Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KABUR LEBIH BAIK.


__ADS_3

Sascha hanya menuruti keinginan mereka. Akhirnya Dewa menyuruh Sascha untuk beristirahat sebentar. Sementara itu yang lainnya memutuskan untuk mengobrol dan mengatur jadwal selanjutnya.


"Sebenarnya aku kasihan sekali sama Benny Wang. Nggak melakukan tapi kena imbasnya. Untung saja kamu sudah bergerak duluan. Aku nggak mau Bima menangkapnya dan menghabisinya," jelas Dewa.


"Apakah Leo tahu tentang masalah ini?" tanya Timothy dengan serius.


"Leo tidak tahu akan hal ini. Untung saja Master Wa bergerak cepat menutup identitas Daffa dan lainnya. Aku bersyukur akan tidak adanya korban baru," jelas Dewa.


"Kamu mulai berkhianat dengan Black tiger," ejek Kobe.


"Mau bagaimana lagi. Lagian aku sering dilarang sebelum mereka memutuskan segalanya," sahut Dewa yang menghempaskan bokongnya di sofa singel.


"Kapan pesawat kita berangkat?" tanya Dewa.


"Pesawat berangkat jam lima pagi menuju ke Ontario," jawab Timothy.


"Bukankah kakek mengirimkan lima puluh pasukannya?" tanya Dewa yang menatap sang istri terlelap tidur.


"Ya... aku bilang sama Paman Taro untuk membelokkan pasukannya ke Ontario," jawab Kobe sambil melihat pesan dari Taro.


Taro segera memberikan sebuah ponsel ke arah Timothy, "Nonaktifkan seluruh ponsel kamu. Jangan kamu menyalakan ponsel pribadimu selama misi belum selesai. Kakek akan memantau kita semuanya."

__ADS_1


"Sepertinya ini misi yang sangat bagus sekali. Oke," ucap Timothy yang meraih ponsel itu dan mengaktifkan semuanya.


Setelah mengaktifkan semuanya, Timothy segera mematikan seluruh ponselnya dan mematikan seluruh ponsel dan laptopnya.


"Ponsel itu dibawa kendali Master Wa," ucap Kobe.


"Jadi?" tanya Timothy.


"Ya... kamu akan ikut dalam misi ini," ucap Kobe. "Karena kakek sudah memanggil kamu untuk masuk ke dalam Klan Kanata. Yang dimana Klan Kanata adalah sebuah gangster yang haus akan pertempuran."


Beberapa saat kemudian datang seorang pria dengan wajah lusuhnya. Ia menatap Dewa sambil tersenyum lalu duduk di samping Dewa. Sementara itu Kobe langsung memberikan ponselnya kepada pria itu.


"Nich," ucap Kobe. "Seperti biasa."


"Iya... dia ikut," jawab Kobe. "Memangnya kamu enggak tahu siapa dia?"


"Aku enggak tahu," jawab Dewa dengan membuang wajahnya.


"Ah... kamu jangan begitu," ucap pria itu.


"Kamu mau tahu kenapa dia ikut?" tanya Kobe.

__ADS_1


"Bukankah dia polisi?' tanya Dewa yang memajukan tubuhnya dan menyandarkan pada sofa.


"Bukan," jawab Kobe. "Dia adalah sayap kiri buat kakek. Dia adalah pengasuh kakek semenjak kecil. Dia juga yang mengikuti kamu dari Indonesia hingga kuliah ke Harvard."


"Sepertinya aku dikerjai oleh kakek," celetuk Dewa. "Terus siapa komandan yang kamu bawa? Apakah dia polisi beneran?"


"Bukan. Dia bukan komandan. Dia adalah Lars. Pemegang markas besar milik Nakata yang sedang kita tempati," jawab Kobe.


"Lalu kenapa kita memasukkan mereka ke dalam sana?" tanya Dewa.


"Kamu tahu kenapa aku memasukkan ke dalam sana? Perjalanan menuju markas besar ke kota menempuh waktu tiga jam. Perhitungan aku begini, kita akan berangkat jam tiga pagi. Lalu kita terbang jam lima. Aku yakin mereka bangun jam segitu. Dengan begitu kita bisa menghilangkan jejak. Aku yakin mereka akan panik setengah mati. Mereka aka mengeluarkan ultimatum kepada para pengawal Black Tiger, Black Swan maupun D-Trex. Misi kita hanya sepuluh hari dari sekarang," jawab Kobe yang menjelaskan semuanya.


"Hmmp... ide yang sangat bagus sekali," puji Dewa yang memejamkan matanya.


Mereka memutuskan beristirahat sejenak. Mereka sudah bersiap untuk melakukan misi bersama sang Kakek.


Nagoya Jepang.


"Bagaimana misi yang telah aku berikan buat Kobe dan Dewa? Apakah Dewa berhasil keluar dari markas itu?" tanya Kakek Aoyama.


"Ya... Tuan muda berhasil keluar dari markas itu dan sekarang berada di kantor milik Tuan Devan," jawab Taro. "Kenapa Tuan tidak mengajak Nyonya Tara?"

__ADS_1


"Hmmp... sepertinya itu tidak perlu. Tim kobra sedari dulu selalu bekerja tanpa bantuan siapapun. Aku percaya dengan Dewa. Karena Dewa memang memiliki setengah jiwaku," jelas Kakek Aoyama.


"Tapi bagaimana dengan Nyonya Tara dan Tuan Devan?" tanya Taro yang benar-benar mengkhawatirkan keadaan suami istri itu. "Karena Tuan muda sedang membawa nyonya kecil."


__ADS_2