Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Malam Masih Panjang


__ADS_3

Malam di hari berikutnya, Ark berbicara kepada adiknya sebelum berangkat.


“Itu ... bukankah itu terlalu gila, Kak?”


Berbeda dengan Draco dan Leon yang sebelumnya langsung setuju, Evans tampak bingung. Dia jelas tidak menyangka kalau ide semacam itu terucap dari mulut kakaknya yang biasanya berpikiran begitu dingin.


“Ini sama sekali tidak ada hubungannya denganmu, Evans.”


“Hah? Apa maksudmu, Kak?” Mata Evans terbelalak.


“Sudah aku bilang, ini misi yang akan aku lakukan dengan anggota Sword of Sufferings lainnya. Kamu dan anggota kelompokmu tidak ada hubungannya dengan ini semua. Lebih baik bersembunyi dengan aman sambil berlatih dengan baik.”


“Tapi kami juga-“


“Kalian hanya akan menjadi beban dan orang-orang itu hanya akan mati jika keluar dari tempat persembunyian ini.”


“Tapi-“


“EVANS!”


“...”


Melihat ekspresi dingin di wajah kakaknya, Evans mengepalkan tangannya begitu erat. Dia tidak merasa marah kepada kakaknya, tetapi pada dirinya sendiri. Pemuda itu merasa lebih inferior dan tidak berguna dibandingkan dengan kakaknya.


Setelah memikirkan banyak hal, pemuda itu akhirnya menjadi lebih tenang. Dia kemudian menatap tepat di mata Ark, jenis tatapan penuh tekad dan rasa pantang menyerah.


“Lain kali aku pasti akan ikut berkontribusi!” tegas Evans.


Mendengar itu, Ark tersenyum. Dia kemudian menepuk pundak adiknya.


“Kalau begitu kamu harus lebih banyak berlatih agar tidak mati di luar sana.”


Setelah mengatakan itu, Ark memakai topengnya lalu keluar dari ruangannya. Pemuda itu langsung pergi bersama dengan anggota Sword of Sufferings lainnya, meninggalkan tempat persembunyian dan menuju ke tempat tujuan masing-masing.


***


Sekitar jam dua malam, di salah satu pos penting milik Crux of Shadow.

__ADS_1


Banyak penjaga yang sedang berjaga. Hanya saja, ekspresi mereka tidak terlihat begitu serius. Bahkan sebagian besar dari mereka tampak mengantuk. Karena terbiasa hidup cukup nyaman, mereka sama sekali tidak memikirkan banyak hal. Berpikir kalau kehidupan mereka akan selalu aman.


Saat itu, suara langkah berat terdengar dari kejauhan. Setiap kali suara terdengar, mereka langsung memikirkan binatang buas besar yang sedang berjalan. Namun saat beberapa orang yang masih sadar melihat ke arah kejauhan, ekspresi mereka berubah menjadi pucat.


Di kejauhan, tampak sosok berjubah dengan tinggi lebih dari dua meter. Tampaknya tubuh di balik jubah dipenuhi dengan otot-otot sekuat baja. Saat ini dia membawa sebuah pilar besar, Ya, sebuah pilar yang biasanya digunakan di depan rumah. Pilar itu memiliki diameter sekitar 75 cm dengan panjang sekitar lima meter. Terlihat seperti sebuah tongkat raksasa ketika dibawa oleh pria itu.


Meski semua orang hanya melihat topeng yang menutup wajahnya, tetapi mereka merasa bisa melihat sosok binatang buas yang tersenyum ganas di balik topeng tersebut.


“Panggil semua penjaga lainnya dan penanggung jawab!” ucap salah satu penjaga.


Saat beberapa penjaga segera mencari bala bantuan, sosok pria besar yang sedang memikul pilar besar itu mulai menpercepat langkahnya sambil berteriak lantang.


“UUUOOOHHH!!!”


Sosok Leon berjalan lebih cepat, lalu mulai berlari. Saat jarak dengan gerbang besar hampir mencapai sepuluh meter, pria itu langsung berhenti dan melemparkan pilar yang dia bawa seolah sedang melempar lembing. Namun, alih-alih mengincar gerbang yang tertutup rapat, Leon malah langsung melemparkannya ke beranda lantai dua tempat belasan orang berjaga.


Banyak orang langsung panik dan saling dorong. Dikarenakan banyak menunda, pilar besar langsung menabrak mereka dengan keras, membunuh banyak orang dan membuat sebagian sisanya terluka parah.


