Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Pilihan Tanpa Jalan Kembali


__ADS_3

Bayangan hitam berputar di udara lalu jatuh menusuk tanah tepat di depan Saito.


Saito dan Nami melihat sebuah pedang yang menancap tepat di depan mereka. Pedang itu tampak cukup sederhana, tetapi cukup halus dan elegan. Bukan hanya menampakkan keindahan, tetapi juga memberi perasaan mengerikan. Jelas ... pedang ini telah digunakan untuk membunuh tidak hanya satu, tetapi banyak musuh!


Saat itu, suara Ark yang kembali tenang dan bosan sekali lagi terdengar.


"Jangan bilang aku tidak memberimu kesempatan. Itu adalah pedang yang bagus, pasti bisa memotong kulit makhluk yang mengelilingi kalian.


Jika kamu masih tidak bisa berdiri dengan kakimu sendiri lalu melawan ...


Lebih baik kamu diam dan mati."


Mendengar ucapan Ark, Saito menunduk. Dia menurunkan Nami lalu maju dan meraih gagang pedang, lalu menariknya keluar.


"JANGAN BERCANDA DENGANKU! AKU ... TIDAK AKAN MEMBIARKAN NAMI MATI KARENA KECEROBOHANKU!"


Memegang pedang dengan kedua tangannya, Saito menatap tiga hyena yang mengelilinginya. Sebagai makhluk licik, ketiganya sama sekali tidak langsung menyerang. Sebaliknya, mereka menunggu kesempatan.


Saito merasakan tatapan hyena yang diarahkan kepada Nami. Hal tersebut langsung membuat ekspresinya menjadi lebih buruk.


"Kamu bisa tenang, Saito."


Nami yang terluka memaksakan diri untuk berdiri. Menarik pedang kurang terawat keluar dari sarungnya, dia memasang kuda-kuda untuk bertarung.


"Nami, kamu—"


"Setelah keluar dari sini, kamu harus bertanggung jawab. Kamu harus menikahiku!"


"Eh???"


Saito tampak terkejut. Dia menatap ke arah Nami yang tersenyum ke arahnya. Tampak begitu indah sampai-sampai jantung pria itu berdegup kencang. Ekspresi Saito berubah menjadi tegas ketika dia berkata.


"YA!"


Melihat ke arah keduanya, Ark yang sedang menonton mengangkat sudut bibirnya. Benar-benar tidak ada yang tahu dia sedang memikirkan apa.


Saito menatap ke arah tiga hyena yang tampak berhati-hati. Dia tahu, jika terlalu lama menunggu, dirinya dan Nami akan berada dalam kerugian karena stamina banyak dikonsumsi. Belum lagi kondisi Nami jelas tidak cocok untuk bertahan lebih lama.


"Sekarang!"


Melihat kesempatan, Saito langsung melesat ke depan. Tangan kanannya memegang gagang pedang dengan erat. Namun baru maju beberapa meter, dia langsung berbalik.


Melihat dua hyena bergegas ke arah Nami sesuai dengan dugaannya, sudut bibir pria itu terangkat.


Saito memang sengaja maju untuk memancing hyena lain menyerang!


Swoosh!


Pedang berayun cepat, langsung membidik leher hyena tersebut.


Slash!


"Eh?"


Saito melihat para hyena mundur ketika menerima serangannya. Dia jelas telah memotong sekuat tenaga. Namun pria itu dibuat terkejut ketika melihat bekas luka yang tidak terlalu dalam di leher hyena tersebut.


Trik kecil yang dilakukan oleh Saito memang bagus, Ark bahkan sedikit memujinya. Namun pria itu melupakan satu hal penting, yaitu ...


Musuhnya bukanlah binatang biasa sama seperti di masa-masa damai!

__ADS_1


Hyena menatap mereka berdua dengan tatapan marah dan tampak serakah. Ketiganya menggeram. Air liur menetes ke tanah, tampaknya sudah tidak tahan lagi untuk mulai berburu.


