Apocalypse Regression

Apocalypse Regression
Black Doberman


__ADS_3

Malam, tujuh hari kemudian.


Setelah mendapat ramuan evolusi setiap hari, akhirnya Darin juga menyelesaikan evolusi pertama. Selain itu, setelah berolahraga dan makan cukup, kondisi tiga anggota baru juga lebih baik daripada sebelumnya.


Usai makan malam bersama, Ark memanggil para anggota kelompoknya untuk berkumpul di sebuah ruangan yang telah dia jadikan sebagai ruang rapat.


Saat mereka telah berkumpul, pemuda itu akhirnya berkata.


"Malam ini bukan hanya berpatroli, kita akan membersihkan area perumahan lebih luas. Meski tidak bisa membersihkan semuanya, kita harusnya bisa membersihkan banyak tempat.


Rencananya, setelah malam ini, separuh area perumahan harus dibersihkan. Jadikan sebagai area kekuasaan kita."


Mengatakan itu, Ark tampak serius. Anggota Sword of Sufferings lainnya juga tampak serius. Mereka jelas tahu seberapa penting misi yang harus mereka lakukan malam ini.


"Seperti biasa, Abigail akan menjaga markas bersama dengan Shani, Nathan, dan Nala. Sisanya akan ikut denganku.


Kita akan dibagi menjadi dua tim dengan aku dan Jay sebagai pemimpinnya. Ini dilakukan agar pembersihan bisa berjalan lebih efektif. Untuk pembagian timnya—"


"Bolehkah saya memberi saran, Master?"


Stacy bertanya sambil mengangkat tangan kanannya.


"Katakan," jawab Ark datar.


"Biarkan aku dan Natasha ikut denganmu. Jadi, Darin, Yonas, dan Vadim ikut kelompok Kak Jay."


Mendengar itu, Ark mengerutkan keningnya. Dia ingin membagi tim lebih adil, satu perempuan di satu tim. Lalu, Darin yang telah melakukan evolusi pertama bisa dianggap lebih kuat daripada dua anggota baru. Jadi akan dibagi lagi sesuai dengan keinginan Jay, mana yang lebih dia butuhkan.


"Aku setuju." Jay tiba-tiba bicara dengan ekspresi serius. "Kedua gadis nakal itu sulit diatur, pasti tidak bisa mendengar arahan ku dengan baik. Malah merepotkan."


"..."


Ark terdiam sementara Stacy dan Natasha menatap ke arah Jay dengan tatapan dingin. Jika tatapan bisa membunuh orang, mungkin Jay sudah terbunuh beberapa kali.


"Aku tahu kekhawatiranmu, Ark. Meski tangan kiri Darin belum sembuh total, dia juga telah menyelesaikan tahapan itu. Sedangkan Yonas dan Vadim, mereka seharusnya lebih mudah diatur."


Jay langsung berbicara jujur. Meski enggan mengakuinya, Yonas dan Vadim tahu bahwa mereka adalah anggota paling lemah di antara anggota yang akan bertugas. Jadi mereka hanya diam. Tidak membalas atau menyangkal sama sekali.


"Baiklah jika kamu berkata demikian. Kalau begitu, kita akan menentukan area mana yang harus dibersihkan."


Setelah mengatakan itu, Ark meletakkan selembar kain putih kusam yang dipotong berbentuk kotak. Di atas kain tersebut, tampak denah perumahan yang digambar dengan arang. Meski dengan alat seadanya, gambar itu masih terlihat rapi dan jelas.


Ark menunjuk ke lokasi markas mereka berada dan area yang telah mereka bersihkan. Dia kemudian menunjuk ke arah area yang harus mereka bersihkan.


"Tim kami akan membersihkan area ini, sementara tim kalian harus membersihkan area ini."


"Eh? Bukankah itu berarti kamu membersihkan 40% dan kalian membersihkan 60%, Ark?"

__ADS_1


"Kenapa? Apakah kamu pikir area yang harus kalian bersihkan terlalu sedikit? Dengan efisiensi tempur, pembagian ini seharusnya sudah pas."


"Tidak. Maksudku, mungkin kamu mau mengambil 70-80% jatah tugas. Errr ... Efesiensi tempurmu sangat tinggi, bukan?"


"..."


Ark terdiam. Dia menatap ke arah sahabatnya dengan ekspresi gelap. Benar-benar ingin memukuli wajah pria itu!


"Jangan tatap aku dengan cara seperti itu, Kawan! Ayolah, aku hanya bercanda, Okay?"


"Jangan pikir aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, Jay." Ark memperingatkan.


"Ayolah, Bung! Kamu tahu apa yang aku katakan benar, kan?"


"Memang."


Ark mengangguk ringan. Dibandingkan dengan anggota lain, efisiensi tempurnya memang jauh lebih tinggi. Mungkin dia sendiri lebih cepat membersihkan zombie dalam jumlah yang sama dibandingkan dengan gabungan anggota lain.


