Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Wanita Keras Kepala


__ADS_3

"A-Apa ... Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan, Ark?"


Ketika tersadar, Natasha mundur satu langkah. Dia menatap ke arah pemuda tampan yang berdiri di depannya.


"Kenapa? Tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu?"


Ark balas bertanya dengan ekspresi datar di wajahnya.


"..."


Natasha hanya berdiri diam di depan Ark, sama sekali tidak tahu harus menjawab bagaimana.


Ark mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Natasha dengan lembut. Menatap tepat ke mata gadis itu, dia berkata lembut.


"Kamu seperti kerang kecil, Natasha. Tampak keras di luar, tetapi setelah terbuka ... sebenarnya lembut di dalam."


Ucapan Ark membuat Natasha tertegun, tetapi segera sadar lalu menyingkirkan tangan pemuda yang menyentuhnya.


"Jangan berkata seolah kamu mengenalku, Ark! Kita—"


Belum menyelesaikan ucapannya, Natasha terkejut ketika lelaki itu memeluk pinggangnya dan langsung merenggut bibirnya. Dia berusaha meronta, tetapi karena tidak bisa ... akhirnya menyerah.


Setelah kedua bibir berpisah, Natasha langsung bersandar di dada Ark dan berkata dengan nada kesal, marah, sekaligus tak berdaya.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku, Ark?"


Mendengar pertanyaan itu, Ark hanya memeluk wanita itu sambil memejamkan mata.


***


Suatu senja di atap gedung tinggi yang berada di pinggir kota.


"KENAPA KAMU MAU MELAKUKAN INI, BODOH?"


BRUAK!


Tampak sosok pria memakai setelan hitam dengan dua pedang di sisi kanan dan dua pedang di sisi kiri pinggangnya memukul wajah wanita dengan keras sampai-sampai wanita itu jatuh ke lantai.


Wanita itu bangkit sambil menyeka darah di mulut dan hidungnya. Dia memiliki kulit cokelat, rambut hitam, mata hazel, dan paras cantik. Namun, tampak ada perasaan luar dibalik penampilan anggun itu.


"Sejak kapan kamu peduli dengan orang lain, B-jingan Penyendiri?"


Wanita itu menyeringai, mengejek pria tampan di depannya.

__ADS_1


"Kamu ..." gumam pria itu dengan ekspresi marah.


"Tidak perlu marah, Archie sayang." Wanita itu menyeringai dengan ekspresi mengejek. "Mungkinkah kamu jatuh cinta kepadaku sehingga tidak ingin aku mati dan meninggalkan kamu sendiri?"


"Berhenti main-main, Harimau J-lang. Lebih baik kamu ikut denganku!"


Pria itu mencoba meraih tangan wanita tersebut, tetapi ditampik keras.


"Aku tidak akan pergi, Ark. Aku akan tinggal di sini. Kami akan menjaga tempat ini."


Mendengar itu, tubuh Ark gemetar karena marah.


"Untuk apa kamu begitu keras kepala, Natasha?! Kamu tahu apa yang terjadi jika tertinggal di belakang!


Itu bukan ratusan atau ribuan monster! Kamu pasti mati!


Apakah kamu tetap ingin tinggal?"


Mendengar itu, sosok Natasha memalingkan wajahnya. Memunggungi Ark sambil menatap langit merah, wanita itu akhirnya berkata.


"Aku tidak bisa pergi, Ark. Jika aku pergi, bahkan jika ada pasukan yang mencoba menahan, mereka tidak akan bisa bertahan.


Migrasi akan gagal.


Aku tahu kita sering bertengkar dan tidak akrab. Selain itu, aku sering membuatmu dalam masalah. Ya. Lagipula, aku benci pria egois seperti dirimu. Namun, aku juga berterima kasih.


Bahkan jika hubungan kita buruk, kamu masih membujukku untuk pergi setelah mengetahui kebenarannya."


"LALU KENAPA HARUS KAMU? KENAPA BUKAN MEREKA?


BUKANKAH MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG SELALU MENYERUKAN PERJUANGAN DAN KEBEBASAN MANUSIA! LALU KENAPA MEREKA YANG MELARIKAN DIRI TERLEBIH DAHULU?


KATAKAN PADAKU, NATASHA! KENAPA ..."


Suara Ark tercekat ketika melihat sosok Natasha yang menoleh ke arahnya dengan senyum lembut.


"Jika ada reinkarnasi, mungkin aku akan terlahir ribuan tahun yang akan datang. Mungkin saat itu, dunia telah kembali damai. Jika diberi kesempatan, aku pasti akan memilih kehidupan gadis normal.


Bersekolah, kuliah, merasakan cinta, berkeluarga, dan melakukan semua itu daripada memegang senjata dan berdiri di garis depan.


Saat itu—"


"Berhentilah menghipnotis dirimu sendiri dengan takhayul semacam itu, Bodoh."

__ADS_1


"Hey, kamu benar-benar merusak suasana wanita cantik ini!"


Melihat senyum penuh canda di wajah Natasha, Ark mendecak.


"Aku heran kenapa masih mencoba membujukmu padahal mengetahui kalau dirimu begitu keras kepala."


"Hahaha! Kamu memujiku."


Mengabaikan sosok Natasha, Ark berbalik untuk pergi. Namun saat itu, suara wanita memanggilnya.


"ARK!"


Mendengar itu, Ark menoleh ke belakang.


"B-jingan Penyendiri sepertimu biasanya bebas. Jadi kalau ada waktu ...


Kunjungi aku, Okay?"


Natasha tersenyum cerah ketika mengatakan kalimat tersebut, membuat tangan Ark terkepal lebih erat. Dia berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.


Dengan demikian, beberapa tahun berlalu begitu saja.


Di tanah tandus yang tampak suram dan berdebu, sebuah pedang besar tertancap di tanah dengan kokoh. Pedang itu dipenuhi dengan goresan dan karat. Dari penampilannya, terbayang jelas seperti apa yang telah dilaluinya.


Di depan pedang, tampak sosok Ark yang membawa bunga warna-warni lalu melemparkannya tepat di depan pedang tersebut.


Sebatang rokok tampak di tangannya. Menyesap perlahan, pria dengan ekspresi mati rasa di wajah itu kemudian menghembuskan perlahan.


Asap naik ke atas. Namun sebelum sampai ke langit, asap itu dimusnahkan oleh tiupan angin.


Menatap ke langit dengan ekspresi datar di wajahnya, pria itu bergumam.


"Setelah bertahun-tahun, aku belum menemukan jawabannya, Natasha.


Aku benar-benar merasa dunia ini aneh.


Sungguh ... kenapa b-jingan kejam sepertiku hidup begitu lama?"


Mengatakan itu, Ark melempar puntung rokok lalu menginjaknya. Setelah itu, dia berbalik pergi sembari terus bertanya.


"Sementara itu ... kenapa orang-orang baik seperti kalian mati lebih dahulu?"


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2