
Pada awalnya, Ark tampak begitu tak acuh.
Hanya saja, dalam sekejap dia merasakan kalau ada sesuatu yang salah. Saat itu juga, pemuda itu langsung mengeluarkan belati dan menebas jari telunjuk kirinya. Sedikit darah mengalir dari luka, benar-benar membuat Jay terkejut.
"Apakah kamu gila, Ark?"
"Diam."
Ark langsung memberi perintah. Meski tindakannya agak aneh, pemuda itu melakukannya untuk menenangkan diri sendiri. Merasakan sakit di jari telunjuk kirinya yang berangsur-angsur sembuh, dia menjadi tenang.
"Tetap dalam jalur. Tidak perlu mendekat ke area itu!"
"Bagus! Aku kira kamu berencana berburu para serigala malang itu," gumam Jay dengan puas.
Mengabaikan Jay yang santai, Ark melihat sekeliling dengan tatapan curiga. Suasananya benar-benar terlalu janggal. Memiliki firasat tidak baik, dia langsung memberi perintah.
"Pergi dari area ini sesegera mungkin, Debby!"
Mendengar perintah Ark, Debby langsung melesat maju. Kereta bergerak cepat, membuatnya agak berguncang karena tidak stabil. Mengabaikan Jay yang terkejut, ekspresi pemuda itu menjadi lebih serius.
Saat itu, lolongan serigala kembali terdengar.
"Tsk! Hunting ground mereka, kah?"
Ark mendecak dengan ekspresi kesal.
Suara pertempuran terdengar di kejauhan. Jay menjadi lebih serius, tetapi Ark sama sekali tidak fokus ke suara tersebut. Sebaliknya, dia ingin memanfaatkan pertarungan orang-orang itu agar mereka bisa melarikan diri.
Hanya saja, semua berkembang sesuai dengan dugaannya.
Lima ekor serigala bermutasi muncul di menutup jalan belakang mereka. Dua di antaranya tingkat dua, tiga lainnya ada di tingkat satu.
Di depan mereka, lima ekor serigala kembali muncul. Sama seperti sebelumnya, ada dua serigala bermutasi tingkat dua dan sisanya tingkat pertama.
Tidak berhenti di sana, beberapa saat kemudian sosok besar muncul.
Jika tingkat pertama dan dua hanya memiliki ukuran satu setengah meter serta dua meter lebih, dengan tampilan lebih liar dan ganas. Maka apa yang muncul di depan mereka kali ini berbeda.
Tingginya sekitar tiga meter. Jika dilihat, tubuhnya mungkin sebesar truk kontainer. Bulu tubuhnya hitam bagai tinta. Mata berwarna hijau pucat dengan kilau dingin. Taring panjang keluar seperti pedang.
Tidak hanya itu, makhluk tersebut memiliki penampilan berbeda dari serigala biasa. Sebuah tanduk tampak di dahinya. Di beberapa tulang punggung mencuat ke atas, tampak seperti duri melengkung yang muncul di punggungnya.
Setiap kali melangkah, tekanan yang dibuatnya membuat makhluk lain merasakan teror dan takut.
"Raja Serigala Hitam ..."
Ark bergumam pelan. Tangannya terkepal erat. Menatap makhluk yang berada di depannya, sensasi terbakar muncul dalam hatinya.
__ADS_1
Ark mengingat jelas makhluk tersebut. Di kehidupan sebelumnya, dia bertemu Raja Serigala Hitam pada tahap awal apocalypse. Belum sekuat dan menyeramkan seperti sekarang. Namun dia sangat ingat karena makhluk itu menjadi target buruannya bertahun-tahun kemudian karena ...
Raja Serigala Hitam itu adalah makhluk yang mencabik-cabik sahabatnya tepat di depan matanya!
"Jay!"
"Hah?!"
Mendengar Ark tiba-tiba memanggilnya, Jay terkejut.
"Ingat pesanku. Bertarung serius dan berhati-hati dengan kemunculan Ratu Serigala."
"Apa maksudmu, Ark? Kenapa kamu—"
"Kurona! Shirona! Pastikan Jay tidak melakukan hal bodoh.
Dengan kekuatan kalian, pasti tidak akan ada masalah untuk menerobos garis belakang."
Ark melompat turun lalu menepuk kepala Debby.
"Debby, berbalik dan pergi sejauh mungkin."
Mata mereka saling bertemu. Melihat keengganan di mata Debby, Ark berteriak.
"SEKARANG!!!"
Sosok Debby langsung berputar. Kereta berguncang keras. Jay terkejut dan nyaris jatuh. Melihat ke arah Ark yang tertinggal, pria itu berteriak.
