
Ark dan Jay duduk berseberangan. Sementara Jay tampak agak gugup, Ark sendiri masih memasang ekspresi datar sambil menunggu.
“Sebenarnya ada yang aku ingin bicarakan, Ark. Aku ...”
“Berhenti bersikap malu-malu seperti gadis kecil. Itu menjijikkan.”
Melihat keragu-raguan Jay, Ark langsung menyela dengan ekspresi jijik. Sudut bibir Jay langsung berkedut ketika mendengar ucapannya.
“Aku tahu!” Jay menggaruk rambutnya dengan ekspresi frustrasi. “Sebenarnya aku memikirkan keluargaku, Ark.”
Setelah mengatakan itu, Jay tampak cukup lega. Dia kemudian menatap Ark yang masih saja diam lalu melanjutkan.
“Setelah melihatmu bertemu adikmu, aku tiba-tiba memikirkan orang tuaku. Maksudku, seperti yang pernah kamu bilang, mereka pengusaha besar dan memiliki banyak bawahan, jadi ...
Mungkin saja mereka masih selamat, kan?
Meski hubunganku dengan mereka tidak terlalu baik karena aku dipaksa untuk mewarisi perusahaan dan mendikte masa depanku, mereka tetap orang tuaku, Ark. Aku masih memikirkan mereka.
Apakah yang aku lakukan salah?”
Melihat Jay yang biasanya ceria dan sembrono menjadi bimbang, Ark menghela napas panjang. Dia kemudian menopang dagu dan berkata dengan santai.
“Tentu saja itu tidak salah. Belum lagi, sekarang kita telah berada di jalur pengembangan yang benar. Setelah hidup lebih baik dan selamat dalam proses survive, tidak ada salahnya bagi kita untuk memikirkan hal-hal selain diri kita sendiri.”
“...”
Ark melihat ke arah Jay yang masih saja terdiam. Melihat penampilan sahabatnya yang kuyu, dia melanjutkan.
“Apakah kamu ingin pergi? Di mana mereka tinggal?
Jika kamu ingin melakukannya, aku sama sekali tidak keberatan. Aku akan mengizinkanmu membentuk tim lalu pergi memastikan semuanya. Namun, jika jaraknya terlalu jauh, aku sarankan pergi tahun depan setelah salju mencair.
Apabila jaraknya cukup jauh tetapi masih bisa dicapai, kamu bisa pergi di bulan ini dan usahakan sampai kota tujuan sebelum musim dingin. Kamu harus tinggal di sana pada musim dingin, dan jika kembali ... pastikan ketika salju telah mencair.”
“Tidak.” Jay menggelengkan kepalanya.
“Apa maksudmu?” tanya Ark bingung.
__ADS_1
“Aku tidak akan pergi. Jaraknya tiga kota, cukup jauh. Selain itu, kita harus fokus pada pengembangan kelompok terlebih dahulu. Jika sudah semakin menyebar, bukan mustahil bagi kita untuk mencapai dan membuka cabang di kota itu.”
“Jay-“
“Tidak apa-apa, Ark! Ini sudah satu setengah tahun. Hanya ada dua kemungkinan. Pertama, mereka tidak bisa bertahan lalu meninggal. Terakhir, mereka menjadi lebih baik karena berhasil bertahan. Sama seperti kasus adikmu.
Omong-omong, apakah kamu mau mendengar ceritaku?”
“En.” Ark mengangguk ringan sebagai jawaban.
Jay mulai berbicara soal masa kecilnya sampai dewasa. Pria itu mulai menceritakan tentang orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Ekspresi di wajah Jay jelas campur aduk, tetapi Ark memilih untuk diam dan mendengarkan karena dirinya sadar ...
Jay sedang meluapkan segala emosinya.
Selesai menceritakan semuanya, Jay tampak lega. Dia kemudian menatap Ark dengan ekspresi tulus, penuh rasa terima kasih. Setelah itu, pria tersebut langsung bangkit sambil berkata.
“Kalau begitu aku akan pergi menemui Mona dahulu, Ark. Seperti biasa, aku perlu menenangkan diri~”
Melihat senyum di wajah Jay, Ark mengangguk dengan tenang. Baru setelah sahabatnya pergi, dia bersandar pada kursinya dan menatap telapak tangannya yang berkeringat. Meski wajahnya masih datar, tatapan penuh kejutan tidak bisa lagi disembunyikan.