Mengetahui kalau dua sosok di depan mereka tidak begitu kuat, ketiga hyena akhirnya tidak lagi menahan diri!


Ketiganya melesat ke depan, langsung menyerang Saito dan Nami dengan cakar serta taring mereka!


Swoosh!


Pedang di tangan Saito berayun, langsung membidik mata salah satu hyena. Hanya saja, karena hyena lebih cepat, serangan Saito tidak mengenainya.


Bruak!


Menghindari gigitan hyena, Saito meraih tubuh Nami. Mereka berdua kemudian ditabrak keras. Membuat mereka berdua berguling-guling di tanah.


Saat itu, ekspresi Saito berubah. Melihat Nami yang tampak semakin lemah dengan tubuh penuh darah lalu ke arah tiga hyena yang mengelilingi mereka dengan ekspresi ganas, pria itu merasa marah.


Saito terus berusaha menyerang dan bertahan. Berusaha membunuh lawan sambil menjaga Nami. Hanya saja, semua tidak berjalan baik.


Jika Saito memilih untuk melarikan diri, dia mungkin berhasil. Namun melawan dan membunuh hyena, hal tersebut hampir mustahil dilakukan. Belum lagi dia harus menjaga Nami.


Lima belas menit berlalu begitu saja.


'Kenapa?'


Pertanyaan itu muncul dalam benak Saito. Dia menatap tiga hyena dengan tatapan penuh kebencian. Merasa marah, tetapi juga putus asa.


Tubuh ketiga hyena penuh dengan luka, tetapi tidak ada luka fatal. Hanya ada luka ringan, goresan-goresan yang sudah berhenti berdarah.


Sebaliknya, tubuh Saito penuh dengan luka dan memar. Belum lagi, dia jelas diracuni. Tidak lagi bisa berdiri tegap, pria itu masih menggertakkan gigi sambil mencengkeram erat pedang di tangannya.


"Lari ... Saito. Tinggalkan saja aku sendiri."


"..."


"TIDAK! BAHKAN JIKA AKU HARUS MATI, AKU AKAN TETAP BERADA DI SISIMU!"


Saito menoleh ke arah Nami dengan senyum masam di wajahnya. Pria tersebut kembali berkata.


"Bukankah kamu bilang aku harus bertanggung jawab atas dirimu?"


"..."


Mendengar ucapan Saito, air mata mengalir di wajah Nami. Wanita itu benar-benar merasa sedih dan putus asa.


Uhuk! Uhuk!


Saito jatuh berlutut. Pria itu memuntahkan beberapa suap darah. Ekspresinya tampak begitu pucat. Benar-benar merasa tidak berdaya.


Semakin tinggi harapan, semakin kecewa ketika gagal. Hal tersebut adalah sesuatu yang biasa.


Saito memang jenius. Dia juga menganggap dirinya sendiri jenius dalam kendo. Setelah mendapatkan pedang bagus, pria itu berpikir kalau dirinya bisa menang. Bahkan memikirkan hidup layak di masa depan, memiliki kekasih, membangun keluarga, dan memiliki anak-anak imut.


Hanya saja, semuanya tidak berjalan sesuai dengan rencananya.


Musuh yang dia lawan memiliki kekuatan, kecepatan, dan pertahanan tidak masuk akal. Bukan hanya hyena, pria itu juga mengingat zombie, burung gagak, dan beberapa binatang mutasi lain. Belum lagi makhluk-makhluk yang belum dia temui.


Melihat betapa kejamnya dunia, Saito akhirnya sadar ... dirinya hanyalah katak dalam sumur.


Saito melihat ke arah Nami yang tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ekspresi penuh dengan rasa putus asa dan penyesalan menikam jiwanya.

__ADS_1


Saat itu, dia mendongak, melihat sosok Ark yang duduk di lantai dua. Bersandar di jendela dengan santai. Memandang mereka dengan mata tak acuh di balik topengnya.


