
"Tampaknya perjalanan ini akan memakan banyak waktu, Ark."
Terus berjalan, Jay menghela napas panjang. Dia menatap langit kelabu dengan ekspresi bosan. Merasa kalau perjalanan ini tidak seseru yang dia bayangkan.
"AKU BOSAN!!!"
Jay berteriak seperti anak kecil yang merajuk.
Darin, Yonas, dan Vadim menatap Jay dengan ekspresi tak berdaya. Bagi mereka, semuanya akan baik-baik saja asalkan aman. Bisa selamat sampai tujuan. Benar-benar berbeda dengan tipe penantang maut seperti pria itu.
"Bodoh," gumam Stacy.
"Hah?! Apa kamu bilang, Gadis kecil?"
Jay langsung menoleh ke arah Stacy dengan tatapan tidak bersahabat.
"Aku bilang itu bodoh." Stacy melirik Jay dengan ekspresi malas. "B-o-d-o-h ... BODOH!"
"Katakan sekali lagi jika kamu berani, Gadis kecil!"
"Aku bilang—"
"Cukup."
Ark menyela dengan suara monoton. Benar-benar langsung menghentikan perdebatan kedua orang itu.
Stacy langsung mendekati Ark lalu mengeluh, berkata dengan nada manja.
"Tuan, Kak Jay benar-benar memarahiku."
"Lupakan. Memang begitulah sifatnya."
Ark langsung membalas tak acuh.
"Bukankah seharusnya kamu membela aku, Kawan? Aku sahabatmu, kan?"
"Ini adalah ini, dan itu adalah itu. Aku hanya berbicara jujur soal sifatmu, Jay. Aku tidak membela kamu atau Stacy."
"Bisakah kamu sekali-kali berbicara dengan perasaan? Sungguh! Satu minggu sekali pun tidak apa-apa!"
"..."
Anggota tim lain mendengar percakapan antara keduanya. Mereka berdua benar-benar berbeda, tetapi anehnya membuat perasaan akrab. Tidak bisa membohongi kalau mereka memang dekat. Berbeda-beda, tetapi saling menerima.
Hal tersebut juga membuat anggota lain merasa kagum.
"Omong-omong, kamu menyebalkan, Jay."
"Hah?! Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu, Kawan?"
"Apakah kamu tahu, sekarang kamu seperti anak bodoh yang menabur gula di dekat sarang semut. Membuat mereka berkerumun."
"Benarkah? Aku benar-benar tidak menyadarinya."
"Kamu tidak merasakannya?"
"Mungkin karena tidak dianggap berbahaya? Ya. Lagipula, hanya semut belaka."
"Jangan meremehkan semut. Mereka juga berbahaya. Bahkan sangat berbahaya."
__ADS_1
Ark mengangkat bahu. Berbicara dengan ekspresi datar. Nada bicaranya masih tak acuh seperti biasa, tetapi menekankan suatu hal penting.
"Tenang saja. Aku akan berhati-hati."
Jay menanggapinya dengan ekspresi santai. Masih ceria seperti biasa.
Hanya saja, beberapa orang di tim tersebut langsung waspada. Mereka tahu kalau pembicaraan Ark dan Jay sebenarnya juga sinyal bagi mereka agar berhati-hati. Setidaknya, itulah yang mereka pikirkan.
Setelah beberapa saat mereka berjalan, tiba-tiba banyak orang muncul dari beberapa bangunan di sekitar. Jumlah mereka belasan orang, hampir dua puluh orang.
Orang-orang memiliki penampilan yang sangat menyedihkan. Mereka tampak kurus, sedikit bungkuk. Wajah mereka sangat kotor. Pakaian mereka compang-camping. Ekspresi penuh kegilaan tampak di wajah orang-orang itu.
"Ketua."
Mendengar ucapan Darin, Ark langsung membalas dengan nada monoton.
