Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
ADA APA DENGAN DEWA?


__ADS_3

"Itu benar sayang. Boleh ya," ucap Dewa tersenyum sambil menunjukkan wajah manisnya.


"Apa yang kamu katakan itu tidak benar kan?" tanya Sascha.


"Benar," jawab Dewa. "Kurang tiga lagi."


Seketika Sascha menggelengkan kepala sambil berteriak dengan kencang, "Ini tidak mungkin!"


"Sa... bangun! Ayo bangun! Udah mau malam!" panggil Dewa yang menggerakkan tubuhnya Sascha.


"Huaha!!!" teriak Sascha dengan kencang sambil membuka mata dan melihat Dewa.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Dewa yang menatap wajah Sascha yang seperti ketakuta.


Sascha mulai bangun dan menatap Dewa dengan tajam. Bagaimana bisa dirinya memiliki anak enam? Ditambah lagi dirinya sedang mengandung bayi kembar lagi. Sascha mulai mengelus perutnya sambil tersenyum lalu berkata, "Syukurlah.''


Dewa mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Ada apa?''


"Aku mimpi hamil lima bulan. Lalu aku memiliki anak sebanyak enam. Lalu kamu berkata, jika melahirkan nanti aku akan memiliki anak kembar. Dan setelah itu kamu meminta anak tiga lagi. Kamu akan mendirikan kesebelasan sepak bola,'' jawab Sascha yang kesal dengan Dewa.


Dewa terkesiap lalu menutup mulutnya. Entah kenapa malam ini Dewa mendengarkan cerita Sascha yang membuatnya bahagia.


"Kalau kamu mau ku akan mengabulkannya. Kamu tahukan kalau aku memang sangat menginginkan anak banyak,'' ujar Dewa secara blak-blakan.


"Ih... Kak Dewa... Kak Dewa kok malah senang memiliki anak banyak,'' cebik Sascha dengan wajah kesal. "Bukannya kakak merencanakan memiliki anak dua saja?''


"Kurang sayang. Aku memang ingin memiliki banyak anak. Siapa tahu nanti kalau waktu ngumpul akan rame,'' jawab Dewa.


"Ya dech,'' kesal Sascha yang turun dari ranjang sambil membereskan ranjangnya.


"Semoga kejadian,'' ucap Dewa sambil tersenyum manis.


"Amin,'' sahut Chloe yang sedari tadi mendengarkan cerita Sascha di balik pintu.


"Mama,'' pekik Sascha yang terkejut.

__ADS_1


"Ada apa sayang?'' tanya Chloe.


"Mama mendengarkan semuanya?'' tanya Sascha yang mulai menunduk malu.


"Iya... mama mendengarkan semuanya. Jika itu kejadian mama akan senang dan bersyukur kepada Tuhan agar kamu diberikan anak banyak,'' ucap Chloe yang memandang wajah Dewa.


"Apakah mama membela pria ini?" tanya Sascha dengan sendu.


"Iya... mama memang ingin memiliki cucu banyak,'' jawab Chloe yang menyetujui keinginan Dewa. "Ya udah mama pergi dulu.''


Chloe langsung pergi meninggalkan Sascha yang mulai mengamuk. Chloe tersenyum puas meledek sang putri. Sedangkan Dewa berteriak kegirangan karena keinginannya sudah disetujui oleh Chloe. Bagaimana tidak secara tidak langsung Chloe memberikan sebuah lampu hijau.


"Kakak!" teriak Sascha dengan garang.


Dewa langsung memancarkan senyuman yang manis. Dengan nada lembutnya Dewa memandang wajah Sascha sambil bertanya, "Ada apa?''


"Pergilah dari kamarku! Aku ingin mandi!" jawab Sascha dengan nada menekan.


Mendengar kata mandi Dewa langsung menggoda Sascha dengan suara seksinya. Dewa mendekati Sascha sambil berbisik, "Apakah mau aku mandiin?''


"Lama-lama mengerikan jika dekat dengan pria seperti ini,'' kesal Sascha.


"Ah... apakah benar itu?" tanya Sascha.


"Ya... itu benar. Tanya saja pada mamaku kalau papa itu sangat mengerikan,'' jawab Dewa yang mulai memprovokasi keadaan.


Sascha sudah tidak lagi mempedulikan apa kata Dewa. Sascha segera pergi ke toilet sambil membanting pintunya.


BLOOOM!


Dewa malah tertawa terbahak-bahak ketika Sascha membanting pintu toilet. Menurut Dewa, Sascha itu sangat lucu sekali. Dewa sudah berjanji tidak akan pernah melepaskan Sascha.


"Aku berjanji pada alam semesta tidak akan pernah melepaskan Sascha sedetikpun. Karena kamu adalah nyawaku,'' batin Dewa.