Sosok Ark kemudian melompat dari lantai dua. Anehnya, pemuda itu jatuh ke tanah tanpa suara. Langkahnya tampak begitu ringan seperti seekor kucing.


"Benar-benar membosankan~"


Ark menarik pedangnya dengan ekspresi tak acuh. Dia berjalan ke depan dengan santai. Hal tersebut langsung membuat ketiga hyena menatap ganas.


Ketiganya langsung bergegas ke arah Ark dengan ganas. Merasa kalau makhluk yang disebut manusia sama sekali tidak begitu menakutkan seperti yang mereka pikir sebelumnya.


Slash! Bruk!


Kepala seekor hyena terlempar di udara sebelum jatuh ke tanah.


Kedua hyena yang terkejut langsung merasakan krisis hidup dan mati. Mereka langsung bergegas untuk berbalik melarikan diri. Namun, bagaimana mungkin Ark membiarkan mereka melarikan diri.


Ark langsung berlari cepat, menikam satu hyena sampai mati. Dia kemudian menyusul hyena lain. Pemuda itu menendang tubuh hyena dari samping dengan keras, membuat makhluk tersebut terpental dan jatuh ke tanah. Ketika bangkit, Ark sudah berdiri di depannya sambil mengangkat pedangnya tinggi.


SLASH!!!


Kurang lebih satu menit, tiga hyena di puncak level satu bisa dihabisi dengan mudah oleh Ark. Selain teknik, perbedaan level juga sangat memengaruhi pertarungan tersebut.


Ark berjalan ke arah Saito sambil membawa pedang yang masih meneteskan darah. Dia berhenti tepat di depan pria tersebut lalu berkata.


"Kamu lemah. Itulah kamu akan selalu kehilangan orang yang kamu sayangi."


"..."


Mendengar itu, Saito menunduk. Dia tidak lagi tampak keras kepala seperti sebelumnya.


Saat itu, tangan kiri Ark yang berlumuran darah hyena terulur ke depan. Suara tenang terdengar di telinga lalu menggema dalam benak Saito.


"Ikuti aku. Bersumpah untuk setia di bawahku ... lalu tulis ulang hidupmu."


Mendengar ucapan tersebut, Saito mendongak hanya untuk melihat mata biru dengan pupil vertikal menatapnya di balik topeng.


Nami yang berbaring di belakang Saito melihat punggung pria itu gemetar. Ucapan Ark jelas menyentuh titik rapuh dari pria bangga tersebut. Namun Nami tahu, ini seperti membuat perjanjian dengan iblis. Mendapatkan sesuatu sambil menukar sesuatu yang mungkin lebih besar. Belum lagi ... tidak akan ada jalan untuk kembali selain mati.


Mengerahkan seluruh tenaganya, Nami meraih pakaian Saito lalu menariknya.


"Saito—"


"APAKAH AKU TIDAK HARUS KEHILANGAN ORANG-ORANG YANG AKU SAYANGI? APAKAH KAMU BISA MEMBERI APA YANG AKU BUTUHKAN?!


APAKAH ... AKU TIDAK PERLU MERASAKAN PERASAAN KEHILANGAN SEPERTI INI LAGI?!"


Ark menatap sosok Saito yang tampak putus asa lalu berkata.


"Apa yang kamu butuhkan adalah kekuatan dan itulah yang akan aku berikan.


Apakah kamu bisa melindungi yang kamu sayangi, itu tergantung pada dirimu sendiri.


Dengan kekuatan, setidaknya kamu memiliki kesempatan. Jadi aku tidak perlu lagi menjelaskan."


Melihat ekspresi Saito, Nami menarik pakaian pria itu lebih kuat. Namun pria tersebut sama sekali tidak merespon.


Sebaliknya, Saito melihat tangan berlumur darah yang terulur di depannya.


Menghilangkan segala pikiran yang mengganggunya ...

__ADS_1


Pemuda itu pun akhirnya meraihnya.


>> Bersambung.


__ADS_2