Setelah melihat hasil karyanya dengan puas, Leon langsung berlari menuju ke gerbang. Dia mengepalkan tangannya dengan erat lalu memukul gerbang dengan sekuat tenaga.


BANG!!!


“AKU DATANG UNTUK BERPESTA!”


***


Sementara itu, di salah satu pos penting lain.


‘Aku yakin kalau si bodoh itu pasti membuat masalah besar dengan tampil begitu mencolok.’


Melompat melewati pagar pembatas dengan santai, Draco tidak bisa tidak memikirkan tindakan bodoh yang mungkin Leon lakukan. Dalam operasi ini, 23 orang berpencar membentuk lima tim dan 3 orang individu yang melakukan tindakan sendiri. Dua puluh prajurit dibagi menjadi lima tim dengan anggota 4 orang. Sedangkan Ark, Draco, dan Leon bertindak sendirian.


Baru saja hendak menyusup dengan tenang, suara seseorang terdengar di telinga Draco.


“Siapa?!”


Draco menoleh dan mendapati sosok lelaki yang muncul di kejauhan sambil menggosok matanya, tampaknya bingung apakah sedang melihat ilusi atau tidak.

__ADS_1


Sosok Draco langsung melesat. Dia mendekati pria itu. Tanpa mengucap sepatah kata, dia langsung memenggal kepalanya dengan tombak miliknya. Melihat mayat di tanah, Draco tidak begitu memikirkannya. Dia malah berbalik pergi dengan tenang.


‘Sepertinya aku harus membereskan para penjaga terlebih dahulu sebelum masuk dan memulai membunuh lebih banyak.’


Sambil melihat ke tempat-tempat para penjaga sedang melakukan tugas mereka, ekspresi Draco berangsur-angsur menjadi lebih dingin.


***


Sementara itu, di lokasi lain Ark sedang berjalan tenang lewat pintu depan.


Tidak seperti beberapa pos yang diserang orang lain dimana hanya memiliki kuantitas penjaga, tempata yang dia datangi berbeda. Pemuda itu menuju ke salah satu pos penting yang dijaga oleh salah satu jenderal.


“Siapa di sana?! Berhenti! Jika tidak, kami akan menembak!”


Ketika Ark berjalan santai, suara ancaman terdengar dari atas dinding pertahanan. Melihat puluhan anak panah diarahkan kepadanya, pemuda itu hanya menggeleng ringan. Dia terus berjalan tanpa sedikit pun keraguan.


Hanya dalam beberapa saat, sosok pria paruh baya yang kekar dan botak dengan sarung tinju muncul. Dia langsung memberi perintah. Bidik, tembak dan jatuhkan dia!


Mendengar perintah tegas yang nyaris panik, banyak pemanah terkejut. Mereka semua langsung membidik ke arah Ark dan langsung memanah. Namun saat itu juga, orang-orang itu terkejut ketika melihat Ark menarik sebuah pedang. Pemuda itu terus berjalan dengan tenang, tidak menjadi lebih cepat atau lebih lambat.


Ark hanya mengayunkan pedangnya dengan santai, tetapi setiap ayunannya langsung mengenai anak panah yang melesat ke arahnya. Setiap anak panah ditangkis dengan mudah. Dia terus berjalan dengan santai sambil menangkis setiap anak panah.


Melihat pemandangan seperti itu, banyak orang merasa panik. Semua orang merasa apa yang dilakukan Ark itu tidak wajar. Mereka tidak merasa begitu takut melihat binatang bermutasi yang ganas menyerang mereka dengan liar. Namun cara Ark berjalan dengan santai malah membuat mereka lebih tertekan. Alasannya sederhana, itu karena Ark bertindak seolah-olah apa yang mereka lakukan sia-sia, dan tindakan tersebut membuat para penjaga merasa panik.


“Berhenti menembak!”


Pria dengan sarung tinju berteriak. Dia kemudian melompat dari atas dinding pertahanan dan berdiri di depan gerbang. Melihat ke arah Ark dengan ekspresi serius, pria itu berkata.


“Aku akan menghentikan tindakan jahatmu, Hades!”


“Oh?”


Mendengar itu, Ark agak terkejut. Di balik topeng, dia menganggat sudut bibirnya. Memiringkan kepalanya, pemuda itu berkata.


“Kalau begitu aku akan menemanimu. Lagipula ...”


Mata Ark berkilat dingin.

__ADS_1


“Malam masih panjang.”


>> Bersambung.


__ADS_2