Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
CURHATAN DITA.


__ADS_3

Setelah melihat Dita tidur, Sascha akhirnya memutuskan untuk keluar. Memang sebagai seorang wanita, cerita Dita sangat miris sekali. Entah kenapa dirinya tidak rela jika sang adik perempuannya diperas begitu saja. Apakah ini ada dendam jaman dulu? Ketika Dewa menghancurkan karir seseorang? Mungkin saja. 


Sascha tidak habis pikir, kenapa mereka sangat membenci Dita. Padahal Dita sendiri tidak pernah membuat masalah sedikitpun dengan mereka. Bahkan Sascha menilai Dita adalah seorang gadis yang sangat ramah sekali. 


Tidak sengaja Sascha melihat Dewa tertidur dalam posisi duduk. Ia tersenyum manis dan mendekatinya sambil membungkuk, “Ayah Dewa.”


Sontak saja Dewa terkejut dan melihat Sascha. Ia tersenyum manis sambil memegang tangannya dan menarik tangan Sascha sambil berkata, “Kamu nggak tidur?” 


“Aku nggak tidur. Aku tidak mengantuk,” jawab Sascha sambil memegang tangan Dewa,


“Ada apa?” tanya Dewa sambil menatap teduh wajah Sascha.


“Selama ini Dita nggak pernah cerita apa yang sebenarnya terjadi. Dia takut dengan kalau kamu marah,” jawab Sascha sambil tersenyum manis dan duduk di samping Dewa,


“Aku tahu itu. Dita itu orangnya sungkan sama siapapun. Dia memang jarang sekali untuk meminta tolong sama siapapun. Kalau memiliki masalah. Jika masalah itu tidak selesai maka dirinya akan meminta ke aku atau Timothy yang membereskan masalah itu,” jelas Dewa yang menjelaskan watak Dita sebenarnya. “Kalau masalahnya begini, dia harus cerita. Nggak bisa diam-diaman seperti ini.”


“Kemungkinan dia takut. Kemarin dia meminta uang sebesar lima milyar untuk mengganti penalti. Sekarang dirinya tidak berani meminta lagi,” ucap Sascha yang tersenyum.


“Itu tidak jadi masalah. Kemungkinan besar dia sungkan sama kamu. Karena aku sendiri sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki seorang anak,” kata Dewa.


“Benar juga apa kata kakak. Tapi apakah aku tidak membantunya kita adik iparku sedang membutuhkan bantuan seperti itu? Mungkin saja Dita menganggapku kakak ipar yang jahat dan melarang suaminya memberikan bantuannya?” tanya Sascha yang membuat Dewa menahan tawanya. 


“Perkataan kamu bisa dibenarkan. Menurutku benar. Dita adalah seorang artis yang di mana lebih paham dengan realita kehidupan jaman sekarang. Takutnya kamu melarangku untuk membantu kamu,” tambah Dewa yang menganalisis keadaan.


“Sekarang kita harus ngapain?” tanya Sascha.


“Jadilah bodyguard Dita untuk sementara. Aku akan membayarmu dengan harga mahal,” pinta Dewa.


“Aku nggak butuh bayaran kamu. Aku butuh masalah Dita cepat selesai,” ucap Sascha. 


“Aneh. Aku sedang menyuruh seseorang memakai bayaran dan baru kali ini menolaknya dengan cepat,” ujar Dewa.

__ADS_1


“Aku tidak menolaknya. Yang aku butuhkan adalah masalah Dita cepat selesai. Jangan sampai masalah ini berlarut-larut,” jelas Sascha yang membuat Dewa menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu, aku akan memberikanmu Black card untuk Dita. Selesaikanlah masalah ini hingga tuntas!” perintah Dewa yang merogoh kantongnya dan mengambil dompet lalu meraih kartu hitam itu.


“Kalau aku buat belanja bagaimana?” tanya Sascha dengan serius.


“Terserah kamu. Lagian juga itu black card hanya untukmu. Kamu berhak memakainya dan membelanjakannya apapun yang kamu mau,” jawab Dewa sambil menyerahkan ke Sascha.


“Kamu sangat baik sekali. Tapi aku tidak akan membelanjakannya begitu saja. Oh ya... Tepat jam tujuh aku bersama Dita berangkat ke Jakarta naik mobil,” ujar Sascha yang menatap Dewa.


“Kalau begitu kita berangkat bersama saja. Aku ke Jakarta ingin mengecek seluruh laporan keuangan milik anak-anak. Sedangkan Timothy biarkan saja di New York. Kemungkinan besar awal tahun mereka akan kembali ke Jakarta. Tahun depan biarkanlah Papa berada di sini. Kalau mama biarkan berada di Jepang. Cepat atau lambat kita akan kembali ke formasi awal,” kata Dewa. 


“Oh... Iya, bagaimana dengan kasus video hot yang akan disebar oleh orang itu? Jika sampai kakek tahu, bisa jadi Nakata’s tidak aman. Seluruh dewan direksi maupun para pemegang saham akan berontak dan menggantikan posisi kakek dengan orang lain,” jelas Sascha lagi.


