Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Menggunakan Segala Cara


__ADS_3

Di pusat penelitian Sword of Sufferings.


"Sungguh, kenapa kamu harus membawa benda semacam itu? Bukankah kamu menyia-nyiakan bahan?"


Old Franky menatap ke arah Ark dengan ekspresi curiga. Meski dia sendiri tidak terlalu mementingkan bahan, tetapi pemuda di depannya jelas berbeda. Dia sangat berhati-hati dalam menggunakan bahan. Tidak melakukan hal-hal yang tidak diperlukan karena mengetahui betapa sulitnya mereka mencari bahan tersebut.


"Tentu saja ini memiliki kegunaan tersendiri." Ark berkata santai, sama sekali tidak berniat menjelaskan kepada Old Franky.


"Setidaknya katakan kenapa kamu begitu ceroboh. Kamu tidak benar-benar berniat untuk bunuh diri, kan?"


"Tentu saja tidak. Kemungkinan untuk selamat sekitar 50%, jadi sebaiknya kamu mendoakan keselamatanku, Pak Tua." Ark menyeringai.


"Bocah ini ..."


"Lupakan. Aku akan pergi ke lab, tolong jangan ganggu aku karena yang aku lakukan benar-benar berbahaya."


Ark langsung memberi Old Franky peringatan. Meski dia sendiri cukup yakin dengan kemampuannya, tetapi bahan yang dia miliki terlalu langka dan berharga. Jika sampai ada kesalahan, sudah terlambat untuk menyesal.


Persentase kemenangan melawan Raja Semut langsung turun di bawah 1%!


Hanya dengan melihat angka tersebut, sudah jelas betapa pentingnya bahan di tangan Ark. Pemuda itu kemudian pergi ke ruangan pribadi agar tidak ada yang mengganggu dirinya. Dia kemudian mengeluarkan tiga kotak kayu lalu meletakkannya di atas meja. Setelah membuka penutupnya, mata pemuda itu menyempit.


Di satu kotak, tampak tanaman yang sebelumnya adalah ginseng berusia 1000 tahun, tetapi penampilannya sekarang mirip dengan mandrake dalam mitologi.


Di kotak lain, tampak sebuah apel emas, buah yang ada di tengah taman kota. Ark mendapatkannya setelah mengalahkan ular putih bersama dengan Jay


Di kotak terakhir, tampak sebuah apel hitam yang tampak kusut. Tampak banyak pola seperti orang menjerit dan menangis. Ini adalah benda yang Ark dapatkan dalam misi pengepungan dan pembersihan para kanibal.


Ketiganya adalah bahan utama sebuah ramuan khusus. Sebuah ramuan yang tidak sengaja diciptakan seorang ilmuwan jenius, tetapi tidak seharusnya digunakan.


Ark menatap ke arah kotak itu dengan ekspresi serius. Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu langsung berubah menjadi lebih tenang. Tekad kuat tampak di matanya.


***


Keesokan harinya, Ark langsung berangkat ke garis depan bersama orang-orang yang akan mengikutinya dalam berperang melawan para semut bermutasi.


Memerlukan waktu cukup lama sampai akhirnya mereka tiba di tujuan.


Sesampainya di sana, Ark langsung disambut oleh ratusan orang. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang tidak bisa Isa bertarung. Namun mereka sangat membantu dalam menggali parit, membuat jebakan dan memasangnya.


Berbeda dengan parit pada umumnya. Apa yang mereka gali lebih lebar dan lebih dalam, cukup untuk mengubur semut pekerja tingkat dua. Di bawahnya diisi dengan banyak tombak. Bukan hanya satu, tetapi mereka membuat banyak galian seperti itu. Hal tersebut dilakukan untuk memperlambat serangan yang datang.


Sesampainya di lokasi, Ark langsung berkeliling untuk memeriksa jebakan. Dia sama sekali tidak berani ceroboh karena saat ini menyangkut lebih banyak nyawa manusia yang tidak bersalah.


Sebenarnya Ark juga ingin memasok Silver Cross dan Black Panther setelah rapat berikutnya. Namun, bukan hanya jumlah ramuan yang bisa diproduksi terbatas, waktu mereka juga tidak cukup. Para semut pasti akan menyerang sebelum mereka menembus batasan pertama.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu?"


Mendengar pertanyaan itu, Ark menoleh. Dia kemudian melihat sosok Julian yang datang sendirian.


"Kamu datang ke garis depan? Bagaimana dengan markas? Apakah kamu benar-benar memilih untuk meninggalkannya?"


"Masih ada Berto di sana. Semuanya hampir selesai, setelah orang-orang dikirim ke pinggiran kota di arah berlawanan, semua orang akan maju ke barisan depan." Julian berkata dengan senyum santai di wajahnya.


"Apakah kalian tidak berpikir kalau mungkin para semut tidak akan datang? Mungkin saja aku berbohong dan sebenarnya telah membunuh mereka?"


Ark mengangkat bahu, berkata dengan nada datar seperti biasanya.


"Kamu tidak akan melakukan hal-hal tidak berguna dan membuang waktu seperti itu, Ark."


Julian menggelengkan kepalanya. Jelas tidak setuju dengan beberapa pemikiran sederhana seperti itu.


"Lalu menurutmu kenapa mereka belum datang?" tanya Ark datar.


"Seharusnya mempersiapkan diri." Julian berkata dengan nada ragu.


"Ya. Mereka seharusnya mempersiapkan diri, menambah jumlah sebelum menyerangnya kita. Jadi jika tebakanku tidak salah, mereka pasti saat ini telah menyerang kota terdekat. Kota yang jaraknya dari sarang tidak begitu jauh dari kita.


