Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Rencana Penyergapan Cathy.


__ADS_3

  "Untung saja papa belum berangkat ke New York," jawab Sascha. 


"Ada apa memangnya?" tanya Gerre. 


"Maaf pa," jawab Dewa yang baru saja datang. 


Sascha yang sedang bergelayut manja pada Gerre langsung berhenti. Ia memutuskan untuk duduk di sofa kosong. 


"Kenapa kamu berhenti?" tanya Dewa kepada Sascha.


"Ada apa kamu," jawab Sascha yang mulai menunduk karena malu. 


Dewa hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Begini pa. Sejam berlalu aku mendapatkan sebuah informasi dari seseorang. Ia mengetahui rencana Cathy dan menceritakan kepadaku."


"Kenapa kalian datang kesini? Seharusnya kamu harus melindungi Sascha," tanya Devan. 


"Masalahnya ini sangat gawat. Bukan Sascha yang diburunya. Melainkan papa Gerre. Cathy menyewa beberapa anggota mafia secara acak. Mereka sudah berada disini. Pagi ini Cathy sedang membuat rencana untuk memburu Papa Gerre. Cathy ingin membunuh Papa Gerre," jelas Dewa. 


"Apakah kamu benar?" tanya Gerre yang mengepalkan kedua tangannya. 


"Ya… itu benar. Aku akan mengajak Sascha untuk memburunya. Sekalian aku ingin mengajarkan Sascha untuk berburu pada musuh" jelas Dewa. 


"Kalau begitu papa ikut aku," anak Ian yang baru masuk ke dalam sambil tersenyum smirk. 


Melihat Ian yang tersenyum smirk, Sascha bergidik ngeri. Lalu Ian menatapnya sambil bertanya, "Kamu kenapa?" 


"Aku tidak apa-apa. Sungguh Kak Ian sangat mengerikan sekali," jawab Sascha. 


"Ian itu sangat pandai sekali untuk mencari tempat persembunyian. Dalam otaknya Ian tahu dimana papamu bisa bersembunyi," jelas Devan. 


Sascha menganggukan kepalanya tanda mengerti. Memang benar apa yang dikatakan oleh Devan, Ian memang memiliki keahlian untuk bersembunyi. Hingga akhirnya Sascha menatap wajah Gerre sambil memberikan sebuah node agar Gerre bisa ikut dengan Ian. 


"Papa ikut saja sama Kak Ian ya," bujuk Ian. 


Gerre hanya tersenyum menganggukan kepalanya. Ia menuruti keinginan sang putri untuk bersembunyi di tempat yang sangat aman. Setelah itu Devan bergabung dengan mereka. Di tempat inilah mereka memiliki sebuah rencana. Mereka akan beramai-ramai untuk menangkap Cathy. 


"Kita bagi tugas sekarang!" perintah Sascha yang membuat mereka menganggukan kepalanya. 

__ADS_1


"Siap!" teriak mereka dengan kompak. 


"Sascha," teriak Dewa. "Kamu tugasnya untuk mencari posisi dimana Cathy berada." 


"Siap Tuan," teriak Sascha dengan semangat. 


"Lalu, Bima… jadilah sniper. Jika dia menyerang, kamu harus menembaknya tepat berada di jantungnya!" perintah Dewa. 


"Siap!" teriak Bima yang ikutan Sascha. 


"Tommy, tugasnya kamu sergap para pengawal bersama Almond dan Marty," perintah Dewa. 


"Siap!" teriak mereka dengan serempak. 


"Papa," ucap Dewa yang ragu untuk memberikan sebuah tugas. 


"Apa itu?" tanya Devan. 


"Lebih baik menjaga Dita dan Sascha. Aku tahu Sascha memiliki jiwa bar-bar. Aku  enggak mau istriku melihat pertarungan kami!" jawab Dewa yang melarang Sascha. 


"Selama sebulan kamu tidak akan mendapat atau sama sekali!" kesal Sascha yang tidak mau dikekang. 


Plak!


Sebuah tangan besar dari Timothy memukul lengan Dewa. Ia berbisik sambil berkata, "Jangan pernah mengekang rubah kecilku itu. Jika sedang marah maka akan berakibat fatal." 


Dewa menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis. Kenapa juga ia tidak memiliki ide untuk mengadu Sascha dan Cathy? Memang rencana ini sangat jahat sekali. Tapi apa mau dikata, Sascha sendiri memiliki dendam yang membara. Dendam dimana dirinya telah dipisahkan dari orang tuanya. 


