
Pada saat ketiga orang itu masuk, mereka langsung dikejutkan oleh pemandangan menarik dimana ribuan kecoa bermutasi berkerumun.
Berdiri di atas sebuah tangki besar, tampak dua sosok kecoa yang begitu mencolok.
Kecoa itu memiliki tinggi hampir tiga meter. Berdiri dengan dua kaki dan memiliki empat lengan. Tubuhnya berwarna coklat gelap dengan lapisan luar mirip baju besi milik para jenderal semut. Mereka juga memiliki sayap di punggung, dan penampilan yang bisa dibilang ...
Cukup sombong.
Melihat dua kecoa bermutasi level 4 tersebut, Ark seperti sedang melihat dua ksatria angkuh. Di bawah mereka, tampak ribuan kecoa bermutasi di level lebih rendah. Meski berasal dari ras yang sama, tampaknya dua kecoa tersebut menganggap mereka yang berkerumun di bawah itu mereporkan dan menjijikkan. Seperti ksatria yang menghina para rakyat jelata.
“Benar-benar menarik.”
Melihat pemandangan seperti itu, Ark langsung berkata dengan ekspresi tertarik.
Saat itu juga, para kecoa juga melihat kedatangan Ark, Kurona, dan Shirona. Mereka membuat suara mencicit yang terdengar aneh lalu bergegas menuju ke arah ketiga manusia tersebut.
Sebelum Kurona dan Shirona bergerak, Ark menyuruh mereka berdua tidak bergerak. Pemuda itu memasang kuda-kuda sambil memegang gagang dan sarung pedang di sisi kiri pinggangnya. Ketika dia mencengkeram erat gagang pedang, energi merah dan uap panas terus keluar dari celah sarung pedangnya.
Melihat banyak kecoa datang seperti gulungan ombak, Ark langsung menebas.
‘Half-moon Slash!’
Cahaya merah-hitam langsung melesat. Detik berikutnya, puluhan, bahkan ratusan kecoa bermutasi level 1 sampai level 3 dengan jarak sampai 25 meter dari Ark langsung dipotong menjadi dua bagian. Tidak sampai di sana, bagian tubuh yang terpotong tidak bisa lagi beregenerasi, malah mulai membusuk seolah terkena cairan korosif.
Mengabaikan kejuatan Kurona dan Shirona, serta para kecoa bermutasi yang panik, Ark menyarungkan pedangnya. Energi merah menyelimuti tubuhnya, lalu pemuda itu melayang perlahan. Akhirnya berdiri di atas sebuah mesin besar, kurang 40 meter dari dua kecoa bermutasi.
“Kalian berdua benar-benar menarik. Aku sama sekali tidak menyangka kalau ada makhluk yang bisa memiliki kepribadian seperti kalian.
Kalian berpikir kalian mulia dan hebat, kan? Kalau begitu, setidaknya kalian juga harus memiliki kekuatan yang lumayan. Mau bermain beberapa ronde denganku?”
Mengatakan itu, Ark sama sekali tidak menghunus pedangnya. Sebaliknya, dia membuat gerakan menantang dengan tangannya.
Meski tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ark, tampaknya kedua makhluk itu masih mengerti maksudnya. Merasakan otoritas mereka ditantang, keduanya membuat teriakan melengking yang terdengar aneh.
__ADS_1
Melihat dua kecoa yang bergegas ke arahnya, Ark langsung melepas jubahnya. Energi merah tidak menyelimuti tubuhnya, armor hitam juga tidak muncul. Bahkan, tampaknya pemuda itu sama sekali tidak menggunakan kekuatan miracle root manapun.
Jelas hanya ingin menguji ketangguhan tubuhnya jika melawan makhluk level 4 yang terbilang kuat itu!
Swoosh!
Ark dan dua kecoa bermutasi langsung melesat ke arah yang sama. Melihat dua tinju kanan berayun ke arahnya, pemuda itu langsung memutar tubuhnya. Menendang makhluk itu tepat di lehernya lalu menghempaskannya.
BANG!
Ketika salah satu kecoa bermutasi diterbangkan, kecoa lainnya langsung bergegas ke arah Ark. Empat lengan meninjunya dengan kecepatan luar biasa. Melihat itu, pemuda tersebut langsung menghindari puluhan tinju beruntun dan menangkis beberapa yang bisa ditangkis.
Pada saat pemuda itu terseret mundur beberapa meter, sosok kecoa yang sebelumnya terhempas muncul dari belakangnya dan memukul keras tepat ke kepalanya.
Ark langsung memutar tubuhnya ke samping. Dia meraih pergelangan tangan makhluk itu, menendang belakang lututnya, lalu melemparkannya ke kecoa lain dengan sekuat tenaga.
BRUAK!