"Tempat ini jauh dari lokasi (markas). Tidak perlu menghabisi mereka."
"Dimengerti," balas Darin.
Dengan sikap mengesankan, pemuda itu maju ke depan. Membawa tombak di tangan kanannya, dia menatap ke arah orang-orang yang membawa berbagai tongkat dari kayu dan logam. Darin sama sekali tidak tampak takut, bahkan hanya menghela napas panjang.
Swoosh!
Sosok Darin melesat ke arah salah satu orang. Tombak di tangannya berayun. Dia langsung memukul leher orang itu dengan keras. Langsung membuatnya jatuh dan tak lagi mampu bertarung.
Melawan orang-orang lemah, belum lagi kelaparan dan kelelahan, Darin benar-benar seperti serigala dalam kawanan domba.
"Tolong hentikan, Tuan! Tolong! Tolong bantu putri saya!"
Salah satu orang berteriak dengan suara parau. Dia menggendong gadis kira-kira berusia sepuluh atau sebelas tahun di punggungnya.
"Tolong beri kami sedikit air dan makanan, Tuan! Tolong bantu putri saya!"
"Turunkan gadis itu."
Mendengar ucapan Ark, pria itu tertegun. Dia merasa agak bingung. Namun akhirnya masih menurunkan putrinya. Membaringkannya di atas jalanan.
Ark berjalan mendekat. Dia kemudian berjongkok, melihat ke wajah pucat gadis tersebut.
Gadis itu sebenarnya cantik. Hanya saja, dia tampak begitu kurus. Ekspresinya tampak begitu tumpul. Bibirnya pecah-pecah, sama sekali tidak bisa membuka mulutnya apalagi bicara.
"Kamu ingin aku membantu putrimu, kan?" tanya Ark datar.
"Tolong bantu putri saya, Tuan!" ucap pria paruh baya itu dengan ekspresi lebih bersemangat.
"Baik."
Ark mengangguk. Jawaban tersebut membuat anggota tim lainnya merasa agak senang. Namun ekspresi mereka langsung berubah.
Ketua mereka, Ark, tiba-tiba menarik belati dari belakang pinggangnya lalu menebas leher gadis itu secara langsung. Tampak begitu cepat dan tegas.
Darah langsung mengalir di jalanan, membuat orang-orang yang melihatnya terpana.
Pada saat anggota tim lainnya bingung, Ark melihat ke arah gadis yang menoleh ke arahnya. Memasang sebuah senyum di wajahnya sebelum menghembuskan napas terakhirnya.
Saat itu juga, Ark berkata.
"Aku berubah pikiran. Bunuh mereka semua, kecuali ayah gadis ini."
__ADS_1
Pada saat anggota lain kebingungan, Stacy langsung menarik pedangnya. Dia langsung maju ke depan dengan tegas. Membunuh orang-orang tanpa sedikitpun belas kasih.
Jay menatap ke arah Ark dan gadis yang dibunuh sahabatnya, saat itu dia tiba-tiba meraung marah.
"BINATANG!!!"
Jay langsung menarik pedang, memulai pembunuhan brutal. Memotong bagian-bagian tubuh secara langsung. Tampak liar dan ganas.
Ark sendiri langsung berdiri. Dia kemudian menebas otot lengan dan paha ayah gadis yang dia bunuh. Orang itu meraung kesakitan. Sebelum jatuh ke tanah, Ark langsung meraih lehernya dengan tangan kirinya. Belati di tangan kanannya tiba-tiba berayun.
Langsung menusuk salah satu mata pria tersebut.
Ark kemudian melemparkan pria itu ke jalanan. Pria paruh baya tersebut berbaring terlentang, tidak bisa bergerak dari tempatnya karena keempat anggota tubuhnya terluka parah. Dia hanya bisa terus meraung kesakitan.
Saat itu, Ark mengeluarkan botol kaca kecil berisi bubuk ungu. Setelah menyarungkan kembali belati, dia berjalan mendekati pria itu lalu berjongkok di dekat wajahnya.
