
“Beraninya, beraninya, beraninya ... Beraninya kalian melakukan kejahatan seperti ini!”
“Dewi Kegelapan tidak akan mengampuni dosa kalian!”
Melihat salah satu jenderal berteriak dengan ekspresi fanatik dan gila di wajahnya, Ark menggelengkan kepala. Pemuda itu kemudian berkata.
“Ketika orang lain membunuh, kalian berkata itu dosa. Ketika kalian membunuh, kalian berkata kalau itu keadilan atas nama yang kalian puja. Ya ...”
Ark memiringkan kepala dan berkata dengan nada datar.
“Sungguh lelucon yang luar biasa!”
Setelah itu, sosok Ark tiba-tiba menghilang dari tempatnya. Ketika muncul, pemuda tersebut telah melompat di depan salah salu jenderal lalu menendang dengan keras wajah orang itu dengan lututnya.
SWOOSH! BRUAK!
Empat jenderal lainnya langsung merespon. Mereka menghunus pedang, langsung menebas dan menusuk ke arah Ark. Sebagai tanggapan, pemuda itu memutar tubuhnya di udara. Dia menginjak ujung pedang sebagai tumpuan lalu melakukan backflip di udara dan akhirnya mendarat beberapa meter jauhnya.
“Kurasa wajahnya terlalu besar karena begitu banyak membual, jadi aku sedikit memperbaikinya.”
Ark berkata santai dengan santai sambil sedikit menggoyangkan kaki kanannya. Pada saat itu, sosok jenderal sebelumnya langsung melesat ke arah Ark dengan ekspresi gila. Sebelum empat orang lain menghentikannya, pria itu telah bergegas maju.
Pada saat empat jenderal lain hendak mengikutinya, tubuh mereka kaku dan keringat tiba-tiba mengalir dengan sangat deras. Keempat orang itu melirik ke arah Ark dengan ekspresi horor.
Sepasang mata merah menatap mereka seperti iblis yang muncul dari kedalaman dunia bawah. Sebuah pedang menyala dengan warna merah darah membuat mereka ketakutan, sampai sadar kalau mereka terlambat untuk bergerak. Saat itu juga, satu kata muncul dalam pikiran mereka.
‘Mati.’
SLASH!
Sebuah garis merah melintas. Detik berikutnya, dua dari lima jenderal terpotong menjadi dua. Satu di antaranya kehilangan tangan kanannya. Sedangkan dua sisanya terhempas oleh udara yang menabrak mereka dengan kuat.
BLARRR!
Pada saat semua orang tidak tahu apa yang sedang terjadi, gedung di belakang kelima jenderal langsung berguncang keras. Asap mengepul dan banyak kaca jendela pecah. Di antara asap tebal, orang-orang dari Crux of Shadow hanya bisa melihat sepasang mata merah. Kemudian, suara tak acuh terdengar.
“Sword of Sufferings ... mundur.”
Sesaat kemudian, orang-orang dari Sword of Sufferings pergi. Ketika asap reda, orang-orang dari Crux of Shadow masih membatu di tempat mereka. Tampaknya, rasa takut di hati mereka sama sekali belum mereda.
***
Sekitar setengah jam kemudian, beberapa kilometer dari lokasi sebelumnya.
Sosok Ark tiba-tiba bersandar pada dinding. Dia melepaskan topeng, darah mengalir deras dari mulut, hidung, bahkan matanya. Pemuda itu kemudian memuntahan beberapa suap darah. Dia mengambil sapu tangan lalu segera mengusap noda darah di wajahnya. Ark menggunakan tangan kirinya karena ...
__ADS_1
Tangan kanan yang dia gunakan untuk mengayunkan pedang penuh retakan dan darah terus mengalir dari sana!
Ark kemudian memilih untuk mencari tempat aman, lalu mulai mengeluarkan perban dan merawat lukanya sendiri. Sebelumnya dia menyuruh orang-orang menyebar dan bertemu kembali di tempat sementara mereka tinggal. Alasan kenapa pemuda itu melakukannya sangat sederhana.
Ark tidak ingin bawahannya mengetahui kelemahannya, dan dia juga tidak ingin mereka khawatir.
“Sudah aku duga. Ketua ... kamu benar-benar belum sembuh sejak kejadian itu.”
Suara pria terdengar. Ark mendongak, lalu melihat sosok Leon dan Evans yang menatapnya dengan ekspresi cemas. Memiliki senyum dipaksakan di wajahnya, pemuda itu berkata.
“Apakah aku tampak begitu menyedihkan sehingga kalian terlihat cemas?”
“Apa yang terjadi padamu, Kak?” tanya Evans dengan ekspresi khawatir.
Ark sama sekali tidak menjawab, malah fokus mengurus lukanya. Setelah selesai, pemuda itu bangkit dan memakai topengnya. Pada saat melewat Leon, dia berkata.
“Aku tidak ingin anggota lain mengetahui berita ini. Kamu mengerti yang aku maksud, Leon?”
Usai mengatakan itu, Ark langsung pergi. Pemuda itu segera menghilang, dan Leon hanya mengangguk ringan.
