Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Gejolak Amarah


__ADS_3

"Apakah kalian sudah mengingatnya dengan baik?"


Sementara Julian dan Joseph berkumpul dengan anggota kelompok masing-masing untuk memeriksa kesehatan mereka, Ark sendiri memilih untuk berbicara dengan anggota kelompoknya. Dia mengingatkan apa yang harus mereka lakukan atau tidak.


"Kami mengerti, Ketua!" seru mereka serempak.


Suara mereka membuat anggota kelompok lain memandang dengan cara aneh. Jelas, dari suara, dua belas sosok berjubah dan bertopeng di depan Ark adalah perempuan. Meski begitu, tidak ada dari mereka yang berani bertanya apalagi menghina.


Semua orang sudah tahu beritanya. Berita dimana orang-orang dari Dark Caravan mampu menghadang bala bantuan dari Imperial Tiger.


Tidak hanya itu, mereka semua tahu betapa mengerikannya kekuatan tempur Dark Caravan. Anggota Silver Cross telah melihat dengan mata mereka sendiri bagaimana 3 orang dari Dark Caravan bisa bermain-main dengan puluhan orang Third Scars!


"Masuk kembali ke dalam kereta. Simpan tenaga kalian untuk memastikan bertarung dalam kondisi prima."


"Baik!" ucap mereka serempak.


Roxanne dan anggota Violet Sword lainnya masuk ke kereta. Karena tidak membawa banyak barang, delapan orang masih bisa beristirahat di dalam cukup nyaman.Lisa dan Stacy duduk di tempat kusir. Sedangkan Kurona dan Shirona, mereka memiliki tunggangan masing-masing.


Bisa dibilang ... mereka sama sekali tidak akan kelelahan karena tidak perlu berjalan!


Julian dan Joseph hanya bisa tersenyum pahit. Mereka semua juga ingin kendaraan agar bisa menghemat waktu dan tenaga, tetapi tidak bisa memilikinya.


Mungkin dua kelompok bisa membuat kereta yang sama. Namun, apa gunanya kereta jika tidak ada yang menariknya?


Sementara mereka merasa iri, Ark sendiri telah meminta Old Franky untuk membuat dua kereta lain. Kereta tersebut akan dipasangkan dengan Nike dan Sansa. Darin tentu saja setuju karena sudah terbiasa duduk di kursi kusir. Sedangkan untuk Nike, Ark masih memilih kusir yang cocok untuk kereta ke-3.


Empat husky lain akan menjadi tunggangan pribadi. Tampaknya tugasnya lebih nyaman daripada menarik kereta, tetapi juga lebih berbahaya. Lagipula, keempatnya harus maju ke barisan depan untuk bertarung dengan tuan mereka.


Tidak apa-apa jika lawannya lemah. Namun mereka bisa kehilangan nyawa paling awal jika musuhnya terlalu kuat.


"Apakah kalian sudah siap?" tanya Ark yang menghampiri Joseph dan Julian.


"Ya. Beberapa orang harus tinggal, tetapi sisanya bisa terus melanjutkan." Julian mengangguk.


"Kami juga siap," tambah Joseph.


Mendengar itu, Ark mengangguk.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang."


***


Keesokan harinya.


Satu jam setelah sarapan, mereka semua melanjutkan perjalanan. Siang harinya, mereka sampai di tujuan.


Supermarket ... sebuah supermarket yang berada jauh dari pusat kota.


Tempat tersebut tidak hanya jauh dari wilayah kekuasaan kelompok-kelompok besar, tetapi juga cukup jauh dari zona merah yang dianggap berbahaya.

__ADS_1


"Jadi di sana, kah?" gumam Ark sambil melihat supermarket di kejauhan.


Karena kelompok kanibal sering pindah, di kehidupan sebelumnya, Ark kesulitan untuk menemukan mereka. Namun dari apa yang dia lihat, mereka memiliki kebiasaan sama dengan apa yang pemuda itu ingat.


Tinggal di tempat yang biasanya dianggap cukup berbahaya, tempat biasa zombie sering berkumpul.


"Kemungkinan besar para kanibal tinggal di ruang parkir bawah tanah. Untuk mencegah mereka melarikan diri, mari kita bagi tugasnya."


"Bagi tugasnya?" tanya Julian.


"Ya." Ark mengangguk. "Kalau tidak salah, di supermarket ini ada empat jalan yang bisa diakses. Dua tangga menuju ke lantai pertama, jalan masuk dan jalan keluar tempat parkir."


"Apakah kamu yakin kalau mereka bersembunyi di ruang parkir bawah tanah, Hades?" tanya Joseph.


"Jika mereka ada di permukaan apalagi di lantai atas, mereka pasti sudah melihat kita, kan? Jumlah 200 orang lebih tidaklah sedikit," jawab Ark.


"Jadi kita akan membaginya jumlah orang menjadi empat kelompok?" tanya Julian.