Jay berteriak dan hendak melompat turun. Namun saat itu, Kurona dan Shirona muncul dari dalam kereta lalu menahannya.
"Apa yang kalian lakukan?! Makhluk itu ... bagaimana mungkin Ark bisa melawan makhluk itu sendirian?!"
"Ini adalah perintah Senior!" ucap Kurona.
"Kalian gila! Apakah kalian tidak menyukai Ark!"
"Justru karena kami menyayangi Senior, kami percaya kepadanya! Bukankah kamu sahabatnya?!
Percayalah kepadanya!"
"Aku ..."
Jay tampak enggan, tetapi akhirnya berhenti berjuang. Dia malah fokus ke arah lima serigala yang ingin menghentikan mereka.
Bukan hanya itu, Kurona dan Shirona juga menarik keluar pedang mereka. Tampak siap untuk bertarung kapan saja.
Ark berdiri di atas jalan sambil menatap enam serigala jauh di depannya. Pemuda itu memikul tombak di pundak kanannya.
__ADS_1
"Dengan ini, seharusnya hutang budi telah terbalas, kan?" gumam Ark.
Menatap ke arah Raja Serigala Hitam, ekspresi Ark menjadi semakin serius. Saat ini dia belum menyerap Miracle Root. Dengan kekuatannya sekarang, pemuda itu sebenarnya agak ragu. Bahkan jika telah menyerap, dia pasti akan berpikir dua kali untuk bertarung karena resiko cukup tinggi.
Ark menarik napas dalam-dalam. Matanya yang gelap seperti jurang dalam berubah menjadi biru. Jubahnya menari tanpa tiupan angin. Beberapa kerikil di sekitarnya melayang seolah menolak gaya tarik gravitasi.
Pemuda itu berjalan ke depan sambil memegang erat tombaknya. Ketika dia mencengkeram erat tombak, udara berputar di ujung tombak dengan ganas.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah ...
Ark mulai bergerak lebih cepat dan semakin cepat. Melihat ke arah para serigala yang bersiap menyerang sambil menggeram, sosok pemuda itu tiba-tiba menghilang bersama dengan bayangan malam.
Para serigala sempat terkejut. Meski hampir tidak mendengar suara, insting ditambah penciuman kuat mereka bekerja dengan cepat.
Mereka langsung menoleh ke kiri. Sosok Ark yang berlari di atap bangunan dua lantai melompat ke arah para serigala. Gerakan tibat-tiba tersebut membuat para serigala terkejut dan hendak menyebar.
Akan tetapi, puluhan kerikil yang berada di sekitar pemuda itu langsung melesat seperti peluru. Sementara itu, Ark membanting tombak dengan putaran angin dahsyat di ujungnya sambil berteriak.
"DI SEBELAH SINI ... B-GSAT!!!"
BLARRR!!!
Di kejauhan, Jay, Kurona, dan Shirona mendengar suara ledakan keras. Mereka selesai menyingkirkan para serigala yang menahan mereka. Tiga serigala tingkat satu mati, dua yang ada di tingkat dua terluka cukup berat.
Mereka sama sekali tidak mengejar serigala yang melarikan diri. Sebaliknya, kereta segera pergi dari tempat itu.
Melihat kepulan asap membumbung tinggi, menerbangkan debu dan daun-daun yang berguguran ... Jay menggertakkan gigi.
'Jangan sampai mati, B-jingan!'
Pada saat asap mulai memudar, pemandangan berangsur-angsur menjadi lebih jelas.
Sosok Ark berdiri di sebuah cekungan yang tercipta akibat dampak serangan. Di kakinya, tampak genangan darah dan daging cincang yang terciprat ke mana-mana termasuk area sekitar dan tubuhnya sendiri.
Tiga serigala level satu mati, satu serigala level dua terluka parah, satu serigala level dua terluka ringan ...
Raja Serigala Hitam sama sekali tidak terluka!
"Oi! Oi! Oi! Apa-apaan dengan tatapan jahat yang ingin merobek dan mencabik-cabik itu?!"
Ark melempar tombak rusak yang melengkung dengan cara aneh karena serangan sebelumnya. Pemuda itu juga melepas jubah yang dia rasa mengganggu gerakannya lalu melemparkannya jauh-jauh.
Dalam tatapan para serigala yang waspada, Ark menarik keluar kedua pedangnya. Pemuda itu kemudian mendongak. Pandangannya dan tatapan Raja Serigala Hitam bertemu.
Niat membunuh kuat terpancar dari tubuh mereka.
Saat itu juga, Ark berkata dengan nada dingin.
__ADS_1
"Mari kita mulai pertarungan yang sebenarnya, B-JINGAN!"
>> Bersambung.