
"What!" pekik Dewa. "Kamu mendoakan aku mati penasaran?"
"Ya enggaklah. Aku cuma ngasih saran saja ke lu," jawab Bryan.
"Sudah malam. Aku balik dulu," pamit Dewa.
Dentuman musik disko terdengar sangat keras sekali. Banyak wanita cantik yang sengaja memakai baju kurang bahan. Mereka ingin menjaring para pria hidung belang dan agresif. Tak lama seorang pria berusia empat puluh delapan tahun melangkahkan kakinya. Pria itu belum bisa dikatakan pria paruh baya. Karena di usianya pria itu sangat tampan dan berkharisma.
Ketika pria itu melangkah ke ruangan VVIP, banyak sejumlah gadis mendekatinya. Pria itu tidak perduli lagi dan menepiskan tangan mereka. Pria itu malah mempercepat langkahnya hingga masuk ke sebuah ruangan. Yang di mana ruangan itu dijaga ketat oleh beberapa pengawal milik Devan.
"Bro," sapa pria itu.
Devan melihat wajah pria itu dan membalas sapaannya. Kemudian Devan menyuruhnya duduk. Lalu pria itu duduk dihadapannya dan bertanya, "Apakah kamu tahu tentang Sascha?"
"Ok aku cerita. Aku ketemu Sascha pas pulang ke Jakarta. Aku sengaja pulang ke Jakarta karena Dewa saat itu sekarat," ucap Devan yang dadanya sesak karena mengingat kejadian itu.
"Sekarat kenapa?" tanya Gerre.
"Karena Dewa pernah dijebak sama seseorang untuk mengkonsumsi obat terlarang dengan dosis tinggi. Lalu saat itu aku ketemu Sascha. Aku merasa ada yang aneh dalam dirinya. Pertama kali melihatnya Sascha mirip sekali dengan kamu," jawab Devan.
"Dijebak minum obat terlarang dengan dosis tinggi?" tanya Gerre.
"Dan kamu tahu siapa yang melakukannya? ARTku yang ternyata dia adalah musuh bebuyutanku bersama temannya Dewa," jawab Devan.
"Aneh. ART kamu sama temannya Dewa! Motifnya apa?" tanya Gerre yang penasaran.
"Masalahnya hanya satu. Mereka ingin Dewa lenyap dan bisa menguasai perusahaan D'Stars yang saat itu dipegang oleh Kobe," jawab Devan.
__ADS_1
"Apakah mereka ada kaitannya dengan keluargamu?" tanya Gerre lagi.
"Tidak ada. Mereka bukan siapa-siapa," jawab Devan.
"Ternyata hidup Dewa itu sangat sulit sekali ya. Mulai dari kecil hingga sekarang," ujar Gerre secara blak-blakan.
"Harusnya aku bawa ke New Jersey untuk menempuh pendidikan. Tapi Dewa sama Dita bersikeras pengen hidup mandiri," sahut Devan.
"Ada benarnya juga. Lalu bagaimana dengan Sascha?" tanya Gerre.
"Sascha hidup bersama dengan keluarga yang ekonominya di bawah rata-rata. Ketika Sascha lulus sekolah, Sascha bekerja di D'Stars hingga sekarang. Lalu Sascha kuliah di universitas ternama di kota Depok untuk menunjang performa status di D'Stars. Jika kamu bertanya tentang Sascha ke keluarga itu, mereka menemukan di Surabaya. Saat itu Sascha menjadi pemulung botol bekas. Ketika tahu dan melihat keadaan Sascha yang memprihatinkan. Mereka sengaja mengadopsinya," jelas Devan.
"Jadi Sascha seorang pemulung?" tanya Gerre lagi yang tidak percaya.
"Ya itu benar. Pak Andika bercerita kalau Sascha mempunyai trauma berat dengan orang yang tidak dikenalnya," jawab Devan.
"Maafkan aku yang tidak memberimu pengawalan ketat," ucap Devan.
"Tidak apa. Saat itu aku tidak perlu pengawalan ketat. Karena setelah menemui papamu aku berencana untuk liburan ke timur Okinawa. Aku ingin mengenalkan alam ke putriku. Lalu sesuatu itulah yang terjadi. Hingga saat ini sang pelaku belum ketemu," kata Gerre.
"Apakah aku perlu membantumu?" tanya Devan yang tulus ingin membantu.
"Bisakah kamu membantuku mendapatkan rambut atau apalah. Yang berada di tubuh Sascha. Aku ingin melakukan test DNA," jawab Gerre yang memikirkan keputusannya itu.
