Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KEAHLIAN SASCHA.


__ADS_3

Pernah suatu hari divisi keuangan sedang mengalami musibah bertubi-tubi. Saat itu Kak Leo tidak berada di tempat. Beberapa dari tim IT sedang mengikuti seminar yang diadakan di Swedia. Aku langsung shock berat ada beberapa hacker yang mengajar semua data-data milik D'Stars Inc terutama aliran dana.


Aku meminta mas Kobe untuk mencarikan sebuah tim IT yang mumpuni. Namun Mas Kobe mengajukan diri untuk membantuku. Aku dan Mas Kobe berkoloborasi untuk menyerang mereka. Untung saja Kak Leo memberikan aku beberapa virus yang sudah diupgrade ke versi baru. Mas Leo juga memantau kami dari jauh.


Semalam kami bertarung habis-habisan melawan mereka. Aku dan Mas Kobe menggabungkan beberapa virus milik Kak Leo bersama Mas Kobe. Kami menghajar mereka hingga membuat bebeberapa hacker menyerah.


Aku belum menyerah sama sekali meskipun menang. Aku mencoba melacak keberadaan mereka. Setelah menemukan mereka, aku meminta Mas Kobe membelikan tiket pesawat pulang pergi. Namun mas Kobe melarangnya karena pihak interpol telah memburunya.


Setelah kejadian itu aku diminta Mas Kobe untuk masuk ke dalam tim khusus. Namun aku jarang digunakan jika tidak terlalu genting. Aku hanya melakukan beberapa pekerjaan yang normal di kantor. Ketika aku kembali ke keluarga asliku, aku baru sadar kalau diriku telah memiliki jiwa kepemimpinan dari sang papa. Memecahkan masalah dan menyelesaikan masalah berat. Aku juga menjadi seseorang yang pemarah ketika masalah belum selesai.


***


Setelah membeli laptop dengan spek mumpuni Sascha mulai mengotak-atik programnya. Untung saja dalam keadaan darurat seperti ini Leo bisa membantu Sascha meminta program rahasia. Sascha mulai menginstal program itu. Sambil menunggu Sascha melihat Choi dan Dewa yang sedang berbalas pesan.


"Hugo! Matilah kamu di tanganku!" seru Sascha.


"Aish... Ternyata kamu memiliki bakat pembunuh," kesal Choi.


"Terpaksa aku menjadi seorang pembunuh jika waktu sangat terdesak. Aku tidak akan membunuh Hugo. Tapi aku membunuh karirnya. Kamu tahu Hugo itu sangat bahaya! Beberapa perusahaan besar sering dibobol dan diambil uangnya untuk berfoya-foya sama cewek-cewek klub malam," jawab Sascha yang mengerti Hugo.


"Kamu kok mengenal Hugo mendalam? Bukannya seorang hacker sering menyembunyikan data dirinya?" tanya Dewa.


"Yay... Kamu belum tahu saja. Aku pernah mencari identitasnya hingga ke akarnya. Aku bersama Kak Leo dan Mas Kobe mencari keberadaan Hugo. Dan kamu tahu dia tinggal di Sao Paulo. Aku menangkapnya dan menghajarnya," jawab Sascha.


"Sungguh terlalu. Tapi kamu hebat bisa mencari informasi seseorang dengan detail meskipun orang itu tidak memakai idenditas aslinya," puji Choi.


Sascha melihat kalau laptopnya telah selesai diinstal. Akhirnya Sascha tersenyum smirk dan menari ala Michael Jackson, "Ya... Aku memang tidak puas menjadi manusia jika pekerjaan belum selesai."


Dewa melihat Sascha menari ala Michael Jackson hanya bisa tertawa. Saat genting begini Sascha masih bisa menghibur orang. Bahkan Choi melotot terkejut melihat Sascha.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Dewa.


"Apakah kamu mau ikut melacak keberadaan Hugo?" tanya Sascha ke Dewa.


"Sepertinya aku menyerah dengan itu. Aku harus pergi mencari laporan bulanan di perpustakaan perusahaan," jawab Dewa yang beranjak pergi.


"Pergilah. Jangan sampai kamu ketemu dengan mbak Kunti," ujar Sascha yang mengingatkan Dewa.


