Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Akhir Dari Pesawat.


__ADS_3

Pramugari itu langsung jatuh kesakitan. Sascha berlutut di atas punggung pramugari itu. Lalu Dewa melemparkan tali ke arah Sascha. Dengan cepat Sascha meraihnya dan mengikat tangan pramugari itu.


Sementara pramugari itu berteriak untuk meminta tolong. Beberapa pramugari itu langsung datang dan menodongkan pistol di punggung Sascha. Hanya memakai insting saja, Sascha langsung menggerakkan kakinya dan menendang pramugari itu dari belakang.


Tidak terima temannya mendapatkan perlakuan kasar dari Sascha, mereka langsung mendekati saja dan mengeroyoknya secara bersamaan. Namun dengan cepat Sascha langsung memukul perut salah satu pramugari itu hingga tumbang. Sedangkan Dewa langsung meraih airsoft gun dari belakang punggungnya.


Tak butuh waktu lama Dewa segera menembak para pramugari itu tepat berada di jantungnya. Dengan senyum sumringahnya Dewa berdiri sambil mendekati Sascha. Pria itu memegang tangan saja dan menuju ke kokpit.


Sesampainya di sana Dewa menodongkan pistolnya ke arah pilot tersebut. Dengan memakai bahasa Inggris, Dewa meminta pilot itu mendarat secara darurat di negara Jerman. Mau tidak mau pilot itu mendarat di negara tersebut. Sambil menunggu si pilot mendarat Dewa tetap berdiri di sana.


Di dalam pesawat lainnya, Kobe dan Tommy masih berharap Sascha bersama Dewa selamat. Namun hatinya sangat gelisah sekali. Ia takut sepasang suami istri itu pun menjadi korban pembajakan pesawat.


"Bagaimana?" tanya Kobe.


"Aku belum bisa menghubunginya. Semoga saja salah satu dari mereka bisa mengangkat teleponku," jawab Tommy.


"Sungguh sial hari ini. Kenapa juga ada orang yang mengaku pilot pesawat milik Sascha? Ini harus aku selidiki secara mendalam. Jika aku sudah menyelidikinya. Kita akan tahu siapa dalang di balik itu semua?" ujar Kobe.


"Orang itu sudah bermain-main dengan ketua Black Tiger. Mereka harus mendapatkan akibatnya. Jujur saja kalau mereka ingin menyekap, Jangan pernah di atas langit. Mending saja serang di markas Black Tiger.kami sangat berterima kasih jika mendapatkan serangan begitu," jawab Leo hingga membuat Kobe terkejut.


"Aku setuju pendapatmu. Aku pun sama. Jujur saja menyerang di atas udara itu sangat mengerikan sekali. Lebih baik menyerang di atas darat," sahut Kobe. "Apakah kamu sudah mendapatkan radar dari pesawat Sascha?"

__ADS_1


"Aku sudah mengeceknya. Pesawat itu akan menuju ke negara Jerman. Kemungkinan besar pesawat itu akan mendarat secara darurat," jawab Leo yang masih memantau pesawat Sascha.


"Benarkah itu? Bagaimana kabar Sascha dan Dewa?" tanya Kobe yang masih ketar-ketir.


"Bang Kobe tenang saja. Abang tahu kan kalau Dewa itu memiliki sejuta ide untuk menghabisi penyusup itu di dalam pesawat. Kemungkinan besar penyusup itu habis di tangan Dewa," jawab Leo sambil menenangkan Kobe.


"Kita harus banyak berdoa bang. Semoga mereka selamat sampai ke tujuan. Ke delapan pesawat militer itu masih mengawal pesawat Sascha. aku memantau mereka masih mengikuti perjalanan pesawat Sascha," ucap Tommy yang masih melihat pesawat Sascha dikawal oleh pesawat militer dari negara Jepang.


Di pesawat lainnya lagi. Gerre dan Chloe masih saja berdoa. Sepasang suami istri itu belum mendapatkan kabar berita. Gerre yang berulang kali menghubungi ponsel Sascha, ternyata belum bisa. Mau tidak mau Gerre mendekati Chloe sambil memegang tangannya.


"Maafkanlah Aku. Sejujurnya aku tidak mau ini terjadi. Janganlah kamu bersedih seperti itu. Aku yakin Putri kita baik-baik saja. Apalagi di sampingnya ada Dewa," ucap Gerre.


"Jujur saja hatiku sangat sesak sekali. Kenapa ini bisa terjadi? Andai saja kita mengetahui siapa dalang dibalik semua ini. Kemungkinan besar aku bisa tenang," ujar Chloe.


