Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Chloe Sang Pemilik Rumah Masa Kecil Sascha.


__ADS_3

"Apakah mama tidak ingin merasakan keindahan sawah yang berada disini?" tanya Sascha yang sangat menginginkan kedua orang tuanya tinggal disini untuk sementara waktu.


"Sepertinya ide kamu sangat bagus sekali," sahut Devan.


"Aku akan menyuruh beberapa pengawal membersihkan beberapa kamar disini untuk kalian singgahi," ucap Sascha.


"Memangnya ada beberapa kamar di rumah ini?" tanya Gerre yang duduk di samping Devan.


"Rumah ini sudah aku perbaiki sebelum bertemu dengan papa. Jadi rumah ini aku buat tingkat. Di kamar atas ada lima. Rencananya ketika para kakak kalau sedang liburan tidak susah-susah harus menyewa penginapan di tempat lain. Mereka sangat menyukai tempat ini karena masih asri dan dingin," jawab Sascha.


"Oh... Baiklah. Kita akan seminggu disini," sahut Chloe dengan tersenyum manis.


"Jadi yang membeli rumah ini siapa?" tanya Bryan yang masih bingung


"Ya aku," jawab Chloe yang membuat Bryan menganggukan kepalanya.


"Jadi kalian yang sudah membayar dengan tunai melalui beberapa rekeningku?" tanya Bryan.


"Ya...itu benar. Aku memang membayarnya dengan langsung. Aku tahu kalau Aulia sangat sedih ketika harus menjual rumah ini," jawab Chloe.


"Itu benar. Auliaku hampir setiap hari menangis," jawab Dewa mengetahui kalau Sascha sering menangis kalau ingat rumah ini akan dijual.


"Jadi uangnya?" tanya Bryan.


"Sesuai dengan langkah awal. Uangnya harus dibagi. Aku minta Aulia membagi uang itu ke adiknya Pak Andika. Meskipun jahat, beliau berhak mendapatkannya. Seratus atau tiga ratus juta. Keadaan keluarganya Pak Andika sangat menyedihkan. Anak-anaknya semua putus sekolah. Mereka adalah anak sangat prestasi," jelas Chloe.


Mendengar akan hal itu, Sascha semakin sedih. Ia sangat jahat sekali. Ia baru sadar kalau dirinya telah mengikuti perintah dari Pak Andika. Seharusnya Sascha tidak mengikuti perintah itu. Ia harus bersikap dewasa untuk mengambil keputusan.


"Jadi?' tanya Sascha.


"Pergilah ke sana. Berikan uang itu kepada istrinya. Kamu harus menyambung tali silaturahmi kepada mereka," jawab Chloe yang menyuruh Sascha ke rumah adiknya Pak Andika.


"Besok saja kesana. Sascha harus banyak istirahat. Hari ini Sascha telah mengeluarkan banyak tenaga. Sascha harus menjaga bayi kami," ucap Dewa yang membuat mereka terkejut sekaligus senang.


Mereka memandang wajah Sascha sambil tersenyum bahagia. Mereka tidak menyangka akan memiliki seorang cucu. Tara yang dekat dengan Sascha langsung memeluknya dengan erat.


"Dimana adikmu Wa?" tanya Devan yang sedari tadi tidak menemukan Dita sama sekali.

__ADS_1


"Lagi tidur pa. Sehabis membuat minuman langsung ngacir ke kamar. Katanya mengantuk soalnya semalam begadang sama anak-anak," jawab Dewa.


"Begadang sama Tommy ya?" tanya Tara.


"Ya... Itu benar. Dita sekarang hobinya ingin dekat terus sama Tommy," jawab Dewa.


"Apakah kamu setuju kalau adikmu menikah dengan Tommy?" tanya Devan.


"Setuju saja sih pa. Lagian sedari dulu Tommy sama Dita diam-diam sudah saling sama suka. Terus apakah Dewa akan memisahkan mereka?" tanya Dewa balik.


Tara melepaskan Sascha sambil menatap wajah Dewa bingung. Ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Jangan pernah egois sedikitpun. Kamu sudah bahagia dengan wanita pilihanmu. Masa kamu tidak mau menerima pria idaman adikmu itu?"


"Seenggaknya aku sudah melihat Tommy bagaimana? Dia juga sahabatku. Jika Tommy adalah orang lain. Maaf saja, aku harus menyelidikinya ma. Aku enggak mau dia mempermainkan adikku. Sekarang banyak sekali pria yang mempermainkan wanita. Contohnya saja Billi. Intinya aku tidak mau Dita terkena seperti seperti Aulia," jawab Dewa yang berkata jujur.


