
Malam hampir habis dan Sascha belum keluar dari ruangan perawatan. Sementara itu dokter mulai mempersiapkan meja operasi. Akhirnya Dewa masuk ke dalam untuk melihat keadaan Sascha.
"Sa... Kamu pernah berjanji padaku. Bahwa kamu enggak akan pernah meninggalkan aku. Tapi kenapa kamu begini? Kenapa kamu enggak pernah cerita kalau kepala kamu sakit? Kenapa kamu menyembunyikannya kepadaku?" tanya Dewa yang meneteskan air matanya hingga jatuh ke pipinya Sascha.
Tak lama ponsel Dewa berbunyi hingga membuatnya terkejut. Beberapa saat kemudian Dewa meraih benda pipih dan melihat nama yang tertera di ponselnya. Hatinya teriris ketika tahu sang adik menghubunginya.
"Sa... Bangun... Adikmu Dita menghubungimu. Jika ponselmu tidak aktif atau kamu sibuk pasti aku yang dimarahi," batin Dewa.
Namun Sascha tidak bangun. Meskipun Sascha tidak bangun tetapi telinganya tetap mendengar. Hatinya sangat perih ketika mendapat tetesan air matanya Dewa. Beberapa saat kemudian Dewa mengangkat ponselnya.
"Halo," sapa Dewa.
"Kakak... Di mana kakak Sascha? Dita rindu belum mendengar suaranya yang kruncynya itu," rengek Dita.
"Dita... Dengerin kakak. Kakakmu masuk rumah sakit. Kepalanya sangat sakit," ucap Dewa yang lesu.
"Apa?" pekik Dita.
"Ya... Kakakmu sedang sakit," jawab Dewa lagi.
Dita sangat terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya. Airmatanya menetes setelah mendengar Sascha masuk rumah sakit. Tak selang berapa lama Dita segera mengambil ponselnya dan berkata, "Aku akan ke sana."
"Baiklah. Tapi kamu jangan katakan ke ibu dan bapak!" titah Dewa.
"Kenapa kak?" tanya Dita yang terdiam.
"Udah dech... Pokoknya kamu jangan ngomong," tambah Dewa.
"Ok kak... Oh ya... Apakah kakak masih berada di Seoul?" tanya Dita.
"Ya... Aku masih berada di Seoul. Jika kamu ingin kesini mintalah Timothy untuk mempersiapkan jet. Aku hari ini tidak bisa membantumu," jawab Dewa.
"Siap kak," balas Dita.
__ADS_1
Sambungan terputus.
Dewa memegang tangan Sascha sambil mencium tangannya. Lalu Dewa membungkuk sambil berbisik, "Cepatlah sembuh... Nanti kalau sembuh kita akan menikah."
Dewa terdiam dan masih memegang tangan Sascha. Tak lama kemudian Gerre dan Chloe datang untuk melihat keadaan Sascha. Tangan lembut Chloe membelai rambut Sascha sambil berkata, "Berjuanglah sayangku. Mama yakin kamu bisa bertahan dalam segala hal. Kamu pasti kuat. Mama mencintaimu."
Tak lupa Gerre juga memegang lembut tangan Sascha. Gerre tersenyum melihat wajah Sascha yang mirip dengannya, "Setelah sembuh papa akan mencari siapa pelaku utama yang membuat kamu menderita seperti ini. Papa janji itu."
Airmata Sascha menetes. Sascha tahu apa yang mereka bicarakan. Sascha sedang berjuang untuk sembuh dan melihat Dewa, Gerre dan Chloe. Tak lama kemudian datang dokter Ming untuk melihat keadaan Sascha. Dokter Ming pun meminta izin memeriksa keadaan Sascha. Sedangkan mereka bertiga memilih mundur agar bisa memberikan ruang.
"Apakah papa serius mencari pelakunya?" tanya Dewa yang memandang Gerre dengan serius.
"Papa akan membuka kasus ini lagi tanpa sepengetahuan pihak kepolisian. Cepat atau lambat papa sendiri yang akan menangkap pelakunya," jawab Gerre.
"Jika hasil tes DNA menyatakan kalau Sascha adalah teman masa kecilku. Aku harus ikut mencari siapa yang menjadi dalang dibalik semua ini," ucap Dewa yang mulai menunjukkan sifat iblisnya.
Plakkkkkkkkkkk!