Mungkin sedikit memalukan mengatakan ini, tetapi kita memang cukup beruntung karena memiliki sedikit tambahan waktu untuk bersiap."


"Tetapi kota lain pasti dalam bencana, Ark." Julian langsung mengerutkan kening ketika mendengar ucapan Ark.


"Bagaimana jika mereka menghancurkan kota itu sebelum pergi ke kota ini? Bukankah saat itu kita akan kewalahan?"


"Mereka tidak akan melakukannya."


"Kenapa kamu bisa yakin?"


"Tidak ada alasan. Aku hanya percaya kalau mereka tidak akan melakukan hal semacam itu."


Ark berkata dengan nada tak acuh. Ucapannya jelas penuh celah, tetapi Julian tidak lagi menanyakannya. Dia hanya menganggap kalau Ark sengaja membuang kemungkinan tersebut agar tidak membuat panik orang-orang.


Sedangkan Ark sendiri punya alasan kuat.


Pertama, sama seperti posisi manusia, para semut yang cukup cerdas takut kalau manusia berkembang lebih cepat, jadi mereka ingin memusnahkan kota tempat Ark berada.


Ke dua, para semut tidak pergi ke kota tempat Ark berada untuk mengumpulkan bahan karena mereka tahu kalau akan banyak korban yang akan berjatuhan. Sama sekali tidak sepadan, jadi memilih untuk mencoba untuk mencari kota terdekat lainnya.


Ke tiga, Raja Semut belum terlalu dewasa, jadi dia tidak akan menyadari betapa lemahnya umat manusia sekarang. Dia menganggap manusia sebagai ancaman, jadi makhluk itu juga mempersiapkan diri untuk melakukan pemusnahan. Belum lagi, Ark sangat mengenal sikap kejam, ganas, dan tidak ingin kalah dari Raja Semut.


Makhluk itu pasti sudah tidak sabar karena terlalu lama menahan diri! Ingin segera menyerang dan memusnahkan Ark beserta rekan-rekannya.

__ADS_1


Mengingat luka yang diterima Raja Semut, Ark menjadi sedikit lebih rileks. Meski kekuatan, pertahanan, dan kecepatan makhluk itu sangat luar biasa. Untung saja kemampuan regenerasinya masih berada pada kisaran normal, tidak begitu berlebihan.


Apa yang membuat Ark menjadi sakit kepala adalah kemampuan Raja Semut dalam menyerap bebatuan dan merubah bentuk tubuhnya. Setelah dia memakan bebatuan tertentu, pertahanannya akan meningkat dan semakin meningkat. Di tahap akhir dimana Raja Semut telah menjadi sangat cerdas dan mampu berpikir menyaingi kejeniusan manusia, dia mengumpulkan berlian dari tempat yang dia taklukkan.


Bayangkan saja, sosok ramping yang melesat lebih cepat daripada peluru sniper, pertahanan lebih kuat daripada berlian, bahkan memiliki beberapa kali kepadatan dibandingkan berlian. Ditambah dengan pukulan yang bisa menghancurkan rumah dan serangan ganas yang bisa merobohkan gedung ... Raja Semut bisa dibilang sebagai makhluk yang membawa kehancuran dan keputusasaan.


Itulah kenapa Ark sama sekali tidak mengizinkan dia dewasa!


Karena selain kemampuan inti tersebut, makhluk itu akan memiliki kemampuan lain. Bukan regenerasi, tetapi sesuatu yang bahkan lebih mengerikan dibandingkan hal tersebut!


"Hey, Ark!"


"En? Ada apa?"


Panggilan Julian menyadarkan Ark dari lamunannya. Dia bertanya dengan ekspresi datar di wajahnya.


"Sebenarnya aku ingin mengatakan ini sejak lama, tapi—"


"Hentikan. Aku tidak menerima pengakuan, apalagi dari laki-laki. Aku seratus persen normal."


Ark langsung menyela Julian. Pria itu langsung tertegun ketika mendengar ucapan Ark.


"Siapa yang ingin mengaku padamu, K-parat!"


"Lalu berhenti bersikap malu-malu dan katakan saja. Jujur saja, itu sama sekali tidak manis, malah menjijikkan!"


"..."


Sudut bibir Julian berkedut keras. Dia tidak menyangka masih menerima kata-kata tajam dari pemuda menyebalkan di depannya. Menarik napas dalam-dalam, Julian kemudian berkata dengan tegas.


"Aku membencimu sejak kita pertama bertemu. Kamu adalah orang paling kejam yang pernah aku temui dalam hidup ini. Kamu tampaknya tidak pernah menganggap hidup orang sebagai sesuatu yang penting.


Sebaliknya, kamu malah memperlakukan kehidupan seperti komoditas yang bisa digunakan kapan saja ketika kamu membutuhkannya. Namun, entah bagaimana, ada juga bagian dari dirimu yang membuatku merasa harus menghormatimu.


Di satu sisi, aku benar-benar tidak menyukai sikap kejam itu. Sedangkan di sisi lain, aku bersyukur karena telah mengenalmu.


Tanpa bantuanmu, mungkin aku tidak bisa sampai di sini.


Terima kasih, Ark!"


Julian membungkuk dan berkata dengan nada tulus.


"Ya ... Senang akhirnya kamu sadar kalau kamu tidak ada apa-apanya tanpa bantuanku."


Jawaban datar Ark langsung membuat Julian naik darah, benar-benar ingin muntah darah karena marah. Dia hanya menatap ke arah pemuda itu dengan kejam, tanpa menyadari bahwa ...

__ADS_1


Sebenarnya Ark tersenyum di balik topengnya.


>> Bersambung.


__ADS_2