Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Siapa Musuh Sebenarnya?


__ADS_3

“Irene? Siapa? Sepertinya aku tidak mengenalmu.”


Melihat wanita cantik berambut merah itu, Cassandra merasa tidak mudah melupakannya bahkan jika hanya bertemu sekali saja. Mendengar ucapan sebelumnya, dia menyempitkan mata.


“Tuan? Untuk siapa kamu bekerja? Apakah kamu orang luar? Anggota Sword of Sufferings?”


Irene masih menampilkan senyum ramah seperti biasa. Melihat Cassandra yang curiga padanya, dia sama sekali tidak marah. Sebaliknya, wanita itu menjelaskan dengan tenang.


“Sebelumnya kita tidak saling kenal. Namun, sekarang kita saling mengenal.


Untuk siapa aku bekerja, sekarang masih rahasia. Kamu juga benar, kami tidak berasal dari kota ini tetapi datang lebih dahulu dibandingkan Sword of Sufferings.”


“Kami ...” gumam Cassandra.


Dari cara Irene berbicara, wanita itu tahu kalau si cantik berambut merah berasal dari kelompok berbeda. Namun, ada alasan yang membuatnya curiga.


‘Jika mereka datang lebih dulu, kenapa tidak ada kabar? Kenapa baru muncul sekarang?’


Melihat ekspresi Cassandra yang dipenuhi kecurigaan, Irene tetap tersenyum sambil menjelaskan.


“Kamu bisa menyebut kelompok kecil kami sebagai Blood Valkyrie. Bukan kelompok besar beranggotakan ratusan atau ribuan orang, bahkan bukan kelompok sedang yang beranggotakan puluhan orang.


Kami memiliki jumlah terbatas. Namun, jumlah tidak membatasi kekuatan kami. Jika tidak percaya, kamu boleh mencobanya.”


Cassandra mengerutkan keningnya. Wanita itu kemudian menatap Irene yang tampak tenang padahal berada di dalam sarang musuh. Itu berarti, si cantik berambut merah cukup percaya diri untuk pergi dari tempat ini.


Memiliki kepercayaan diri untuk lolos dari pengepungan ratusan orang!


“Katakan padaku. Kenapa ‘Tuan’ di mulutmu menginginkan aku?”


“Hm ...”


Irene mencubit dagu. Matanya melihat langit-langit, tampaknya sedang memikirkan alasan kenapa tuannya menginginkan Cassandra.


“Selain memiliki potensi, mungkin dia merasa ‘iba’ atas apa yang terjadi padamu?”


“Iba?” Cassandra tercengang. “Maksudmu, orang itu merasa kasihan padaku? Ketua Imperial Phoenix yang memiliki kedudukan tinggi di kota ini?”


“Kedudukan tinggi, kah?”


Irene bersandar pada kursi. Wanita itu kembali menatap langit-langit, tidak tahu sedang memikirkan apa.


Beberapa saat kemudian, dia menatap ke arah Cassandra dengan senyum ikonik lalu berkata.


“Judul yang penuh kebohongan semacam itu sepertinya tidak terlalu berguna.


Maksudku, bukankah kamu hanya menyandang gelar tetapi tidak memiliki kekuasaan sepenuhnya. Kamu memiliki beban berat tetapi tidak dihargai. Kamu selalu bekerja keras tetapi tidak ada yang mengerti.

__ADS_1


Ya. Mungkin itu yang membuat Tuan merasa iba.”


Membicarakan sesuatu yang menyedihkan dengan senyum lembut di wajahnya membuat Irene semakin misterius di mata Cassandra. Awalnya dia ingin menanyakan beberapa hal, tetapi akhirnya hanya menggelengkan kepala.


Sekarang bukan waktunya untuk berurusan dengan hal-hal acak di luar kepentingan Imperial Phoenix. Jadi wanita itu tidak bermaksud untuk melanjutkan pembicaraan tanpa arah yang jelas ini.


“Maaf, aku tidak tahu tujuan asli kalian, tetapi aku memilih untuk menolak.”


“Oh?” Irene memiringkan kepalanya. “Tidak kah kamu ingin memikirkannya lagi?”


“Tidak.” Cassandra menggeleng ringan. “Aku tidak memiliki waktu untuk dihabiskan denganmu. Jadi, sebelum aku memanggil orang-orang untuk mengepungmu, silahkan pergi dari sini.”


Jawaban Cassandra sama sekali tidak membuat Irene marah. Wanita itu bangkit dari kursi lalu menepuk ringan debu di jubahnya. Kemudian, dia berjalan menuju ke arah jendela.


Sebelum pergi, Irene menoleh ke arah Cassandra sembari berkata.


“Kita akan bertemu lagi nanti.”


***


Sementara itu, di perbatasan tempat Golden Maple Group berada.


Di atap salah satu bangunan, Jay yang mengenakan jubah dan peralatan lengkap duduk sambil mengawasi keadaan sekitar. Pria itu memandang ratusan orang yang dibagi sesuai dengan grup tersendiri.


