
"Ya. Jangan pernah kamu anggap remeh Dewa. Meskipun Dewa jarang ke New York. Jika Devan menyuruh Dewa menyelidiki kasus ini bisa dipastikan dia memburumu,'' jawab Amar.
"Cih... anak ingusan itu!" ejek Rosita Yi.
"Lalu bagaimana. dengan Choi yang sudah kamu lempar ke Ontario?' tanya Lucas ke Akar.
"Sudah beres. Choi tidak bisa kembali ke New York karena aku sudah menyuap beberapa pejabat imigran untuk memblacklist Choi,'' jawab Amar.
"Tepat pergantian hari buat harga saham milik DT Inc jatuh secara gila-gilaan. Setelah itu aku akan membelinya. Kamu tahukan apa yang aku lakukan setelah ini?" perintah Theodore dengan nada dingin.
Sesampainya di perusahaan Devan dan Tara langsung menuju ke ruangan IT. Mereka merasakan ada yang janggal di dalam perusahaan. Malam ini Devan seperti ada yang menyerang secara tak kasat mata.
Brakkkkk!
Devan sengaja masuk sambil memukul pintu. Mereka segera masuk dan melihat Sascha yang sedang sibuk. Devan mendekati Sascha sambil bertanya, "Bagaimana?"
"Aku sedang mencari beberapa transaksi yang berhubungan dengan uang pa,'' jawab Sascha yang fokus pada layar laptop.
"Apa maksudmu?" tanya Tara.
"Selama ini divisi keuangan sudah membuat laporan secara real. Tapi sang manager keuangan membelokkannya ke sebuah rekening rahasia tanpa nama. Aku mulai curiga juga papa berada di sana. Setelah aku hitung selama enam bulan belakangan ini papa telah kehilangan uang sebesar dua ratus juta dolar,'' jawab Sascha. "Kalau di biarkan secara terus-menerus DT Groups bangkrut.''
Bagai petir di malam buta, Devan sangat terkejut dengan jawaban Sascha. Bagaimana bisa ini terjadi? Devan baru sadar kalau perusahaannya di ujung tanduk. Bayangkan saja enam bulan Devan tidak mendeteksi keluar masuknya uang sebesar dua ratus juta dolar. Ini sangat gila menurut Devan.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Choi dan Dewa masuk ke dalam ruangan lalu menatap kedua pasangan suami istri itu dengan sendu. Dewa tidak tega melihat sang papa yang selama ini dibohongi. Bahkan beberapa orang kepercayaannya telah mengkhianatinya.
"Maaf pa. Mereka sudah jauh melakukan ini. Jika kita tidak bertindak secara cepat seperti ini bisa dipastikan kita bisa gulung tikar,'' ucap Dewa.
"Apakah papa memindahkan Kak Choi ke Kanada?" tanya Sascha yang mulai menghentikan pekerjaannya.
__ADS_1
"Tidak. Tidak pernah aku memindahkan Choi ke sana. Kamu tahu Choi itu adalah karyawan terbaik papa,'' jawab Devan.
"Tapi papa yang menandatangani surat pemindahan itu. Untung saja dia berada di New York,'' ucap Dewa.
Devan memandang wajah Choi yang seperti gelisah. Devan hanya bisa menghela nafasnya sambil bertanya "Lalu, siapakah yang menduduki kepala IT?"
"Hugo,'' jawab Sascha.
"Sepertinya aku mengenal Hugo?" tanya Tara.
"Mama kenal?" tanya Dewa.
"Bukannya Hugo adalah seorang hacker bawah tanah. Dia sering melindungi sistem keamanan beberapa mafia terkenal di dunia. Di tangan dinginnya para mafia kelas kakap tidak bisa dilacak oleh interpol. Kalau sampai terlacak kita bisa menjadi sasaran selanjutnya. Hugo tidak segan-segan membobol sistem keamanan kita dan mengambil uang,'' jelas Tara yang membuat mereka terdiam.
"Berarti?' tanya Sascha.
"Kita berada di tangan Hugo. Kalau kita salah melangkah bisa dipastikan hancur,'' jawab Tara.
"Kita harus memanggil Kak Leo, Timothy dan Mas Kobe. Kita enggak bisa diam seperti ini,'' ucap Sascha yang gelisah.
"Papa?" pekik Sascha.
"Tuan Gerre?" pekik Choi.
"Iya, aku Gerre Atmaja,'' jawab Gerre yang mendekati Sascha.
"Aku,'' ucap Devan dengan gelisah.
"Aku apa?'' tanya Gerre yang menatap tajam Devan.
