Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
SANTI DIPECAT.


__ADS_3

"Pasti kakak enggak tahu kalau ketua mafia itu sangat menyeramkan. Bahkan ketua mafia itu bengis dan tidak kenal kasih sayang. Bisa saja kalau aku membuat kesalahan kecil. Ketua mafia itu akan membunuhku," jawab Sascha yang sangat kesal terhadap Dewa yang tidak paham apa maksudnya.


Dewa memang paham apa yang dimaksud oleh Sascha. Dewa mengerti akan hal itu. Akan tetapi apakah Sascha tahu kalau dirinya adalah pria yang sangat kejam sekali. Karena Dewa tidak akan membiarkan musuhnya selamat.


Jakarta Indonesia.


Ian yang selesai makan kembali tanpa membawa nasi uduk pesanan Santi. Memangnya Ian pikir, Ian adalah seorang babu? Oh... Ian tidak akan melakukan itu. Sesampainya di lobi Ian masuk dan melihat Bella sang resepsionis.


"Bella," panggil Ian.


Bella terkejut dengan Ian yang memakai baju biasa. Baju yang dipakainya memperlihatkan bentuk ototnya yang besar sehingga membuat Bella salah tingkah.


"Selamat pagi pak Ian," sapa Bella.


"Selamat pagi," sapa Ian balik. "Kamu tahu dimana Marty berada?"


"Pagi ini saya tidak menemukan Pak Marty," jawab Bella.


"Ya sudah kalau begitu. Jika Marty datang suruh ke kantor saya!" titah Ian yang meninggalkan Bella.


Mata Bella berbinar seketika setelah melihat otot-otot Ian yang kekar dan besar. Bella sangat mengagumi keindahan ciptaan Tuhan tersebut. Ketika mau masuk lift ada saja yang menjadi korban Ian. Ada yang menabrak tembok, ada yang terpleset dan ada yang terjatuh. Mereka tidak bisa berkonsentrasi sama sekali karena ulah Ian. Lalu bagaimana dengan Ian? Ian tidak memperdulikan itu semua. Ian hanya cuek bebek dan menunggu lift terbuka.


Ketika pintu lift terbuka Bima datang dengan tergesa-gesa. Bima segera menghampiri Ian dan melihat ke sekelilingnya. Matanya membulat sempurna karena terjadinya insiden para karyawan yang bertabrakan khususnya kaum hawa. Mereka akhirnya masuk ke dalam lift lalu membiarkan insiden itu terjadi.


Lalu Bima melihat Ian yang memakai baju ketat. Bima hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Lain kali kalau ke kantor pake baju casual bro."


"Gue dari bandara langsung kesini. Mana sempet gue ganti baju," kesal Ian. "Memangnya ada apa sih?"


"Tuh lihat banyak perempuan yang bertabrakan karena melihat bentuk tubuhmu!" decak Bima yang menggelengkan kepalanya.


Ting.


Pintu lift terbuka.

__ADS_1


Mereka keluar dan melihat Marty yang sudah berada di depannya. Lalu Ian memintanya ikut ke ruangan Tommy, "Ikut aku sebentar!"


Marty pun mengangguk lalu mengikuti Ian ke ruangan Tommy. Sesampainya di sana Ian masuk ke dalam bersama Marty, "Sudah selesai?"


"Sudah," jawab Tommy.


"Aku akan mengerahkan Marty dan beberapa pengawal lainnya untuk menghalau Santi yang ingin masuk ke dalam setelah pemecatan. Aku tahu ini pertengahan bulan," jelas Ian. "Jika kita memecat Santi pertengahan bulan bisa dipastikan Santi akan mengamuk."


Tommy paham apa yang dikatakan oleh Ian. Jika Tommy memecat Santi di pertengahan bulan akan terjadi huru-hara. Mereka paham akan sifat sombong Santi. Bahkan Santi sering melakukan sifat anarkis.


"Ya... Aku paham. Aku tidak akan membiarkan Santi berbuat anarki," jawab Tommy.


"Marty," panggil Ian dengan serius.


"Iya tuan," sahut Marty.


"Siapkan pengawalmu untuk mengusir Santi dari perusahaan! Jangan biarkan Santi masuk ke dalam! Karena pagi ini adalah hari terakhir kerja!" titah Ian dengan dingin. "Tommy... Setelah ini blacklist nama Santi ke seluruh perusahaan di negara ini!"


"Kalau begitu saya undur diri sekarang. Saya akan mempersiapkan semuanya," ucap Marty yang memberi hormat.


