
Sementara itu, dalam suatu bangunan di lingkaran tengah.
Beberapa orang yang memakai seragam kamuflase compang-camping memasuki sebuah ruangan luas. Di sana, tampak lebih dari seratus orang mengenakan seragam militer usang. Meski begitu, pakaian sama sekali tidak menghilangkan penampilan heroik mereka.
Di antara banyak orang, tampak tiga sosok yang berada di posisi paling mencolok. Tampaknya mereka adalah pemimpin pasukan ini.
Ada sosok pria paruh baya kurus mengenakan kacamata. Ada sosok pria di usia pertengahan tiga puluhan dengan wajah heroik, tubuh terlatih, dan kulit kecoklatan. Ada juga sosok paling mencolok di antara ketiganya, yaitu seorang wanita cantik berambut pirang sebahu dengan penampilan tak kalah dari para model.
“Tim pengintai datang untuk melapor!”
Mendengar laporan tersebut, wanita itu menoleh dengan ekspresi tegas dan dingin di wajahnya.
“Apakah ada masalah?”
“Kami kehilangan jejak dari para berserkers. Meski begitu, kami juga mendapatkan sedikit informasi yang mungkin berguna, Ketua.”
“Lalu apa yang kalian tunggu? Katakan.”
Wanita itu membalas dengan tegas. Jangan lihat dia sebelah mata hanya karena perempuan. Di antara para prajurit di tempat itu, sama sekali tidak ada yang meragukan kekuatan dan kebijaksanaannya.
Lagipula, wanita itu adalah pemimpin Imperial Phoenix yang membuat orang-orang dalam ketentaraan masih bisa bersatu dan bertahan sampai hari ini!
“Lapor. Kami mendapatkan informasi yang cukup berharga dari Golden Maple Group.
Golden Maple Group tampaknya membuat pergerakan. Sebuah tim yang terdiri dari sembilan orang keluar dari markas mereka, tampaknya pergi ke suatu tempat yang tidak diketahui. Namun, menurut arahnya mereka sepertinya pergi ke arah lingkaran luar.”
“Lingkaran luar? Apakah rumor subjek penelitian manusia sebenarnya dilakukan di sana?”
“Kami tidak mengikutinya karena kambali untuk melapor. Namun, ada tokoh penting dalam tim tersebut.”
“Siapa?” Wanita itu mengangkat alisnya.
“Lapor! Mereka adalah Rhodez dan Chelsea. Ada juga satu orang yang tidak dikenal.”
“...”
Wanita itu mengelus dagu. Menoleh ke arah dua orang lainnya, dia bertanya.
“Bagaimana menurut kalian?”
Mendengar pertanyaan itu, kedua pria tersebut saling memandang. Pada akhirnya, pria paruh baya berkacamata berkata.
“Menurutku, Golden Maple Group pasti membuat gerakan besar. Entah rumor itu benar atau salah, tetapi pergerakan ilmuwan jenius pasti memiliki alasan tersendiri.”
“Ya. Menurutku, mereka pasti merencakan sesuatu yang besar. Bahkan, jika mereka memang tidak melakukan eksperimen manusia, mereka pasti merencanakan sesuatu yang besar untuk melawan kelompok lain,” tambah pria kekar dengan ekspresi serius di wajahnya.
__ADS_1
“Apakah kita akan menunda rencananya, Nona Cassandra?” tanya pria paruh baya berkacamata.
Cassandra menggigit ibu jarinya. Dia hanya diam dengan ekspresi serius, tampaknya memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Setelah beberapa saat, wanita itu akhirnya berkata.
“Kalau begitu misi akan ditunda untuk sementara waktu. Namun, kita juga tidak akan langsung kembali ke markas utama. Sebaliknya, sebagai ganti melacak Cursed Berserkers, kita akan mencoba menggali informasi lebih dalam dari Golden Maple Group.
Roldan, kamu akan memimpin para pengintai untuk mencari informasi pasti dan dapat dipercaya. Sediakan sebanyak mungkin informas untuk Kron.
Kron, kamu siapkan para prajurit. Latih mereka agar terbiasa dengan medan di area sekitar. Jangan sampai ada kesalahan atau kekacauan jika pertempuran dimulai kapan saja.”
“Dimengerti.”
Roldan, pria paruh baya berkacamata menjawab sambil membenahi posisi kacamatanya.
“Siap, Ketua!”
Kron, pria dengan penampilan heroik berkata dengan ekspresi penuh semangat. Tampaknya ingin melakukan pertempuran dengan lawan-lawannya.