“Jadi kamu mengetahui itu semuanya?”


“Iya, aku mengetahui semuanya dari Dita. Maka dari itu, Dita sangat ketakutan sekali dengan masalah Aku harap masalah ini akan cepat selesai. Agar posisi kakek aman.”


“Baiklah,” sahut Sascha. 


Tepat pukul 07.00 malam, mereka meninggalkan villa tersebut. Mereka menuju ke Jakarta dengan hati lumayan baik. Di dalam perjalanan Almond bersama Marty mengikutinya dari belakang. Kedua pria itu sangat kompak untuk menjadi pengawal bayangan.


Di dalam perjalanan Dita mendapatkan telepon dari seseorang. Sascha tahu, siapa orang yang menghubunginya. Sascha memintanya untuk membesarkan volumenya. Dengan senang hati Dita menerimanya. Lalu Dita membesarkan volume itu dan menaruh ponsel itu ke arah Sascha.


“Bicaralah. Biarkanlah aku yang mendengarnya,” pinta Sascha sambil menyuruh Dita berbicara.


Akhirnya Dita berbicara dengan tegas. Sebelum mengeluarkan suaranya, Sascha memintanya untuk tidak berbicara terlalu kaku. Dita menyapa orang tersebut, “Selamat malam.”


“Malam,” sapa seseorang yang berada di seberang sana.


“Dit, kamu jadi mengirim uangnya? Kalau kamu nggak mau ngirim uangnya malam ini. Aku akan menyebarkan video itu hingga para fansmu tahu. Kalau kamu adalah seorang artis yang bermuka dua.”

__ADS_1


Sascha menganggukkan kepalanya dan menyuruh Dita untuk menyebarkannya. Dita pun menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Sebarkanlah video itu. Aku tidak peduli lagi dengan ancamanmu itu.”


“Kamu serius? Kamu nggak takut jika karirmu rusak?” tanya orang itu yang berbasa-basi tapi hatinya bercorak kegirangan.


“Ngapain takut sama kamu? Oh iya...mulai sekarang aku tidak akan mentransfer uang sebesar pun kepada kamu. Jika kamu ingin memeras, dapat atau lambat aku akan mengadukan masalah ini ke pihak pengacaraku,” jelas Dita dengan tegas.


“Oh berarti kamu ngancam beneran ya.aku yakin pengacara mu itu tidak bisa ngapa-ngapain. Hanya sekali saja, pengacara mu itu akan kalah di persidangan,” ejek orang itu. 


“Aku sudah tidak peduli lagi dengan kamu. Lebih baik kamu yang akan mendapatkan ganjarannya. Jika kamu ingin menemuiku. Kamulah Aku di lokasi syuting seperti biasanya. Karena aku sedang menunggumu sampai pagi. Ya kalau kamu punya nyali,” sindir Dita yang mendapat acungan jempol dari Sascha.


 Sambungan terputus.


Sascha akhirnya tertawa terbahak-bahak. Ia langsung menatap wajah Dita sambil berkata, “Kamu tahu video yang akan disebarkan itu hanyalah omong kosong saja.”


“Kenapa bisa begitu?” tanya Dita. 


“Masa kamu nggak tahu, kekuatan Kakak iparmu itu,” sahut Dewa. 


“Apa maksudnya?” tanya Dita sekali lagi. 


“Video yang disebar itu adalah video yang dimana isinya hanyalah editan saja. Padahal yang bermain dia Dia juga. Kalau dipikir-pikir orang itu akan playing victim. Kamu tenang saja. Jangan panik dan gegabah seperti itu. Biarkanlah Kakak iparmu itu yang akan bermain dengan cantik namun elegan,” ujar Dewa. 


“Ish... Kenapa Kak Dewa nggak bermain?” tanya Dita yang mulai curiga kepada Dewa.


“Karena aku sedang malas untuk menghabisi seseorang. Makanya kasus ini akan ku lemparkan kepada Kakak iparmu saja. Setelah selesai janji kamu harus ditepati. Mau tidak mau kamu harus pergi ke New York bersama kami,” jawab Dewa yang malas untuk mencampuri hal-hal urusan perempuan. 


“Rasanya Kakak ini sangat aneh sekali. Bahkan saking anehnya tidak mau mengurusi hal-hal urusan perempuan,” kesal Dita. 


“Jangan kesal seperti itu. Aku sama Kakak iparmu itu berbeda. Aku kalau ada masalah seperti ini. Aku tidak akan mengeluarkan uneg-unegku langsung. Aku menghajar mereka dengan tanganku. Kalau Kakak iparmu ini masih memiliki perasaan sedikit sama orang itu. Kalau orang itu masih memperpanjang. Cepat atau lambat Kakak iparmu akan memanggil pengacara perusahaan untuk mengurusi kasus ini,” jelas Dewa yang membuat Dita bergidik ngeri. 


“Lalu aku harus bagaimana? Apakah aku harus diam terlebih dahulu? Atau aku hanya duduk manis sambil masalah itu selesai?” tanya Dita secara bertubi-tubi.

__ADS_1


__ADS_2