
Sore harinya, di markas cabang Sword of Sufferings.
“Jadi … kamu datang kepadaku karena merasakan keraguan itu?”
Duduk di kursi ketua, Ark memandangan ke arah Draco yang berlutut di lantai. Selain dia, ada lima orang lain dalam ruangan itu. Mereka adalah Stacy, Kurona, Shirona, Saito, dan Leon.
“Daripada orang yang memiliki keraguan dalam menjalankan tugas ini, seharusnya anda membawa saya dan meninggalkan orang ini untuk menjaga barang bawaan kita, Tuan.”
Suara Stacy terdengar. Dia menatap ke arah Draco dengan ekspresi jijik. Jelas merasa tidak puas karena orang itu mempertanyakan keputusan Ark.
“Apakah kamu ingin menantang keputusan Ketua, Stacy?”
Saat itu, suara Saito terdengar. Pria itu duduk di kursinya sambil memangku katana dan memejamkan mata. Dikarenakan kekuatannya saat ini, dia sama sekali tidak keberatan untuk membuat beberapa suara selama merasa kalau hal tersebut harus dilakukan.
“Tentu saja tidak! Hanya saja, dibandingkan orang yang ragu-ragu ini, aku-“
“Sudah cukup, Stacy. Aku mengerti maksudmu. Kamu boleh duduk di tempatmu dengan tenang.”
Mendengar ucapan Ark, Stacy memilih diam dan duduk di tempatnya dengan tenang. Dia kemudian menopang dagu, melihat ke arah Draco dan berpikir apa yang akan dilakukan Ark untuk berurusan dengan pria itu.
“Bisa dibilang, ini adalah keberuntunganmu karena menemui gadis kecil itu, Draco.”
Perkataan Ark jelas membuat Draco bingung. Bahkan kecuali Leon, sisanya sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Ark.
“Berbeda dengan orang lain, pada saat menyerap miracle root pertama, Draco hampir gagal karena terbawa oleh niat membunuhnya yang kuat. Perasaan ingin balas dendam kepada Viper dan kebenciaannya kepada kelemahannya sendiri.”
Suara Leon terdengar. Alih-alih terdengan sembrono seperti biasa, sekarang dia tampak lebih tenang dan dewasa. Saat itu juga, semua orang langsung menatap ke arah Draco dengan ekspresi terkejut.
“Aku tidak keberatan menerima mesin pembunuh yang sama sekali tidak memiliki perasaan. Selama aku bisa mengendalikannya, itu tidak akan menjadi masalah. Namun … Aku lebih suka memiliki orang yang meski patuh, tetapi juga memiliki pemikiran sendiri. Masih memiliki perasaan seperti senang, sedih, marah, takut, dan sesuatu semacam itu.” Ark menatap ke arah Draco lalu memanggil. “Draco?”
“Iya, Ketua?”
“Jaga perasaan itu. Meski membuatmu ketakutan dan merasa tidak nyaman, mungkin perasaan tersebut yang akan terus membuatmu menjadi manusia dan tidak kehilangan kewarasanmu.”
__ADS_1
“Dimengerti!” ucap Draco tulus. Setelah beberapa keraguan, dia bertanya, “Apakah saya boleh meminta sesuatu, Ketua?”
“Katakan.”
Draco mendongak, menatap langsung ke arah Ark. Pada saat tatapan mereka bertemu, dia kemudian berkata.
“Jika suatu hari saya kehilangan kewarasan dan menjadi binatang buas yang menyakiti rekan-rekan kita … saya ingin anda yang menghabisi nyawa saya, Ketua.”
Melihat ekspresi tulus di wajah Draco, Ark mengangguk lembut.
“Kalau begitu aku akan melakukannya jika hal semacam itu terjadi.”
Setelah mengatakan itu, Ark melihat orang-orang dalam ruangan. Pada saat mereka semua melihat ke arahnya, pemuda itu kemudian mulai berbicara.
“Di dunia gila ini, apa yang kita lakukan tidak benar, tetapi juga tidak salah. Kita hanya maju dengan kepercayaan yang kita pegang. Apa yang harus kita perbuat adalah melakukannya tanpa memikirkan banyak hal lainnya.
Yakini saja tekad yang ada dalam hati kalian. Hanya itu.”
“Dimengerti!” ucap mereka serempak.
