
Ketika kembali ke kereta, Ark melihat sosok Leon yang duduk dengan ekspresi termenung.
Meski membenci kelompok Third Scars, Ark sendiri tidak begitu membenci Leon. Pria itu tampak kasar dan berpikiran sederhana. Namun di balik itu semua, ada alasan tertentu kenapa dia menjadi semacam ini.
"Hey, Kucing Besar! Kemari sebentar."
Ark berkata dengan nada tak acuh.
Leon mendongak. Melihat ke arah sosok berjubah hitam dan bertopeng memanggilnya, dia mengerutkan kening.
"Apa yang kamu inginkan, Hades? Jika kamu ingin menantangku, lupakan saja. Aku sedang tidak mood."
Mengabaikan ucapan Leon, Ark masih berkata.
"Kemari."
Ucapannya kali ini dingin dan tegas.
Pria besar itu akhirnya bangkit dan berjalan ke arah Ark. Meski tidak tahu alasannya, dia merasa kalau apa yang akan diucapkan oleh sosok berjubah hitam itu sangat penting.
Dua orang saling berhadapan. Meski tampak agak menarik, orang-orang yang kelelahan dan merasa tertekan sama sekali tidak mood untuk memperhatikan mereka.
Tanpa mendongak, Ark berkata dengan suara rendah.
"Aku tahu kamu bimbang karena dunia menjadi kacau. Aku juga tahu kamu ingin menjadi kuat karena itu alasanmu untuk hidup. Lebih tepatnya, agar kamu tidak melupakan adikmu, kamu terus bertarung dan berusaha menjadi lebih kuat.
Hanya saja, aku harap kamu tidak tersesat dan—"
Swoosh! Bang!
Tinju kuat berayun ke arahnya, tetapi Ark menahannya dengan mudah. Dia bahkan sempat menghela napas panjang sebelum berkata.
"Seharusnya kamu mendengarkannya terlebih dahulu."
"BAGAIMANA KAMU BISA TAHU?! KAMU ... SEBENARNYA SIAPA?"
Ekspresi marah tampak di wajah Leon. Pria itu benar-benar tidak bisa menahan emosinya. Merasa terkejut dan takut ketika mendengar ucapan Ark.
Berbeda dengan para penjahat yang masuk ke sel penjara karena berbagai alasan rumit dan jahat, Leon sebenarnya bisa dibilang pria yang masuk ke penjara dengan alasan bodoh.
Karena Leon tidak lagi bisa bertemu dengan orang kuat yang bisa dia ajak bertarung!
Semuanya dimulai ketika Leon masih kecil. Dia memiliki adik perempuan. Keduanya adalah gelandang yang tidak bisa hidup dengan baik. Bahkan kurang beruntung dibandingkan dengan Ark dan adiknya.
Kemalangan terjadi satu demi satu. Bukan hanya tidak bisa hidup dengan baik, Leon kehilangan adiknya di usia yang masih anak-anak karena pertempuran antar gangster di area mereka tinggal.
Saat itu, Leon menyalahkan dirinya sendiri. Merasa kalau adiknya mati karena dirinya lemah. Merasa kalau adiknya mati karena dirinya bodoh. Merasa kalau adiknya mati karena dia bukan kakak yang baik, tidak bisa memberikan tempat hidup yang layak bagi adiknya.
__ADS_1
Setelah memakamkan jenazah adiknya, Leon yang sedih hidup beberapa hari dengan perasaan tertekan dan bingung.
Suatu pagi, dia tiba-tiba hampir melupakan wajah adiknya sendiri. Satu-satunya keluarga yang dia miliki.
Leon mengakui bahwa dirinya tidak pintar dan tidak bisa mengingat banyak hal. Namun dia benar-benar enggan untuk melupakan adiknya. Bocah itu kemudian bersumpah untuk tidak melupakan adiknya.
Alasan kenapa adiknya mati adalah karena dia lemah dan tidak bisa memberi kehidupan yang layak bagi adiknya. Oleh sebab itu ... Leon mulai bertarung.
Selama bertarung dan menjadi lebih kuat, dia akan selalu mengingat adiknya!
Bertarung merebutkan roti berjamur di tempat sampah, bertarung sebagai pemimpin kelompok kecil, sampai bertarung sebagai bos kelompok gangster terkenal di kota. Pria itu terus menghabiskan waktu untuk bertarung dan terus bertarung.
Sampai suatu hari ... Leon tidak menemui orang yang pantas menjadi lawannya!
Jadi ketika membunuh bos gangster lain dan polisi datang, dia tidak melarikan diri. Bahkan malah memilih untuk menyerahkan diri. Alasannya sederhana, karena pasti ada orang-orang yang lebih kuat di penjara.
Begitulah cara Leon menghabiskan hidupnya.
Cerita ini tersebar cukup luas di kehidupan Ark sebelumnya. Kisah seorang pejuang kuat yang terus bertarung hanya untuk mengingat adiknya. Kisah bocah miskin yang bahkan tidak bisa berfoto dengan adiknya dan hanya bisa menyimpan penampilan adiknya dalam benaknya, sampai akhirnya merangkak ke atas. Menjadi salah satu ahli yang dikenal banyak orang!
