
Keesokan paginya.
“Teh anda, Ketua.”
Abigail meletakkan secangkir teh yang masih mengepul di depan Ark. Sementara itu, pemuda tersebut duduk tenang sambil melihat ke arah salju yang menutupi segalanya di luar. Dia kemudian melirik ke arah teh lalu mengalihkan pandangannya kepada Abigail.
“Terima kasih, Abigail. Bagaimana dengan Nathan dan Nala? Apakah mereka masih tidur?”
“Ya.” Abigail mengangguk. “Tampaknya suhu dingin membuat mereka enggan bangun. Haruskah saya membangunkan mereka?”
“Tidak perlu. Ini masih agak awal, bahkan iblis kecil itu masih tertidur pulas di rumahnya. Omong-omong ... apakah Natasha masih berlatih di luar? Pada waktu seperti ini?”
“Ya. Gadis itu benar-benar gigih, Ketua. Tampaknya merasa kalau kehidupannya terlalu baik, dan terpukul ketika melihat rekan-rekan lain yang dulunya dia anggap biasa telah melampaui dirinya.”
Abigail berkata dengan tenang. Wanita itu kemudian duduk di sebelah Ark dengan tenang, sama sekali tidak bertingkah aneh atau berlebihan.
“Mungkin dia memang memiliki sikap seperti itu. Jadi, bagaimana denganmu, Abigail?”
“Saya?” Wanita itu memiringkan kepalanya.
“Ya.”
“Saya rasa, kehidupan seperti ini sudah sangat baik. Memiliki tempat untuk tinggal dan merawat anak-anak, hidup aman dan nyaman. Saya rasa itu sudah sangat baik, karena hal semacam ini sulit, bahkan hampir mustahil didapatkan di luar sana.
Sedangkan masalah kekuatan? Anda telah memberi kekuatan, bahkan sampai level 3 menyamai para jenderal yang berspesialis bertempur di garis depan. Saya bersyukur karenanya. Namun, saya rasa ... ini sudah cukup.
Bukankah semakin tinggi level ramuan, semakin sulit mendapatkan bahan? Anda bisa menggunakan ramuan untuk orang-orang yang lebih membutuhkannya. Mereka yang bertarung di garis depan dan kekuatannya anda butuhkan.
Anda ... tidak perlu lagi terlalu memanjakan saya. Lagipula, kebaikan anda telah menumpuk setinggi gunung sampai saya tidak bisa membalasnya.”
Mendengar penjelasan lembut Abigail, Ark mengangguk ringan. Meski memiliki bakat yang tidak kalah dibandingkan Natasha, Abigail jelas tipe orang yang tidak begitu menyukai kekerasan. Jika tidak terpaksa, wanita itu tidak akan berinisiatif untuk mencari lawan.
Menyesap teh yang dibuat oleh Abigail, Ark mengangguk ringan.
“Teh yang kamu seduh semakin, dan semakin lebih baik dibandingkan sebelumnya.”
“Kalau begitu seharusnya anda lebih banyak tinggal di markas utama sehingga bisa selalu meminumnya.”
__ADS_1
Abigail berkata dengan senyum lembut di wajahnya. Meski begitu, jejak kesepian tidak bisa disembunyikan dari pandangannya.
“Ketika levelmu naik, seharusnya penampilanmu semakin membaik. Namun, tampaknya kamu terlihat cukup kelelahan akhir-akhir ini.
Jangan terlalu memikirkan hal-hal buruk. Cobalah untuk lebih menikmati waktumu. Lebih banyak habiskan waktu dengan Nathan dan Nala. Seharusnya, kamu tidak kelelahan akibat kerja dengan kekuatanmu yang sekarang.”
“Ya, Ketua.”
Abigail mengangguk ringan. Dia melirik ke arah Ark, penyebab kecemasannya. Wanita itu selalu khawatir ketika Ark tidak berada di markas utama. Takut jika lelaki itu mendapatkan masalah, atau mengalami kecelakaan di luar sana.
Abigail merasa, semuanya pasti akan berubah jika Ark tiba-tiba menghilang.
“Kamu akhirnya kembali, Natasha.”
Perkataan Ark menyadarkan Abigail dari lamunannya. Dia kemudian menatap ke arah Natasha yang kembali dari latihan. Meski suhunya dingin, wanita itu benar-benar berkeringat cukup deras karena latihan paginya.
“Setelah istirahat, kamu bisa minum teh di sana untuk menghangatkan tubuh, Natasha.”
“Ya.”
Natasha melirik ke arah Abigail yang berbicara kepadanya. Dia mengangguk ringan lalu pergi seolah tidak melihat apa-apa.
Siang harinya.