Melihat dua orang yang dia percaya tampak bersemangat, Cassandra mengangguk. Wanita itu kemudian mengalihkan pandangannya pada lebih dari seratus prajurit dalam ruangan.
“Misi untuk melacak dan menekan Cursed Berserkers ditunda! Sekarang, misi kita adalah mencari informasi tentang tujuan Golden Maple Group!”
“Ya, Ketua!”
***
Sementara itu, dalam ruang kantor Golden Maple Group.
Duduk di sofa, Lara melirik Chris yang sedang sibuk mengatur rencana untuk para ilmuwan dalam grup.
“Apakah para lelaki tua itu masih begitu keras kepala?” tanya Lara.
“Ya.” Chris mengangguk dengan ekspresi berat. “Mereka tampak seperti serigala kelaparan. Mengetahui kalau Chelsea keluar dari markas, banyak dari mereka ingin menjadi kepala sementara dan melihat hasil kerja gadis itu.”
“Kamu tidak memberi mereka izin, kan?” tanya Lara dengan ekspresi tidak puas.
“Tentu saja tidak. Aku tahu siapa yang harus kita prioritaskan.”
“Bagus kalau kamu menyadarinya.”
Lara mengangkat dagunya dengan bangga. Cukup puas dengan penampilan suaminya. Memikirkan sesuatu, dia akhirnya bertanya.
“Omong-omong, soal kekasih yang Jay temukan ... apakah kamu memiliki pendapat, Chris?”
__ADS_1
“Sebagai orang tua, asal dia senang, aku baik-baik saja dengan pilihannya.”
Chris membalas dengan ekspresi tak acuh.
“Aku lebih suka Chelsea. Bukan hanya cantik, dia juga ramah, rajin, dan cerdas. Gadis itu jelas calon menantu yang baik.”
Lara menghela napas panjang, tampaknya tidak puas putranya mendapatkan kekasih yang sama sekali tidak dia kenal. Wanita itu bahkan tidak tahu penampilan dan sikap kekasih putranya. Benar-benar membuatnya merasa tidak nyaman.
“Kita juga bisa menerima Chelsea, kan?” Chris berkata dengan ekspresi datar.
“Maksudmu ...”
“Sekarang peraturan sudah tidak berlaku, kan? Mau dia ingin memiliki beberapa istri atau selir, itu terserah pada bocah itu. Mungkin hal tersebut malah membantu umat manusia karena generasi baru bisa terlahir di dunia dimana manusia sudah hampir dimusnahkan.”
Chris berkata dengan ekspresi santai. Saat itu juga, dia baru sadar telah mengatakan sesuatu yang tidak boleh dia katakan.
Ketika menoleh, Chris langsung disambut dengan ekspresi suram istrinya. Pura-pura batuk, pria paruh baya itu buru-buru berkata.
“Uhuk! Uhuk! Maksudku, aku hanya berharap Jay menjadi orang hebat dan membantu umat manusia, Sayang. Sama sekali tidak ada maksud lain!”
“...”
Melihat ekspresi gelap seperti awan yang membawa hujan, angin, dan petir di wajah istrinya, Chris tahu sekarang dia dalam masalah besar.
Malam ini ditakdirkan untuk berjaga di luar, tidak bisa kembali ke kamar mereka!
***
Satu hari kemudian, di markas sementara Sword of Sufferings.
“Sungguh pemandangan yang luar biasa.”
Chelsea melihat pemandangan di luar jendela sambil bergumam dengan ekspresi takjub.
Di halaman depan markas sementara, ratusan prajurit berbaris rapi. Tidak hanya prajurit, tetapi para pengrajin, koki, dan pembawa barang juga berkumpul.
Mereka semua telah mengemas barang-barang mereka. Banyak prajurit membawa agak besar. Ada juga para pengrajin, koki, dan pembawa barang yang membawa tas lebih besar berisi peralatan dan barang-barang yang telah dikumpulkan.
Mata Chelsea tertuju pada Ark yang mengumpulkan mereka untuk memastikan semua barang dibawa sebelum pergi. Sebagai ketua, dia juga memastikan kalau para bawahannya juga dalam kondisi baik sehingga tidak ada masalah dalam perjalanan.
Saat itu, suara Jay terdengar di telinga Chelsea.
“Kamu sudah bersiap, Chelsea? Sudah saatnya untuk berangkat.”
Mendengar pertanyaan tersebut, Chelsea menoleh sambil tersenyum lembut.
__ADS_1
“Baik. Saya akan segera datang.”
>> Bersambung.