
“Anu ... kenapa kita tidak langsung menyerang mereka saja, Ketua?”
Berdiri di atas atap sambil mengawasi pergerakan sebuah kelompok yang terdiri dari tujuh orang, Angelica bertanya kepada Ark dengan ekspresi bingung.
“Sebenarnya idemu tidak buruk. Namun, sekali kita menangkap, itu berarti kita akan membunuh mereka setelahnya. Jika itu dalam keadaan normal, sama sekali tidak ada yang salah.
Hanya saja, sekarang kita berada di perbatasan wilayah Golden Maple Group dan Imperial Phoenix yang waspada. Jika kita salah menangkap orang, kemungkinan kedua kelompok itu berperang sangat besar.”
Ark menggeleng ringan. Jelas kurang setuju dengan ide menangkap secara langsung tanpa bukti.
“Apakah ada masalah dengan itu Ketua? Maksud saya, jika mereka bertempur, bukankah kita bisa mengambil keuntungan?” tanya Angelica.
“Jika itu kelompok lain, Ark pasti sudah melakukannya. Namun, Golden Maple Group adalah milik orang tua sahabatnya. Jadi dia tidak melakukannya.
Terlebih lagi, jika dua kelompok bertempur, kemungkinan besar Imperial Phoenix akan mengalahkan Golden Maple Group cukup parah. Yang berarti korban dari kelompok tersebut sangat banyak.”
Melihat ke arah Angelica yang kurang peka dan hanya memikirkan keuntungan, Aisha menggelengkan kepala sambil mengangkat bahu. Tampak tidak berdaya karena kecerdasan emosional itu juga agak rendah.
Membuatnya merasa agak lelah karena menjadi satu-satunya orang dengan kecerdasan emosional lebih tinggi di tim kecil ini.
“Jadi begitu.” Angelica mengangguk.
“Sekarang kita akan mengikuti kemana mereka pergi. Memastikan mereka akan kembali ke markas atau pergi ke tempat yang tidak kita ketahui.”
Mendengar ucapan Ark, Aisha mengangkat bahu sambil membalas.
“Terserah padamu Ketua.”
***
Mengikuti jejak mereka cukup lama, Ark dan dua rekannya merasa tim yang terdiri dari tujuh orang itu semakin menjauh dari perbatasan. Hanya saja, bukannya kembali ke markas Imperial Phoenix, orang-orang itu malah semakin mendekat ke wilayah milik Golden Maple Group.
“Ini menjadi sedikit menarik.”
Melihat bagaimana tim tujuh orang itu mengendap-endap, Aisha berkata dengan ekspresi tertarik di wajahnya.
Terus mengikuti mereka, tujuh orang itu akhirnya berhenti di sebuah apotek kecil. Setelah menengok kiri-kanan untuk memastikan tidak ada orang, mereka pun masuk satu per satu dan meninggalkan dua orang di luar untuk berjaga.
Ark dan kedua rekannya berhenti di atap gedung dekat apotek. Mereka tidak lagi mendekat, hanya mengawasi dan mencoba mendengarkan percakapan mereka.
“Apakah kamu pikir mereka itu menipu kita?” tanya salah satu penjaga.
“Apakah kamu meragukan keputusan Bos Besar?” Penjaga lain balik bertanya dengan dingin.
“Bukannya aku meragukan keputusan Bos. Aku hanya merasa ragu dengan orang-orang dari Golden Maple Group itu. Maksudku, mereka bahkan belum muncul setelah kita sampai di lokasi.”
“...”
“Kita sama sekali tidak dipermainkan oleh mereka kan?”
__ADS_1
“Kita hanya prajurit kecil, lebih baik diam dan melakukan tugas daripada membuat dugaan tidak pasti semacam itu. Jika sampai didengar pihak atas, kamu bisa saja ‘dipecat’ lalu digantikan anggota baru.”
Melihat ekspresi serius di wajah rekannya, pria itu hanya bisa menghela napas panjang.
“Aku hanya sedikit ragu. Dua kelompok jelas dalam kondisi panas, jadi menyusup ke tempat ini bukanlah pilihan baik. Belum lagi jika orang-orang itu sampai ceroboh dan dibuntuti.”
“Apakah kamu tidak tahu kalimat ‘tempat paling berbahaya adalah tempat paling aman’ dari mulut para senior? Karena ada adegan berdarah di sini sebelumnya, orang-orang dari Golden Maple Group memperketat markas dan waspada ke area lain.
Sudahlah. Lebih baik kamu diam saja dan lakukan tugas dengan tenang.”
“Baik!”
Kedua orang itu kemudian berjaga dalam diam.
Saat itu juga, suara wanita yang tampak asing terdengar di telinga mereka.
“Tidak bisakah kalian bercerita lebih banyak? Aku benar-benar jadi penasaran~”
Mendengar itu, kedua penjaga langsung menoleh ke sumber suara sambil berseru.