Ark mengumpulkan semua anggota Sword of Sufferings untuk melakukan pekerjaan membersihkan salju yang menumpuk di jalan. Lagipula, tidak banyak hal yang bisa mereka lakukan ketika musim dingin tiba kecuali latihan secara ekstrem.
Kegiatan pertanian jelas sudah berhenti sejak sayur dan buah-buahan dipanen sebelum musim gugur berakhir. Sedangkan untuk tanaman bermutasi yang langka dan berharga, mereka telah membangun rumah kaca yang terbilang luas untuk menyelamatkan semuanya.
Selain itu, mereka semua juga membuat gudang bawah tanah untuk menyimpan bahan. Fungsinya seperti kulkas, tetapi dibuat dengan cara lebih tradisional. Mampu menyimpan bahan cukup baik di musim semi dan gugur. Fungsi terburuk di musim panas, dan terbaik di musim dingin.
Bisa dibilang, dibandingkan dengan tahun lalu. Sekarang mereka telah mempersiapkan semuanya lebih matang!
Tempat tinggal dan makanan di musim dingin telah teratasi. Namun, tidak semua masalah telah teratasi. Lagipula, sekuat apapun mereka, tidak mungkin untuk mengendalikan cuaca. Selain itu, masih ada para zombie dan binatang bermutasi yang semakin ganas pada musim dingin.
Di jalan, Lisa menyeret skop dengan ekspresi tertekan di wajahnya.
“Kenapa aku harus melakukan hal-hal seperti membersihkan salju?” gumam gadis itu tidak puas.
__ADS_1
“Memiliki jabatan tinggi bukan berarti kamu harus meninggalkan tanggung jawab, Gadis Kecil. Kita tidak bisa menyerahkan segala hal kepada orang lain, lalu hanya hidup enak dengan memanfaatkan jabatan.
Perilaku menindas yang lemah, memperlakukan mereka dengan buruk padahal mengambil keuntungan dari rakyat untuk membesarkan perutnya sendiri jelas tidak etis.”
Old Franky yang berjalan bersama Lisa berkata dengan ekspresi serius. Dia selalu mengingatkan cucunya agar gadis itu tidak akan tersesat di jalan yang salah.
“Kamu benar-benar berisik seperti Ketua Bau, Kakek Bau.”
Lisa memutar matanya, jelas merasa tidak senang karena ‘dimarahi’ oleh kakeknya sendiri. Dia kemudian menghampiri Ark yang sedang bersih-bersih jalan di depan rumah bersama beberapa orang.
“Hey, Kak! Aku punya ide yang sangat bagus!”
“Hm?” Ark menoleh ke arah Lisa dengan curiga.
“Bagaimana jika menggunakan telekinesis untuk membuang semua salju di markas pusat? Itu pasti- aduh!”
“Berhenti main-main. Kamu pikir hal semacam itu tidak membutuhkan tenaga? Gunakan skopmu. Bersihkan dengan kedua tanganmu dan anggap sebagai olahraga.
Jangan hanya makan dan tidur di musim dingin sehingga menambah berat badan. Selain itu, jangan sampai lupa. Latihan harianmu digandakan, dan jam kerja ditambah. Tanpa upah lembur.”
“Ugh!”
Mendengar itu, sudut bibir Lisa berkedut. Dia jelas ingin mengeluh, tetapi tidak jadi karena takut hukumannya malah bertambah. Pada akhirnya, gadis itu hanya bisa membersihkan secara manual bersama kakeknya dengan patuh. Tidak lagi memikirkan ide aneh.
Selain Lisa dan Old Franky, ada juga Jay dan Mona yang sibuk membersihkan jalan depan rumah mereka. Mungkin yang cukup mencolok adalah Vadim, yang sibuk membersihkan jalan dengan banyak wanita cantik, yang masing-masing dari mereka adalah kekasihnya.
Melihat Vadim begitu akur dengan para kekasihnya, Jay jelas tampak iri. Namun pemuda itu tidak berani menunjukkannya karena terus merasakan tatapan sengit dari Mona. Mirip dengan Lisa, pria itu hanya bisa patuh membersihkah jalan dengan ekspresi tertekan.
“Apakah ada yang lucu, Ketua?” tanya Abigail.
Bukan hanya Abigail, tetapi Kurona, Shirona, Stacy, dan Natasha juga menatap ke arah pemuda yang tersenyum lembut itu dengan ekspresi penasaran di wajah mereka.
“Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, dibandingkan tahun lalu yang dipenuhi dengan tekanan, darah, dan setumpuk masalah ...”
Ark menoleh ke arah mereka dengan senyum tulus di wajahnya.
“Aku rasa tempat ini tidak lagi sepi.”
__ADS_1
>> Bersambung.