Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Kabar Baik.


__ADS_3

"Bagaimana bisa protes Jika kamu sudah memberikan perintah seperti itu?" kesal Sascha.


"Benar juga. Maaf aku memberikan perintah itu berlaku selama dua puluh empat jam. Mau tidak mau kamu harus menguasai semuanya," ucap Dewa yang tidak main-main. "Sekarang kamu hubungi papamu. Dan aku akan menghubungi bang Kobe. Mereka sedang khawatir mendengar berita kita!" titah Dewa.


Sascha mengganggukan kepalanya lalu menghubungi Gerre. Sascha berharap sang papa jangan terlalu khawatir dengan keadaannya. Justru itu sang papa khawatir sekali dengan keadaan Sascha.


Di dalam pesawat Gerre berharap Sascha menghubunginya. Tiba-tiba saja ponsel Gerre berdering. Ia dengan cepat mengangkatnya sambil menyapa orang yang berada di seberang sana.


"Halo," sapa Gerre.


"Halo Pa," sapa Sascha balik.


Ketika mendengar suara Sang Putri. Gerre menghembuskan nafasnya dengan lega. Dirinya sangat bahagia bisa mendengar suara Sang Putri.


"Bagaimana kabar kamu nak?" tanya Gerre yang menahan air matanya menetes.


"Aku baik-baik saja Pa. Kami sekarang berada di Berlin. Kami sudah melakukan pendaratan darurat. Beberapa pihak kepolisian sudah mengurus kasus ini. Aku nggak tahu siapa yang melakukannya? Tapi aku melihat orang yang menyerang itu adalah orang Asia. Kemungkinan besar pihak militer dari negara Jepang akan mengurusnya. Seluruh pramugari yang menyekapku, mati di tangan Kak Dewa. Pilot dan co pilot sudah mendekam dalam penjara," jawab Sascha yang menjelaskan keadaannya.


"Syukurlah kalau begitu. Maafkan papa ya. Kamu sekarang sudah terlibat jauh," ucap Gerre sambil meminta maaf.


"Malah semakin bagus Pa. Kalau aku tidak terjun secara langsung. Aku tidak bisa mengetahui siapa-siapa saja musuh kita. Cepat atau lambat aku dan Kak Dewa akan menyelidiki satu persatu," ujar Sascha dengan yakin.


"Kamu nggak boleh keras kepala itu seperti itu. Seharusnya kamu mengajak Papa bekerja sama," pesan Gerre.


"Tidak perlu Pa. Aku sudah meminta pasukan khusus dari Kak Dewa. Kemungkinan besar aku akan mengibarkan bendera peperangan terhadap mereka. Papa tinggal duduk saja di kursi dan melihatku menyerang mereka secara beruntun," sahut Sascha yang berhasil membuat papanya bergidik ngeri.


"Rubah kecil. Jika kamu butuh bantuan papa. Papa akan turun tangan langsung. Jika kamu masih ingin membutuhkan pasukan khusus itu. Papa akan memberikannya secara cuma-cuma," jelas Gerre.

__ADS_1


"Tenang pa. kemungkinan besar pasukan khusus milik papa akan bergabung dengan pasukan khusus milik Kak Dewa," ujar Sascha.


"Itu terserah kamu. Oh ya... Soal pengawalan itu nanti papa urus semuanya. Kamu tahu siapa yang mengirimkan mereka?"


"Yang pasti papa."


"Memang papa. Tapi bukan aku yang mengirimkannya. Papa mertuamu itu yang mengirimkan mereka untuk mengawal kamu. Jika kamu sampai di Amerika. Kamu harus cerita bagaimana kalian mendarat di Berlin?"


"Baiklah Pa. Aku akan menceritakan secara detail kepada papa. Ya sudah ya Pa. Sascha akan menghubungi papa Devan."


"Siap," balas Gerre.


Sambungan terputus.


Gerre tidak sengaja melihat Chloe yang masih bersedih. Lalu Gerre menarik tubuh mungil istrinya itu dan memeluknya. Gerre menatap wajah Chloe sambil berkata, "Tenanglah sayangku. Putri kita sudah selamat. Mereka berada di Berlin. Kemungkinan besar Putri kita akan menyusul ke New York."


"Benar. Untung saja Sasha bisa mendarat di sana. Untuk lebih lanjut kita akan mendengar ceritanya saja. Ketika saja datang di New York," jawab Gerre yang mampu membuat Chloe tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu. Aku tidak bisa membayangkan. Jika Putri kita mengalami kecelakaan pesawat karena pembajakan itu," sahut Chloe.


