Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
RAHASIA RISA.


__ADS_3

"Ya itu benar. Setelah ini jam makan malam selesai. Kita bertemu di kafe seberang sana. Aku akan menceritakan sesuatu tentang Sascha," jawab Devan.


Gerre mengangguk paham lalu penasaran. Akhirnya Gerre mengambil foto Sascha dan mengirimkan ke Chloe. Gerre menulis sebuah pesan yang isinya adalah berharap Sascha putrinya. Setelah itu mereka makan malam bersama.


Sascha duduk di samping Dewa bersama Tara. Jantungnya berdetak kencang karena Sascha bingung. Baru kali ibunda dari Dewa memperlakukannya sebagai putrinya. Ketika sedang makan, Gerre melihat cara makan Sascha. Gerre sungguh terkejut dengan cara makan Sascha. Gerre tidak menyangka kalau gaya makan Sascha mirip sekali sama Chloe sang istri. Gerre terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Sedangkan Dewa hanya tersenyum manis melihat Gerre. Apakah Dewa cemburu dengan Gerre? Jawabannya tidak. Dewa seakan merasakan ada ikatan batin antara Sascha dan Gerre. Dewa berharap misteri ini akan terpecah. Kenapa Sascha mirip sekali dengan Gerre? Lalu cara makannya yang mirip dengan bangsawan? Sangat anggun sekali bahkan lembut. Sepertinya Dewa harus menyimpan pertanyaannya.


Perjamuan makan malam telah selesai. Sascha tidak ambil pusing dengan apa yang dibicarakan. Karena Sascha sendiri belum menjadi keluarga di sana. Selesai makan Dewa mengajaknya ke kamar hotel. Hari ini mereka sangat lelah sekali dan memutuskan untuk duduk di tepi ranjang.


"Apakah bapak dan ibu mempunyai darah bangsawan?" tanya Dewa yang melepaskan jasnya.


"Tidak ada," jawab Sascha.


"Lalu, cara makan kamu seperti seorang bangsawan. Kamu sangat anggun melakukannya," ucap Dewa.


"Kamu memperhatikan aku?" tanya Sascha.


"Tidak. Tiba-tiba saja Tuan Gerre melihat kamu. Setelah itu aku melihat kamu dan memperhatikan cara makanmu," jawab Dewa.


"Katanya tidak. Sekarang ngaku... Bagaimana sih kak Dewa. Jujur saja bapak adalah bekas buruh pabrik di D'STARS Inc. cabang Sidoarjo. Ibu adalah seorang petani. Jika kamu beranggapan aku putrinya sang bangsawan itu tidak mungkin," sahut Sascha.


"Ya kali saja. Jika salah satu dari mereka adalah seorang bangsawan kenapa tidak," sanggah Dewa.


"Tidak ada. Kamu tahu aku bukan seorang bangsawan. Mungkin saja aku sering melihat film yang berbau-bau bangsawan," celetuk Sascha.


Dewa menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Ini sangat aneh sekali. Darimana kamu belajar cara makan seperti itu? Sedangkan kamu sibuk dengan pekerjaanmu?"


"Entahlah," jawab Sascha sambil menatap wajah Dewa.


"Kamu ingin tidur?" tanya Dewa.


"Iya," jawab Sascha.


"Tidurlah," suruh Dewa. "Aku ingin menemui Timothy."


"Timothy berada di sini?" tanya Sascha.


"Ya... Aku memang mengajaknya ke sini," jawab Dewa.


"Ya sudahlah," balas Sascha.


"Apakah kamu tidak mencegahku?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Kenapa aku mencegahmu? Istri bukan pake mencegah segala," ketus Sascha.


"Bentar lagi kamu menjadi istriku," jawab Dewa tersenyum manis.


"Terserah apa katamu! Aku sekarang pasrah!" geram Sascha.


"Hey... Kalau kamu geram begitu aku menjadi gemas," ledek Dewa yang menarik tangan Sascha hingga jatuh ke dalam pelukannya.


Sascha mengendus aroma tubuh Dewa yang maskulin ini. Dewa memiliki bidang dada yang lebar sehingga Sascha bisa menyembunyikan kepalanya. Setiap Dewa memeluknya seperti ini Sascha menjadi nyaman. Ah... Rasanya Sascha tidak ingin melepaskannya.


"Aku enggak bisa melepasmu, gimana ini?" tanya Sascha.


"Enggak usah dilepas enggak apa-apa," jawab Dewa.


"Serius?" tanya Sascha mendongakkan kepalanya.


Cup.


Satu kecupan manis dari Dewa. Dewa melepaskan Sascha secara perlahan. Wajah Sascha memerah dan tidak ingin melihat Dewa. Dengan terpaksa Sascha membaringkan tubuhnya dengan telungkup.


"Aku tinggal dulu ya," pamit Dewa.