“Siapa?!”
BRUK!
Sebelum keduanya sempat melawan, sosok Aisha muncul dari belakang mereka dan memukul tepat di belakang leher dengan keras. Karena mengenai titik yang pas, kedua orang itu langsung jatuh ke tanah tak sadarkan diri.
Aisha berkata sambil menoleh ke arah tertentu. Di sana, Ark berjalan santai diikuti Angelica di belakangnya.
“Masuk lalu tangkap orang-orang itu. Ini seharusnya menjadi titik temu kedua kelompok. Untuk menghindari gangguan, segera selesaikan sebelum orang-orang dari Golden Maple Group tiba.”
Mendengar perintah Ark, kedua wanita itu menjawab serempak.
“Dimengerti!”
Setelah itu, Ark langsung memberi perintah lain.
“Angelica, ikat mereka berdua lalu berjaga. Pastikan memberi sinyal jika orang-orang dari Golden Maple Group datang.”
“Ya!”
“Aisha, kamu ikut aku. Ada lima orang yang perlu ditangkap dan diinterogasi segera.”
“Ok~”
Ark dan Aisha kemudian masuk ke dalam ruangan. Pada saat mereka masuk, ada ruangan luas yang tampak berantakan dan pintu yang terbuka di kejauhan. Tampaknya tempat orang-orang itu beristirahat sekaligus berkumpul untuk membahas suatu hal penting.
Ark dan Aisha saling memandang. Wanita itu kemudian menunjuk dirinya sendiri sambil berbisik.
“Haruskah aku yang melakukannya? Maksudku, bos tidak perlu turun tangan dalam perkara sepele seperti ini kan?”
__ADS_1
Mendengar kata-kata bercampur ejekan dan godaan itu, Ark mengangkat bahu sambil membalas.
“Kalau begitu kuserahkan padamu.”
Mendapatkan persetujuan dari Ark, Aisha langsung mengeluarkan sebuah belati sambil tersenyum ramah. Dia kemudian mengambil langkah ringan menuju ke dalam ruangan.
Masuk ke dalam ruangan secara langsung, Aisha langsung disambut dengan pemandangan ruangan luas dan tampak kosong. Barang-barang telah dikeluarkan dan ruangan telah dibersihkan.
Di sana, tampak lima orang yang duduk sambil bersandar pada dinding. Melihat kemunculan Aisha yang tiba-tiba, mereka jelas terkejut.
Saat itu juga, Aisha menunjuk mereka sambil berteriak.
“Angkat kedua tangan kalian, Sampah!”
Mendengar teriakan Aisha, kelima orang itu sempat terkejut. Namun beberapa detik kemudian mereka langsung bangkit dengan ekspresi muram.
“Jaga mulut kotormu, J-lang! Siapa kamu dan apa yang kamu lakukan di tempat ini!”
“Jawab pertanyaan kami jika tidak ingin terluka!”
“Jatuhkan saja dia! Bahas saja nanti setelah bersenang-senang!”
“...”
Melihat ekspresi marah dan tatapan mereka yang tidak sopan, mata Aisha menyempit.
Sementara itu, Ark bersandar pada dinding dekat pintu sambil menunggu. Beberapa saat kemudian, suara ribut dalam ruangan menjadi sunyi. Setelah itu, barulah dia juga mask ke dalam kamar.
Ark berdiri tenang dengan rokok menyala menggantung di sudut bibirnya. Setelah mengamati orang-orang yang Aisha jatuhkan, pemuda itu mengambil rokok dengan tangan kiri lalu mengembuskan asapnya.
“Setelah diperhatikan baik-baik, tampaknya tidak ada ikan besar.”
Aisha menyambar rokok di tangan Ark. Setelah menyesapnya, wanita itu mengembuskan asap ke arah orang-orang yang tak sadarkan diri. Memiliki ekspresi tak puas di wajahnya, wanita itu berkata.
“Apa yang kamu harapkan dari keroco seperti ini?”
Mendengar ucapan Aisha, Ark mengangkat bahu.
“Lagipula, hanya ada mereka yang bisa ditangkap. Setidaknya, ikan kecil bisa membawa kita ke ikan yang lebih besar.”
“Pffft! Ikan yang lebih besar~”
Aisha terkekeh. Wanita itu kemudian menjentikkan jari, membuang abu ke atas kepala salah satu anggota Imperial Phoenix lalu berkata.
“Menurutku, lebih baik tidak terlalu berharap pada keroco semacam ini. Setidaknya tidak perlu kecewa jika tidak mendapatkan informasi berguna.”
Ark mengangkat bahu sebagai tanggapan. Tampaknya sejak awal memang tidak mengharapkan hal-hal berguna dari mulut orang-orang itu.
>> Bersambung.
__ADS_1