Mengabaikan Leon yang menggila, Ark terus berkata.
"Kamu bisa terus menjaga perasaan itu, tetapi jangan sampai tersesat di jalan yang salah. Selain itu, aku ingin memberi nasihat."
Setelah mengatakan itu, Ark memegang pundak Leon. Dia kemudian menariknya ke bawah dengan mudah, membuat pria besar itu sedikit membungkuk.
Ark kemudian berbisik.
"Jika kamu tidak lagi memiliki alasan tinggal di Black Panther, kamu bisa datang ke tempat Dark Caravan biasanya berdagang.
Meski tidak langsung memasukkan, aku bisa memberimu ujian lebih ringan."
Ark berkata dengan santai sambil berjalan menjauh. Leon menatap punggung pria itu dengan tangan terkepal erat. Ekspresi rumit dan bingung tampak di wajahnya.
***
Sementara itu, di tempat kelompok Silver Cross berkumpul.
"Maafkan aku, Mr Julian."
Jimmy berdiri di depan Julian yang duduk bersandar. Melihat wajah pucat ketua kelompok Silver Cross tersebut, dia merasa agak bersalah. Namun keputusannya sudah bulat.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti."
Julian berkata dengan nada datar. Ekspresinya tampak kosong. Pria tersebut mencemooh dirinya sendiri.
"Lagipula, kalian tidak akan berakhir baik jika mengikuti ketua kelompok yang tidak berguna sepertiku."
__ADS_1
"Tidak!" Jimmy menggelengkan kepalanya. "Anda hebat! Anda sosok pemimpin yang baik! Anda adalah sosok pahlawan di mata banyak orang. Sosok yang menolong sesama tanpa pamrih."
"..."
Melihat Julian diam saja, Jimmy tersenyum pahit. Dia tampak gugup. Namun dia masih mengepalkan tangan erat-erat sambil berkata.
"Hanya saja, kami agak egois. Kami memang ingin menolong, tetapi tidak semua orang. Kami masih mementingkan diri sendiri. Merasa nyawa kami lebih penting.
Anda tahu, Mr Julian? Rick adalah anak yang polos. Dia mengagumi anda dengan tulus. Memiliki impian menjadi pria kuat yang menolong sesama seperti anda? Lalu apa?
Dia ditikam sampai mati. Pemuda baik sepertinya ... mati dengan cara semacam itu. Bukan mati untuk melawan monster kuat secara heroik, tetapi mati di tangan orang yang coba dia tolong?
Saya benar-benar tidak bisa menerima hal semacam itu!"
Rick adalah teman Jimmy sekaligus satu dari empat korban yang mati dalam misi kali ini. Hal itulah yang membuat Jimmy merasa tertekan.
"Aku mengerti. Dua belas orang dari kalian sudah menjelaskan alasan kenapa bergabung dengan Silver Cross sebelumnya. Kamu tidak perlu menjelaskannya lagi.
Kalian bisa pergi."
Mendengar jawaban datar Julian, tangan Jimmy mengepal erat.
"Yang benar saja! Berhenti bertindak seolah kamu tidak melakukan kesalahan! Kamu selalu berpikir kalau mereka yang mati tidak ada hubungannya denganmu!
Apakah kamu bahkan peduli dengan rekan-rekanmu, JULIAN!!!"
Mendengar itu, Julian langsung bangkit. Dia meraih kerah baju Jimmy, menariknya lalu memukul wajahnya dengan tangan lainnya.
BRUAK!
Jimmy langsung berguling di jalanan.
"Apakah kamu pikir aku ingin mereka mati? Mati untuk melindungi aku ketika gelombang zombie menyerang? Mati digerogoti tikus mutan? Bahkan mati dengan bodoh di tangan orang yang coba mereka selamatkan?
Apakah kamu tahu rasanya melihat wajah-wajah mereka ketika aku memejamkan mata? Apakah kamu tahu bagaimana aku ketakutan untuk tidur di malam hari? Dulu aku merasa kalau lebih baik mati, tetapi saat ini aku takut mati!
Aku takut bertemu dengan mereka di alam baka! Aku merasa malu pada mereka karena belum membuat perubahan apa-apa pada dunia!
Membawa beban orang-orang yang mati di pundakku ... rasanya benar-benar berat! Membuatku sulit bernapas, apalagi terus melangkah ke depan!
Pahlawan? JANGAN BERCANDA DENGANKU!"
Julian menutup wajahnya dengan tangannya. Air mata terus mengalir dan jatuh ke tanah berdebu.
Semua orang hanya memandang Julian dalam diam, benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.
Bahkan jika Ark ada di sini, dia tidak akan berkata apa-apa. Pemuda itu telah mengalaminya sendiri. Bertahun-tahun hidup sambil memikul harapan orang-orang. Rasa tercekik bahkan ketika berdiri diam.
__ADS_1
Ark benar-benar tahu ... beratnya kata "Pahlawan".
>> Bersambung.