Marty segera meninggalkan mereka dan menghubungi para pengawal untuk berjaga. Marty tahu siapa itu Santi beserta keluarganya. Bahkan Marty sering jadi pesuruh jika bertemu dengan Santi.


Ian yang mendapat pesan dari Marty langsung mengambil ponselnya. Ian meminta Intan untuk memanggil Santi ke ruangan HRD. Sambil menunggu kedatangan Santi, Ian berbalas pesan kepada Dewa.


"Habis gini aku berangkat ke Hamburg," ucap Ian.


"Ngapain ke Hamburg?" tanya Tommy yang mengerutkan keningnya.


"Dewa kesana. Sascha perlu pengobatan di kepalanya," jawab Ian.


"Memangnya Sascha sakit apa?" tanya Tommy yang mengerutkan keningnya.


Ian merasakan ada seseorang di belakang pintu. Siapa lagi kalau bukan Santi. Memang Santi sangat jago menguping. Apalagi kalau berhubungan dengan Sascha. Jika Sascha sudah celaka kemungkinan besar Santi akan bahagia dan cepat-cepat mendoakan biar cepat mati.

__ADS_1


"Ada orang di balik pintu," celetuk Ian yang mengalihkan pembicaraan.


Tommy segera berteriak dan menyuruh Santi masuk. Mau tidak mau Santi masuk ke dalam dan melihat Tommy, "Ada apa pak? Kok saya dipanggil kesini?"


"Duduklah," suruh Tommy dengan wajah datar.


Santi mulai menghempaskan bokongnya di depan Tommy. Lalu Tommy memberikan amplop kepada Santi. Santi pun akhirnya menerima surat itu sambil bertanya, "Ini surat apa pak?"


"Pagi ini kamu bukan karyawan lagi di sini!" tegas Tommy.


"Tapi pak?" sela Santi yang tidak terima dirinya dipecat. "Salah saya apa pak kok dipecat? Saya sudah bekerja semaksimal mungkin."


"Kamu tahu kesalahan kamu apa? Kamu sudah mencuri uang dua milyar di perusahaan. Kamu sudah membuat orang-orang yang memiliki prestasi kabur dari perusahaan. Karena kamu sudah menyuruh dan menjadikan dirimu sendiri sebagai ratu. Kamu sudah memaki para pegawaiku dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Dan satu lagi kamu membuat kesalahan fatal. Kamu sudah menyuruh atasanmu sebagai pesuruh. Yang lebih parahnya lagi kamu sudah memakinya dan juga membentaknya. Jadi saya akan memberhentikan kamu secara tidak hormat dan tanpa pesangon sama sekali," jelas Tommy.


Santi terkejut dengan apa yang dilihatnya. Kenapa Tommy mengetahui kalau dirinya yang mengambil uang. Setelah itu Santi menampik atas semuanya. Akan tetapi Tommy tidak percaya dengan perkataan Santi. Semuanya sudah terekam jelas dan ada bukti. Akhirnya Tommy mengusir Santi dari perusahaan sini. Mau tidak mau Santi harus pergi meninggalkan D'Stars Inc.


Hamburg Jerman.


Hampir enam belas jam mereka berada di awan. Mereka akhirnya mendarat di mansion pribadi milik Chloe. Baru pertama kali Sascha menginjakkan kakinya di tanah Jerman. Sascha sangat kagum sekali dengan bangunan megah yang berada di depannya. Sascha hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil berkata dalam hati, "Ternyata orang tuaku adalah sultan."


"Ayo masuk sayang," ajak Gerre yang merangkul Sascha.


Gerre mengajak sang putri masuk dengan diikuti oleh Dewa dan Chloe. Ketika masuk mereka disambut oleh banyaknya pengawal dan pelayan yang sudah berdiri tegak. Mereka membungkukkan badannya sambil memberi hormat, "Selamat datang Tuan besar Gerre, Nyonya besar Gerre!"


"Bubarlah. Persiapkan kamar untuk putriku dan calon suaminya!" perintah Gerre dengan tegas.


"Baik tuan," sahut mereka serempak.


Mereka membubarkan dirinya masing-masing. Lalu Chloe memegang tangan sang putri sambil bertanya, "Apakah kamu lapar?"


"Tidak ma. Aku tidak lapar. Aku masih kenyang," jawab Sascha.


"Kalau begitu ikut mama yuk!" ajak Chloe ke tempat yang dimana Sascha akan ingat masa kecilnya dulu.

__ADS_1


__ADS_2