
“Mundur! Suruh semua orang mundur sekuat tenaga sekarang!”
Cassandra langsung memberi perintah. Meski kemungkinan selamat kecil, tetapi selama mereka bisa memecahkan Bolton dan pasukannya, masih ada kesempatan untuk hidup.
Ya. Walau sedikit, setidaknya masih ada!
Memiliki ekspresi sedih dan marah, banyak orang yang memaksakan diri untuk mundur mengikuti instruksi Cassandra. Namun mereka juga paham, kemungkinan mereka selamat terlalu tipis sekarang.
Jadi, beberapa orang yang memiliki kepribadian keras kepala memilih untuk tinggal.
Cassandra melihat Kron yang berdiri dengan tegak, sama sekali tidak memiliki rasa takut ketika dikepung banyak musuh.
“Apa yang kamu lakukan Kron? Dengarkan aku! Mundur! Kamu memiliki kesempatan jadi-“
“Sudah cukup Cassandra!”
Mendengar Kron memanggil namanya secara langsung, ekspresi Cassandra tampak buruk. Dia langsung mengingat sosok senior yang melatihnya di awal dirinya bergabung ketentaraan. Sebelum wanita itu melanjutkan, suara Kron kembali terdengar.
“Sekarang kamu sudah tumbuh besar dan memiliki sayap keras, Gadis Kecil. Kamu sama sekali tidak perlu mempedulikan aku karena ini adalah jalan yang aku pilih.
Karena tidak bisa pergi, aku dan orang-orang bodoh ini (rekanku) akan memberi kalian waktu. Jadi pergi!
PERGI SEKARANG JUGA DAN JANGAN BIARKAN USAHA KAMI SIA-SIA!”
Mendengar ucapan Kron, Cassandra yang biasanya tegas dan dingin menitikkan air mata. Dia merasa sangat marah, tetapi juga menyadari betapa lemah dan tidak berdaya dirinya.
“SEMUANYA ... RETREAT!”
Melihat Kron yang memimpin pasukannya untuk bertahan, orang-orang yang mundur merasa sedih dan malu. Mereka hanya bisa melihat punggung orang-orang itu sebelum berlari. Tidak ingin membuat usaha mereka sia-sia.
Melihat Cassandra dan pasukan yang berhasil mundur, Kron mengangkat sudut bibirnya. Saat itu, dia tiba-tiba merasakan tekanan yang membuatnya merinding.
Mengalihkan pandangannya ke sumber tekanan tersebut, Kron melihat sosok berjubah hitam yang berjalan dengan tenang sambil menyeret pedang yang berlumur darah. Memiliki senyum penuh tekad di wajahnya, dia memegang erat pedang di tangannya.
“MAJU!”
Swoosh!
Sosok berjubah hitam itu langsung melesat dengan kecepatan luar biasa. Dalam sekejap, muncul di depannya sambil mengayunkan pedangnya.
BANG!
Menangkis serangan tersebut, tubuh Kron langsung terhempas belasan meter. Namun dia sama sekali tidak jatuh. Masih berdiri dengan kokoh di atas tanah.
Hanya saja, Kron merasa semua tulang di kedua tangannya dihancurkan. Sama sekali tidak bisa digunakan untuk mengayunkan pedang.
Saat itu, ekspresi terkejut tampak di wajah pria berjubah hitam tersebut. Sambil berjalan ke arahnya, pria itu bertanya.
“Sebutkan namamu, Prajurit!”
“KRON!” balas Kron penuh semangat juang.
__ADS_1
“Meski cukup disesalkan, senang bisa bertemu pejuang sejati sepertimu Kron. Sebagai sesama pejuang, aku menghormatimu.”
Setelah mengatakan itu, pria tersebut mengayunkan pedangnya. Memenggal kepala Kron sebelum pergi ke tempat Cassandra dan pasukannya berada.
Sebelum kesadarannya hilang, jejak penyesalan muncul di mata Kron.
‘Bisa lolos atau tidak tergantung pada keberuntunganmu, Gadis Kecil. Aku hanya bisa berharap kamu akan selamat dari bencana ini.’
***
Sementara itu, tidak jauh dari tempat Cassandra dan pasukannya berada.
‘Siapa yang benar? Siapa yang salah? Jawabannya tidak ada karena beginilah perang.’
Bergerak dari atap bangunan ke atap lain, Irene melihat pemandangan penuh kekacauan tanpa merubah ekspresinya. Baginya, pemandangan semacam itu adalah hal ‘wajar’ di dunia gila ini.
Orang yang bertarung demi keluarga, kelompok, kekasih, atau dirinya sendiri. Sama sekali tidak ada yang salah karena mereka memperjuangkan keyakinan mereka. Jadi tidak ada yang salah, hanya ada pemenang dan pecundang.
Pecundang akan menghilang dalam aliran waktu, dan pemenang akan menulis kebenaran versi mereka sendiri.
Begitulah cara dunia gila ini bekerja.
Pandangan Irene terus terarah pada Cassandra.
