
"Oh... Ya buat Amar... Apakah kamu merasa telah berbuat kesalahan yang fatal?" tanya Sascha.
"Jangan pernah menuduhku!" bentak Amar.
"Aish... Kamu itu malah membentak lagi. Bisa enggak sih kalau ngomong tidak memakai membentak," kesal Sascha. "Apakah kamu menendang Choi dari sini?"
"E... E... Enggak," jawab Amar dengan terbata-bata.
"Lalu, siapa yang menyuruh Choi pergi ke Kanada?" tanya Sascha.
"Tuan Devan," jawab Amar yang berbohong.
"Oh... Tuan Devan," ucap Sascha dengan malas.
"Kamu tahu bagaimana sifat Tuan Devan sebenarnya? Tuan Devan tidak akan membiarkan karyawan terbaiknya yang berjasa membangun perusahaan ditendang begitu saja. Tuan Devan akan mempertahankannya dengan memberikan semua fasilitas yang dibutuhkan karyawannya. Dan kamulah orang yang telah menendang Choi dari sini dengan mengganti Hugo sialan itu. Apakah kamu masih mengelak?" tanya Sascha.
"Aku akan mengelak sekarang," jawab Amar dengan penuh percaya diri.
"Ya udah. Enggak apa-apa," ucap Sascha.
"Aku yang tidak memindahkan Choi ke Kanada!" tegas Amar.
"Masih mengelak juga. Ah... Rasanya aku capek melihat kamu dan kamu pandai mengelak!" bentak Sascha yang menunjuk Amar dan Lucas.
"Kamu jangan menuduhku!" teriak Amar.
"Enggaklah. Aku enggak menuduh kamu. Tapi apakah kalian merasa ada sesuatu yang aku sembunyikan?" tegas Sascha.
Pikiran mereka tidak tertuju pada satu bukti. Yang dimana bukti itu adalah bisa menjerat mereka ke dalam penjara.
"Well, kalian masih diam dengan bukti yang satu ini,'' ucap Sascha.
"Bukti apa?'' tanya Dewa.
"Tuan Dewa tidak tahu, siapa yang menandatangani surat pemindahan Choi?" tanya Sascha yang membuat mereka terkesiap.
"A... a.... a.... apa maksud kamu?" tanya Amar yang tubuhnya bergetar.
__ADS_1
"Ada seseorang yang telah lancang memalsukan tanda tangan Tuan Devan. Aku sudah mengecek tanda tangan itu. Ternyata tanda tangan itu ternyata palsu. Terus semalam aku tidak sengaja masuk ke ruangan HRD. Entah mengapa firasatku mengatakan kalau Amar yang telah memalsukan tanda tangan,'' jawab Sascha. "Dan aku menemukan sebuah bukti di map berwarna hijau muda. Yang dimana warna map itu tidak dianjurkan dalam peraturan perusahaan. Ketika aku buka, aku menemukan berlembar-lembar kertas dengan coretan tanda-tangan Tuan Devan. Aku sudah mengamankan map hijau itu.''
"Aish... si rubah kecil ternyata sangat pandai sekali,'' puji Dewa.
"Apakah kamu masih mengelak juga?" tanya Sascha yang membuat Amar sudah tidak berkutik.
"Kalian itu lucu. Malam-malam ke perusahaan membawa pengawal elit. Lalu kamu bisa masuk seenaknya. memangnya ini perusahaan milik orang tua kalian?" tanya Sascha dengan sengit. "Kalian tahukan ada peraturan perusahaan yang mengatakan, di jam sepuluh ke atas seluruh para karyawan tidak diperbolehkan masuk ke area kantor maupun pabrik hingga jam enam pagi. dan kalian telah melanggar semuanya.''
Amar dan Lucas langsung tercekat dan tidak bisa membalas apapun dari Sascha. Mereka kalah dari Sascha. Memang benar apa yang dikatakan oleh Sascha dengan peraturan perusahaan.
"Tapi kalian lucu. Seharusnya kalian adalah karyawan di perusahaan ini. Tapi kenapa kalian ke sini membawa banyaknya pengawal. Memangnya kalian adalah big bos?" tanya Sascha yang mengejek. "Sementara sang pemilik perusahaan tidak pernah memakai pengawal."
"Pengawal yang artian untuk melindungi diri. Jika ketahuan sama pemilik mereka akan memberikan kode untuk membunuhnya. Itu yang ada dalam pikiran mereka,'' tambah Dewa yang membuat Sascha tersenyum.