Pemuda tersebut kemudian membuka tutup botol kecil dengan hati-hati lalu menuangkan sedikit bubuk ungu itu ke hidung pria tersebut.
"Ini dibuat dari duri Devil's Vines yang dikeringkan, lalu ditumbuk halus. Cukup beracun bagi kami orang yang sudah mengalami evolusi, tetapi sangat fatal bagi manusia biasa seperti kalian.
Apakah kamu tahu apa yang lucu?
Bubuk itu akan membawamu terbang tinggi. Merasa pusing, lalu merasa nikmat karena tidak perlu memikirkan apapun. Namun, setelah itu ... kamu akan dihempaskan ke jurang neraka."
Ark tersenyum sinis. Pada saat itu, tubuh pria itu gemetar. Urat-urat nadi membesar, berubah menjadi ungu. Membuat penampilan pria tersebut menjadi semakin mengerikan. Dia kemudian berusaha untuk bergerak, tetapi hanya bisa gemetar di tempat karena keempat anggota tubuhnya tidak bisa digunakan.
Tujuh lubang di kepalanya mulai mengeluarkan darah. Dia terus meraung kesakitan. Tampak gila. Penampilan orang yang mendapatkan siksaan berat dan sangat menyakitkan tampak membuat anggota tim lainnya agak kaget. Merasa terkejut dengan sikap Ark.
Pemuda itu berdiri. Menatap pria yang ingin hidup tetapi tidak hidup, ingin mati tetapi tidak mati tersebut dengan ekspresi datar. Dia kemudian berkata.
"Jangan bilang hukuman kecil ini keterlaluan. Bukankah ini lebih baik daripada apa yang dirasakan oleh putrimu?"
Saat itu juga, teriakan Jay tiba-tiba terdengar.
"Seharusnya kamu membicarakan itu, Ark! Mereka terlalu nyaman untuk mati begitu saja!"
Menginjak-injak potongan tubuh manusia di bawahnya, Jay berjalan ke arah Ark dengan ekspresi kesal. Dalam waktu singkat itu, Stacy dan Jay telah menghabisi orang-orang itu.
Melirik ke arah Darin, Yonas, dan Vadim yang bingung, Jay langsung berkata.
"Lupakan soal gadis gila yang mengikuti semua perintah Ark. Kalian pasti bingung kenapa Ark tiba-tiba memberi perintah semacam itu.
Kalian datang dan lihat tubuh gadis kecil itu! Lihat apa yang dilakukan oleh para binatang kepada gadis kecil di bawah umur dan tidak bersalah ini!"
Raungan Jay membuat tiga pria itu tertegun. Ekspresi mereka berubah saat mereka datang untuk memeriksa.
"Jangan bilang ..."
Mereka tampak ragu dan bimbang. Namun setelah melihat pakaian dan kondisi tubuh gadis tersebut termasuk apa yang ada di balik gaun, ketiga pria itu tampak muram. Mereka benar-benar marah, tetapi tidak memiliki tempat untuk melampiaskannya.
"Ketua, kami ..." ucap Darin dengan nada bersalah.
Ark sama sekali tidak menoleh ke arah mereka. Dia hanya berdiri dengan tenang memunggungi mereka sambil berkata.
"Lain kali kalian tidak perlu banyak berpikir. Lakukan saja apa yang aku katakan. Tanamkan dalam hati kalian bahwa kalian aku paksa. Bunuh orang-orang itu, berarti akulah yang menanggung dosanya.
Selain itu, kalian tidak perlu banyak memikirkannya. Juga ..."
Ark menghela napas panjang sebelum melanjutkan.
__ADS_1
"Hal itu biasa di dunia kacau ini. Jadi aku harap, kalian mengerti. Berusahalah untuk beradaptasi dan tidak termakan emosi."
>> Bersambung.