
“Aku sedang mencari wanita yang tidak macam-macam. Maksudku dia itu serius menjalin hubungan. Selain itu ia memiliki sifat keibuan. Tidak bekerja di luar,” jawab Bima yang tersenyum membayangkan calon istrinya kelak.
“Kalau kamu mencari wanita seperti itu banyak sekali. Kamu bisa memungutnya di jalanan,” celetuk Ian.
“Maksud kamu?” tanya Bima.
“Bukan begitu kali kak. Jawabannya Kak Bima itu, Kak Bima memilih seorang wanita yang baik-baik. Kak Bima tidak ingin salah memilih dan juga salah melangkah. Bukannya Kak Ian tahu, kalau Kak Bima itu orangnya sangat perhitungan sekali kalau soal kehidupan?’ tanya Sascha yang mendapatkan acungan jempol dari Bima.
“Kamu tahu saja. Ciri-ciri seperti Sascha inilah yang sedang aku cari,” ucap Bima yang sangat menginginkan seorang istri mirip sama Sascha.
“Hmmpp... sepertinya kamu harus mencarinya. Jangan sampai kamu menjadi teman yang memiliki istilah pagar makan tanaman,” celetuk Tommy.
“Ya... enggaklah. Aku lebih menyukai sifat Sascha yang sangat sempurna,” sahut Bima yang mencondongkan tubuhnya ke depan demi mengambil kopi.
“I know,” sahut Dewa yang paham dengan sifat Bima. “Tapi kamu harus merubah sikap. Jika kamu sudah memiliki seorang seperti istriku. Kamu harus setia dan berada di sampingnya selamanya. Jangan sekali-sekali kamu melihat rumput tetangga yang berwarna hijau. Jika kamu sering melihat ke sana percuma. Belum tentu juga tetangga sama kaya kita.”
“Itukan prinsipku kak,” celetuk Sascha.
“Aku juga mengikuti prinsip kamu sayangku,” sahut Dewa yang bangga dengan prinsip Sascha.
“Sedari dulu memang Sascha sudah menanamkan prinsip seperti itu. Aku bersama Eric sudah menanamkan prinsip itu. Dan aku merasakan hatiku damai banget,” jelas Bima.
“Patut dicoba itu,” ujar Tommy.
“Baiklah,” sahut Dita.
“Habis dari mana kalian?” tanya Dewa.
“Aku dari depan merasakan angin sejuk. Terus aku lupa enggak bawa ponsel. Eh... sekarang kami nyangkut disini,” jelas Sascha.
“Semalam ada pertempuran antara pengawal dari kelompok mafia yang berasal dari Amerika?” tanya Dita yang sangat penasaran sekali.
“Ya... kamunya pake tidur segala,” jelas Dewa yang meledek Dita.
“Aku sangat mengantuk sekali. Pulang-pulang langsung tidur. Semalam ada kelompok mafia White Tiger. Kenapa kalian enggak membangunkan aku?” tanya Dita yang cemberut sambil memalingkan wajahnya.
Seluruh penghuni di ruangan itu malah tertawa. Entah kenapa Dita sangat jengkel sama mereka. Ataukah Dita sedang ada masalah dengan mereka?
“Memangnya kamu mau ngapain?” tanya Sascha.
__ADS_1
“Jujur aku sangat kesal sama mereka. Aku pernah dituduh sebagai pembunuh,” jawab Dita yang masih kesal.
“Kamu dituduh membunuh siapa?” tanya Sascha yang bingung dengan pernyataan Dita.
“Aku memang dituduh sebagai pembunuh. Masalahnya salah satu petinggi mereka ada mati yang mengenaskan. Setelah kembali ke Jakarta aku mendengar kalau petingginya itu dibunuh oleh gangster,” jelas Dita.
“Tapi sayang,” sahut Tommy yang menggantung.
“Ketuanya sudah aku bunuh. Aku sudah memotongnya kecil-kecil. Setelah itu aku berikan kepada ikan hiu dan ikan paus di laut sana,” celetuk Bima.
“Apa?” pekik Dewa dan Sascha secara bersamaan.
“Hmmpp... sepertinya aku salah dengar,” ujar Sascha.
“Hmmp... kamu enggak salah dengar. Aku memang benar kok,” ucap Bima yang membuat Dita bergidik negri.
“Itu benar apa yang dikatakan sama Bima. Damar sudah dihabisi dengan cara keji,” ucap Tommy yang membenarkan perkataan Bima.
