misi eksekusi besar-besaran. Biarkan mereka mati di bawah Sword of Sufferings alih-alih mati di tangan zombie.”
“Kamu-“
“Diam, Julian. Musim identik dengan kekacauan, jadi aku tidak begitu terkejut. Selain itu, aku ingin orang-orang manja itu melindungi diri mereka sendiri tanpa harus mengemis, memohon, dan memarahi orang lain karena tidak mau membantu mereka. Biarkan mereka tahu, orang yang bisa egois bukan saja mereka.
Setiap prajurit memiliki nyawa mereka sendiri. Mempertaruhkan nyawa untuk rakyat? Maaf, mereka bukan rakyatku. Kenapa aku harus repot-repot untuk melindungi orang-orang bodoh itu dan membahayakan keluargaku sendiri? Jujur saja ...
Itu tidak layak.”
Mendengar ucapan Ark, Siegfried dan Julian langsung terdiam di tempat mereka.
__ADS_1
>> Bersambung.