"Jangan pernah membayangkan yang tidak-tidak. Sascha akan baik-baik saja. Kamu tenang saja. Aku bersama Dewa akan mencari siapa pelaku utama di balik pembajakan pesawat ini," jelas Gerre yang berusaha menenangkan Chloe.


"Firasat ku mengatakan. Orang yang melakukan pembajakan pesawat itu adalah keluarga Cathy. Aku sudah muak dengan semua ini," kesal Chloe.


"Aku juga sama. Aku juga tidak bisa membiarkan mereka hidup tenang. Sudah cukup kita membiarkan mereka hidup bahagia. Mau tidak mau mereka harus merasakannya. Jika si rubah kecilku menemukan siapa pelakunya, rubah kecilku tidak akan melepaskannya sama sekali," geram Gerre.


"Siapa rubah kecil itu?" tanya Chloe yang tidak tahu siapa julukan Sascha.

__ADS_1


"Yang pasti Putri kita. Kamu tahu siapa yang menjuluki itu?" tanya Gerre.


Chloe menggelengkan kepalanya karena tidak tahu. Jujur saja dirinya baru mengetahui kalau Sang Putri memiliki julukan rubah kecil. Selama ini Sascha tidak pernah bercerita tentang julukan itu.


"Sascha tidak pernah bercerita apapun tentang julukan itu. Dia memang sangat anggun sekali Jika bersamaku. Ketika kamu menyebutnya rubah kecil. Aku tidak bisa membayangkan. Bagaimana dia menjadi barbar seperti itu?" tanya Chloe yang membuat Gerre tertawa.


"Yang memberikan julukan itu adalah Kobe dan Dewa. Mereka memang sengaja memberikan julukan itu. Karena Sascha memiliki keberanian yang penuh. Bahkan Sascha tidak akan pernah melepaskan orang itu," jawab Gerre yang mencium bibir Chloe.


"Ish... Kamu itu selalu saja mencuri-curi ciumanku. Jujur aku sangat kesal kepadamu. Untung saja para pramugari itu tidak melihat kita yang sedang berciuman," kesal Chloe.


"Tidak apa-apa. Sekali-sekali kita memamerkan ciuman kepada mereka. Itu menandakan kalau kita adalah pasangan yang mesra dan tidak memiliki masalah dalam rumah tangga," bisik Gerre.


Chloe sengaja memukul lengan Gerre. Ia sangat malu karena kalimat Gerre. Lalu Chloe memutuskan menyembunyikan kepalanya di dada Gerre. Gerre hanya bisa menahan tawanya.


POV 1


Sebelum terjadi pembajakan pesawat, aku bermimpi jiwaku sedang diikat oleh seorang pria yang berusia kurang lebih lima puluh tahun. Pria itu mendekatiku sambil membisiki untuk tidak campur dalam urusan Khans Company. Jika aku berurusan dengan perusahaan itu. Pria itu akan membunuhku.


Lalu aku terdiam sambil tersenyum menyindirnya. Bukankah perusahaan itu adalah milikku pria itu tetap saja ngotot kalau perusahaan itu adalah milik Livi. Aku tahu siapa itu Livi. Dia adalah gadis lemah yang dijadikan sebagai boneka.


Setelah mendapatkan mimpi itu. Aku merasa ada yang janggal di perusahaanku sendiri. Soal penutupan itu aku belum tahu. Tapi hatiku ini mengatakan sebentar lagi akan ada masalah besar. Benar saja ketika aku sedang makan bersama Kak Ayako, Mas Kobe dan Kak Dewa.


Aku mendapatkan pesan dari papa, kalau perusahaanku disegel sama pihak pemerintahan distrik sana. Aku hanya terdiam sambil menatap wajah Kak Dewa.


Beberapa saat kemudian aku mendapatkan telepon dari Kak Bryan. Kak Bryan menceritakan Kalau ada masalah besar di perusahaanku. Akhirnya aku mengajak Kak Dewa sama Mas Kobe kembali ke hotel dan berkumpul di kamar Kak Bima. Di sana sudah banyak orang dan berdiskusi tentang perusahaanku. Namun konsentrasiku terpecah.


Jantungku yang biasanya normal merasakan berdetak lebih kencang. Aku seakan melihat banyak orang yang ingin menangkapku. Kemudian aku pun mengenyahkan pikiran itu. Akan tetapi pikiran itu selalu menggangguku.

__ADS_1


Ketika waktunya tiba untuk terbang menuju New York. Aku merasakan ada yang janggal di dalam pesawat itu. Terutama pada pramugarinya. Biasanya sang pramugari menyambut kami dengan wajah ceria. Namun mereka hanya diam dan mengejekku. Di sinilah kecurigaanku mulai tumbuh.


__ADS_2