"Iya," balas Sascha.


Dewa akhirnya pergi meninggalkan Sascha. Lalu Dewa menuju ke rooftop hotel. Di sana sudah ada Jake, Tommy, Timothy, Bryan, David, Ardiansyah dan Bima. Mereka sengaja bertemu Dewa di Seoul. Namun mereka tidak mengikuti makan malam meski diundang. Tak lama datang Dewa hanya memakai kemeja hitam dan celana bahan hitam. Dewa mendekati mereka dan bertanya, "Ada berita apa?"


"Apa motifnya?" tanya Dewa yang melihat Risa kepergok bertemu dengan pria berbaju serba hitam.


"Kemungkinan besar Risa tidak mau Sascha hidup. Kamu tahukan kalau Risa itu sangat membenci Sascha?" tanya Tommy.


"Aku rasa ada motif lain yang sengaja disembunyikan," ujar Dewa.


"Mungkin persaingan perebutan Billi," celetuk Ian.


"Bisa jadi," jawab Dewa yang membenarkan ucapan Ian dan Tommy.


Mereka terdiam dan tidak berbicara sedikitpun. Perseteruan Risa baru dimulai beberapa hari yang lalu. Risa melakukan playing victim. Jadi Risa yang merebut Billi dari Sascha. Lalu menuduh Sascha yang merebut Billi. Dewa hanya menghembuskan nafasnya secara kasar sambil menatap beberapa orang memakai serba hitam.


"Jangan bilang kalau mereka mafia," ucap Dewa dingin.


"Ya mereka adalah mafia penjualan organ tubuh. Dan Risa adalah anggota mafia itu. Jadi jangan salah kalau Risa memiliki uang banyak. Risa bisa melakukan apa saja," sahut Ian.


Braaaaaakkkkk!

__ADS_1


Dewa sangat marah sekali ketika mendengar barusan. Satu fakta telah terbuka dari Risa. Dewa tidak bisa membiarkan Risa begitu saja. Lalu Dewa berpikir tentang nasib Sascha dan bertanya, "Apa yang harus aku lakukan? Sascha dalam bahaya."


"Dewa... Dewa... Gara-gara cinta kamu jadi ogeb ya? Bukannya kamu adalah ketua mafia Black Tiger. Seharusnya kamu bisa melindungi Sascha," ledek Bima.


"Maaf gue lupa. Gue terlalu khawatir dengan Sascha," sahut Dewa.


"Sekarang yang penting adalah Sascha kudu belajar lagi karate dan taekwondo. Atur jadwalnya dengan epic. Aku ada dua jam seminggu dalam markas. Selasa dan Jum'at," balas Jake.


Kemudian Dewa menganggukan kepalanya. Cepat atau lambat Sascha harus belajar bela diri. Jelas sudah siapa Risa. Ternyata Risa adalah seorang yang berbahaya.


"Timothy, kamu tahu tugasmu tadi pagi?" tanya Dewa.


"Yang mengikuti kamu dari bandara hingga detik ini adalah Gerre Atmojo," jawab Timothy.


"Apa!" pekik Dewa.


"Ya. Orang itu memang sengaja mengikuti kalian," jawab Timothy.


"Ya Tuhan... Jadi sedari tadi?" tanya Dewa.


"Tenanglah. Sepertinya Gerre tidak bahaya," jawab Timothy.


"Apa yang harus kamu lakukan?" tanya Timothy.


"Bukannya Sascha sangat mirip sekali dengan Gerre?" celetuk Tommy.


"Apa benar?" tanya Bima.


"Ya," jawab Dewa. "Akhir-akhir ini wajah Sascha sangat mirip sekali dengan Gerre."


"Mungkinkah Sascha adalah putri yang hilang?" tanya Bryan.


"Maksudnya?" tanya Dewa.


"Kamu pasti dengar berita tentang sang ahli waris Khans Company telah hilang lima belas tahun lalu di hutan mangrove," jawab Bryan.


"Di daerah mana?" tanya Dewa.


"Okinawa Jepang," jawab Bryan.


"Berarti?" tanya Dewa yang semakin bingung. "Jujur aku semakin bingung. Kenapa tadi papa mengundang Tuan Gerre?"


"Dari dulu papa Devan sudah mengajak Tuan Gerre bekerjasama. Dan kamu tahu mereka menjalin hubungan persahabatan sejak kecil. Jadi mereka sama-sama tahu," jawab Bryan.

__ADS_1


Dewa semakin penasaran dengan apa yang didengarnya. Kok selama ini Dewa tidak tahu antara hubungan Devan dan Gerre. Mau tidak mau Dewa harus bertanya kepada Devan secara jelasnya.


"Aku saranin kamu tanya saja tentang hubungan kerjasama ini. Ketimbang kamu mati penasaran," saran Bryan.


__ADS_2