"Aku enggak mau merepotkan kamu,'' jawab Devan.
"Bukannya dulu kita bersahabat. Kamu sudah janji sama aku. Jika kita kesusahan satu dengan lainnya. Kita bisa saling membantu. Aku hanya menawarkan bantuan saja. Jika kamu tidak terima ya sudahlah. Aku tidak akan memaksa,'' ucap Gerre dengan tulus.
__ADS_1
"Bukannya aku tidak ingin meminta bantuan sama kamu. Ini masalah perusahaan,'' ujar Devan yang semakin gelisah.
"Kamu sering membantuku. Sekarang gantian aku yang akan membantumu. Jika kamu menolak bantuanku maka perusahaanmu akan gulung tikar. Kamu tahu musuh kita adalah Hugo. Hugo seorang hacker jenius yang bisa memutar balikkan fakta. Sudah banyak perusahaan yang habis karenanya. Oh ya... satu lagi tambahan buat kamu. Hugo adalah seorang anggota mafia dari Dark Impulsif. Dia jarang menunjukkan wajahnya karena dirinya tidak mau dikenal,'' jelas Gerre yang banyak tahu tentang Hugo.
"Jadi, dia adalah kaki tangan Jaya Gunadi?" tanya Sascha yang baru mengetahuinya.
"Ya itu benar. Kamu tahu Jaya memiliki aset banyak karena Hugo. Nah uang yang diduga dari perusahaan itu yang memperbesar kerajaan mafia Jaya,'' jawab Gerre.
"Panggil Kobe dan Leo! Aku akan mengajaknya kerjasama. Kita akan berperang melawan Hugo. Waktu kita enggak banyak! Telat sedikit habislah kita!" perintah Gerre.
"Apakah kita memakai tim IT disini?" tanya Tara.
"Tidak perlu. Cukup kita saja,'' ucap Gerre yang menatap langit-langi. "Kita yang akan memulai perang terlebih dahulu.''
"Lalu, bagaimana tandatangan itu?" tanya Dewa.
"Sudah aku bilang kita bisa mengeceknya. Kita akan tahu siapa pelakunya,'' jawab Sascha yang tersenyum devil.
Tak sengaja Dewa melihat Sascha tersenyum devil. Dewa langsung menelan salivanya dengan susah payah. Kenapa tiba-tiba saja berubah menjadi sosok yang menakutkan? Namun jika ditilik Dewa sangat bahagia. Sascha yang sekarang sudah menjadi gadis pemberani. Cepat atau lambat Sascha akan menyerang para musuh.
Malam ini mereka bekerja keras untuk mencari semua bukti-bukti. Mereka akan mengumpulkan secara mendetail dan akan melaporkan ke pihak kepolisian. Ketika mereka melakukannya Dengan menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal. Devan segera membaca pesan itu dengan mata membelalak.
Sascha yang baru saja dari toilet terkejut melihat Devan yang matanya membelalak. Sascha mendekatinya lalu bertanya dengan lembut, "Pa... ada apa?''
Devan memberikan ponselnya sambil merasakan tubuhnya bergetar. Lalu Sascha segera meraih ponsel itu dan membacanya.
APA KABAR DEVAN? MALAM INI ADALAH MALAM TERAKHIR DT GROUPS INTERNATIONAL. KARENA SEBENTAR LAGI PERUSAHAAN KAMU AKAN HANCUR. INGATLAH HARGA SAHAMMU YANG TERUS-TERUSAN MEROSOT. AKU AKAN MEMBELINYA DAN MENGAKUISISI RT GROUPS.
Sontak saja Sascha terkejut melihat isi pesan itu. Sascha memberikan ponsel itu sambil berkata, "Pa... tenanglah. Papa jangan panik ya. Serahkan semuanya pada Sascha."
"Papa enggak ada masalah dengan perusahaan itu. Papa hanya memikirkan ratusan ribu kepala yang menggantungkan hidupnya di perusahaan ini. Papa enggak mau mereka menganggur,'' ucap Devan dengan sendu.
"Baiklah. Sekarang papa tenang saja. Biarkan kami yang bekerja untuk merebut perusahaan itu,'' hibur Sascha.
__ADS_1
Devan menganggukan kepalanya lalu menghempaskan bokongnya. Setelah itu Sascha kembali dan meraih ponselnya sambil menatap Gerre dengan senyuman manisnya. Gerre yang sedang mengotak-atik laptopnya tidak sengaja melihat sang putri. Kemudian Gerre menatapnya sambil bertanya, "Ada apa?"