Dewa pun melongo melihat Sascha. Bisa-bisanya Dewa yang memiliki indera keenam takut sama hantu. Sebelum keluar Dewa mendekati Sascha sambil memeluknya, "Bisa-bisanya kamu menakuti aku... Hemmp..."


"Ya... Aku kira kamu akan takut," jawab Sascha yang berusaha melepaskan dirinya.


"Aku enggak takut," ucap Dewa yang mengecup bibir Sascha.


Choi yang melihat adegan mesra Dewa langsung melemparkan koran. Choi berseru sambil mengganggu mereka. Ya memang Choi memang usil ketika ada orang pacaran diganggu lalu dibubarkan, "Bisakah kalian tidak berpacaran di depanku?"


"Lupakan kami yang sedang memadu kasih! Biarkan kami bahagia untuk menyalurkan cinta ini," celetuk Dewa sambil melepaskan Sascha.


"Kamu tahu mataku ini tercemar melihat kalian berciuman," kesal Choi yang berpura-pura.


"Dasar Playboy cap buaya. Bukannya situ yang memiliki pengalaman kalau soal beginian," ejek Dewa.


Sembari keluar Dewa menggerutu tidak jelas. Sementara Choi tertawa terbahak-bahak mendengar Dewa. Andai saja mereka satu perusahaan kemungkinan semuanya akan menjadi lebih hidup. Ditambah lagi dengan Sascha dan Dita gadis bar-bar yang memiliki wajah imut.


Sascha hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lucu. Sascha tidak menyangka kalau sang kekasih adalah pria humoris. Setiap kali berdoa Sascha meminta Tuhan agar menurunkan seorang pria yang humoris. Namun doanya itu terkabul.


"Sa," panggil Choi.


"Ada apa?" tanya Sascha yang masih berdiri sambil mengecek laptopnya.

__ADS_1


"Menurutmu ini ulah siapa?" tanya Choi.


"Orang dalam. Aku akan menebaknya. Manager HRD, Keuangan dan Pemasaran. Dan juga anak IT. Kita harus memberantas satu-persatu mereka. Jika kita menyisakan, berarti kita memberikan kesempatan untuk melakukannya lagi," jawab Sascha. "Dan satu lagi kita tidak bisa menyalahkan Papa Devan sepenuhnya. Karena yang memberi wewenang adalah HRD."


"Tapi itu tandatangan Papa Devan," ucap Choi.


"Tidak bisa dipastikan. Kita harus mengecek asli atau palsu. Jika asli kita bisa menanyakan papa Devan secara langsung. Kalau palsu bagaimana?" tanya Sascha yang memberikan sebuah teka-teki.


"Memang ada ya tandatangan milik papa Devan bisa dipalsukan?" tanya Choi yang baru paham.


"Ya adalah. Kamu enggak percaya. Dulu Bima pernah memalsukan tandatangan milik Kak Dewa. Lalu aku memakai sebuah aplikasi yang dimiliki oleh Kak Leo untuk mengecek keasliannya. Dan kamu tahu ada ada beberapa sudut yang sengaja aku temukan," jawab Sascha.


"Semakin menarik saja," celetuk Choi.


"Ya... Memang. Aku akan meminta Papa Devan tandatangan di aplikasi itu. Lalu aku akan menyimpannya untuk berjaga-jaga jika ada masalah. Mereka sangat licik sekali. Sedari dulu Papa Devan jatuh ke lembah hitam. Namun itu tidak bisa," jelas Sascha yang didengarkan oleh Dewa saat masuk ke dalam.


"Apa maksudnya?" tanya Dewa ke Sascha.


"Aku curiga di dalam perusahaan ada beberapa para petinggi ingin menjatuhkan papa," jawab Sascha. "Tapi papa tidak peka soal ini. Papa menganggap mereka adalah sahabatnya."


"Apa?" pekik Dewa. "Jadi?"


"Iya," jawab Sascha. "Aku mengatakan ini karena feeling. Aku melihat papa dan mereka memiliki hubungan yang tidak sehat."


"Kenapa papa enggak peka soal ini?" tanya Dewa.


"Papa jadi orang terlalu baik sama mereka. Bahkan papa sering memberinya fasilitas. Nah disilah mereka mencari kesempatan untuk menjatuhkan papa," jawab Sascha.


"Darimana kamu tahu kalau papa punya musuh di dalam perusahaan?" tanya Dewa yang menyelidiki Sascha.

__ADS_1


__ADS_2