Beberapa saat kemudian ponsel Gerre berdering. Dengan cepat Gerre meraih ponselnya dan mengangkatnya. Namun tidak ada orang yang berbicara sama sekali. Gerre semakin frustasi dan hampir saja melemparkan ponselnya itu. Ia mulai mengacak-acak rambutnya yang pirang itu.


"Aku nggak suka ada orang telepon tapi nggak mau bicara. Siapakah orang itu? Jujur saja ponselku ini memang aku kosongkan. Supaya putriku bisa menghubungiku setiap saat!" teriak Gerre sampai frustasi.


Seluruh pramugari di sana hanya bisa berbaris dan menunduk. Mereka tahu tentang kasus pembajakan pesawat itu. Mereka beramai-ramai berdoa agar Putri Gerre selamat. Meskipun tidak kenal dekat, mereka pernah mengawal Sascha ke Indonesia. Sascha memberlakukan mereka sangat baik sekali. Bahkan Sascha mengajak mereka mengobrol di dapur.


Pendaratan darurat telah terjadi. Untung saja jam-jam siang, bandara tidak terlalu ramai. Jadi pesawat Sascha beserta delapan pesawat militer mendarat dengan selamat. Di sana, Dewa sudah memanggil pengawal Black swan untuk membantu melakukan pembersihan mayat-mayat di dalam pesawat.

__ADS_1


Sebelum pulang ke Mansion Atmaja, Sascha dan Dewa mengajak para kru pesawat yang mengawalnya. Mereka akan melakukan makan bersama.


Hari ini adalah mimpi buruk buat Sascha. Semenjak mendarat Sascha menjadi diam belum bisa bicara. Otaknya sedang berpikir, Kenapa ini bisa terjadi? Ia menyebut penyerangan itu adalah hal pengecut. Kenapa orang itu menyerangnya di dalam pesawat?


"Kamu Kenapa diam saja? Kamu masih takut dengan kejadian tadi?" tanya Dewa.


"Aku tidak takut sama sekali. Yang aku herankan, mengapa mereka menyerang kita di atas udara? Bukankah melakukan penyerangan di atas udara itu tindakan bodoh? Cepat atau lambat aku akan menemukan orangnya," kesal Sascha.


"Mulai hari ini aku akan melepasmu untuk mencari siapa yang membajak pesawatmu? Aku juga geram kepada mereka. Aku memiliki firasat tentang pembajakan pesawat ini. Yang pasti pembajakan pesawat ini dilakukan oleh keluarga Cathy. Mereka sengaja ingin membunuh kamu atau papamu itu," ujar Dewa.


"Kalau begitu aku akan menunggu serangan mereka. Ah... Rasanya aku tidak akan menunggunya. Karena menunggu itu adalah pekerjaan yang sangat membosankan. Aku ingin menyerangnya ketika berada di New York city," jelas Sascha yang tidak main-main dengan perkataannya itu.


"Kamu harus melakukannya. Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Apakah kamu membutuhkan bantuanku?" tanya Dewa.


"Justru itu aku ingin meminta bantuanmu. Yang benar saja aku tidak meminta bantuanmu itu. Aku rasa kita akan menjadi satu dan menghancurkan mereka," jawab Sascha yang meraih ponselnya dan mencari nomor Gerre.


"Baiklah. Aku mah siap setiap saat. Kamu butuh berapa orang? Nanti aku siapkan," tanya Dewa dengan serius.


"Serius? Siapkan saja orang-orang yang berkualitas. Biarkan aku yang memimpin mereka untuk menyerang orang tersebut," jawab Sascha.


"Kalau begitu aku akan mengajukannya ke Tommy maupun Bima. Kamu akan mendapatkan orang-orang yang berkualitas untuk dipimpin. Sekarang kamu harus bersiap belajar taktik dariku. Kamu harus menguasai taktik itu dengan sempurna. Waktumu tidak banyak. Aku berikan waktu selama sehari saja!" perintah Dewa dengan nada menekan.

__ADS_1


Mau tidak mau Sascha harus setuju dengan perintah Dewa. Meskipun hanya satu hari, Sascha akan belajar dengan sungguh-sungguh. Memang perintah Dewa sangat gila sekali. Bisa-bisanya ia harus menguasai taktik itu dengan sempurna.


"Kenapa kamu nggak protes? Biasanya kamu protes jika dikejar deadline?" tanya Dewa yang menahan tawanya.


__ADS_2