
"Memang aku sudah sampai dari tadi. Aku membiarkan kalian yang memecahkan masalah,'' jawab Kobe menahan tawa ketika Sascha malas.
"Kenapa enggak muncul?" tanya Sascha dengan tatapan menyelidik.
"Kan kamu sudah pandai menyelesaikan misi ini. Sedangkan aku enggak tahu misi apa yang kalian kerjakan?" jawab Kobe dengan jujur.
"Jadi masalahnya sekarang?" tanya Sascha.
"Dengan terpaksa aku stay di sini beberapa hari. Aku akan mengawal kasus ini hingga selesai,'' jawab Kobe.
Dewa segera menarik tangan Sascha sambil berkata, "Choi, kamu tidak perlu ikut dengan kami. Kamu stay disini terlebih dahulu.''
"Kenapa kamu tidak mengajak Choi?" tanya Gerre.
"Sepertinya aku tidak bisa mengajaknya terlebih dahulu. Jika aku mengajaknya terlebih dahulu nyawa Choi dalam bahaya. Aku dan Sascha akan menyelesaikan masalah ini sendirian,'' jawab Dewa.
"Ya... sudah berhati-hatilah,'' pesan Gerre yang melepaskan jaketnya lalu memberikannya ke Sascha. "Pakai ini.''
Sascha mengambil jaket sang papa lalu memakainya. Kemudian Devan memberikan sebuah pistol berjenis air softgun ke Sascha, "Aku harap kamu bisa memakainya.''
"Baiklah. Aku akan menyimpannya di belakang punggung untuk berjaga-jaga,'' ujar Sascha yang menerima pistol itu.
"Kami akan mengintai rumah Rosita beberapa hari ke depan. Sekalian mengajari Sascha untuk menjadi lady mafia,'' pamit Dewa.
Gerre mengacungkan jempolnya sambil melemparkan senyumnya ke arah Sascha. Sementara Sascha sangat bahagia mendapan dukungan dari Gerre. Hingga akhirnya Dewa mengajak Sascha keluar dari gedung.
Kobe yang sedari tadi memandang Devan hanya bisa cemberut. Lalu Devan paham dengan aksi Kobe tersebut. Devan memutuskan mengajak mereka keluar dari ruangan itu.
Devan mengajak mereka ke ruangannya lalu berkumpul di balkon sambil menikmati malam yang indah. Devan mulai bercerita tentang asal muasal kasus ini. Devan meminta maaf ke Kobe karena tidak menunggunya datang. Kobe akhirnya paham dan tidak memasang wajah cemberut seperti itu. Hingga akhirnya Kobe berkata, "Tidak apa-apa kak. Aku tidak akan marah soal ini. Memang kasus ini sangat mendadak dan kakak baru mengetahui. Untung saja ada Dewa dan Sascha. Jika tidak ya wassalam."
"Seharusnya aku tidak menyuruh kamu kesini kalau begitu?" tanya Devan.
"Enggak masalah. Kakak tahukan kalau Sascha bisa memecahkan kasus ini bersama Dewa berdua. Bahkan mereka sering mendapatkan tugas ke mancanegara hanya untuk menyelesaikan semua masalah perusahaan di bawah naungan Nakata's Groups.''
"Apakah Sascha sepandai itu menyelesaikan tugas berat?" tanya Gerre yang baru paham apa pekerjaan sang putri.
__ADS_1
"Ya... Sascha memang didaulat untuk menyelesaikan semua masalah berat. Sascha memiliki jiwa bijaksana. Pandai mencari kebenaran dan tidak terpengaruh dalam kubu satu dan kubu dua. Jika hatinya belum mendapatkan kebenaran maka Sascha akan mencarinya lagi sampai ketemu,'' jawab Kobe yang paham akan tabiat Sascha.
"Ternyata putriku memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat hebat sekali,'' puji Gerre.
"Apakah dia putrimu?" tanya Kobe yang tidak tahu.
"Dia adalah putriku," jawab Gerre.
"Apa?" pekik Kobe yang baru tahu.
"Jika kamu mengetahui siapa itu Sascha, maka sembunyikan identitas untuk sementara," jawab Gerre.
Kobe menganggukan kepalanya tanda setuju. Memang beberapa tahun yang lalu Kobe sudah mencurigai wajah Sascha yang mirip dengan Gerre. Kobe menyunggingkan senyumnya dengan hati bahagia, "Sedari awal aku memang curiga kalau Sascha sangat mirip sekali sama Tuan Gerre."
