
“Dua-duanya adalah orang terseram. Jika harus memilih aku tidak milih mereka. Karena bekerja bersama mereka adalah kerja rodi,” jawab Sascha yang semakin membuat Dewa tertawa terbahak-bahak.
“Bagaimana jika aku menjadi manager keuangan?” tanya Dewa yang seketika tawanya berhenti.
“Ya... bagaimana Sa?” tanya Kobe.
“Lebih parah sepertinya. Dan Mas Kobe tahu kalau Kak Dewa itu bos paling nyebelin di antara para petinggi perusahaan. Banyak yang mengeluh atas kinerjanya dan sering curhat sama aku. Kok Pak Dewa seperti ini? Apakah Pak Dewa salah makan? Apakah Pak Dewa tidak pernah healing? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat aku mengelus dada. Di mata mereka ternyata Pak Dewa adalah bos yang menyeramkan dan killer,” jawab Sascha yang membuat Dewa tertawa lagi.
“Padahal dulu aku adalah bos yang sangat menyenangkan,” ucap Kobe yang membuat Sascha menganggukkan kepalanya.
“Ya... mereka ingin Mas Kobe balik,” ucap Sascha yang melihat isi kulkas Dewa yang penuh dengan bahan makanan.
“Kulkas ini selalu penuh bahan makanan. Aku bingung sama sang pemilik. Karena apartemen ini jarang dipakai,” celetuk Sascha.
“Bahan makanan itu tidak pernah membusuk. Setiap hari selalu habis,” sahut Dewa.
“Kok bisa?” tanya Sascha.
“Ya... mama dan papa sering menginap disini jika terkena lembur,” jawab Dewa. “Apakah kamu lapar?”
“Sangat lapar sekali. Pengen makan steak malah pulang ke rumah,” jawab Sascha yang mengambil ayam.
“Saat di area parkir papa menyuruh pulang membahas tentang Theodore dan papa bilang akan kembali ke Hamburg untuk mengurusi berkas-berkas pernikahan kita,” jawab Dewa.
“Oh... ya sudahlah... aku ingin memasak. Bisakah kalian keluar dari dapur ini? Aku ingin bertarung dengan alat-alat dapur untuk menghasilkan rasa yang membuat mulut anda menagih lagi dan lagi,” pinta Sascha yang mengusir dua pria tersebut.
“Masaklah yang banyak,” suruh Dewa. “Kalau bisa habiskan semuanya!”
__ADS_1
“Siapa yang makan sisanya?” tanya Sascha.
“Bagikan ke tetangga depan,” jawab Dewa.
“Setahuku tetangga di sini itu jarang sekali menerima pemberian orang,” sahut Sascha.
“Mereka adalah pengawal Black Tiger yang sengaja berjaga di area ini,” ucap Dewa
“Baiklah kalau begitu,” balas Sascha.
Di tempat lain Gerre sengaja menemui Devan terlebih dahulu. Mereka sedang membicarakan konsep pernikahan sangat sederhana namun elegan. Kedua pria itu sangat semangat sekali ingin membuat Dewa dan Sascha berkesan ketika merayakan pesta pernikahan.
“Oke... kita akan membuat pernikahan di kebun dengan konsep white garden. Aku tidak terlalu mengundang banyak orang. Kamu tahu Sascha itu paling malas bertemu dengan para kolega Dewa. Menurutnya mereka bermuka dua,” ucap Devan yang paham atas tabiat Sascha,
“Aish... ternyata putriku memiliki insting yang tajam sepertiku. Jujur saat Chloe hamil aku sempat berpikiran ingin menggugurkannya karena memiliki anak adalah beban bagiku,” ujar Gerre yang menyesal dengan perkataannya itu.
“Apakah kita akan hang out lagi?” tanya Devan.
“Sialan lu,” kesal Gerre. “Jika aku balik lagi kesana Chloe tidak memberikanku jatah selama tiga bulan. Kamu tahukan perjanjian pra nikah yang telah kami buat. Dan Chloe memasukkan itu ke dalam sana. Kalau kamu mau ke sana pergilah! Aku tidak mau!”
