
“Iya kek Aku harus pergi kesana demi memberikan sebuah informasi,” jawab Dewa.
“Ya sudah kalau begitu. Berhati-hatilah. Jangan sampai kamu masuk ke dalam bahaya besar,” ucap kakek Aoyama yang memperingatkan Dewa.
“Ya kek. Kalau itu terjadi ya terjadilah. Lagian juga masalah sesungguhnya itu gara-gara nenek sihir itu,” sahut Dewa yang memeluk sang kakek. “Kakek jangan bersedih lagi ya.”
“Kakek tidak bersedih. Kakek hanya akting bersedih demi mendapatkan perhatian kamu saja,” jelas Kakek Aoyama.
Dewa melepaskan Kakek Aoyama dan menepuk jidatnya. Ia lupa kalau sang kakek ingin sekali mencari perhatiannya. Dewa tersenyum sambil berkata, “Kalau kakek rindu padaku. Kakek bisa menghubungiku untuk datang kemari.”
“Aku tidak mau jika kamu tidak datang bersama Sascha,” kesal Kakek Aoyama.
“Lha... diakan istriku kek. Lalu apa salahnya Sascha enggak datang karena sibuk di rumah?” tanya Dewa yang sengaja mengerjai Kakek Aoyama.
“Dasar anak nakal! Kamu itu sama saja kaya Devan,” kesal Kakek Aoyama lagi.
“Diakan papaku,” celetuk Dewa.
“Kalau bukan anakku! Devan akan aku lempar ke tong sampah,” ejek Kakek Aoyama.
“Tapi kek?” sela Sascha. “Kalau papa Devan orangnya segede itu. Apakah muat tong sampahnya?”
Seluruh orang yang berada di sana tertawa terbahak-bahak karena mendengar pertanyaan Sascha. Sascha memang bertanya asal dan tepat tujuan. Kakek Aoyama pun sangat bingung menjawabnya. Memang tubuh Devan sangatlah besar, kekar dan tinggi. Maka dari itu tidak ada tong sampah yang muat untuk Devan.
__ADS_1
“Iya ya? Enggak ada tong sampah yang muat,” jawab Kakek Aoyama.
“Nah makanya itu kek. Aku memang tidak membela papa. Tapi aku hanya bertanya saja. Apakah ada tong sampah yang sangat besar sekali?” tanya Sascha.
“Ya tidak ada. Papamu itu memiliki tubuh yang sangat besar sekali. Papamu itu bukan asli orang Jepang. Lagian juga papamu blesteran Amerika,” ucap Tara yang membuat mereka terkejut kecuali Kakek Aoyama.
“Yang dikatakan mama Tara benar. Kakek menikah dengan orang asli Amerika. Jadinya nenekmu itu pure orang sana. Tapi bedanya adalah kalau nenekmu tidak memiliki rambut pirang. Rambutnya hitam dan berkilau. Makanya Devan dan Kobe memiliki rambut hitam. Kecuali Dewa. Kalau Dewa memang memiliki keturunan Amerika. Rambutnya pirang dan lebat. Gen itu dihasilkan dari sang mama. Kecuali Dita. Dita malah mengikuti gen kami. Nah itu penjelasannya,” jelas Kakek Aoyama.
“tapi banyak yang bilang kalau Dewa bukan keturunan Nakata?” tanya Chloe yang sering mendengar kabar simpang siur tersebut.
“Banyak sekali kabar itu beredar. Kakek tidak memedulikannya. Memang beda sih Dewa dari lainnya. Lalu aku protes? Tanya Kakek Aoyama. “Ya tidak. Jika ada nenek Nana disini, pasti aku dimarahin habis-habisan.”
“Ya udah dech kek. Yang namanya hidup seperti ini. Aku juga sudah biasa mendengar celaan orang maupun musuh. Pasti banyak orang yang banyak ingin menjatuhkan,” jelas Sascha yang paham akan kehidupannya.
Dewa tersenyum sambil berdiri. Sebelum melangkahkan kakinya ia berkata, “Ayo kita pergi. Kakek sudah mengusir kita.”
“Dasar Dewa!” teriak Kakek Aoyama yang kesal terhadap Dewa.
Dewa malah tertawa terbahak-bahak. Ia sudah puas membuat sang kakek kesal. Ditambah sekarang Dewa memiliki kepercayaan diri yang penuh. Malam itu juga mereka berpamitan dan meninggalkan mereka. Namun sebelum pergi, Dewa melihat keberadaan para pengawalnya. Mereka hanya menganggukkan kepalanya tanda sebagai menerima tugas.
Dewa membalasnya dengan anggukan juga. Inilah kode utama yang membuat mereka menyetujuinya. Lalu Dewa mengajak mereka pergi meninggalkan apartemen itu.
Di dalam perjalanan ke Bandara, Sascha sedang bermain tab milik Dewa. Ia membuka dark web lalu mencari informasi tentang organisasi hitam yang sedang bekerjasama dengan Anette. Tiba-tiba saja Sascha melihat sebuah organisasi hitam yang bernama D-Trex.
__ADS_1
“Kak,” panggil Sascha.
“Ada apa?” tanya Dewa yang sedang mendengarkan lagu melalui handsfree.
“Kak, D-Trex itu siapa?” tanya Sascha.
“Oh... D-Trex itu milik papanya Eric. Kelompok itu sangatlah kejam. Mereka menjual obat-obatan terlarang dan membuatnya sendiri,’ jawab Dewa.
“Apa itu sangat bahaya?” tanya Sascha.
“Untuk saat ini sangat bahaya. Kalau kamu enggak kenal jangan pernah mendekatinya. Mereka bisa membunuh kamu dengan membabi buta,” jawab Dewa yang memperingatkan Sascha untuk tidak mendekati mereka.
“Iya kak. Terima kasih atas informasinya,” ucap Sascha.
Tidak sampai tiga puluh menit mereka sudah sampai. Mereka akhirnya berkumpul dan menunggu jadwal penerbangan tiba. Sedangkan Timothy masih fokus dan terjaga menunggu jadwal laporan tiba.
“Bagaimana?” tanya Dewa.
“Kita bisa terbang malam ini tepat jam sepuluh,” jawab Timothy.
“Kok maju?” tanya Dewa yang menghempaskan bokongnya di samping Sascha.
__ADS_1