"Tolong! Jangan panggil aku tuan. Aku bukan tuanmu!" titah Gerre. "Panggil aku kakak."
"Baiklah," balas Kobe. "Sekarang rencanaku bagaimana?"
"Stay disini beberapa hari untuk membabat habis sang tersangka!" tegas Devan.
"Kamu sangat hebat mengambil alih semua tugasku," celetuk Dewa.
"Aku kan sudah paham dengan gerak-gerik kakak. Aku juga belajar dari kakak dan Mas Kobe ketika ada masalah rumit," ucap Sascha.
"Benarkah itu?" tanya Dewa yang melepaskan Sascha.
"Iya... Kakak orangnya diam ketika mereka berbicara. Kalau aku... Hmmp... Langsung berdebat," jawab Sascha.
"Yang penting kamu memiliki data yang cukup. Jika kamu tidak memiliki data yang cukup. Maka dipastikan kamu akan kalah dalam perdebatan," pesan Dewa.
"Kakak benar. Sepertinya aku akan menjadi detektif seperti Conan Edogawa," ujar Sascha yang mencium pipi Dewa.
Dewa tersenyum manis sambil memegang pipinya. Tiba-tiba saja Dewa merasakan jantungnya berdetak kencang.
"Oh... Tuhan... Beginikah rasanya jatuh cinta," celetuk Dewa yang membuat Sascha terkejut.
__ADS_1
"Kakak bilang apa?" tanya Sascha.
"Kamu tahu kalau aku sedang jatuh cinta kepadamu. Jujur saja aku merasakan jantung berdetak kencang seperti musik metal yang memakai drum double pedal. Dan aku merasakannya setiap hari,'' jawab Dewa yang berhasil membuat Sascha terpanah.
"Aish... sedari dulu aku sudah tahu kalau kakak sedang jatuh cinta. Tapi kakak orangnya enggak bisa menyembunyikan perasaannya. Jadi aku kurang greget mengejar kakak,'' jawab Sascha.
"Ah... benarkah itu? Kenapa kamu enggak bilang i love you ke aku?" tanya Dewa yang menggoda Sascha.
"Rasanya aku tidak perlu bilang sama kakak. Bukannya kakak bisa membaca bahasa tubuhku?" tanya Sascha sambil menunduk.
Dewa tersenyum kecil melihat Sascha yang malu. Dewa telah berhasil membuat Sascha malu seketika. Tanpa permisi Dewa mendaratkan bibir seksinya ke pipi Sascha. Hingga akhirnya membuat mata Sascha membola sempurna, "Kebiasaan banget sih ini orang mencuri-curi kesempatan.''
Dewa malah tertawa melihat wajah Sascha yang memerah. Dewa memperhatikan wajah sang calon istri bersemu. Lalu Dewa membisiki ke telinga Sascha sambil bertanya, "Apakah kamu jatuh cinta?''
Raut wajah Sascha yang memerah tadi berubah menjadi datar. Sascha sangat kesal dengan pertanyaaan konyol Dewa baru saja. Entah kenapa Sascha ingin meremas wajah sang kekasih sangking gemasnya.
"Apakah kamu enggak tahu kalau aku sedang jatuh cinta?" tanya Sascha.
"Ya... aku tahu itu. Kenapa wajahmu memerah seperti kepiting rebus?" tanya Dewa.
"Inikan gara-gara kakak. Apakah kakak enggak menyadari kalau aku jatuh cinta?" kesal Sascha.
"Sejak kapan kamu jatuh cinta?'' tanya Dewa yang memancing Sascha.
"Hmmp... Entahlah aku lupa,'' jawab Sascha.
"Kenapa kamu enggak jujur kalau kamu sudah jatuh cinta ketika kita bertemu?'' tanya Dewa yang semakin membuat Sascha kebingungan.
"Memangnya kakak tahu, kapan aku jatuh cinta?" tanya Sascha yang semakin bingung.
"Semenjak di fotokopi sebelah sekolah,'' jawab Dewa yang berhasil membuat Sascha malu setengah mati.
"Dari mana kakak tahu kalau aku sudah menyukai kakak semenjak masih sekolah?" tanya Sascha yang bingung.
"Semenjak aku menginap di rumah kamu. Aku menemukan sebuah buku dairy milik kamu. Tak sengaja aku membacanya. Ternyata pria yang kamu cintai itu aku,'' jawab Dewa.
__ADS_1
"Mana mungkin aku menulis seperti itu,'' elak Sascha.