“Jadi?” tanya Sascha.
“Damar sudah mati. Tubuhnya sudah aku berikan kepada ikan paus sama ikan hiu peliharaanku. Sudah kamu nggak usah nyari itu Damar. Kepalanya akan kukirimkan kepada Cathy,” ujar Bima yang membuat Sascha bergidik ngeri.
“Apakah kakak enggak takut jika terjadi peperangan?” tanya Sascha yang takut dengan perpecahan terjadi.
“Kamu tanya siapa?” tanya Ian.
“Dewa,” jawab Bima yang memandang wajah Dewa.
“Aku sendiri setuju. Aku enggak ingin menundanya. Tapi aku memiliki firasat yang sangat aneh sekali,” jelas Dewa yang mengizinkan Bima membuka peperangan yang akan terjadi.
“Firasat apa itu?” tanya Timothy yang menaruh ponselnya di meja.
“Aku merasakan kalau ibunya Cathy itu masih hidup,” jawab Dewa.
“Dia sudah mati,” ucap Ian yang mengerutkan keningnya.
“Yang dikatakan oleh Kak Dewa benar. Aku merasa kalau ibunya Cathy itu masih ada,” ucap Sascha yang membenarkan apa kata Dewa.
“Mungkin saja halusinasi kamu,” ujar Ian.
__ADS_1
“Sekarang gini saja. Cathy keluar dari penjara itu pasti dikeluarkan oleh seseorang. Dia tidak mungkin keluar begitu saja. Kecuali ada seseorang yang membantunya,” ucap Dewa yang menyandarkan punggungnya di kursi.
“Kakak benar. Sekarang aku jelaskan satu persatu teori saat seseorang keluar dari penjara,” sahut Sascha yang semalam mendapatkan info dari Leo.
“Aku mendapatkan informasi dari Kak Leo. Entah dari mana informasi itu yang didapatkannya,” sambung Sascha yang mengingat sebuah informasi dari Leo.
“Kamu baca jam berapa? Bukannya kamu sudah tidur? Terus aku mengatakan kalau ibunya Cathy masih hidup selesai pertarungan bersama pengawal Damar sialan itu,” tanya Dewa yang bingung.
“Aku mendapatkan pesan itu dari sore tadi. Saat kita bertarung aku ingat pesan itu. Jadinya aku penasaran sama pesan itu,” jawab Sascha dengan jujur.
“Terus kamu kapan membaca pesan dari Leo sayang?” tanya Dewa yang masih penasaran.
“Habis kita bertarung di atas ranjang,” jawab Sascha dengan polos.
Mata mereka membulat sempurna. Mereka tidak menyangka kalau Sascha berkata dengan jujur. Bagaimana bisa kejadian semalam diketahui oleh orang banyak.
“Jadi kalian sedang memproduksi generasi baru! Lalu kalian membiarkan aku menghabisi David dan juga Damar? Aish... kalian tega sama aku,” kesal Bima yang mendapat anggukan Dario Sascha dan Dewa.
“Ya... itu dia. Aku memang enggak mau lihat kamu menghabisi orang dengan cara kejam seperti itu,” jawab Dewa yang tersenyum manis hingga membuat Bima jengkel.
“Itu permintaan dari papa mertuamu itu,” kesal Bima.
Seluruh penghuni di sana semuanya pada tertawa. Bagaimana tidak Bima disuruh menghabisi dua musuh sekaligus? Jika saja Dewa ada. Kemungkinan besar akan menurunkan Timothy untuk menghabisinya.
“Dasar bos enggak ada akhlak lu,” ucap Bima.
“Hehehe... kan ada Timothy?” tanya Dewa yang memandang wajah Timothy.
“Andai saja Timothy bisa diandalkan, aku mungkin tidak akan meminta bantuannya,” kesal Bima.
“Ada satu informasi buat kalian,” celetuk Timothy.
“Apa itu?” tanya Sascha.
“Apakah kamu pernah mendengar kasus menghabisi nyawa sendiri?” tanya Timothy.
“Kasus apa? Sepertinya itu banyak sekali. Aku sendiri tidak mengetahuinya” jawab Sascha.
“Yang karena terkena mental. Para siswa sekolah menengah ke atas ada yang menghabisi nyawanya sendiri hanya karena bahan ejekan dari seorang pria tua?” tanya Timothy yang membuat mereka penasaran.
__ADS_1
“Maaksud kamu apaan sih?” tanya Dewa yang belum paham.