
“Sepertinya masih tidur. Dia memang memiliki hobi tidur,” jawab Dewa.
Tanpa perlu menjawab, Sascha langsung menuju ke kamar Dita. Untungnya Dita sudah membuka kamar pintunya. Hingga akhirnya Sascha masuk ke dalam dan melihat adik iparnya itu sudah terbangun. Sascha bisa bernafas lega dan melihat Dita sudah bersiap-siap.
“Syukurlah kalau kamu sudah bangun. Kalau begitu tunggu aku ya?” ucap Sascha.
Dita menganggukkan kepalanya lalu bertanya, “Apakah Kak Dewa Sudah bangun?”
“Sudah dari tadi. Dia orangnya gampang untuk bangun pagi,” jawab Sascha.
Sascha kembali ke kamarnya selalu melihat Dewa. Ia melihat jam di dinding dan mulai terkejut, “Sepertinya itu jam tidak bergerak sama sekali.”
“Jam kamu itu mati. Makanya Aku ingin membuangnya. Tapi itu jam kesayanganmu,” jawab Dewa.
“Kamu itu selalu main buang saja. Jam bisa dipakai malah dibuang. Tinggal ganti baterai saja minta dibuang,” kesal Sascha.
“Ya maaf. Itu jam memang mati sedari siang tadi. Aku sendiri nggak tahu di mana baterainya. Setiap rumah atau apartemenku. Yang mengurus bukan Aku. Melainkan para pengawal yang sudah kupercaya untuk membersihkan dan merawat barang-barangku di sana,” jawab Dewa.
“Beda jauh. Kamu sama aku memiliki perbedaan yang sangat jauh sekali. Kalau begitu kita turun saja,” ajak Sascha sambil memegang tangan Dewa.
“Iya ya Kita memang beda jauh. Kamu dituntut untuk berhemat. Aku dituntut untuk menghabiskan uangku sendiri,” celetuk Dewa.
__ADS_1
“Ya makanya itu. Kamu itu sangat aneh sekali. Beda dengan Papa Devan, beliau jarang sekali membuang barang-barangnya kalau sudah tidak bisa terpakai lagi. Beliau lebih suka membenarkan barangnya terlebih dahulu. Kalau nggak bisa baru dibuang,” ujar Sascha.
“Benar juga apa katamu. Itulah yang membuat aku berbeda. Darimana kamu tahu kalau papa sering membetulkan barang-barangnya?” tanya Dewa.
“Ya... tahu semuanya. Aku sendiri melihatnya ketika tugas di New York,” jawab Sascha.
Dewa hanya manggut-manggut saja mendengar pernyataan Sascha. Sebenarnya ia sangat malas sekali dengan barang-barang yang sudah rusak. Ia memilih untuk diam.
Sebelum turun, mereka akhirnya pergi ke kamar Dita. Gadis manis itu sedang menguap. Ia sangat mengantuk sekali. Lalu Dewa menatapnya sambil bertanya, “Tumben kamu sudah bangun?”
“Ya... aku memang sudah bangun kak,” jawab Dita.
Beberapa saat kemudian datang beberapa pengawal yang sudah bersiap-siap. Mereka adalah pengawal yang sengaja dipilih oleh Dewa, Gerre dan Devan. Mereka bukan pengawal sembarangan. Oleh karena itu Dewa akan memimpin kasus ini.
“Kakak bawa mereka?” tanya Sascha sambil menatap mereka pergi.
“Dia adalah seorang pengawal yang sudah kami pilih. Mereka sengaja aku ajak. Karena aku sebar ke berbagai macam untuk mencari informasi di New York,” jelas Dewa.
Dua wanita itu sangat menyetujui apa yang dikatakan oleh Dewa. Mereka tersenyum manis sambil meninggalkan Dewa sendirian di sana. Hanya selang beberapa detik, Dewa mengikutinya dari bawah.
Sementara di bawah, Devan dan Gerre masih duduk santai. Mereka sedang sibuk dengan ponselnya masing-masing. Lalu mereka mendengar sepatu yang sedang beradu. Sang pemilik sepatu itu adalah Dita.
__ADS_1
“Bagaimana menurutmu kalau kita menyerang terlebih dahulu?” tanya Devan.
“Kalau kita menyerangnya terlebih dahulu enggak asyik pa. Lebih baik kita melemparkan para pengawal kita untuk menjadi mata-mata,” sahut Dewa yang berdiri tegak di hadapan Devan.
“Kami sudah mengirimnya ke masing-masing musuh. Rata-rata mereka menjadi para pelayan,” jelas Gerre. “Mereka sudah bekerja sudah lama. Kurang lebih sebulan yang lakku.”
“Jadi?” tanya Dewa.
“Itu untuk nenek sihir sih,” jawab Gerre. “Yang lainnya belum.”
“Ada satu orang yang papa paksa untuk bergabung dalam barisan kita,” celetuk Devan.
“Siapa pa?” tanya Sascha yang tiba-tiba saja penasaran.
“Dia adalah Kobe. Nanti biar Kobe yang datang bersama pengawal. Sesampainya di sana, para pengawal itu mengawal Dita sampai ke apartemen Kobe,” jawab Devan sambil tersenyum manis.
“Bukannya bibi Ayako sedang hamil?” tanya Dita.
“Tapi Kobe harus ikut dalam misi ini. Diam-diam namanya juga ikut terseret,” jawab Devan.
Mereka bertiga sangat terkejut mendengar nama Kobe terseret. Mereka bingung dengan kasus ini. Sungguh-sungguh bingung sekali. Bayangkan saja yang namanya Kobe yang jarang sekali ke New York namanya ikut terseret? Dari mana ceritanya? Mereka tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.
__ADS_1
“Kok kalian tertawa bersama-sama? Ada setan apa yang masuk ke dalam tubuh kalian?” tanya Gerre setelah tahu mereka tertawa.
“Kami bingung pa. Kenapa Mas Kobe bisa terseret atas kasus ini?” tanya Sascha. “Makanya kami tertawa lucu.”