Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
99%


__ADS_3

Sementara itu, di tempat lain.


“Ketua dan Saito jelas bermain sendiri, tetapi kenapa kita harus bersama? Apakah Ketua masih tidak mempercayai kekuatan kita?”


Sambil berjalan dengan ceroboh, Leon bertanya dengan nada melankolis. Pria besar itu tampaknya merasa agak sedih karena kurang dipercayai.


“Bukan karena ketua tidak mempercayai kita, tetapi dia yakin kalau kita harus bersama untuk menyelesaikan rencananya.”


“Jadi begitu.”


Mendengar penjelasan singkat dari Draco, Leon mengangguk. Dia tampak lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.


Saat itu, langkah mereka terhenti ketika melihat puluhan orang yang menghentikan mereka. Dua puluh pejuang level 1 yang membawa busur di kejauhan, dua puluh pejuang level 2 yang membawa perisai besar, dan dua orang level 3 yang tidak asing bagi mereka.


Mereka adalah Renal dan George!


“Tampaknya keinginanmu untuk melawan Shadow tidak akan terwujud, George. Orang itu sepertinya bertemu dengan Claus.” Renal menyeringai.


“Itu sama sekali tidak ada hubungannya. Aku di sini hanya untuk menjalankan tugas.”


Melihat kedatangan Draco dan Leon, George membalas dengan tenang. Meski ingin melawan Saito, tetapi dia sendiri juga tahu kalau dirinya sekarang sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk memenangkan pertarungan. Pada saat lengannya masih utuh, George mungkin mau mencoba. Namun sekarang, dia sama sekali tidak memiliki pemikirkan seperti itu.


Bukan hanya George, tetapi Renal juga dalam kondisi kurang baik karena kehilangan satu tangan. Tangan mereka diambil oleh Hades sebagai syarat melepaskan nyawa mereka. Penghinaan semacam itu, mereka benar-benar tidak akan pernah bisa melupakannya!


“Yo, Draco! Apakah kamu yakin tidak akan lagi gila ketika melawanku?”


Melihat seringai penuh hinaan di wajah Renal, Draco tersenyum di balik topengnya. Pria itu kemudian berkata dengan nada mengejek.


“Apakah kehilangan satu tangan membuatmu lebih hebat, Nak?”


Mendengar itu, ekspresi Renal langsung berubah menjadi sangat buruk. Pada saat itu juga, mereka semua saling menatap dengan sengit. Pertarungan pun segera pecah.


***

__ADS_1


Kembali ke tempat Ark berada.


Setelah berhasil menakut-nakuti ratusan orang, Ark langsung masuk ke dalam area kekuasaan Crux of Shadow lewat gerbang depan. Saat masuk, dia tahu kalau semuanya telah berubah. Tidak seperti di bagian luar dimana masih ada beberapa orang yang ragu dengan Crux of Shadow, di sini ...


Hanya tersisa orang-orang yang begitu fanatik! Terlalu gila dan tidak bisa diselamatkan lagi!


Pemuda itu mendarat lalu berjalan tanpa tergesa-gesa. Sekarang dia sudah bisa menggunakan kembali kemampuan telekinesis miliknya. Meski begitu, ada suatu hal aneh yang terjadi pada tubuhnya.


Tubuhnya hampir sembuh total setelah melakukan perburuan habis-habisan dengan adiknya. Namun ada satu masalah, yaitu proses kesembuhannya benar-benar terhenti pada saat dia merasa sudah 99% sembuh. Parahnya, setiap kemampuan aktif beast sama sekali tidak bisa dia gunakan. Untung saja, selain regenerasi pasif, sekarang dia bisa menggunakan telekinesis ... kemampuan khususnya sendiri.


Mungkin terasa kurang, tetapi Ark masih cukup puas karena dia tidak lagi takut harus mati ketika menggunakan kemampuannya sendiri. Sekarang ada masalah lain, yaitu mencari cara menembus belenggu 99% ke 100% sehingga dia bisa mendapatkan kemampuan-kemampuannya. Namun untuk saat ini ...


Ark memutuskan untuk memikirkan hal itu belakangan karena harus berhadapan dengan Crux of Shadow!


Di kejauhan, masih tampak ratusan orang yang berbaris rapi. Di barisan depan, mereka semua membawa perisai dan tombak. Jauh di belakang, banyak orang yang membawa busur dan panah. Lokasinya benar-benar jauh dari formasi utama. Simon jelas melakukan ini agar Ark tidak bisa mengincar para pemanah terlebih dahulu.