"Tidak." Ark menggelengkan kepalanya. "Kalian akan menyerbu dari lantai pertama, satu kelompok akan mengurus satu jalur anak tangga. Pintu masuk dan keluar tempat parkir yang luas ... serahkan kepada kami, Dark Caravan."


"Apakah itu tidak apa-apa? Maksudku ... jumlah mereka ratusan, mungkin hampir seribu orang. Jika pergi lewat satu arah—"


"Tidak apa-apa. Percayakan saja kepada kami.


Kamu tidak perlu khawatir, Julian. Namun, ada yang ingin aku ingatkan kepadamu, Julian."


Ark melihat ke arah Julian dengan tatapan dalam lalu berbicara kata demi kata dengan jelas.


"Apapun itu ..."


"Jangan pernah kehilangan ketenangan apalagi terbawa emosi!"


Julian tertegun. Merasa seperti anak kecil yang diberi nasihat oleh orang tua, dia menjadi tidak puas. Menggelengkan kepalanya, pria itu menjawab dengan tegas.


"Jangan samakan aku dengan anak kecil, Ark. Aku sudah banyak berubah!"


"Akan lebih baik jika seperti itu," balas Ark.


"Kalian terlalu kaku." Joseph berkata sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu untuk terakhir kali aku akan mengingatkan ..." Ark menatap keduanya dengan dingin. "Jangan biarkan seorangpun lolos."


"Dimengerti!" jawab keduanya serempak.


"Kalau begitu segera kerahkan pasukan kalian. Aku juga akan bersiap."


Setelah mengatakan itu, Ark pergi menuju kelompoknya sendiri.


Mengumpulkan semua orang, Ark segera memberi mereka perintah.

__ADS_1


"Stacy, Lisa ... Kalian akan berjaga di pintu keluar dengan Violet Sword. Debby juga akan membantu kalian."


"Kurona, Shirona ... kamu akan ikut denganku. Kita berjaga di pintu masuk lokasi parkir bersama dengan Finn, Luna, dan Starla."


Setelah mengatakan itu, Ark bersiul keras. Sesaat kemudian, Huginn dan Muninn turun. Melihat ke arah kedua gagak putih, dia berkata.


"Kalian akan mengawasi dari langit, pastikan tidak ada yang lolos dari pengawasan kalian."


Ark berkata sambil membuat bahasa isyarat kepada kedua burung. Setelah itu, dia berkata.


"Kalau begitu, bubar lalu bersiap di posisi kalian!"


"YA, KETUA!!!"


***


Di sisi lain, Julian memimpin hampir sembilan puluh orang menuju ke lantai pertama supermarket.


Mereka langsung menuju ke salah satu lokasi anak tangga. Puluhan meter dari tangga yang menuju ke area parkir bawah tanah, aroma menyengat langsung menyerang indera penciuman Julian dan rekan-rekannya.


Beberapa orang bahkan langsung keluar dari barisan dan muntah.


Julian sendiri juga mual, tetapi masih bisa menahannya. Dia terus berjalan mendekat sambil mengerutkan kening.


Di lantai sekitar anak tangga dan pada anak tangga itu sendiri, tampak noda hitam yang mengering dengan bau menyengat. Ada juga banyak noda hitam pada dinding seperti coretan grafitti.


"Noda ini ... darah yang mengering?" gumam Julian dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya.


"Ketua. Apakah anda akan masuk sekarang?"


"Untuk apa menunggu? Bahkan jika kalian menunggu, baunya tidak akan berubah."


Setelah mengatakan itu, dia mengeluarkan selembar kain dari sakunya lalu membuat masker sederhana untuk menutupi hidungnya.


Anggota lain juga mengeluarkan hal yang sama. Dipimpin oleh Julian, mereka akhirnya memutuskan untuk turun.


Berjalan menuruni tangga, ekspresi Julian menjadi agak buruk ketika jarak pandangnya berkurang karena gelap.


Crack!


Baru sampai di area parkir, Julian menginjak sesuatu. Ketika dia melihat ke bawah dan memperhatikan baik-baik apa yang tidak sengaja dia injak, tubuhnya langsung gemetar.


Apa yang Julian injak adalah mayat. Tidak! Lebih tepatnya ... kerangka dengan pakaian compang-camping. Sebuah kerangka dengan sisa organ dalam berceceran di sekitar dan rambut panjang yang tergerai.


BAM!


Julian langsung memukul dinding di sampingnya. Tubuhnya gemetar menahan amarah, dia menggigit bibirnya sampai berdarah untuk menahan emosi.


Mengingat apa yang Ark katakan sebelumnya, Julian berkata dengan ekspresi muram di wajahnya.

__ADS_1


"Jika aku tidak marah karena ini ... aku tidak berani menyebut kalau aku masih manusia!"


>> Bersambung.


__ADS_2