“Baiklah... sepertinya aku juga tidak akan melakukannya. Kamu tahu menikahi istri yang notabenenya ketua mafia itu sangat sulit sekali. Tarra adalah wanita yang tidak gampang ditindas apalagi disakiti. Jika itu terjadi maka pistol bicara,” ucap Devan yang tersenyum manis.
“Begitu juga dengan Chloe, Aku ingin sekali menindasnya saat kita hidup bersama. Tapi apa aku kebalik sendiri . Malah aku yang kena tindas. Meskipun wajahnya sendu tapi jiwanya memiliki jiwa singa betina. Bahkan sifatnya itu turun kepada putriku dengan julukan rubah kecil,” kata Gerre yang memegang kepalanya.
Devan terkekeh mendengar perkataan Gerre yang memberitahukan sifat asli Chloe. Namun kedua pria itu sangat menyayangi istrinya dan posesif. Bisa dikatakan mereka termasuk suami-suami takut istri. Seluruh media pun tahu kalau kedua pria itu sulit didekati pelakor. Jika pelakor datang para istri kompak akan menghempaskan mereka ke neraka jahanam.
“Oh... ya... tentang perusahaan kamu. Sascha berencana akan membuat rapat pemegang saham setelah kembali ke Jakarta,” kata Gerre.
__ADS_1
“Aku enggak masalah. Yang penting perusahaan ini jelas apa maksudnya,” sahut Devan.
“Kita akan membicarakan ini lagi bersama Dewa dan Sascha,” balas Gerre.
Hampir satu jam Sascha telah berperang dengan alat-alat dapur untuk menghasilkan banyak macam makanan. Gadis cantik itu sangat lihai sekali memasak. Di usianya lima belas tahun ketika merantau ke Bekasi, Sascha sudah dihadapkan dengan yang namanya memasak. Tidak mungkin Sascha membeli makanan setiap kali makan. Hampir setiap hari Sacha meluangkan waktunya untuk belajar memasak. Korban pertama yang menjadi ini cobanya adalah Intan. Mulai dari rasa asin, hambar, manis, pahit, asem bahkan gosong sudah dicobanya. Intan tidak pernah marah kepada Sascha. Bahkan Intan sering berteriak untuk menyemangatinya.
Meskipun begitu Intan bahagia melihat Sascha semangat memasak. Sangking semangatnya Intan membelikan berbagai macam resep masakan Indonesia maupun dari luar negeri. Lalu apa tanggapan Dewa? Setelah tahu Sascha memiliki hobi memasak, Dewa sering sekali menumpang makan di rumah Sascha setiap hari. Padahal yang dimasak oleh Sascha adalah masakan sederhana bukan masakan Amerika, Eropa, Jepang atau China. Namun Dewa sangat menyukai masakan Sascha.
Kedua pria itu sedang menunggu Sascha memasak dengan bermain game online. Mereka sangat serius bermain game tersebut dengan semangat. Tak lama Devan masuk ke dalam apartemen lalu mencium harum aroma masakan milik Sascha. Devan segera membuka jasnya dan melemparkannya ke arah sofa kosong.
“Siapa yang memasak?” tanya Devan. “Apakah kalian menyewa chef?”
“Chef disewa?” tanya Kobe yang menggelengkan kepalanya
“Iya. Aku tahu kalian memang tidak bisa memasak,” jawab Devan.
“Jika kami ingin makan kemungkinan besar akan memanggil Rio atau Frigo untuk memasak,” celetuk Dewa yang masih berkonsentrasi pada gamenya itu.
“Lalu?” tanya Devan.
“Yang pasti dia adalah calon ibu dari calon anak-anakku,” jawab Dewa.
Devan menganggukan kepalanya dan tersenyum sambil berkata, “Pasti anaknya Gerre Atmaja.”
“Ya... memang dia adalah anaknya Gerre Atmaja. Dia sangat cantik sekali papa. Aku ingin memakannya. Jika aku sudah memakannya dia akan menjadi milikku seutuhnya,” ujar Dewa yang mendapat tendangan kaki dari Kobe.
AUGH!
__ADS_1
Dewa berteriak kencang sehingga membuat Kobe tertawa keras. Entah kenapa Dewa mengatakan hal itu secara frontal ke sang papa. Apakah Dewa tidak menyaringnya?