Dewa memutuskan untuk duduk di sofa sembari menunggu sang pujaan hati mandi. Dewa meraih ponselnya lalu melihat email dari Gerre tentang Choi. Sungguh Dewa terkejut dengan Choi, ternyata selama ini Choi sengaja di deportasi dari Amerika.

__ADS_1


"Kenapa Choi didepak dari Amerika? Sebenarnya Choi adalah temannya Leo waktu kuliah. Lalu apa masalahnya Choi hingga di deportasi? Apakah Choi memiliki kesalahan?'' tanya Dewa dalam hati.


Dewa mulai menerka-nerka apa yang telah terjadi. Selama ini Choi jarang sekali melakukan kesalahan. Apalagi Choi sangat patuh dengan hukum. Jika dilihat-lihat Choi tidak memiliki masalah.


Dewa membaca pesan itu dengan teliti. Akhirnya Dewa paham kenapa Choi di deportasi? ternyata ada campur tangan dari Theodore Yi. Sekarang yang menjadi masalah buat Dewa, kenapa Choi di deportasi? Ini sangat aneh sekali.


Lalu Dewa menghubungi Leo untuk menyelidiki apa yang telah terjadi pada Choi? Dewa mulai menceritakan kronologi sebenarnya. Leo punmenyanggupi permintaan Dewa.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Sascha keluar dengan memakai handuk yang dililitkan di tubuhnya. Kulitnya putih mulus mencerminkan kecantikan Sascha. Namun tanpa ia sadari Dewa berada di kamarnya,. Dengan cueknya Sascha membuka walk in closet. Ketika ingin masuk Dewa mendongakkan wajahnya karena mencium aroma sabun yang dipakai oleh Sascha.


"Sascha,'' panggil Dewa dengan lirih.


Sontak saja Sascha terkejut karena suara Dewa yang berada di kamar. Sascha menangkap wajah Dewa saat duduk di sofa. Namun tanpa sadar Dewa mulai merasakan tubuhnya ada yang aneh. Panas mulai menjalar di sekitar tubuhnya. Tongkat sakti yang berada di bawah mulai bereaksi memberontak keluar. Dewa sungguh frustasi sambil berteriak, "Pakai bajumu Sa.''


Akhirnya Dewa dengan cepat masuk ke toilet. Dewa mulai mengisi air ke dalam bath up dengan air hangat. Setelah itu Dewa membuka seluruh bajunya dan merendam tubuhnya di sana. Dewa mulai menikmati fantasy liar di otaknya. Ia mulai membayangi melakukan adegan panas. Kemudian Dewa bangun sambil mengusap wajahnya karena frustasi. Mau tidak mau Dewa melakukan solo.


"Hanya karena Sascha tidak memakai benang sehelai pun, tubuhku mulai bereaksi. Aku akan meminta papa untuk memajukan tanggal pernikahanku. Jika aku tidak melakukannya bisa jadi bumerang buat tubuhku,'' gumam Dewa.


Sedangkan Sascha hanya bisa mengembuskan nafasnya. Sascha tidak paham dengan dunia pria yang satu ini. Jujur saja Sascha tidak pernah bertanya soal itu. Ia memutuskan untuk memakai bajunya. Sore ini Sascha memilih kemeja berwarna hijau tosca dengan dipadukan celana jeans berwarna navy. Memang Sascha tidak pernah neko-neko jika memakai baju. Sascha lebih menyukai baju santai.


Di bawah Gerre sedang menunggu kedatangan beberapa pengacaranya dan juga Devan. Gerre tidak mau menutupi perbuatan Sascha kepada Devan. Sebagai orangtua bijak Gerre harus membicarakan ini dengan mendetail. Supaya ke depannya tidak ada sengketa.


"Kamu memanggil berapa pengacara?'' tanya Chloe.


"Tiga pengacara. Aku harus menyampaikan semuanya ke Devan tentang perusahaannya,'' jawab Gerre.


"Apakah kam menyuruh Devan melepaskan perusahaan?'' tanya Chloe yang menghempaskan bokongnya di sofa.


"Aku bukan termasuk pria yang kejam. Kamu tahu perjuangan Devan dulu membangun perusahaan ini dari nol?'' tanya Gerre.


"Ya... aku tahu itu. Bahkan Devan rela lembur sampai pagi untuk meperbesar perusahaan,'' jawab Chloe yang sebenarnya tidak setuju kalau Devan melepaskan perusahaan.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah menyuruhnya melepaskan perusahaan itu. Biarkanlah Devan yang mengurus perusahaan itu. Aku yakin Sascha akan mengembalikan perusahaan itu ke tangan Devan. Tapi enggak sekarang. Kamu tahu Theodore Yi akan membuatnya bangkrut jika perusahaan itu di tangan Devan,'' jelas Gerre yang memiliki rencana.


"Apakah Timothy adalah mafia?'' tanya Chloe yang curiga.


__ADS_2