"Dan pengawal kalian tidak berguna. Kamu tahu maksud tidak berguna itu apa?" tanya Dewa. "Mereka dikalahkan oleh Sascha hanya memakai tangan kosong. Kamu kira Sascha bisa ditindas. Jangan salah bro. Di tangan Sascha benalu-benalu seperti kalian tidak bisa lari."
Beberapa saat kemudian banyak orang yang berpakaian hitam bersama Choi datang. Mereka masuk ke dalam dan melihat perdebatan sengit antara sang ketua dan sang tersangka. Kemudian Choi mendekati mereka sambil tersenyum devil, "Apa kabar Amar dan Lucas?"
Seketika mereka terperanjat melihat Choi yang berdiri di depannya. Bagaimana bisa Choi masuk lagi ke negara Amerika? Bukannya Choi sudah didepak ke Kanada.
"Dengan alasan apa saya didepak?" tanya Choi.
Selang beberapa detik Dewa mendapatkan sebuah email dari Leo. Dewa menyungginkan senyumnya damn mendekati Sascha, "Kamu harus baca ini!"
"Memangnya ada apa?" tanya Sascha yang mulai penasaran dan meraih ponsel Dewa.
Sascha membaca pesan itu sambil tersenyum. Lalu Sascha memandang wajah Amar sambil berkata, "Well... kalian adalah biang keladinya?"
"Maksud kamu?" tanya Choi.
"Mereka sengaja meminta pertolongan kepada Rosita. Hingga Rosita menyambungkan pesan kalian ke Theodore. Nah Theodore lah yang membuat banyak alasan agar Tuan Choi didepak. Ini sangat hebat sekali. Berhubung kasus ini seru aku yang akan menanganinya,'' celetuk Sascha dengan serius.
"Pengawal!" teriak Dewa.
Beberapa pengawal Black Tiger langsung menundukkan wajahnya sambil menunggu perintah. Ketika ingin memberi perintah Devan dan Gerre datang. Mereka tidak sengaja melihat pintu ruangan HRD berubah menjadi kayu.
'Siapa yang mengganti pintu kaca dengan pintu seperti ini!" bentak Devan.
__ADS_1
Sascha langsung bersembunyi di belakang Dewa. Sascha benar-benar takut jika Devan marah. Kata Sascha ketika calon bapak mertuanya marah lebih menyeramkan.
"Kenapa kamu bersembunyi?" tanya Dewa.
"Aku takut papa marah,'' jawab Sascha.
'Siapa yang mengganti pintu kaca dengan pintu seperti ini?" tanya Devan sekali lagi dengan nada tegas.
"Yang pastinya Amar. Bisa dikatakan Akar ingin menutupi kesalahannya di dalam sini tanpa ketahuan Tuan Devan'' jawab Sascha yang masih bersembunyi.
Choi menepuk jidatnya karena sangat lucu melihat Sascha ketakutan. Bagaimana bisa Sascha yang sedari tadi garang langsung menciut nyalinya.
"Benarkah itu?" tanya Devan yang mencari keberadaan Sascha.
Untung saja tubuh Sascha mungil. Jadi ketika bersembunyi di balik Dewa tidak akan menemukannya, Dengan jahilnya Sascha mengendus aroma maskulin dari Dewa.
"Kemana Sascha?" tanya Devan.
Sementara itu Gerre menggelengkan kepalanya. Jujur saja adegan ini memang menegangkan. Tapi bagi Gerre sangat lucu sekali.
"SASCHA!" panggil Devan yang tidak menemukan sang calon menantun ya itu.
"A... a... a... ada apa papa mertua?" tanya Sascha yang keluar dengan wajah menunduk.
"Tangkap mereka lalu giring ke kantor polisi! Sebentar lagi kita akan mengejar Theodore dan Rosita!" titah Dewa.
Seluruh pengawal itu langsung menangkap mereka. Saat penangkapan terjadi Sascha hanya bisa menghembuskan nafasnya. Berakhir sudah kisah Amar dan Lucas. Tugas mereka adalah mencari keberadaan Theodore Yi dan Rosita.
Kobe yang sedari tadi mode diam seperti batu menampakkan batang hidungnya. Kobe sangat kesal kepada Devan dan ingin melahapnya hidup-hidup.
"Apakah pestanya sudah berakhir?" tanya Kobe yang sedari tadi menjadi patung.
"Kapan paman Kobe datang?'' tanya Choi.
"Baru saja. Memang aku disini tidak dibutuhkan sama sekali,'' kesal Kobe.
"Bukannya paman datang sedari tadi?" tanya Sascha dengan malas.
__ADS_1