Melihat ke arah orang-orang yang meninggalkan ruangan, Ark menghela napas ringan. Melihat langit senja di luar jendela, pemuda itu tampak tenang. Tidak ada banyak perubahan dalam ekspresinya, dan tidak ada yang tahu dia sedang memikirkan apa.
***
Dua hari berlalu begitu saja.
Orang-orang di seluruh kota terkejut ketika mendengar berita kalau separuh anggota Emerald Goshawk terbunuh. Pada saat mengetahui kalau yang melakukannya adalah Sword of Sufferings, mereka semua terkejut. Namun, banyak di antara mereka yang merasa marah karena kejadian tersebut.
Mereka tidak tahu bagaimana Sword of Sufferings muncul. Mereka hanya tahu pada saat mereka muncul, kota yang damai kembali kacau. Bukan hanya itu, mereka marah karena tindakan Sword of Sufferings yang begitu kejam. Muncul lalu membunuh ratusan orang dalam waktu yang begitu singkat.
Sementara itu, di pusat kota, dalam markas kelompok terkuat di kota ini, Golden Crown.
Dalam sebuah ruang tamu yang luas, tampak beberapa orang duduk di sofa. Terpisah oleh sebuah meja panjang, mereka jelas dari dua kubu berbeda.
__ADS_1
Salah satunya memiliki penampilan yang agak buruk. Meski mereka memakai pakaian yang relatif baik, tetapi mereka tampak lebih kotor dan agak kurus. Sementara di sisi lain, mereka juga memakai pakaian lebih rapi, tetapi tubuh mereka sedikit lebih terawat dan ekspresi mereka juga lebih santai.
Yang pertama adalah orang-orang dari kelompok Golden Crown, sedangkan yang terakhir dari kelompok lain.
“Maksudmu … orang-orang dari Sword of Sufferings itu benar-benar berasal dari luar kota?”
Salah satu tetua dari Golden Crown memiliki ekspresi serius di wajahnya. Dia bertanya dengan ekspresi tidak percaya. Merasa sulit untuk mempercayai kalau ada begitu banyak orang kuat di luar sana.
“Jika tidak? Apakah kamu pikir kelompok sekuat mereka akan bersembunyi begitu dalam di tempat ini sepanjang tahun alih-alih memilih untuk menaklukkan seluruh kota?
Sama seperti kelompok kami, mereka juga berasal dari kota lain.”
Sosok pemuda yang merupakan pemimpin dari kelompok satunya berkata dengan senyum di wajahnya.
“Maksudmu, mereka dari kota yang sama dengan kalian?”
“Tidak, tidak, tidak.” Pemuda itu menggelengkan kepala. “Berbeda dengan kota lain dimana ada lebih banyak kelompok, di kota kami, hanya ada satu penguasa mutlak … yaitu Crux of Shadow! Jangan samakan kami dengan orang-orang jahat dan gila itu.”
“…”
Melihat kalau orang-orang dari kelompok Golden Crown hanya diam, pemuda yang memimpin Crux of Shadow tersebut langsung berkata dengan ekspresi bangga.
“Berbeda dengan kelompok lain yang haus akan kekuasaan dan suka membunuh dengan gila, kami, Crux of Shadow adalah orang-orang yang akan membawa perdamaian ke seluruh dunia. Kami semua merangkul yang lemah dan membantu orang-orang menjadi lebih kuat.
Untuk apa? Tentu saja untuk kelangsungan hidup umat manusia! Lagipula, kami, Crux of Shadow adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Dewi Kegelapan. Sementara yang lain meninggalkan kita semua, Dewi Kegelapan mau merangkul kita. Memberi kekuatan untuk bertahan di dunia rusak dan kacau ini.
Itulah kenapa, sebagai salah satu dari Jenderal di bawah nama Crux of Shadow datang ke sini. Aku ingin merangkul orang-orang yang membutuhkan! Oh, Dewi Kegelapan yang agung! Sementara yang lain sudah melupakan manusia, hanya engkau …
Hanya engkau yang terus melindungi kita semua!”
Pria pirang itu berdiri sambil terus berbicara dengan ekspresi penuh pemujaan di wajahnya. Meski tampak gila, tetapi orang-orang dari Golden Crown sama sekali tidak berani menyela karena …
Mereka sudah melihat seberapa kuat Crux of Shadow itu!
__ADS_1
>> Bersambung.