Pemuda itu menatap Jay lalu melanjutkan.


"Namun, selain membersihkan, ini juga akan menjadi latihan kalian. Batu asah untuk menajamkan senjata kalian."


"Apakah latihan keras setiap hari itu kurang?" tanya Jay dengan senyum pahit.


"Teori tanpa praktik itu tidak terlalu berguna. Berhenti menjadi bunga dalam rumah kaca.


Melihat ke arah anggota kelompoknya, Ark menambahkan.


"Kalau begitu rapat selesai. Kalian boleh pergi untuk bersiap."


***


Sekitar pukul tiga pagi di hari berikutnya.


"Tidak aku sangka, masih banyak zombie dan tikus yang berdatangan ke area perumahan ini."


Natasha menyeka keringat di dahinya. Ekspresi lelah tampak di wajahnya. Bukan hanya lelah, dia juga tampak agak mengantuk.


"Lagipula, ada dua gerbang di perumahan ini. Ada gerbang selatan dan utara. Sekarang, kita hampir sepenuhnya menyelesaikan area selatan sampai tengah.


Setelah menyelesaikan separuh area ini dan mulai pembersihan, kita akan membuka jalan menuju ke gerbang utara. Seharusnya, dengan kemampuan kita sekarang, menutup gerbang dan memblokir tempat itu bukan lagi masalah.


Kita akan membuat satu jalan untuk masuk dan keluar."


Mendengar penjelasan Ark, Natasha dan Stacy tampak bingung.


"Bukankah gerbang itu terlalu besar, Ark? Apakah menutupnya saja masih kurang?"

__ADS_1


"Kalau tidak salah, lebarnya sekitar lima belas meter dan tinggi tujuh meter. Ya, meski itu merupakan dua jalan dengan sekat pilar di tengah."


Ucapan Natasha dan Stacy membuat Ark mengangguk. Dia kemudian menjelaskan.


"Kita akan menumpuk mobil-mobil untuk memblokir gerbang tersebut. Dengan begitu, paling tidak, manusia dan zombie biasa tidak bisa masuk dari sana.


Tentu saja, lebih baik lagi jika kita bisa menutupnya dengan sempurna menggunakan bahan bangunan. Membuat dinding pertahanan yang baik.


Hanya saja, hal tersebut masih mustahil sekarang. Jadi kita akan menutupnya dengan bahan dan teknik seadanya."


"Hah??? Menggunakan mobil-mobil itu lalu menumpuknya? Apakah kita benar-benar bisa melakukannya?" tanya Natasha dengan ekspresi tidak yakin.


"Tentu saja bisa." Ark mengangguk pasti. "Kalau begitu, mari kita segera menuju ke tempat yang dijanjikan. Lagipula, aku tidak ingin mereka menunggu terlalu lama."


"Baik!" jawab kedua wanita itu bersamaan.


Setelah beberapa waktu, Ark dan kedua wanita itu akhirnya sampai di lokasi pertemuan yang dijanjikan.


Hanya saja, usai menunggu cukup lama di sana, keempat orang itu tidak segera muncul. Seharusnya, mereka sudah sampai. Lagipula, keempat orang itu seharusnya cukup untuk menghapus banyak zombie.


Memikirkan beberapa kemungkinan, ekspresi Ark menjadi muram.


"Ikuti aku."


Setelah mengatakan itu, Ark segera pergi untuk mencari anggota kelompok lainnya. Stacy dan Natasha langsung mengikuti.


Usai cukup lama mencari dan menghabisi banyak zombie, Ark dan kedua wanita itu akhirnya menemukan petunjuk.


"Jika kita membiarkan makhluk ini sampai lolos, pasti akan merepotkan. Kalian semua tahu apa yang harus dilakukan, bukan?!"


"Kami mengerti, Kapten!"


Suara Jay dan tiga orang lainnya terdengar.


Setelah sampai di lokasi kejadian, Ark dan kedua wanita terkejut ketika melihat apa yang muncul di depan mereka.


Di kejauhan, tampak sosok Jay dan tiga orang lainnya mengepung seekor Doberman. Ekspresi lelah tampak di wajah mereka, tetapi mereka tidak terluka parah. Hanya beberapa lecet karena terpental atau jatuh.


Hanya saja, seekor Doberman itu tidak tampak normal. Ukurannya saja sedikit lebih besar daripada kuda Thoroughbred, jenis kuda pacu yang tergolong besar.


Makhluk itu memiliki tubuh agak ramping dipenuhi otot. Bulu hitam berkilauan menutupi seluruh tubuhnya. Tampak banyak gigi tajam di mulutnya. Ekspresi kejam dan ganas terlukis di wajahnya.


Melihat ke arah Doberman hitam itu, mata Ark menyipit. Diam-diam pemuda itu berpikir.


'Kenapa makhluk itu ada di tempat ini?'


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2