Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KABUR DARI PERUSAHAAN.


__ADS_3

“Dewa,” jawab Timothy.


“Maksud kamu?” tanya Bima lagi.


“Bukannya kamu adalah seorang bad boy?” tanya Ian yang memberikan clue.


“Dewa di atas kasur sedang enak-enakan,” jawab Ian “Terus kita di sini menunggunya seperti kehilangan arah?”


“Terpaksa, kita harus melakukannya. Meeting yang seharusnya jam 10.00 menjadi jam terserah sama bosnya sendiri kok mengatur jamnya. Sekarang si balok es itu sudah pintar dan merayu saja lalu mengajaknya di kamar. Padahal di ruangan itu ada sang mama. Rasanya aku sebagai asisten ingin menghajarnya habis-habisan,” jelas Timothy yang membuat mereka geram terhadap Dewa.


“Bagaimana kalau kita balas dendam?” tanya Tommy.


“Balas dendam apa?” tanya Timothy.


“Bagaimana kalau dua hari ke depan mengambil cuti pergi ke Bandung? Semua akomodasi liburan biar aku yang tanggung. Selama liburan matikan hape kalian. Sekalian ajak mama untuk berlibur juga. Biarkanlah Dewa yang mengurus perusahaan ini tanpa kita,” jawab Tommy yang menjelaskan balas dendam terindah buat sang bos.


“Kalau begitu baiklah. Mari kita berlibur!” ajak Ian.


Mereka akhirnya memutuskan untuk kabur dari pekerjaannya. Mereka memang sengaja untuk melimpahkan semua pekerjaan ke Dewa selama dua hari. Dalam waktu beberapa menit mereka sengaja mengunci ruangan tersebut. Sebelum pergi, Timothy mengunjungi Tarra di ruangan Dewa. Dengan gaya coolnya, Timothy segera masuk ke dalam.


“Apakah Mama sibuk hari ini?” tanya Timothy.


“Mama sedang menunggu anak nakal itu,” jawab Tarra.


“Apakah Mama mau ikut dengan kami?” tanya Timothy lagi.


“Kamu mau ke mana?” tanya Tarra.


“Kami ingin berencana liburan selama 2 hari di Bandung,” jawab Timothy dengan jujur.


 “Liburan dua hari di Bandung?” ujar Tarra.

__ADS_1


“Ya Ma. Kami memang ingin menghukum Dewa. Seharusnya hari ini ada meeting pembahasan acara akhir tahun... Malah enak-enakan di kamar. Kami seperti orang yang kehilangan arah. Makanya kami berencana untuk menghukumnya,” jawab Timothy yang membuat Tarra tertawa.


“Berapa uang yang kamu inginkan untuk berlibur?” tanya Tara.


“Liburan seperti itu tidak membutuhkan biaya banyak Ma. Kami hanya bersenang-senang dan menginap di villa Bima. Ujung-ujungnya kami akan beristirahat dengan tenang untuk sementara waktu,” jawab Timothy dengan jujur.


“Kalau begitu baiklah. Pergilah!” usir Tarra.


“Apakah mama tidak ikut?” tanya Timothy.


“Sepertinya tidak. Mungkin keesokan harinya Papa Gerre akan kemari. Jujur Mama kesal melihat bosmu itu. Diam-diam ternyata menghanyutkan seperti samudra Hindia. Bagaimana bisa Dewa merayu putriku seperti itu? Yang lebih parahnya Dewa ingin membuat skandal di kantor. Mau ditaruh mana itu mukanya? Jelas-jelas Dewa adalah seorang atasan yang bisa dikatakan alim sekali. Tidak pernah menyentuh wanita manapun semenjak duduk di kursi panas ini. Lalu sekarang, Sudah berani melakukannya. Hingga membuat kalian kesal. Iya kan?” tanya Tara yang menjelaskan duduk masalah tersebut.


“Iya ma,” jawab Timothy dengan wajah tersenyum bahagia.


“Kalau begitu pergilah. Setelah ini Mama akan menghukum Dewa,” usir Tara yang membuat Timothy tersenyum kemenangan.


Setelah mendapat izin dari Tara, Timothy memutuskan untuk meninggalkan kantor dengan lainnya. Jujur mereka sangat kesal terhadap Dewa yang tidak menghargai waktu. Mereka langsung melancarkan aksi balas dendam dan membiarkan Dewa kerja sendiri. Lalu, Bagaimana dengan Tarra? Tara masih asik membaca majalah fashion. Wanita paruh baya itu memang sengaja menunggu Dewa yang masih bertempur di dalam kamar. Sang Mama sudah memiliki segudang hukuman yang akan diterima oleh Dewa.


