
Dalam hutan yang cukup lebat, lebih dari dua puluh orang bergerak maju tidak cepat atau lambat.
“Medan di tempat ini tampaknya tidak lebih rumit daripada yang berada di kota kita, Bos. Ditambah jejak dari orang-orang Crux of Shadow, seharusnya kita tidak kesulitan mencapai kota berikutnya, kan?”
Tidak tahan dengan momen sepi di antara mereka semua, Leon berbicara dengan senyum di wajahnya.
“Memang. Mungkin karena mereka menganggap Crux of Shadow tidak memiliki saingan, cara orang-orang ini membuat jalan sangat sembrono. Tidak membuat jalan utama, tetapi hanya memotong pohon-pohon muda yang menghalangi jalan secara acak.”
Draco menggelengkan kepalanya. Meski dia cukup heran dan penasaran dengan kekuatan Crux of Shadow, tetapi cara mereka melakukan sesuatu membuatnya sedikit kecewa. Ekspektasinya terlalu tinggi.
Beberapa saat kemudian, sosok Saito muncul di depan rekan-rekannya. Dia langsung menghampiri Ark lalu berkata dengan ekspresi serius.
“Maaf, Ketua. Tampaknya mereka benar-benar hanya membuat satu jalan.”
Laporan dari Saito membuat Ark mengangguk ringan. Pada awalnya dia menduga kalau mereka cukup licik, membuat jalan palsu yang diarahkan ke tempat binatang bermutasi tingkat tinggi untuk menjebak lawan-lawannya. Membuat jalan lebih kecil dan tersembunyi untuk mereka lewati sendiri.
Ya ... itulah yang dilakukan oleh Sword of Sufferings.
Jalan besar yang dibuat sampai pos sementara adalah nyata. Sementara dari pos sampai menuju kota berikutnya dibuat sedikit rumit dengan banyak jalan. Tentu saja, jika yang melacak cukup cerdik, mereka akan lebih memperhatikan jejak kaki para husky dan jejak roda kereta. Apa yang dilakukan Sword of Sufferings hanyalah untuk mengulur waktu saja.
Menurut rencana Ark, jalan yang menghubungkan dua kota bisa dibuka pada tahun depan. Setelah musim dingin, pada awal musim semi usai salju mulai mencair.
Ark melihat ke arah rekan-rekannya. Pemuda itu mengangguk ringan saat berkata.
“Kalau begitu kita akan melanjutkan perjalanan. Tidak perlu mengambil beberapa tanaman bermutasi yang telah kita miliki. Tandai saja tempatnya, kita akan mengambilnya ketika kembali.”
“Dimengerti!” jawab mereka serempak.
Pada saat itu, Huginn dan Muninn membuat suara nyaring. Mereka bertugas untuk memantau area sekitar dan juga menandai beberapa makhluk yang berada pada level tiga atau di atasnya. Jika terlalu kuat, makhluk itu akan dihindari. Jika berada di level tiga ...
Ark akan memburunya!
__ADS_1
Lagipula, selain ingin memeriksa Crux of Shadow yang mungkin menjadi ancaman, alasan kenapa Ark memilih untuk keluar dari kota adalah memburu binatang bermutasi tingkat tinggi untuk memulihkan dirinya.
Melihat ke arah Huginn dan Muninn yang berputar di langit menandakan ada mangsa, Ark berkata dengan senyum di balik topengnya.
“Waktunya untuk berburu, Teman-teman!”
***
Sementara itu, di pinggiran kota beberapa kilometer dari markas kelompok Spirit of Fire.
“Ini ... benar-benar nyata?”
Berdiri di depan banyak bangkai tikus bermutasi, Evans menatap kedua tangannya yang dipenuhi darah dengan ekspresi tidak percaya. Di sekitar mulut dan pipi pemuda itu, tampak bekas darah yang belum sepenuhnya mengering.
Jika diperhatikan, bagiak perut tikus-tikus tersebut dirobek, masih terus mengeluarkan darah. Jika ada yang mau memeriksa dengan teliti, mereka pasti terkejut ketika melihat kalau jantung tikus itu telah digali.
Melihat bangkai belasan tikus bermutasi, Evans yang biasanya pendiam mengangkat sudut bibirnya. Dia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya sambil bergumam.
Evans mengingat beberapa kenangan buruk dalam kepalanya. Disiksa, dikejar zombie, jatuh ke tempat gelap dan kotor, hampir dimakan tikus, dikhianati setelah kembali ... mengingat semua itu membuat tangan pemuda tersebut mengepal erat.
