
Keesokan paginya.
Tok! Tok! Tok!
Mendengar ketukan pintu, Ark yang baru saja membuka mata tampak bingung. Dia bangkit dari ranjang dengan ekspresi aneh di wajahnya.
Kamar Ark jelas ada di lantai tiga. Selain dirinya, jelas tidak ada yang boleh naik. Bukan hanya itu, di lantai tiga tempat dia tinggal dijaga oleh Finn. Meski terkadang tampak konyol, si putih masih jenis binatang yang kejam. Sama sekali tidak pernah memberi wajah kepada orang selain dirinya.
Membuka pintu, Ark sedikit bingung ketika melihat sosok Abigail yang berdiri di depan pintu sambil membawa nampan. Di atas nampan, tampak bubur dengan irisan daging di atasnya. Selain itu juga ada sayur dan segelas air.
Satu set sarapan mewah di dunia yang kacau ini.
"Ini ... mimpi?"
Ark tampak agak bingung. Dia merasa aneh karena Abigail bisa muncul di lantai tiga.
"Saya membawakan sarapan, Tuan. Dan, maaf ... ini bukan mimpi."
Mendengar itu, Ark melihat ke tempat biasanya Finn tidur. Dia langsung melihat sosok serigala putih besar yang sibuk makan daging penuh darah dalam ember besi. Merasakan tatapannya, si putih menoleh ke arahnya dengan ekspresi konyol. Sama sekali tidak ada rasa takut apalagi rasa bersalah di wajahnya!
Menyadari kalau biasanya yang mengurus Finn ketika Ark pergi melakukan misi adalah Abigail, ekspresi pemuda itu berubah menjadi khidmat.
'Putih konyol ini ... benar-benar bisa disuap dengan seember daging! Sungguh penjaga yang tidak berguna!'
Melihat perubahan ekspresi di wajah Ark, Abigail buru-buru berkata.
"Anda bisa tenang, Tuan. Meski Finn membiarkan saya naik, tetapi dia tidak mengizinkan orang lain melakukan hal yang sama. Bahkan semalam dia memergoki Kurona dan Shirona.
Benar kan, Finn?"
Mendengar ucapan Abigail, Finn menggonggong pelan sebelum lanjut menikmati sarapannya.
"Terima kasih, Abigail. Kamu bisa turun."
Ark berkata dengan nada datar ketika menerima makanan tersebut. Setelah itu, dia segera masuk ke kamar lalu makan di meja belajar.
Selesai makan, Ark menghampiri Finn lalu menendangnya dengan lembut.
"Sebagai penjaga, bagaimana bisa kamu membiarkan orang lain naik ke lantai tanpa seizinku, Finn?"
Ark menggelengkan kepalanya. Melihat tubuh Finn yang hampir tidak bisa bergerak bebas di tempat ini karena sudah terlalu besar, pemuda itu berkata.
"Tampaknya kamu tidak bisa tinggal di tempat ini lagi."
Mendengar ucapan Ark, ekspresi di wajah husky putih itu langsung berubah. Dia menatap ke arah tuannya dengan ekspresi tidak percaya. Tampak begitu manusiawi karena benar-benar mengerti apa yang Ark katakan.
"Tentu saja aku tidak mengusirmu karena kamu membuat masalah. Namun kamu harus tahu, dengan tubuhmu sekarang ...
Hampir tidak mungkin tinggal di lantai tiga!"
Finn langsung menyalak. Tampaknya protes, berkata kalau dirinya masih si putih imut dan menggemaskan. Tinggal di lantai tiga seharusnya bukan masalah!
"Siapa yang coba kamu bodohi? Sudahlah, ayo keluar. Lakukan lari pagi sambil melakukan patroli."
Mendengar kata lari pagi yang berarti 'jalan-jalan', Finn langsung bersemangat.
__ADS_1
Turun ke lantai pertama, Ark langsung disambut oleh beberapa tatapan. Namun dia mengabaikannya dan langsung pergi keluar bersama dengan Finn.
Meninggalkan mereka semua tanpa sepatah kata.
***
Satu minggu berlalu begitu saja.
Meski hubungan Ark dan para wanita tidak buruk, dibandingkan dengan sebelumnya, saat ini masih ada jarak di antara mereka. Tampaknya pemuda itu masih enggan untuk lebih dekat dengan mereka. Tentu saja, jadwal harian baik itu latihan, pekerjaan, dan istirahat masih berjalan seperti biasa.
Bahkan jika ada suatu hal yang mengganggu, mereka masih bersikap profesional. Tidak mencampur satu hal dengan hal lain hanya karena suatu masalah dalam hati mereka.
Di bengkel, ruang kerja Ark.
"Apakah pedangnya sudah selesai, Ark?"
"En." Ark mengangguk. "Kamu bisa mengambilnya."
Setelah mengatakan itu, Ark menunjuk ke arah pedang satu tangan yang cukup panjang berwarna hitam. Itu masih pedang Jay yang sebelumnya, hanya saja diperbaiki dengan mencampurkan berbagai bahan.