Berbeda dengan sosok cantik dan dingin seperti biasanya, wanita itu benar-benar tampak kacau. Walau tidak menutup kecantikannya, tetapi jelas pukulan yang terjadi berulang kali berdampak pada mentalnya.
Dikhianati, kehilangan rekan, hampir kehilangan nyawa, merasa tidak berdaya, dan berada di ujung tanduk.
Bukan orang normal jika merasa biasa saja dalam menghadapi masalah semacam itu.
“BOLTON!”
Saat itu, teriakan Cassandra yang dipenuhi kemarahan dan kebencian menggema.
Cassandra yang memimpin pasukannya langsung bergegas menuju ke arah Bolton dan orang-orangnya. Tanpa sedikit pun keraguan, mereka langsung menyerang dengan kejam. sama sekali tidak lagi menganggap orang-orang itu sebagai saudara.
BANG!
“Urgh! Bagaimana bisa?”
Melihat Cassandra yang masih bisa bertarung dengan sengit, Bolton tampak terkejut. Bukan hanya tidak dimusnahkan, dia tidak menyangka kalau banyak orang yang bisa mundur. Dengan begini, dia dan pasukannya juga bisa dalam bahaya.
“Jangan alihkan pikiranmu ketika bertarung, Sampah!”
BANG!
Sosok Bolton terpental mundur. Pada saat mengangkat wajahnya, sepatu hitam langsung berayun mengenai telinga kanannya dengan keras.
Saat itu, otaknya terasa berguncang. Melihat ke arah Cassandra yang kembali menyerangnya, pria itu merasakan kemarahan. Dia langsung mengayunkan pedang dengan sekuat tenaga.
Slash!
__ADS_1
Tangan kanan Bolton yang memegang pedang langsung jatuh ke tanah. Saat itu juga, pria tersebut jatuh berlutut. Memegangi tempat tangan terputus sambil berteriak putus asa.
“ARGH!!”
BANG!
Belum sempat memikirkan apa-apa, kepala Bolton ditendang Cassandra dengan keras.
Melihat Bolton berbaring terlentang sambil berteriak kesakitan, wanita itu langsung menikam dada pria tersebut dengan pedangnya. Tidak langsung membunuh, tetapi terus menikamnya dengan ekspresi marah dan penuh kebencian.
“Mati! Mati! MATI!”
Tidak mempedulikan citranya atau darah yang memercik ke sekujur tubuhnya, Cassandra terus menikam Bolton sampai tubuh pria itu berhenti berkedut. Benar-benar kehilangan nyawannya.
Cassandra bangkit, mundur beberapa langkah sebelum menjatuhkan diri ke tanah sambil menutupi wajahnya. Benar-benar merasa kesakitan, bukan hanya karena fisik, tetapi juga mentalnya.
Saat itu juga, suara yang tidak begitu akrab tetapi juga tidak asing terdengar dari belakangnya.
“Daripada menangis di sini, sebaiknya kamu segera melarikan diri sebelum pengorbanan rekan-rekanmu sia-sia.”
Mendengara itu, Cassandra menoleh dengan wajah berlinang air mata.
“Kamu.” Wanita itu menggertakkan gigi. “Kenapa kamu berada di sini?”
“Tugas.”
Sosok yang berdiri di belakang Cassandra adalah Irene, sosok wanita cantik berambut merah yang mengenakan jubah hitam. Tampak begitu baik dan ramah, tetapi juga membawa kesan misterius.
Swoosh!
Tanpa memberi peringatan, Cassandra langsung mengambil pedang dan menebas. Sayangnya, Irene mampu menghindarinya dengan mudah.
“Kamu pasti ada hubungannya dengan semua ini!”
Cassandra yang belum lama ini mendapatkan tekanan tidak bisa berpikir jernih. Karena informasi tentang Irene hampir nol, dia langsung menganggapnya sebagai musuh yang perlu dilawan.
“Sungguh, kamu seperti akan rusak kapan saja, Cassandra.”
Irene mengangkat bahu. Melihat penampilan berantakan Cassandra, dia merasa agak kasihan.
“Sudah aku bilang, alasan kenapa aku datang adalah tugas dari Tuan. Kamu terlihat membutuhkan bantua, jadi aku datang. Sesederhana itu.”
“DIAM!”
Cassandra menunjuk Irene dengan pedang di tangannya. Bukannya takut, wanita itu malah berjalan ke depan lalu menyentuh ujung pedang dengan jarinya. Sebelum mengatakan sesuatu, dia menarik kembali tangannya.
“Sepertinya kamu terlambat. Padahal, aku sudah memintamu segera pergi.”
“APA MAKSUDMU?”
Setelah mengatakan itu, Irene berbalik. Dia menatap ke arah tertentu tanpa menjawab pertanyaan Cassandra. Beberapa saat kemudian, sosok pria berjubah hitam berjalan keluar dari kabut.
__ADS_1
Berjalan menuju ke arah orang-orang dari Imperial Phoenix dengan pedang berlumur darah di tangan kanannya.
>> Bersambung.