Melihat kakaknya pergi, Evans menoleh ke arah Leon. Masih tampak khawatir, dia bertanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Archie, Mr Leon?”
“Ketua ... bagi orang lain dia mungkin penjahat kejam, atau bahkan orang gila. Meski begitu, kami, anggota Sword of Sufferings mengetahui apa yang dia lakukan.”
“Ketua adalah orang yang memimpin pasukan untuk memusnahkan para kanibal di kota kami berasal.”
“Ketua juga orang yang menemukan berbagai ramuan. Meski tidak menyebarkannya secara gratis, tetapi dia juga berkontribusi pada kelangsungan hidup banyak orang.”
“Meski banyak yang membencinya, Ketua sendiri adalah orang yang maju pertama kali dalam menghadapi krisis besar. Pada saat kota diserang oleh bencana pasukan semut, dia adalah orang yang berdiri di garis depan.
Mungkin banyak orang di kota lain tidak tahu kalau mereka bisa selamat sampai sekarang karena bantuannya. Kamu mungkin akan menganggapnya lelucon, tetapi ketika menghadapi makhluk itu ... semua orang merasa tidak berdaya.
Kami memanggil makhluk itu sebagai Raja Semut.
Hanya satu orang yang bisa melawan makhluk itu sendiri. Untuk mencegah banyak korban berjatuhan, Ketua melawan makhluk itu sendiri.”
“Jika kamu mengetahui seperti apa tempat bekas mereka bertarung, kamu pasti akan terkejut karena ... tempatnya lebih mirip terkena bencana alam daripada pertarungan antara dua makhluk.
Evans. Kamu pasti tahu kalau kami memiliki kemampuan khusus yang dibawa oleh miracle root, kan? Aku tidak tahu apakah Ketua mendapatkan kemampuan itu dari miracle root atau memang bakatnya sendiri. Namun, teknik yang kamu lihat sebelumnya ...
Ketua sering menggunakannya sebelumnya.
Itu berarti, alasan kenapa Ketua tidak menggunakan keterampilannya adalah luka yang dia terima setelah bertarung dengan Raja Semut.”
__ADS_1
“Bagi kami, Ketua lebih mirip pahlawan! Oleh karena itu ... tolong jangan membuatnya kecewa, Evans!”
Evans melirik ke arah Leon yang berlari sambil menoleh ke arahnya. Meski wajah pria itu tertutup topeng, dia merasa kalau Leon sedang tersenyum ke arahnya. Pemuda tersebut merasa agak takut kehilangan kakaknya. Namun saat itu, suara Leon kembali terdengar.
“Kamu hanya perlu melakukan apa yang bisa kamu lakukan, Evans!”
“Kamu tidak perlu khawatir kepada Ketua karena ...”
“Dia adalah Hades, Raja Dunia Bawah.”
Mendengar ucapan penuh dengan keyakinan dari mulut Leon, tangan Evans mengepal erat. Dia menjadi lebih termotivasi. Berusaha lebih kuat agar bisa melakukan lebih banyak hal dan melindungi apa yang perlu dia lindungi.
***
Sepuluh hari kemudian.
“Apakah kamu benar-benar bukan pemilik slime sepertiku, Kak Archie?”
Evans duduk di atas batu sambil menatap ke arah kakaknya, tampaknya merasa tidak percaya. Sekarang mereka berada di hutan pinggiran kota dan selesai melakukan perburuan harian.
Tidak jauh dari mereka, tampak tulang sepanjang dua puluh meter lebih yang masih penuh dengan darah. Ada juga organ dalam dan kulit. Di sebelahnya, tampak sosok pemuda tampan yang menyeka mulutnya dengan ekspresi dengan wajah tak acuh.
“Bukankah aku sudah bilang berkali-kali?”
“Tetap saja ...”
Evans tersenyum masam. Dia menganggap dirinya sendiri terlalu berlebihan karena memakan banyak jantung binatang bermutasi. Namun dibandingkan dirinya, kakaknya benar-benar sudah keterlaluan.
Selama itu daging dari binatang buas tingkat tiga, Ark akan memakannya. Entah itu mamalia, reptil, karnivora, herbivora ... pemuda itu sama sekali tidak peduli.
Menurut pengamatan Evans, kakaknya tampaknya melakukan hal tersebut untuk menebus sesuatu. Lebih tepatnya, memulihkan diri. Dia juga bertanya apakah jantung binatang buas memiliki efek, tetapi kakaknya diam saja.
Sudah jelas, jantung lebih berharga tapi kakaknya sendiri malah memberikannya kepada dirinya. Padahal memburu makhluk tingkat dua atau lebih benar-benar tidak mudah!
“Kemampuanmu lumayan meningkat. Apakah sekarang kamu sudah siap untuk melakukannya?”
Pertanyaan dari Ark membuat Evans tertegun. Dia menatap ke arah kakaknya dengan ekspresi bingung.
“Maksudnya?”
Ark melirik ke arah Evans dan berkata dengan nada datar.
“Tentu saja balas dendam terhadap Spirit of Fire.”
>> Bersambung.
__ADS_1