
"Tidak. Dia tidak akan menghancurkan hidupnya begitu saja," jelas Dewa.
"Lalu apa yang akan kakak lakukan?" tanya Sascha yang mengaduk bumbu salad.
"Masalahnya adalah Dita tidak memikirkan pernikahan. Dia masih belia. Usianya masih dua puluh tahun. Aku ingin dia tetap menjalankan hari tanpa harus sakit hati dan patah hati. Aku ingin dia hidup bahagia," jelas Dewa.
"Kalau begitu ayolah kita makan salad," ajak Dewa yang sudah tidak sabar menunggu salad buatan Sascha.
"Ayolah... aku sudah selesai," ucap Sascha yang membuat Dewa tersenyum.
Selesai membuat salad, Sascha membagi salad itu menjadi dua. Ia menyodorkan salah satu salad itu ke Dewa. Lalu mereka menuju ke ruang tamu untuk melanjutkan beberapa pekerjaannya itu.
"Bagaimana cabang Surabaya?" tanya Dewa.
"Semuanya sudah terlihat jelas kalau Pak Desta telah melakukannya. Banyak sekali kejahatan yang telah diperbuatnya. Aku sendiri tidak mengerti apa yang telah dilakukan pada perusahaan cabang untuk saat ini," jawab Dewa yang meraih ponselnya lalu menghubungi Bima.
Melihat Dewa sedang menghubungi seseorang, Sascha mulai mengeprint satu persatu semua bukti. Ia hanya bisa menyembuhkan nafasnya dengan kasar. Sascha tidak akan membiarkan ini terjadi. Ia harus bertindak cepat.
Jari lentik Sascha akhirnya menari dengan indah di atas keyboard. Ia menyelidiki banyak rekening yang belum terjamah. Ia sangat terkejut sekali karena menemukan banyak dana dari perusahaan cabang. Ia memberitahukan kejahatan itu ke Dewa.
"Kak Dewa," panggil Sascha tanpa melihat Dewa sedikitpun.
Dewa langsung mengangkat wajahnya dan melihat Sascha dengan serius. Ia bergegas berdiri dan mendekati Sascha. Ia akhirnya duduk di samping Sascha sambil melihat banyaknya transaksi yang mencurigakan.
"Fix... aku tidak akan bisa mempertahankannya lagi. Oke... aku sudah menghubungi Bryan untuk kesini bersama Tommy dan Bima," jelas Dewa.
"Kakak mengajak Kak Tommy?" tanya Sascha yang mulai mengerutkan keningnya.
"Iya... aku memang sengaja mengajaknya. Dia masih manager HRD di perusahaan D'Stars Inc. Aku tidak akan memecatnya untuk saat ini," jawab Dewa.
"Kenapa harus dipecat?" tanya Sascha yang mengerutkan keningnya.
"Aku tidak memecatnya kecuali dia telah mengundurkan dirinya sendiri," jelas Dewa yang tidak akan memecat siapapun.
"Syukurlah. Aku tidak ingin masalah pribadi dicampur dengan masalah pekerjaan," ucap Sascha.
"Kamu enggak marah sama Tommy?" tanya Dewa yaang merangkul Sascha.
"Aku tidak marah sama siapapun. Aku hanya heran sekali sama keluarganya Kak Tommy. Kok bisa mereka seperti itu?" tanya Sascha balik.
"Iya sih. Aku sadar jika di dunia ini manusia tidak ada yang sempurna sedikitpun. Bisa-bisanya dia ingin mencari orang sempurna," kesal Dewa.
"Namanya manusia. Biarin saja. Aku yakin mamanya sangat berambisi sekali ingin memiliki seorang menantu yang sempurna secara fisik dan harus dari kalangan bangsawan," celetuk Sascha.
"Bangsawan sih bangsawan. Dia hanya pamer ke teman sosialitanya yang satu kumpulan itu isinya ibu-ibu yang awet muda dan memamerkan semua barang-barang mewahnya," jelas Dewa.
__ADS_1
"Ini sangat unik sekali. Bagaimana kalau aku masuk kesana?" tanya Sascha yang membuat Dewa matanya membelalak sempurna.
"Ah... rasanya itu tidak cocok sama sekali. Sepertinya aku harus mencari cara agar kamu tidak berkumpul sama mereka," Jawab Dewa yang sengaja tidak mengizinkan sang istri untuk berkumpul disana.
"Kenapa aku tidak boleh berkumpul?" tanya Sascha.
"Aku takut kamu tidak kuat mental menghadapi ibu-ibu seperti itu yang ngegas," jawab Dewa.
"Ah... itu bahaya sekali," jelas Sascha yang benar-benar ketakutan.
"Rasanya aku salah ngomong. Sepertinya ibu-ibu sosialita tidak begitu dech. Mereka hanya pamer harta dan kekayaan," tambah Dewa yang tidak ingin mendapatkan amukan dari ibu-ibu dari kalangan atas.
"Rasanya aku harus kembali ke habitatku dech. Aku ingin menjadi hacker profesional. Aku ingin mencari informasi yang ada," jelas Sascha.
"Itu terserah kamu. Aku hanya kamu tidak terpengaruh dengan para ibu-ibu sepertimu," kata Dewa yang tangannya sengaja masuk ke dalam baju Sascha.
"Hmmmp... aku hanya ingin memakan salad.tapi kenapa tanganmu masuk ke dalam bajuku?" tanya Sascha yang membiarkan tangan Dewa.
"Maaf tanganku ingin mencari mainannya. Aku tidak bisa membiarkan tangan berhenti begitu saja," jawab Dewa sambil berbisik.