Kebanyakan dari mereka membentuk tim sepuluh orang dan ditempatkan di posisi sesuai dengan formasi.


‘Dari formasi, sama sekali tidak ada yang salah. Jadi apa yang sebenarnya membuatku merasa tidak nyaman?’


Tatapan Jay mengunci sosok Chris yang berada di kejauhan.


Pria paruh baya itu sibuk berbicara pada rekan-rekannya. Dia selalu memasang senyum meski dirinya sendiri dibuat pusing oleh banyak masalah. Bisa dibilang, orang itu memberi rekan semangat sambil menutupi masalahnya sendiri.


‘Dad ...’


Melihat sosok pemimpin dari ayahnya, Jay merasa agak menyesal.


Sejak kecil, Jay selalu dimanjakan dan mendapatkan apa yang diinginkan. Namun, dia sama sekali tidak tahu betapa beratnya pekerjaan orang tua. Jay hanya berpikir kalau kedua orang tuanya yang sibuk tidak mementingkan dirinya.


Padahal, alasan kenapa mereka bekerja keras juga karena ingin membahagiakan anak mereka.


Jay juga pernah berpikir kalau ayahnya tidak berguna. Hanya bisa menerima warisan dan menjalankan perusahaan yang ditinggalkan oleh kakeknya. Namun, kenyataannya tidak semudah itu.


Meneruskan perusahaan agar tidak runtuh agak sulit bagi Chris yang sebelumnya kurang pengalaman. Belum lagi, dia selalu dibandingkan dengan mendiang ayahnya yang sangat bertalenta dan memiliki kepemimpinan luar biasa.


Bisa dibilang, saat itu Chris mendapatkan tekanan sangat berat dari segala arah. Jika bukan karena bantuan istrinya, sulit baginya untuk bertahan. Itu juga menjadi alasan kenapa dia sangat menghargai istrinya, Lara.


Melihat mood orang-orang mulai naik setelah mendapatkan dukungan, Jay tidak bisa tidak merasa kagum terhadap ayahnya. Meski tidak memiliki kesan ‘Raja’ ketika muncul di hadapan orang, tetapi dia memberi kehangatan yang membuat orang-orang nyaman mengikutinya.

__ADS_1


‘Benar saja. Setiap orang memiliki ciri khas berbeda. Tidak bisa disamakan ataupun ditiru.’


Melihat ke arah ayahnya, tangan Jay mengepal erat. Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu berkata.


‘Tenang saja, Dad. Kali ini aku bukanlah pemberontak. Baik menjagamu dan menyelesaikan misi ...’


Mata Jay berkilat penuh dengan ketegasan.


‘Aku akan melakukannya dengan baik!’


***


Sementara itu, di suatu tempat dekat perbatasan Imperial Phoenix.


Di dalam sebuah rumah yang telah dibersihkan, tampak sebelas orang berkumpul. Selain itu, ada juga beberapa orang yang berpatroli di luar rumah.


Di antara sebelas orang, tampak satu orang yang tampil mencolok. Dia memiliki tubuh tinggi, kurus, dan memiliki rambut pirang dipotong pendek. Wajahnya dipenuhi dengan jejak kesombongan. Pandangannya penuh dengan penghinaan, menganggap orang lain lebih rendah darinya.


Dia adalah Bolton, salah satu jenderal dari Imperial Phoenix.


“Kalian tahu apa yang harus dilakukan, bukan?”


Mendengar pertanyaan itu, sepuluh orang yang merupakan pemimpin sedang 15 orang saling memandang. Mereka kemudian mengangguk dengan ekspresi serius sambil menjawab serempak.


“Tentu saja kami tahu, Pak!”


“Intinya. Jika ingin hidup dengan baik, jangan sampai membuat kesalahan. Jika Paman Derek tidak puas, kalian pasti akan sengsara.”


Bolton menopang dagu, menatap ke arah orang-orang dengan ekspresi jijik.


Mendengar ucapan pria itu, orang-orang menghirup udara dingin. Meski tampak agak ragu, mereka masih menggertakkan gigi dan mengangguk. Jelas telah membuat keputusan berat tetapi harus dilakukan.


Mengabaikan orang-orang yang merasa bersalah dan bimbang, Bolton mengeluh dalam hati.


‘Kenapa harus aku yang datang ke tempat terpencil seperti ini? Bukankah sebelumnya telah disepakati kalau aku tidak harus meninggalkan markas?’


Saat mengeluh dalam hati, sosok Cassandra muncul dalam benaknya. Mengingat sosok cantik, sombong, dan susah didekati itu membuat Bolton tanpa sadar menjilat bibirnya.


‘Bahkan jika kehilangan satu tangan dan kaki, itu pasti tidak akan mempengaruhi kecantikannya. Juga ...


Seharusnya Paman Derek tidak keberatan aku membawanya kembali jika tidak lagi memiliki kekuatan, kan?’


Membayangkan dirinya mendapatkan apa yang diinginkan membuat mata Bolton berbinar. Jelas, pria sombong itu sama sekali tidak menyembunyikan ambisinya.


Ingin mendapatkan Cassandra sebagai miliknya.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2