
"Sudah mau masuk penjara masih saja sombong! masih berani merendahkan orang! Hebat juga dirimu Dewi. AKu benar-benar salut. Jarang ada orang sepertimu!" ejek Sascha yang membuat Dewi menjadi geram.
"Orang yang kamu ejek dan memakai motor butut itu ternyata adalah seorang CEO di sini. Apakah kamu tahu? Motor yang sering dibuat menjemputku harganya sepuluh milyar. Jadi, kesimpulan di sini adalah jangan pernah melihat penampilan orang dari luarnya. sudah itu saja. Aku capek meladeni kamu yang enggak ada habisnya," jawab Sascha.
"Kalau begitu tunggulah para kepolisian untuk menangkapmu," ujar Eric.
Beberapa saat kemudian ponsel Dewa berdering. Dewa segera mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Kemudian Dewa mengangkat ponselnya dan menyuruhnya langsung naik ke atas.
Setelah selesai Dewa menatap Sascha sambil berkata, "Pihak kepolisian sudah menuju ke sini. Mereka diantar oleh Marty untuk menangkap Dewi."
"Baiklah. Tugasku sudah selesai," balas Sascha.
"Belum... tugas kamu belum selesai," potong Dewa yang berdiri sambil mendekati Sascha.
"Apa itu?' tanya Sascha.
"Kita akan pergi ke Labuhan Bajo," jawab Dewa.
"Bukannya nanti malam?" tanya Sascha lagi yang menoleh ke arah Dewa.
"Mama menghubungiku agar tidak ke sana malam ini. Besok pagi kita akan mengikat janji suci di altar pernikahan," jawab Dewa sambil berbisik.
"Apa-apaan ini?" tanya Sascha.
"Lebih baik kamu tanyakan saja pada mama mertua kamu itu. Aku hanya menerima ini semuanya. Karena besok pagi adalah berkah buat aku," jawab Dewa yang membuat Sascha mendelik.
"Terserah kamu," kesal Sascha yang meninggalkan Dewa.
Dewa hanya tersenyum melihat Sascha yang kesal. Bisa-bisanya Dewa membicarakan pernikahan secara cepat.
Setelah keluar dari ruangan Eric, Sascha melihat Tarra dan Chloe sudah menatap tajam ke arahnya. Sascha terdiam dan menelan salivanya dengan susah payah. Kenapa para mama berada di sini? Itulah satu pertanyaan yang sedang berputar di dalam otaknya.
__ADS_1
"Kenapa para mama ke sini?" tanya Sascha.
"Kamu harus ikut mama sekarang!" titah Chloe.
"Aku harus izin dulu sama Kak Dewa," ucap Sascha yang bingung dengan pekerjaan kantornya.
"Tidak perlu kamu bilang ke Dewa. Mama sudah meminta izin membawa kamu ke salon. Kamu akan menikah dengan Dewa besok pagi tanpa ada undangan apapun," ujar Tarra.
"Bukannya?" tanya Sascha menggantung.
"Nanti mama jelasin, kenapa kamu menikah cepat seperti ini?" jawab Chloe yang menarik Sascha pergi ke dari sana.
Di tempat lain keluarga Billi sudah sampai sampai rumah. Mereka sangat jengkel dengan perlakuan Sascha. Bisa-bisanya Sascha menolaknya pulang ke rumah. Jika Sascha tahu, Sascha akan berteriak dengan kencang, emangnya lu siapa? Nyuruh-nyuruh gue pulang. Ujung-ujungnya gue nanti diperes lagi kaya cucian yang basah sampai kering. Kalau sudah kering enggak bakalan dipakai lagi. Malahan dibuang.
"Pokoknya kamu harus menarik Sascha ke sini!" geram Fatin.
"Tapi bagaimana aku menariknya? Mama tahukan kalau Dewa selalu melindunginya?" bentak Billi yang mulai frustasi.
"Papa nggak tahu siapa itu Dewa?" tanya Billy yang semakin frustasi.
"Itu loh Pa... Yang ngaku anaknya orang kaya," jawab Fatin.
"Yang bule itu bukan?" tanya Firly lagi.
"Ya itu orangnya. Setiap ada Dewa di sana, Sascha bakalan dilindungi sama dia secara terus-menerus," jawab Billi.
"Oh jadi itu," ujar Firly. "Bukankah kita pernah melamar Sascha di Ibu Nirmala? Kita bisa memintanya lagi untuk menjadi istrimu. Karena dia itu masih tunangan kamu. Kalau begitu kita ke Nganjuk aja sekarang."
"Eh... Ke Nganjuk!" bentak Risa yang datang secara tiba-tiba.
"Memangnya elu siapa? Kok bisa-bisanya melarang kami ke Nganjuk?" tanya Fatin yang semakin menjadi.
__ADS_1
"Elu masih punya utang sama gue! Waktunya bayar! Sudah jatuh tempo!" bentak Risa.