Sebuah tangan kekar mendarat di pundak Dewa. Bagaimana tidak Dewa memperlihatkan tampang iblis yang ingin menakuti Gerre. Namun Gerre tidak takut sama sekali ketika melihat Dewa menjadi iblis. Malahan Gerre menatap tajam sambil meledek calon menantunya itu.
Flashback On.
Setelah keluar dari ruangan tersebut Ming meminta wali untuk membicarakan keadaan Sascha. Dengan hati yang cemas Gerre akhirnya ikut dengan Ming. Lalu mereka masuk ke kantor dan Ming menjelaskan semuanya.
"Tuan... Keadaan nona Sascha tidak baik. Kemungkinan besar Sascha dipukul seseorang dengan benda keras sepertinya itu tidak sekali malah berulang kali," ucap Ming yang membeberkan keadaan Sascha seperti apa.
"Apakah bisa disembuhkan?" tanya Gerre.
"Saya tidak bisa berani menjamin apapun. Hanya doa tuluslah yang bisa menyembuhkan nona Sascha kembali," jawab Ming.
"Apakah Sascha terkena amnesia?" tanya Gerre.
"Bisa jadi. Sepertinya kepala nona Sascha sedang bekerja keras untuk mengingat kejadian di masa silam," jawab Ming. "Apakah nona Sascha pernah mengalami kejadian mengerikan?"
__ADS_1
Gerre tercekat dan hanya bisa menelan salivanya. Entah kenapa Gerre tidak bisa menjawab pertanyaan dokter. Selama ini Gerre tidak pernah tahu apa yang dialami Sascha begitu juga dengan Dewa. Akhirnya Gerre menjawab dengan jujur, "Tidak tahu."
Gerre terdiam dan tidak bisa berkata-kata. Hatinya seperti diremas-remas. Lalu Gerre memohon kepada Ming untuk menyelamatkan Sascha, "Selamatkanlah anakku!"
"Berdoalah tuan," balas Ming.
Flashback Off.
Detik demi detik berlalu. Seluruh orang yang masih di luar ruangan operasi setia menunggu hanya bisa berdoa. Setelah itu Dewa mendapatkan email Timothy dan membacanya. Tangannya mulai mengepal dan memukul tembok ruangan operasi. Bagaimana tidak Dewa mendapati kenyataan kalau yang memukul Sascha adalah seseorang yang dikenalnya itu. Devan yang melihat Dewa marah langsung mendekati Dewa dan bertanya, "Ada apa?"
"Papa tahu siapa yang melakukan ini semua?" tanya Dewa.
"Maksudnya?" tanya Devan yang tidak paham atas pertanyaan Dewa.
"Sascha memang korban penculikan pa... Yang menculik keluarganya Billi. Yang memukul kepala Sascha adalah ibunya Billi memakai tongkat bisbol," jawab Dewa yang menarik rambutnya karena frustasi.
"Apakah itu benar?" tanya Gerre.
"Ya pa... Timothy sudah mendapatkan informasi itu," jawab Dewa. "Aku akan mengirimkan bukti itu ke papa."
Tak lama Gerre mendapatkan informasi itu dan melihatnya. Mata Gerre membulat sempurna. Hatinya tersayat belati yang tajam. Gerre tidak akan membiarkan Fatin hidup tenang. Lalu Devan paham atas Gerre akan membalas dendamnya. Namun Devan mengerti apa yang akan dilakukan oleh Gerre.
"Jangan gegabah terlebih dahulu. Setelah ini Dewa akan membawa Sascha ke Brooklyn. Dewa akan menikah dengan Sascha dan menetap sementara di sana untuk melanjutkan kuliahnya. Aku sudah mempersiapkan tempat tinggalnya. Semoga Sascha bisa menjalani hidupnya dengan tenang dan nyaman," ucap Devan.
"Bagaimana dengan Fatin yang akan mengejarnya?" tanya Gerre yang paham akal seribu milik Fatin.
"Apakah papa mengenalnya?" tanya Dewa yang curiga.
"Papa memang mengenalnya. Fatin dan Firly adalah pegawaiku di Khans Company. Aku sengaja memecatnya karena mereka melakukan kesalahan yang fatal. Diam-diam mereka mencuri uang perusahaan sebesar tiga juta pounds. Dengan kejadian itu perusahaan cabangku hampir saja ambruk," ucap Gerre.
"Perusahaan mana?" tanya Devan.
"London," jawab Gerre.
__ADS_1
Dewa tersenyum smirk dan berkata, "Memang buah tidak jatuh dari pohonnya ya."
"Maksudnya apa?" tanya Gerre.