"Terserahlah. Aku hanya ingin makan salad," ucap Sascha yang sengaja menahan unutk tidak mend*sah.
"Kamu menahannya?" tanya Dewa.
"Kamu harus melakukannya. Aku lebih menyukai suara kamu itu," pinta Dewa yang membuat mata membulat sempurna.
"Jangan lakukan itu. AKu tidak ingin melakukannya pas sore hari begini. Sebentar lagi anak-anak kesini," pinta Sascha yang menahan hasratnya.
Seketika Dewa teringat dengan Tommy dan Bima. Ia langsung menghentikan aksinya agar tidak keterusan. Hingga akhirnya Dewa menjauhi Sascha dan kembali lagi ke tempat duduknya.
Sejam telah berlalu, Sascha menyudahi semua pekerjaannya. Sudah terlihat jelas musuh utamanya siapa saja. Sascha dan Dewa menunggu kedatangan mereka.
Hanya selang beberapa menit, Bryan, Bima, Timothy dan Tommy datang. Mereka langsung menyerahkan banyaknya dokumen ke Dewa.
"Apa ini?" tanya Dewa.
"Seluruh bukti-bukti yang mengarah ke mereka. Ternyata seluruh petinggi langsung mengambil uang itu tidak kira-kira," jawab Bima yang selesai menemukan banyak bukti.
"Lalu mereka bagaimana?" tanya Sascha yang baru saja dengan membawa beberapa gelas tes hijau dan menaruhnya di sana.
"mereka tidak berada di kantor.Kamu tahukan kalau hari ini adalah hari Minggu?" tanya Bima balik.
"Apa?" pekik Sascha.
"Memang hari ini adalah hari Minggu. Aku sengaja membiarkan kamu untuk tidak keluar rumah," jawab Dewa yang membuat Sascha menekuk wajahnya.
__ADS_1
"berarti aku lembur dong?" tanya Sascha yang menatap wajahnya ke Tommy.
"Ya itu benar. Kami memang lembur melakukan pekerjaan ini. Jika aku tidak melakukannya di hari libur, maka mereka akan bekerja. Kita sendiri tidak bisa mencari banyak bukti," jelas Tommy.
Sascha hanya bisa memasang wajahnya dengan sendu. Ia ingin terjun langsung ke lapangan. Akan tetapi mereka tidak mengajak Sascha. Hal ini dikarenakan ada Dewa di sampingnya.
Mereka tidak mungkin menyuruh istri sang bos besarnya bekerja. Mereka tidak ingin melakukannya. Karena itu mereka sengaja melakukannya sendiri.
"Aku tidak mungkin mengajak kamu bekerja di hari Minggu," jelas Tommy.
"Aku juga tidak mengizinkan kamu melakukannya. Karena kamu juga sedang hamil," ucap Dewa yang sengaja tidak mengizinkan Sascha ke perusahaan.
"Hmmp... sepertinya kamu harus terkurung di tempat sepi," jelas Bima.
"Beginilah kalau wanita yang sudah menikah. Harusnya kalian mengajakku untuk melakukan penyelidikan. tapi kenapa kalian bekerja sendirian seperti ini?" tanya Sascha yang mulai ngambek.
"Waduh, Wa... gue pamit dulu. Rubah kecil sedang mengamuk," pamit Timothy.
Mereka akhirnya berpamitan lalu pergi meninggalkan Sascha. Ia tidak menyangka kalau masalah ini menjadi tragis seperti ini. Mereka tahu kalau emosinya ibu hamil tidak menentu.
"Kamu kok ngambek begitu sih?" tanya Dewa yang mulai merasakan perasaan yang tidak enak.
"Aku enggak ngambek. Masa kamu membiarkan aku disini. Aku sudah minta sama kamu. Jika ada pekerjaan seperti ini. Aku ingin ikut sama mereka," jawab Sascha yang menatap tajam ke arah Dewa.
Merasa ditatap seperti itu, Dewa langsung menelan salivanya dengan susah payah. Ternyata emosi ibu hamil kalau sedang ngambek ternyata sangat mengerikan seperti ini. Dewa mendekati Sascha lantas memeluknya. Ia mengelus-elus nya dengan lembut.
"Kenapa kamu ngambek seperti itu?" tanya Dewa.
"Ada yang harus aku bicarakan sama kamu,'' jawab Sascha yang mulai mereda dan menatap wajah Dewa.
"Apa itu?" tanya Dewa.
"Pak Desta menyimpan beberapa berkas penting di ruangannya. Kakak tahu, di meja itu ada laci bawahnya adaa sebuah brangkar. Aku mau kesana ingin mengambil beberapa berkas di sana. Disana ada berkas milikku yang terpendam. Semuanya itu tentang kebijakan perusahaan yang disembunyikan sama Pak Desta," jelas Sascha yang membuat Dewa lagi.
"Terus?" tanya Dewa.
"Kemungkinan besar banyak sekali kejahatan yang tersimpan di sana. Kalau kakak enggak percaya. Kita kesana malam ini juga," jawab Sascha.
"Sepertinya itu sangat mengasyikkan sekali. Aku harus melakukannya," Ucap Dewa yang tersenyum manis.
"Apa kamu mau mengajakku?" tanya Sascha.
"Pastinya. Aku ingin mengajakmu kesana. Aku tidak ingin membuat kamu ngambek. Jatah tidur bersama kamu malam ini hilang. Aku tidak bisa memelukmu lagi," jawab Dewa.
"Apakah itu penting buat kamu?" tanya Sascha.
__ADS_1