"Hutang apa emangnya?" tanya Billi.
"Mobil mewah yang gue beliin kemarin?" Jawab Risa yang membuat Billi bertanya-tanya.
"Elu udah ngasih sama gue. Kok sekarang diambil lagi. Katanya lu cinta sama gue. Kenapa lu bohongin gue?" tanya Billy sambil mengejek.
"Enak aja lu ngomong! Pokoknya barang yang gue kasih itu hanya pinjaman. Sekarang berikan kunci mobil itu buat gue!" jawab Risa nada menekan.
"Oh... Jadi lu gitu ya. Ngasih mobil lu ambil lagi. Benar apa yang dikatakan oleh Sascha... Kalau elu adalah iblis bertopeng manusia. Kalau lu gak ngerusak gue. Gue udah jadi sama Sascha. Lu tahu kalau gue emang cinta sama Sascha! Gara-gara elu dan fitnah Sascha jadi pergi dari kehidupan gue," ujar Billi yang tidak terima saja pergi dari hidupnya.
"Gue memang berusaha ngancurin hidup Sascha. Semenjak dia masuk ke kampus semua pria meliriknya. Harusnya gue yang dilirik bukan dia. Sekarang lu tahu kan kalau Sascha itu cewek nggak bener. Ke sana kemari pergi ke klub malam dan diam di hotel bersama klien. Lu pikir sendiri deh apa yang dilakuin," ucap Risa yang memutar balikan fakta.
"Gue nggak peduli apa kata lu. Yang lu omongin itu nggak bener. Malah sebaliknya lu memutar balikan fakta. Gue udah jengah sama lu. Lama-lama lu nggak bakalan bisa hidup sama gue," ujar Billi.
"Yang gue omongin itu bener. Dan sekarang Sascha sedang digilir tuh sama orang-orang. Masih nggak percaya juga. Cari aja sana," kata Risa.
"Lu puas banget ya. Menjelek-jelekan Sascha di depan orang tua gue. Gue udah cukup sabar ngadepin lo. Gue juga udah sabar ngerjain perintah lo. Tapi lu selalu saja menjelekkannya. Sekarang gue tanya Sascha salah apa sama lu? Dia kuliah nggak ganggu siapa-siapa. Jadi selama ini lo berat, kalau gue balikan lagi sama Sascha?" ucap Billi yang tidak terima kalau Risa mengganggu hidupnya.
"Lu sadar nggak sih? Kalau lu adalah bapak biologisnya anak gue. Kalau lu sampai balik lagi ke Sascha. Gue bisa nuntut lu ke pengadilan. Soalnya lu jadi laki nggak tanggung jawab sama sekali!" geram Risa.
"Gue yakin... Kalau anak lu itu bukan anak gue. Sekarang lo paham kan? Karena gue nggak bisa dibohongi begitu saja. Gue bukan Jaya. Gue juga bukan siapa-siapa. Lu kalau mau nuntut, nuntut saja. Gue nggak ada masalah kok. Gue nggak rugi. Dan satu lagi kalau anak itu anak gue pasti nyariin gue pas waktu nangis. Sekarang dia nangis-nangis sendiri. Lagian wajahnya juga bukan wajah gue. Sekarang lo paham kan. Gue memang brengsek. Tapi gue punya hati nurani. Kalau lu masih ngomong soal anak itu. Gue pastiin elu nggak akan bisa ngedapetin gue. Karena hati gue sudah ada satu nama yaitu Sascha. Meskipun langit runtuh, bumi berguncang, gunung meletus, gue masih cinta sama Sascha. Gue pengen nikahin dia. Setelah gue nikah, gue pengen jadi laki bener. Itulah impian gue. Sekarang lu pilih, gue akan balikin mobil lo asal jangan pernah ganggu lagi!" tegas Billy yang meninggalkan Risa dan kedua orang tuanya pergi.
"Billi... Billi... Billi!" teriak Risa berkali-kali hingga terdengar sampai ke telinga tetangga.
Para tetangga yang lewat di depan rumah Billi terkejut sekali. Setiap hari keluarga itu selalu saja membuat teriakan demi teriakan. Mereka berpikir kalau keluarga itu tidak sehat sama sekali. Bukan memiliki penyakit. Tetapi memang mereka membuat ulah. Ditambah lagi setiap membuat ulah tidak pernah mempunyai waktu. Hampir malam maupun dini hari mereka selalu berteriak-teriak hingga mengganggu para tetangga.
Sascha yang bersama kedua para mama sedang menikmati makan siang. Wanita muda itu pun tersenyum sumringah dan melihat para Mama sangat akur sekali. Tiba-tiba saja Sascha teringat akan omongan orang. Bahkan ada statement kalau mengatakan bahwa seorang perempuan tidak pernah akur dengan calon ibu mertuanya.
"Mama," panggil Sascha.
__ADS_1