Alasannya sebenarnya sangat sederhana. Ark mengenal kota yang Jay maksud dan ceritakan. Lagipula, tempat itu terkenal sebagai salah satu tempat sangat berbahaya dan pada kehidupan sebelumnya, perlu begitu banyak orang untuk menaklukkannya.
Memikirkan kota itu lalu mengingat senyum ceria di wajah sahabatnya, tangan Ark langsung mengepal erat. Memaksakan diri untuk tersenyum dan menghilangkan pikiran negatif, pemuda itu bergumam.
“Entah kenapa, aku benar-benar merasakan firasat buruk.”
***
Dua hari berlalu begitu saja.
Pada siang hari, Julian, Berto, dan sekitar 50 ksatria terbaik Silver Cross datang ke markas Sword of Sufferings untuk menemui Ark.
Mereka kemudian berkumpul di lantai pertama gedung kesenangan. Seperti biasa, Ark tidak berniat membiarkan ‘orang luar’ melewati gerbang markas pusat Sword of Sufferings. Jadi pada akhirnya mereka bertemu di tempat tersebut.
Tentu saja, mereka tidak melakukan apa-apa karena lantai pertama sampai tiga gedung ini memang dikhususkan untuk menerima tamu Sword of Sufferings. Selain itu, ada juga tempat pendaftaran dan pencatatan bagi seseorang yang mulai bekerja dalam pembangunan Great Wall atau beberapa proyek lainnya.
Semua pekerja diawasi sehingga jika ada orang yang tidak mendaftar terlebih dahulu, mereka akan dimusnahkan apapun alasannya. Jika tidak ada nama dan catatan, mereka semua yang berada di dalam dianggap penyusup dan hanya satu cara untuk mengatasinya.
__ADS_1
Dalam ruang santai, Ark duduk santai di kursinya. Di sebelahnya, ada Stacy yang bertindak seperti sekertaris. Di sisi lain, ada Julian dan Berto yang duduk bersebelahan.
Ark mengambil secangkir teh lalu menyesapnya. Setelah itu, dia meletakkan cangkir kembali ke atas meja lalu bertanya.
“Apakah ada masalah, Julian?”
Mendengar pertanyaan Ark, Julian dan Berto saling memandang. Setelah beberap saat, Julian akhirnya membuka mulut dan berkata.
“Aku datang karena mendengar kamu telah kembali dari perjalanan panjang. Aku datang untuk memastikan apakah informasi itu benar atau salah. Selain itu, aku juga ingin tahu ... apakah dunia luar juga sangat berbahaya seperti kota kita ini?”
Mendengar itu, Ark mengangguk ringan. Dia tahu alasan utama Julian datang. Mereka sangat penasaran dengan kondisi dunia luar. Lagipula, meski mereka sudah mulai hidup lebih nyaman, mereka masih ingin tahu apakah ada tempat yang lebih aman di luar sana.
“Maaf, Julian. Tampaknya aku harus mengecewakan kalian.”
“Apa maksudmu, Ark? Jika masalahnya adalah harga, kamu bisa menyebutkannya.”
Julian mengerutkan kening. Dia merasa Ark tidak mau berbicara karena setiap informasi dianggap berharga. Lagipula, setelah sekian lama kenal, Julian tahu kepribadian pria yang dipanggil Hades tersebut.
“Bukan itu masalahnya.” Ark menggelengkan kepalanya. “Maksudku, informasiku mungkin hanya membuat kalian kecewa.”
“Katakan saja, Ark.” Julian berkata dengan ekspresi serius.
“Tempat damai di luar sana ... sama sekali tidak ada.”
Ark berkata dengan nada datar. Mengabaikan ekspresi terkejut mereka berdua, dia kembali menjelaskan.
“Jika kalian ingin tahu. Aku akan menceritakan beberapa hal tentang dunia luar.”
Setelah itu, Ark mulai menjelaskan beberapa kelainan pada dunia. Jarak kota yang dipisahkan oleh beberapa medan unik. Makhluk bermutasi di luar kota, dan keunikan kota-kota lain.
“Jadi benar-benar tidak ada harapan?”
Julian berkata dengan senyum masam di wajahnya. Sedangkan Berto tampak agak ragu. Ark sendiri tidak peduli dengan pikiran mereka berdua. Lagipula, dia hanya menyatakan fakta yang perlu dijelaskan. Percaya atau tidak, itu urusan mereka.
“Memang, tidak ada tempat yang aman di luar sana. Namun kalian mengabaikan suatu hal penting.”
Ark mengetuk meja dengan jarinya.
__ADS_1
“Jika tidak ada tempat aman, kita hanya perlu membuatnya.”
>> Bersambung.