“Itu saja? Aku heran kenapa Kurona dan Shirona tertarik pada kalian padahal kekuatan kalian hanya begitu-begitu.”
Ark melemparkan tangan kecoa dengan ekspresi tak acuh. Sebenarnya kecoa itu sendiri memiliki fisik kuat, tetapi jika dibandingkan dengan fisik Ark ... jaraknya jelas terlalu jauh.
Ark menyerap miracle root dari makhluk-makhluk tingkat bencana dan telah memperkuat tubuhnya dengan cara aneh dari evolusi miracle rootnya. Bisa dibilang, dia sudah setara dengan monster tingkat bencana dengan wujud manusia.
Saat itu, kedua kecoa membuat raungan marah. Mereka bangkit sambil menatap Ark dengan penuh kebencian. Bagian bahu tepat tangan kecoa putus menggeliat. Beberapa saat kemudian, tangan baru langsung muncul. Masih tampak agak rapuh dan dilapisi cairan aneh. Namun sudah jelas, tangan itu kembali utuh seperti sebelumnya dengan kecepatan luar biasa.
“Regenerasi super? Itu cukup bagus. Namun, jika kalian hanya mengandalkan itu ... oh?”
Melihat tubuh kecua bermutasi menjadi lebih padat dan berkilauan, Ark mengangkat alisnya. Cakar di keempat tangan mereka juga menjadi lebih besar dan tajam dibandingkan sebelumnya. Sayap di punggung mereka mulai mengepak dengan kecepatan luar biasa. Tiba-tiba ... sosok keduanya menghilang.
BANG!
Salah satu kecoa tiba-tiba muncul di depan Ark lalu memukulnya dengan sangat keras. Pemuda itu langsung terhempas puluhan meter. Ketika pemuda itu memutar tubuhnya dan hendak mendarat, kecoa lain muncul lalu menendang tepat ke perutnya dengan sangat keras.
__ADS_1
BANG!
Sekali lagi Ark terhempas. Kali ini langsung menabrak lantai dengan sangat keras. Asap tebal langsung mengepul. Ketika Ark bangkit, dia melihat dua kecoa bermutasi langsung memukulinya. Delapan tinju sekeras besi paduan terus mengenai tubuhnya dengan kecepatan luar biasa. Sosok kecoa yang sebelumnya dipotong tangannya langsung mengakhiri serangan dengan memukul Ark sekuat tenaga tepat di kepalanya.
BANG!
Sosok Ark langsung menabrak tangki besi raksasa dengan keras. Pemuda itu kemudian jatuh ke lantai dari ketinggian belasan meter ke tanah. Melihat tubuh Ark yang dipenuhi dengan luka, banyak bagian memar, robek, bahkan beberapa tulang patah, keduanya langsung membuat raungan aneh.
Pada saat keduanya puas, Ark tiba-tiba berdiri dengan santai tanpa mempedulikan kondisi tubuhnya. Daging di tubuhnya menggeliat. Memar mulai menghilang, luka mulai menutup, bahkan beberapa tulang membaik dengan cepat. Dalam beberapa saat, tubuh pemuda itu kembali utuh seolah tidak terjadi apa-apa.
Memijat sambil sedikit menggerakkan lehernya, Ark berkata dengan nada tenang.
“Luar biasa. Kekuatan dan kecepatan setara dengan jenderal semut jika mereka naik ke level 4. Regenerasi bahkan lebih berlebihan. Jika tidak salah, kalian bahkan memiliki skill berserk, kan?
Itu cukup baik, hanya sedikit di bawah Raja Semut pada tiga atribut tersebut. Sedangkan pertahanan dan skill khusus ... kalian tertinggal cukup jauh.
Karena kalian sudah menyerang. Akan menjadi tidak sopan jika aku tidak membalasnya, kan?”
Mengatakan itu, sosok Ark langsung memasang kuda-kuda. Pemuda itu kemudian melesat, menghilang sepenuhnya dan tiba-tiba muncul di depan salah satu kecoa.
Tinjunya langsung berayun dengak keras tepat ke dadanya.
CRACK!!!
Armor luar yang melapisi tubuh kecoa itu langsung dipenuhi dengan retakan. Makhluk itu merasa organ dalamnya berguncang. Darah hitam dan bau langsung menyembur dari mulut makhluk itu.
Ketika makhluk itu dihempaskan, Ark langsung memutar tubuhnya dan menendang dada kecoa lainnya. Bersama dengan suara retakan yang familiar, tubuhnya langsung diterbangkan puluhan liar dan menabrak dinding sampai hancur.
Melihat pemandangan semacam itu, Ark melirik dengan ekspresi datar.
“Apakah kalian mau melanjutkan ke ronde dua?”
>> Bersambung.
__ADS_1