"Ya... Mama tahu apa maksudnya? Kamu memang sangat cerdas dan protektif banget sama Dita," puji Tara.


"Apa yang kamu lakukan jika memiliki anak perempuan?" tanya Gerre ke Dewa.


"Melindungi dan menjaganya hingga menikah," jawab Dewa mantap.


"Menjaganya dari pria hidung belang yang ingin memakan Sascha. Jika itu terjadi maka aku yang akan sedih. Karena Sascha sendiri adalah permataku," jawab Dewa.


"DASAR BUCIN!"


Teriak Bryan, Gerre dan Devan serempak.


"Ya aku mengakui itu. Apakah para papa tidak posesif sama istri kalian?" tanya Dewa sambil meledek mereka.


''Cih... Bisanya kamu mengalihkan pembicaraan kami!" geram Devan dan Bryan yang disambut gelak tawa dari Gerre.


"Mereka selalu saja begitu. Kalau enggak bertemu dan berantem seperti ini rasanya sepi banget," keluh Tara.


Sascha dan Chloe tertawa melihat pertengkaran antara Dewa dan Devan. Lalu mereka melanjutkan obrolan mereka.


Hari ini mereka mendapatkan kabar baik. Sascha tidak menyangka kalau rumah itu adalah milik sang mama.


Mereka membicarakan ke depannya nasib rumah ini. Chloe berencana ingin membangun panti asuhan dan panti jompo di sekitar rumah ini. Ia menceritakan kepada Sascha untuk melanjutkan cita-cita kedua orang tuanya itu.

__ADS_1


Setelah mendengar kisah dari Chloe, Sascha langsung menyetujuinya. Ia juga ingin membangun panti asuhan. Oleh karena itu Sascha akan membagi tanahnya untuk membangun panti asuhan dan panti jompo.


Percakapan itu pun masih berlanjut hingga sore tiba. Mereka langsung menyetujui permintaan Sascha. Setelah membuat pernyataan, mereka akan merancang semuanya hingga ke depan. Bryan selaku pengacara membuat surat pernyataan. Mereka akan mendatangani surat tersebut demi terciptanya panti asuhan dan panti jompo.


Lalu bagaimana dengan Dewa lainnya? Mereka setuju dengan Sascha dan para mama. Mereka tidak akan menilai akan hal itu. Mereka akan menambahkan dana untuk membangun dan mendesain semua tempat berada di sini.


Sore pun tiba, Dewa dan Sascha sudah selesai membersihkan tubuhnya. Dewa ingin mengajak Sascha pergi ke dokter kandungan. Dewa akan memeriksakan calon bayinya.


Jujur Dewa sangat penasaran sekali. Bagaimana dengan calon bayinya itu? Ia juga sudah tidak sabar melihat calon bayinya itu.


"Yang," panggil Dewa dengan wajah dibuat manis seperti gula.


"Ada apa?" tanya Sascha.


"Kamu sibuk?" tanya Dewa balik.


"Untuk malam ini tidak. Aku ingin beristirahat," jawab Sascha. "Bener-bener deh, semalam kamu telah menghabisiku. Sampai-sampai aku tidak bisa berdiri," kesal Sascha terhadap Dewa.


"Lagian juga kamu mend*sah kenikmatan. Jadinya aku teruskan," ucap Dewa yang menghempaskan bokongnya di meja.


"Rasanya aku ingin pingsan saja," ujar Sascha yang cemberut kepada Dewa.


"Ngapain kamu cemberut seperti itu?" tanya Dewa yang semakin gemas terhadap Sascha.


"Berapa jam kita melakukan adegan panas itu?" tanya Sascha.


"Delapan kali hingga subuh. Kita memulainya dari jam tujuh malam," jawab Dewa dengan jujur.


Mata Sascha membulat sempurna. Ia mulai mengingat kembali kejadian semalam. Benar saja, Sascha melakukannya selama delapan kali. Ia bergidik ngeri sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Tapi kamu yang mendominasi permainan," ucap Dewa yang mengingat kejadian semalam.


"A-apakah itu benar?" tanya Sascha yang mulai menutup wajahnya.


"Iya itu benar," sahut Dewa yang menahan tawanya.


"Kenapa kamu tidak mencegahku?" tanya Sascha yang mengerutkan keningnya.

__ADS_1


__ADS_2