Tepat jam tiga sore, Dewa sudah selesai melakukan ritual tersebut. Pria bertubuh tinggi itu keluar dengan memakai kemeja kusut dan celana bahan. Ia terkejut melihat beberapa pengawal yang sudah menunggunya. Lalu Dewa mengurutkan keningnya sambil bertanya, “Ada apa kalian kumpul di sini? Bukannya kalian menunggu di beberapa titik tertentu? Lalu suruh siapa kalian ke sini?”


Sang kepala pengawal milik Tara langsung menyergap Dewa. Namun Dewa dengan cepat mengelak. Matanya tertuju kepada sang ketua itu sambil menatap tajam.


“Sial!” geram Dewa.


“SEGERA TANGKAP PRIA ITU! JANGAN LEPASKAN DAN BAWA KE RUMAH SETELAH ITU KURUNG DALAM KAMAR! DAN KALIAN SEGERA BERJAGA DI AREA TERSEBUT! AKU TIDAK MAU PRIA ITU KABUR DARI RUMAH! APAKAH KALIAN PAHAM!” titah pengawal itu.


“Baik Tuan,” balas mereka serempak.


“Kalau begitu laksanakanlah,” tegas sang ketua.


Lima belas orang yang diterjunkan oleh Tara dengan cepat menyergap Dewa. Lalu mereka membawa Dewa ke area parkir. Ketika Dewa sedang berontak langsung melumpuhkannya. Sementara itu Sascha selesai membersihkan tubuhnya cepat-cepat keluar dari kamar. Dirinya tidak sadar kalau hari ini ada meeting besar.

__ADS_1


“Sascha?” panggil Tara.


Sascha terkejut karena mendengar suara sang Mama mertua. Matanya melihat cara dengan senyum sangat menakutkan.


“Lho, kok Mama ada di sini? Bukannya mama bersama Dita jalan-jalan?” tanya Sascha.


“Gimana mau jalan-jalan? Dita sedang syuting. Oh ya... Nikahnya dimajukan saja ya? Mama rasa Dewa Sudah berani macam-macam deh?” ucap Tara yang membuat mata Sascha membola.


“Kok dimajuin mah? Bukannya kesepakatan sama papa dua minggu lagi? Jujur aku menjadi bingung,” ungkap Sascha yang bingung dengan keputusan Tara.


“Ya mau bagaimana lagi? Kan bagus, jika menikah waktunya dimajukan? Bukannya kamu di sini akan lama?” tanya Tara lagi.


“Iya. Lalu bagaimana dengan pesta telah dirancang oleh papa?” tanya Sascha sambil meraih map di meja.


“Bisa ditunda hingga urusan kamu selesai di sini. Mama tahu di sini ada guncangan bahwa uang tigay miliar hilang entah ke mana. Jadi mau tidak mau kamu harus stay di sini bersama dewa. Oh iya... Rumah yang berada di Bekasi itu kamu tempati. Jangan di apartemen karena jarak sama pabrik jauh. Bukannya Dewa sebentar lagi mau menggabungkan kantor dan pabrik?” tanya Tara.


“Rencananya sih begitu mah. Sebentar lagi Kak Dewa mau memisahkan pegawai AA Groups dengan D’Stars dipisah. Gedung yang berada di sini akan menjadi hak milik AA GROUPS. Sedangkan D'Stars Inc dipindah ke Bekasi. Kemungkinan besar Kak Dewa mau pindah awal tahun baru,” jawab Sascha.


“Apakah kamu akan di sini dalam jangka waktu lama?” tanya Tara lagi.


“Entah... Keputusan lama nggaknya tinggal di sini tergantung dari Kak Dewa. Aku ketir-ketir jika bertemu dengan keluarga Billy. Cepat atau lambat kami pasti bertemu. Di sinilah puncak kesengsaraanku kembali. Apalagi orang tuanya Billy sepertinya masih mengharapkanku. Aku harus bagaimana?” tanya Sascha.


“Yang kamu katakan benar. Mama juga berpikir seperti itu. Kalau kamu kelamaan di sini mama memprediksi kalau keluarga Billi akan mengejarmu. Sepertinya kamu harus diskusi tentang masalah ini kepada Dewa,” jawab Tara.


“Baik ma... Aku akan membicarakannya terlebih dahulu,” balas Sascha.


“Kalau begitu pulang yuk. Sebelum pulang Mama mengajakmu makan,” ajak Tara.


“Lalu, Bagaimana dengan Kak Dewa?” tanya Sascha.


 

__ADS_1


 


__ADS_2