Bukan hanya pedang Jay, dua pedang Ark juga dimodifikasi karena benar-benar hampir hancur karena bertarung dengan gurita cincin biru bermutasi. Sedangkan pilihan untuk membuang, tentu Ark menolaknya.
Selama bahannya bagus dan masih bisa dibuat ulang, membuangnya jelas sia-sia!
"Hey, apa-apaan dengan kilau ungu ini? Benar-benar lebih keren daripada sebelumnya?"
"Hati-hati. Itu beracun." Ark berkata dengan ekspresi datar.
"Eh?"
Kamu harus berhati-hati ketika menggunakannya. Jangan bermain-main dan berakhir dengan membunuh orang tanpa sengaja."
"Ark, kamu ..."
"Karena korosi racun berat, bahkan setelah sembuh total, tangan kirimu sekarang akan memiliki tampilan seperti itu. Tampak seperti luka bakar.
Aku bertanggung jawab atas semua itu. Aku juga masih berhutang budi. Pedang seperti ini hanya masalah sepele, jadi tidak perlu sungkan dan bertindak malu-malu seperti gadis kecil.
Jujur saja, itu menjijikkan!"
"..."
Sudut bibir Jay berkedut. Saat dia ingin mengatakan sesuatu, sosok kecil menerobos masuk ke dalam ruangan sambil berkata.
"Aku kembali, Ketua!"
Melihat Lisa yang masih memakai jubah dan topeng, Ark mengangkat alisnya.
"Apakah ada masalah, Lisa?"
"Hehehehe~ Kamu pasti tidak akan percaya. Dalam perjalanan kali ini, kami mendapatkan panen yang sangat baik!"
Merasakan tatapan berbinar di balik topengnya, Ark dan Jay saling memandang.
"Lihat ini!!!"
__ADS_1
Lisa mengeluarkan sebuah bungkusan kain hitam. Ketika membukanya, tampak sebuah benda yang bingung apakah harus disebut sebagai tanaman atau hewan.
"Ini ... mandrake?!" ucap Jay dengan ekspresi terkejut.
"Ini ginseng berusia seribu tahun yang bermutasi, Bodoh. Kamu bisa melihatnya dengan jelas. Meski memiliki bentuk seperti boneka buangan yang reyot dengan empat anggota badan, fitur ginseng masih terlihat jelas.
Ya. Memang tidak bisa dipungkiri, penampilannya cukup mirip dengan mandrake dalam cerita dongeng."
"Lalu ... ini tidak berharga?" tanya Lisa dengan ekspresi kecewa di wajahnya.
"Tentu saja ini berharga."
"Meminumnya bisa meningkatkan kultivasi? Membuatku bisa menembus level 3, bahkan level 4 segera?" Lisa bertanya dengan ekspresi bersemangat.
"Hmmm ..."
Ark mengelus dagu. Setelah beberapa saat, dia kemudian berkata.
"Menurut tebakanku. Kandungan energi alami dalam benda ini memang tinggi."
"Haruskah aku meminumnya segera?" Lisa bertanya dengan mata penuh marap.
"Kamu boleh mencobanya, tetapi aku tidak ingin bertanggung jawab.
Menurutku, karena itu memiliki energi tinggi. Benda itu sendiri tidak cocok dikonsumsi. Bahkan bisa dibilang beracun.
Sepertinya jika kamu merendam benda itu dalam tong berisi air semalaman, keesokan harinya kamu bisa menjadi pembunuh masal setelah membagi air rendaman ke seribu orang."
"..."
Sudut bibir Lisa berkedut. Dari penjelasan dan 'tebakan' Ark, benda di tangannya sama sekali bukan harta karun kultivasi atau semacamnya. Jelas hanya racun kuat yang membuat orang mati setelah mengonsumsinya!
Melihat ekspresi murung Lisa, Ark mulai menghibur.
"Benda itu memang masih bisa dianggap sebagai harta. Mungkin kita bisa menggunakannya untuk hal lain.
Omong-omong, bagaimana kamu bisa mendapatkan benda semacam ini?"
Mendengar itu, Lisa tampak terkejut. Setelah itu, dia menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi malu-malu di balik topengnya.
"Sebenarnya ini adalah benda yang dititipkan oleh Julian untukmu, Ketua. Dia tidak tahu apakah ini berguna atau tidak, hanya merasa kalau benda ini tampaknya mahal."
Ark tercengang. Dia yakin kalau benda itu benar-benar harta, iblis kecil itu pasti akan membuat berbagai alasan dan tidak akan mengakui kalau itu hadiah dari Julian untuk dirinya!
"Lalu, kamu menukarnya dengan apa?"
"Julian sama sekali tidak meminta barang apapun. Hanya saja ..."
"Hanya saja?" tanya Ark.
Setelah beberapa keraguan, Lisa akhirnya berkata.
"Tampaknya Julian ingin kamu datang ke markas Silver Sword untuk mengurus sesuatu."
>> Bersambung.
__ADS_1