‘Tidak akan lagi! Kali ini, aku tidak akan perlu merasakan rasa sakit seperti itu lagi!’
Evans merasa hatinya terbakar. Meski memiliki fisik baik, cerdas, muda, memiliki paras tampan, dan cukup menonjol dalam kelompok ... dibandingkan dengan para veteran nyata di masing-masing bidang mereka, dia tidak ada apa-apanya. Pemuda itu jelas mengetahui perbedaan mereka.
Contohnya, meski fisik Evans baik dan cukup terlatih, tetapi dia akan kalah jika bertarung melawan Paul yang dulunya adalah gangster. Meski dirinya pintar, tetapi dia juga kalah dengan para profesor. Evans mungkin bisa dibilang jack of all trade, tetapi tidak bisa dibilang ahli top.
Hanya saja, sekarang berbeda. Pemuda itu merasa kekuatannya tumbuh dan akan terus tumbuh. Jika anggota Sword of Sufferings atau Crux of Shadow melihatnya, mereka pasti sadar kalau pemuda itu nyaris menembus tingkat dua. Meski tidak bisa dikatakan kuat, tetapi dibandingkan manusia biasa, Evans sudah memiliki fisik setara dengan prajurit super.
‘Jika tidak segera kembali, aku pasti akan dicurigai sebagai pengkhianat. Lebih baik pergi dari tempat ini sesegera mungkin.’
Setelah membuang bangkai tikus, Evans membersihkan diri lalu kembali.
__ADS_1
Sesampainya di markas, Evans langsung disambut oleh Brian yang khawatir. Sahabatnya itu menghampirinya dengan ekspresi cemas.
“Aku pikir kamu melakukan hal-hal gila karena patah hati!” ucap Brian dengan ekspresi lelah.
“Maksudmu bunuh diri?” Evans menyeringai.
“Ya! Aku pikir kamu begitu ceroboh sehingga akan melakukan hal nekad seperti itu. Syukurlah kamu masih cukup waras. Kemana saja kamu pergi? Jika kamu mau, lain kali aku akan menemanimu.”
“Tidak perlu.” Evans menggelengkan kepalanya. “Aku hanya keluar untuk menjernihkan pikiran dan berpatroli.”
“Patroli?” tanya Brian.
“Ya. Kamu tahu, sejak aku ditangkap dan diperlakukan dengan cara seperti itu ... aku benar-benar merasa paranoid. Aku takut mereka akan muncul secara tiba-tiba dan menangkapku seperti sebelumnya. Untuk mengurangi kecemasan, aku memilih untuk berkeliling untuk memastikan kalau semuanya memang baik-baik saja.”
Evans menghela napas panjang. Dia menatap ke arah sahabatnya dengan senyum pahit, merasa agak bersalah. Namun Brian sama sekali tidak marah dengan tindakannya. Pemuda tersebut malah mendukungnya. Tampaknya juga khawatir pikirannya menjadi kacau jika terus berada di markas dan melihat mantan kekasihnya itu.
“Omong-omong, apakah kamu bisa mengajariku memanah, Brian?”
Evans sangat mengetahui kemampuan memanah sahabatnya. Alasan kenapa Brian bisa dianggap salah satu anggota tingkat tinggi dalam Kelompok Spirit of Fire bukan karena kekuatan atau kecerdasannya, tetapi karena kebaikannya, kehebatannya dalam melacak, dan teknik memanahnya yang luar biasa.
“Bukankah kamu bilang kalau memanah itu bukan gayamu?” Brian merasa bingung.
Evans merasa agak malu. Sebelumnya, dia menolak diajari oleh Brian karena merasa itu melelahkan. Memang, memanah dilakukan dari belakang. Hanya saja, karena hanya bisa mendapatkan busur, mereka harus membuat anak panah sendiri. Hal tersebut benar-benar merepotkan, jadi pemuda itu merasa enggan.
Sedangkan sekarang, Evans sendiri mengerti betapa bergunanya keterampilan memanah. Khususnya bagi dirinya sendiri. Meski merepotkan untuk membuat anak panah sendiri, tetapi keterampilan tersebut sangat berguna untuk berburu.
Ya. Karena masih tidak puas dengan kekuatannya saat ini ...
Evans berencana untuk mulai berburu makhluk yang sedikit lebih kuat!
>> Bersambung.
__ADS_1