Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
PERTEMUAN JAYA DAN BIMA.


__ADS_3

"Itu semua karena omongan mama. Entah kenapa Mama memprovokasiku dengan Dewa. Padahal saat itu aku baik-baik saja. Bahkan Dewa orangnya loyal jika membantu orang," jawab Anton yang bersedih karena hubungan persahabatannya rusak karena Fatin.


"Kalau begitu bersabarlah menghadapi mamamu," ucap Firly.


"Bagaimana aku bisa bersabar? Jika mama menuntut ini itu ini itu. Padahal aku sendiri belum bekerja. Jujur saja aku ingin kabur dari sini dan tidak bertemu mama," ujar Anton yang meluapkan emosinya.


Firly hanya menghembuskan nafasnya secara kasar. Dirinya sebagai Papa tidak bisa meredam masalah keluarganya. Bagaimana bisa Firly dikatakan Papa yang baik? Firly sangat bersalah sekali kepada putra-putrinya itu.


D'Stars Inc.


Devan yang selesai mengajak seluruh pekerjaannya hanya bisa menghela nafasnya. Di saat itu Gerre sedang berkunjung sedang mengecek pekerjaannya. Lalu Devan melirik Gerre sambil berkata, "Risa dan sekeluarga sudah wafat."


"Apa yang kamu katakan?" Tanya Gerre.


"Iya. Papa sudah membunuhnya," jawab Devan.


"Syukurlah kalau begitu. Sekarang musuh kita adalah Cathy, Damar dan Livi," ucap Gerre.


"Mereka haus akan pujian dari orang-orang yang berada di dunia ini," sahut Devan.


"Aku nggak tahu apakah putriku bisa melaluinya?"


"Pasti bisa. Sascha adalah anak yang kuat. Aku tahu itu. Ditambah lagi saja tidak menyukai ketidakadilan. Cepat atau lambat Dewa akan melindungi dari belakang. Aku harap semuanya bisa berjalan lancar."


"Bagi kamu perkataan itu sangat mudah. Bagiku perkataan itu sangat sulit sekali aku cerna. Memang sascha bisa menghadapi semuanya. Tapi mereka akan melakukan segala cara untuk mendapatkan perusahaan itu. Ditambah lagi Livi yang tidak tahu apa-apa disuruh memegang perusahaan. Aku nggak jadi masalah siapa saja yang boleh memegang perusahaan itu."


"Kamu benar. Aku juga merasakan hal itu. Bagaimana kalau kita di belakang Dewa? Saling mendorong satu sama lain untuk memberikan semangat kepada Sascha?"


"Aku setuju itu. Okelah hari sudah mulai sore. Aku pamit pulang," pamit Gerre.


"Aku juga mau pulang. Aku malas tinggal di sini," kesal Devan.


Nagoya Jepang.


"Jay," panggil Bima yang tiba-tiba saja hadir di hadapannya.


Jaya yang sedang menikmati kopi panas terkejut atas kedatangan Bima. Untung saja Jaya tidak memiliki penyakit riwayat jantung. Kemudian Jaya menyambut Bima dan menyuruhnya duduk.

__ADS_1


"Duduklah," suruh Jaya.


Lalu Bima duduk di hadapan Jaya. Tak lama Jaya menatap Bima sambil bertanya, "Lu tahu gue di sini dari mana?"


"Stay dan bang Kobe cerita kalau kamu ada di sini," jawab Bima.


"Gue nggak tahu harus apa lagi. Gue takut ketemu dengan Dewa."


"Kenapa lu takut? Lu Nggak salah kok."


"Gue nggak enak aja sama Dewa. Bayangin saja Gue udah pernah ngelakuin kesalahan ke Sascha."


"Kalau lu nggak salah Kenapa takut? Memangnya Dewa suka menghajar orang apa? Dewa masih nganggap elu sahabat. Kalau lu kayak gitu terserah. Lu sendiri yang memutuskan tali persahabatan. Tapi gue pesan satu sama lu. Jangan pernah merusak rumah tangganya."


"Okelah. Gue juga sudah ngelupain Sascha. Jujur kalau Stay nggak cerita terlebih dahulu. Kemungkinan besar gue bersalah sama Sascha."


"Stay tidak akan biarin orang-orang terdekatnya susah. Dia juga berhubungan baik sama Sascha dan Dewa. Sering sekali mereka bertukar pesan dan nanyain kabar satu sama lain. Apalagi Sascha adalah orang yang welcome banget."