"Apakah kamu tidak berkenalan lebih dahulu?" tanya Devan yang bingung.
"Aku terdesak. Ada seorang perempuan yang ingin membunuh Sascha. Jika dia anakku, aku yang akan melindungi Sacha sendiri," jawab Gerre yang menutup matanya.
__ADS_1
"Apa?" pekik Devan.
"Ada yang mau melenyapkan Sascha. Ketika aku mendapatkan foto itu. Hatiku tidak mengijinkan aku melakukannya," tambah Gerre. "Apakah Sascha mempunyai musuh?"
"Ada. Risa Amelia. Dia dulu teman baik Sascha. Sekarang menjadi musuh Sascha karena merebut kekasihnya. Nyatanya Sascha tidak melakukannya. Malah kebalikannya Risa yang mengambil Billi dari Sascha," jelas Devan.
Mata Gerre membulat sempurna. Setelah mendapat penjelasan dari Devan, hati Gerre berdenyut hebat. Entah kenapa Sascha saat ini dalam bahaya? Lalu Devan menambahkan sebuah fakta yang terjadi terhadap Sascha. "Kamu tahu selama ini Sascha berpacaran dengan Billi. Uang tabungan Sascha terkuras habis. Ketika Dewa tahu, Dewa langsung melakukan pengusutan. Ternyata oh ternyata Keluarga Billi memang sengaja melakukannya hanya untuk hidup mewah."
Gerre tersenyum smirk dan mengepalkan tangannya. Lalu Gerre berkata, "Ok... Fix. Aku akan melakukan test DNA."
"Aku setuju. Kamu harus melakukannya. Aku rasa dia adalah putrimu yang hilang. Jika ada pihak yang ingin menghancurkan Sascha. Kamu bisa mengeluarkan surat itu," imbuh Devan.
"Kamu benar," balas Gerre.
Devan mulai lega dengan sang sahabatnya itu. Ketika mereka berliburan ke Okinawa Jepang, Devan tidak berada di tempat. Melainkan berada di Barcelona untuk mengecek pembangunan pabrik. Namun ketika mendengar berita bahwa putri sang sahabat menghilang, Devan sungguh terkejut. Devan mengerahkan seluruh pengawal untuk mencari keberadaan sang putri. Ditambah lagi dengan pengawal dari Aoyama. Mereka tidak menemukannya. Sepertinya rencana ini sudah ditata rapi. Sehingga mereka tidak bisa menemukannya.
Setelah itu Devan pergi meninggalkan Gerre. Devan mulai memikirkan tentang Sascha dan penculikan itu. Devan tidak akan menuduh Pak Andika dan Ibu Nirmala. Kalau Devan menuduh pun percuma. Bagaimana bisa mereka dari keluarga miskin pergi ke Jepang hanya untuk menculik Sascha? Jika dihitung-hitung juga uang mereka tidak akan cukup. Kalaupun ingin menculik anak kecil, kenapa harus jauh-jauh ke Okinawa Jepang. Toh... Culik saja anak-anak di Jakarta. Sedangkan Dewa sedang melihat wajah ayu Sascha yang meneduhkan jiwanya. Dewa tersenyum manis sambil meraba wajah sang kekasih.
"Kamu sangat cantik. Kamu mirip sang bidadari. Kamu pintar dan juga cerdas. Aku tidak akan melepaskan kamu hingga Tuhan memanggilku," batin Dewa.
Dewa memutuskan untuk mengganti bajunya dengan baju santai. Dewa memutuskan untuk tidur di samping Sascha. Sebelum berangkat ke alam mimpi Dewa mengambil tabnya dan melihat penjualan harga saham dan mengecek email. Namun ketika serius Dewa mendengar Sascha berteriak meminta tolong.
"Tolong! Tolong! Jangan bunuh aku!" teriak Sascha sambil merasakan tidurnya kurang nyaman.
Dewa menaruh tab itu di atas nakas dan melihat Sascha. Kemudian Dewa membantu Sascha bangun. Setelah itu Sascha membuka mata dan melihat Dewa, "Aku di mana?"
"Kamu berada di kamar," jawab Dewa. "Kamu mimpi apa? Kok sepertinya kamu ketakutan seperti itu."
__ADS_1
Sascha memeluk Dewa dengan erat. Sascha memohon kepada Dewa untuk tidak meninggalkannya. Lalu Dewa menyanggupi permintaan Sascha. Dewa mengelus punggung Sascha sambil bertanya, "Kamu mimpi apa sih?"