Selain ratusan anggota Crux of Shadow, ada juga sosok Simon dan empat jenderal lain. Lebih luar biasanya, tiga dari empat jenderal masuk dalam regu pemanah.


Simon menatap ke arah Ark yang berjalan tidak cepat atau lambat di kejauhan. Matanya menyempit, ekspresinya berubah menjadi lebih dingin. Dia tidak peduli apakah Ark memang terlalu sombong sehingga berusaha menembus lewat pintu depan sendiri atau hanya jebakan. Namun penampilan pria yang membuatnya merasakan banyak gangguan selama ini jelas membuatnya merasa penuh dengan kebencian. Jika saja Sword of Sufferings tidak muncul, Simon yakin kalau rencananya telah masuk ke tahap berikutnya.


“Luar biasa! Bisa meyakinkan ratusan orang agar bisa terus maju. Mr Hades, sekali lagi kamu telah mengejutkanku.


Meski begitu, bahkan jika kamu kuat, aku tidak yakin kamu bisa menghadapi ratusan prajurit super. Atau mungkin, kamu benar-benar cukup percaya diri untuk menghancurkan Crux of Shadow sendirian?”


Simon yang berdiri di tempat paling mencolok berkata dengan lantang. Senyum khas muncul di wajah tampan pria tersebut.


“Aku tidak tahu.” Ark membalas dengan nada monoton.


“...”


“Aku benar-benar tidak tahu jika tidak mencobanya.” Ark terus berjalan dengan santai.


Melihat itu, Simon tidak lagi berniat untuk berbasa-basi. Dia langsung mengangkat tangan kanannya untuk memberi aba-aba. Para pemanah langsung mengambil posisi mereka, membidik ke arah Ark dengan ekspresi serius di wajah mereka.

__ADS_1


“Tembak!” ucap Simon dingin.


Saat itu, ratusan anak panah langsung melesat ke arah Ark.


Melihat itu, Ark sama sekali tidak panik. Pedang di tangan kanannya langsung diselimuti dengan energi merah. Pemuda itu kemudian menebas.


CRACK!


Dengan ayunan pedangnya, angin di sekitarnya langsung bergerak seperti gelombang. Langsung menyapu dan merusak ratusan anak panah. Namun saat itu juga ekspresi pemuda itu berubah.


Jleb! Jleb! Jleb!


Ark menghindari total tiga anak panah. Setiap anak panah benar-benar menggali tanah begitu dalam, menyisakan lubang dengan ukuran mangkuk kecil. Pada saat melirik ke titik-titik tersebut, Ark mengerutkan kening. Jelas, kombinasi antara serangan jarak dekat dan jauh pasti akan merepotkan untuk dihadapi.


Bukan hanya Ark yang terkejut. Setelah melihat kemampuan Ark dengan mata kepalanya sendiri, Simon mengerutkan kening. Sekarang dia tahu kalau kemampuan Hades itu benar-benar mirip dengan kemampuan Silvia yang sangat merepotkan. Lebih parahnya, bukan hanya mengendalikan beberapa benda dalam jarak tertentu, tampaknya Hades juga telah mengembangkannya.


Dapat menggabungkan kemampuan dengan teknik pedang sehingga bisa digunakan untuk menyerang dari jarak cukup jauh! Suatu informasi yang belum sempat dia dapatkan karena menurut informasi, ledakan kekuatan yang biasa Ark tunjukkan hanya sementara.


‘Akankah dia hanya menggertak? Hanya menakut-nakuti kami agar memiliki kesempatan menang lebih besar?’


Simon menggelengkan kepalanya. Dia tidak lagi banyak berpikir. Pria itu langsung menatap salah satu jenderal lalu berkata.


“Ikuti aku. Sisanya tinggal. Jangan biarkan orang itu meneroboh. Sedangkan para pemanah, lakukan sesuai dengan rencana.”


“YA, TUAN!!!” jawab mereka serempak.


Simon dan salah satu jenderal baru turun. Mereka berdua maju untuk menghadapi Ark. Sama seperti pihak lawan, mereka berdua berjalan tidak cepat atau lambat.


“Jangan bilang kami bermain curang, Mr Hades. Lagipula, dalam pertempuran, yang paling penting adalah hasilnya.”


Pada saat mendengar itu, Ark melihat ke arah Simon dan seorang ksatria yang menemaninya. Pandangannya kemudian menyapu ratusan orang yang siap bertahan serta ratusan pemanah yang sudah membidiknya.


Ark mengangguk ringan. Pemuda itu kemudian mengeluarkan pedang lain sambil berkata dengan nada monoton.

__ADS_1


“Kalau begitu kalian juga harus hati-hati.”


>> Bersambung.


__ADS_2