"Syukurlah. Setelah Stay cerita tentang Risa. Gue sadar soal itu. Perasaan gue merasa diadu domba sama Risa."


"Nggak bisa saja. Mak bapaknya gitu. Yang lebih parahnya lagi orang tuanya itu membunuh mamanya bang Kobe. Padahal waktu itu bang Kobe baru lahir."


"Ingin menguasai Nakata's Groups. Padahal perusahaan itu yang membangun adalah kakek Aoyama sendiri."


"Segitunya. Memang bener-bener deh itu Risa. Aku sering mendengar desa susu orang tuanya ingin menguasai perusahaan lainnya dengan banyak cara."


"Ya itulah."


"Sekarang di mana mereka?"


"Sudah meninggal. Kamu tahu kan kalau Dewa itu adalah ketua mafia. Sedangkan kakek masih memiliki hubungan darah dengan Yakuza. Begitu juga dengan Sascha. Sascha yang memiliki darah mafia dari papanya."


"Maksud kamu Pak Andika?"


"Enggak. Pak Andika adalah orang tua Sascha. Orang tuanya adalah Gerre Atmaja."


Mendengar nama Gerre Atmaja, Jaya sangat terkejut sekali. Dirinya tidak tahu kalau Sascha adalah putri dari Gerre. Ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Makanya... Wajah Sascha mirip sekali dengan Gerre. Setiap kali aku bertemu dengannya. Aku merasa Gerre berada di dalam sosok Sascha."

__ADS_1


"Jangankan kamu. Kami saja pernah berkata kalau Sascha sangat mirip sekali dengan Gerre. Akhirnya semuanya terkuak. Cepat atau lambat Sascha akan menjabat sebagai ahli waris Khans Company," jelas Bima.


"Memang. Aku nggak menampik soal itu. Kalau Sascha memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Kalau aku bandingin Risa kalah jauh. Soal pendidikan Sascha memang jagonya. Hampir setiap menyelesaikan masalah Sascha memakai logika bukan emosi seperti Risa," ucap Jaya dengan jujur.


"Dan kamu tahu perusahaannya Dewa yang AA Groups berkembang pesat karena Sascha. Itulah Dewa mempertahankan saja menjadi wakil CEO di perusahaannya itu."


"Bersyukurlah memiliki seorang wanita yang baik dan cantik. Ditambah lagi memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Banyak sekali pria yang ingin mendapatkannya. Apalagi saja adalah wanita keberuntungan Dewa."


"Apa langkah lu selanjutnya?"


"Kemungkinan besar Aku ingin bergabung dengan Dewa atau Gerre. Aku akan menjual asetku dan melupakan semua kesakitanku. Aku ingin melamar sebagai manajer atau asisten manajer," jawab Jaya.


"Mending lu nggak usah jual semuanya. Gue saranin mending lo merger ke Dewa."


"Apakah Dewa mau kerjasama sama gue?"


"Lihat lu apaan dulu? Kalau lu mau berbuat curang maka hadapilah kemarahan Dewa dan perusahaan lo akan dihancurkan."


"Niat gue baik. Gue nggak mau membuat masalah berat sama orang-orang di sekitarnya. Gue takut melakukan hal yang gue sudah tahu konsekuensinya."


"Kalau lu udah tahu. Jadilah orang yang jujur dalam berbisnis."


"Siap bro. Untung saja lu nggak membenci gue."


"Gue nggak mau membenci siapapun. Gue orangnya nggak akan pernah mau ninggalin orang yang sudah terpuruk. Contohnya saja Stay. Gue tahu masa lalunya sebelum kenal ama lu. Bahkan lebih parah dari elu. Saat itu Stay ingin bunuh diri karena perusahaan kedua orang tuanya bangkrut. Untung saja gue minta Dewa turun tangan dan membantu."


"Syukurlah kalau begitu. Siapa yang melakukan itu semuanya?"


"Semuanya Itu gara-gara Fatin."


"Sebentar, kok sepertinya gue mengenal nama itu ya?"


"Coba lu ingat siapa Fatin?"


"Bukannya Fatin itu maknya Billi?"


"Yupz... Masalahnya sangat klasik sekali. Fatin ingin merebut pamanku dari bibiku. Kemudian dia memakai segala cara untuk menghancurkan rumah tangganya. Kamu tahu kan pamanku sangat terkenal sekali. Ditambah lagi pamanku sangat loyal terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya."

__ADS_1


"Jadi selama ini, Fatin sangat mirip sekali dengan Risa?" tanya Jaya.


__ADS_2