"Aku yang memimpin!" tegas Sascha yang memegang senjata air softgunnya. 


"Ngapain kamu pakai senjata itu?" tanya Dewa. 


"Memangnya kenapa?" tanya Sascha balik. 


"Buang itu senjata!" perintah Dewa. 


Sascha semakin bingung apa yang diminta oleh Dewa. Hingga akhirnya Dewa mengajaknya mereka keluar. Untung saja mereka memakai baju formal dan kacamata hitam. Beginilah style mereka jika mereka ingin berperang. 

__ADS_1


Sebelum berangkat Ikan mengajak Gerre pergi terlebih dahulu. Ian mengajak Gerre untuk pergi ke Auckland untuk sementara waktu. Yang lebih cerdiknya Ian sering menghilangkan jejak. 


Ketika Gerre pergi, Sascha tersenyum manis. Ia tidak akan menyia-nyiakan untuk mencari keberadaan Cathy. Sebelum berangkat, Sascha meneteskan air matanya. Ia teringat pada Chloe dan menepuk bahu Dewa sambil berkata, "Bagaimana dengan kabar mamaku?" 


"Tenang saja, Mama Tara sudah berada di New York beberapa hari yang lalu. Aku juga sudah menceritakan tentang semuanya. Hingga Mama Tara mengajak Mama Chloe untuk pergi ke London," jelas Dewa yang membuat Sascha tenang. 


"Syukurlah kalau begitu," balas Sascha. 


"Ayo kita berangkat," ajak Dewa. 


Mereka memutuskan untuk keluar dari ruangan Dewa. Mereka keluar dari pintu ruangan khusus. Yang dimana pintu khusus itu menghubungkan antara garasi milik Black Tiger. Bisa dikatakan tempat itu adalah camp pribadi Dewa. 


Sascha yang baru tahu kalau ada pintu rahasia hanya bisa menghela nafasnya. Betapa liciknya sang suami itu akalnya. Bagaimana bisa Dewa menyembunyikan semuanya dari dirinya? 


Sesampainya disana, Timothy langsung menuju ke brangkas. Ia menekan beberapa digit nomor untuk membuka pintu tersebut. Tak sengaja pintu brankas itu terbuka dan melihat banyaknya senjata. Ya… Dewa adalah sang pengoleksi senjata. Banyak berbagai jenis senjata ada di dalam sana. 


"Apakah ini yang dinamakan surga senjata?" tanya Sascha.


"Itu benar. Suamimu itu adalah pengkoleksi berbagai jenis senjata dari berbagai negara. Jika suamimu sudah mengeluarkan senjatanya, maka Cathy harus tertangkap dan terbunuh olehnya. Aku harap kamu jangan mencegahnya. Karena Dewa sudah berubah menjadi iblis untuk sementara waktu," jawab Devan yang menjelaskan keadaan Dewa sekarang.


Sascha akhirnya paham tentang sifat Dewa satu itu. Entah kenapa dirinya juga tidak rela jika kedua orang tuanya dibunuh dengan kejam. Jujur Sascha ingin berdamai dengan masa lalunya. Namun apa daya Cathy malah membuka luka itu. Mau tidak mau dirinya juga ikut mengejarnya.


"Sascha," panggil Dewa. 


"Ada apa?" tanya Sascha. 


"Pilihlah senjata favoritmu. Ambil beserta pelurunya. Jangan pernah hatimu melemah hanya karena belas kasihan Cathy," jawab Dewa yang memperingatkan Sascha agar tidak menerima belas kasihan Cathy.


Sascha akhirnya memilih pedang katana. Yang di mana dirinya ingin bertarung tanpa harus mengeluarkan peluru sama sekali. Dewa hanya tersenyum manis dan memberikan air softgunnya.


"Apakah kamu yakin menjadi ninja?" tanya Dewa.


"Aku yakin sekali," jawab Sascha. "Aku tidak mau itu."


"Ambil dan simpanlah. Itu adalah senjatamu yang aku pungut sebelum berangkat. Aku tahu kamu menyukai senjata itu!" perintah Dewa.


Terpaksa Sascha mengambil pistol itu dan menaruhnya di belakang punggungnya. Siang ini juga mereka berangkat untuk mencari keberadaan dari petunjuk Sascha. Tak sampai tiga puluh menit mereka sampai ke tujuan. Untung saja Dewa meminta Almond dan Marty untuk bergabung.

__ADS_1


"Apakah ini yang dimaksud dengan gedung tua?" tanya Dewa. 


__ADS_2