
"Buat apa aku mencegahnya?" tanya Dewa.
"Karena aku telah bermain sebanyak delapan kali," jawab Sascha yang membuat Dewa tersenyum.
Dewa mendekati Saacha lalu melingkarkan tangannya di pinggangnya. Ia mendekatkan wajahnya sambil tersenyum manis. Ia tidak menyangka kalau Sascha saat ini sangat malu sekali.
"Aku malah menyukainya," sahut Dewa. "Buat apa aku menghentikan untuk sementara waktu?"
"Tapi aku tidak perlu mendominasi permainan semalam," jawab Sascha yang membuat Dewa tersenyum manis.
"Enggak perlu mataku sama kau. Lagian kamu sekarang sudah sangat pintar sekali bisa memuaskan aku. jangan malu pada suami kamu sendiri. Karena kita sudah melakukannya berkali-kali," jelas Dewa sambil menatap Saacha.
"Jujur, Aku sangat malu sekali. Kamu tidak tahu kalau wajahku ini sangat memerah dan panas. Akku tidak mungkin melakukannya," kesal Sascha.
"Jangan kesal begitu. Kamu sudah membuat aku bahagia. Kamu sudah mendapatkan tiket emas. yang dimana tiket itu bisa digunakan berulang kali. Kamu bisa mendominasi lagi," jelas Dewa.
"Sudah ah, jangan bahas begitu. Jujur aku sendiri sangat malu sekali," sahut Sascha sambil mendorong tubuh Dewa.
Ketika Sascha mendorong tubuh Dewa, Sascha tidak bisa melakukannya. Karena tubuh Dewa sangatlah kuat berdiri. Dewa malah memeluknya sambil menatap wajah Sascha.
"Apakah kamu saat ini sedang sibuk sekali?" tanya Dewa.
"Aku tidak sibuk," jawab Sascha. "Kamu memangnya mau ngapain?'
"Aku ingin mengajakmu ke dokter kandungan. Aku ingin mengetahui bagaimana dengan kabar anakku," jawab Dewa.
Sascha menganggukan tanda setuju. Ia sendiri sudah mengetahui kalau dirinya hamil. Namun saat ini dirinya belum sempat untuk mengunjungi dokter kandungan.
"Baiklah aku setuju. Aku ingin sekali memeriksakan kandunganku bersamamu. Tapi beberapa hari ini kamu sangat sibuk sekali. Jadi terpaksa menundanya," ucap Sascha sambil tersenyum manis. "Aku akan berganti pakaian."
Dewa melepaskan Sascha lalu membiarkannya berganti pakaian. Ia keluar dari kamar dan menunggunya di depan.
__ADS_1
Saat di depan, Dewa bertemu dengan Gerre bersama Devan. Ia baru sadar kalau kedua pria itu dituntut menjadi hidup sederhana seperti ini di desa.
"Papa," panggil Dewa yang membuat mereka menoleh.
"Ada apa?' tanya Devan yang mengerutkan keningnya.
"Maafkan aku," jawab Dewa dengan lemah sambil menghempaskan bokongnya.
"Ada apa?" tanya Gerre.
"Maafkan aku. karena aku telah mengajakmu hidup seperti ini dari kemewahan," jawab Dewa yang ketakutan.
Devan mengulas senyumnya dengan hangat. Ia tidak menjadi masalah jika dirinya hidup sederhana seperti ini. Ia juga bukan pria manja seperti orang kira. Lalu, bagaimana dengan Gerre? Gerre juga sama dengan Devan. Ia sudah mempelajari pola hidup sang putri. Ia tahu bagaimana dirinya hidup sederhana. Ia pernah merasakan challenge dari sang istri. Bahkan untuk saat ini dirinya sangat bahagia.
"Kenapa kamu? Apakah kamu sungkan dengan kami?" tanya Devan.
"Ia pa. Aku tahu kalian hidup dalam kemewahan. Aku tahu kalian hidup bergelimangan harta. Aku salah mengajak kalian kesini," jawab Dewa yang agak menyesal.
"Iya ayah. Aku dulu pernah hidup sederhana dan sering banget menyembunyikan idenditasku kepada setiap orang. Aku sendiri membuang gelar pangeran Nakata's Groups. Tapi untuk kalian aku sangat menyesal," jawab Dewa.
"Enggak usah menyesal seperti itu. Seenggaknya kamu sudah menyentil papa untuk hidup seperti ini. Kamu tahu klan Nakata adalah klan terkaya di Negara Jepang. Bahkan kekayaannya juga sudah terdengar ke Asia begitu juga dunia. Kamu belum tahu siapa kakekmu? Kakekmu adalah pria yang cukup sederhana. Maka dari itu kamu enggak usah menyesal dengan keputusanmu ini," jawab Devan yang membuat sang putra tersenyum kembali.
"Hmmp... aku kira papa tidak bisa hidup seperti ini?" tanya Dewa.
"Kami semuanya bisa. Hidup sederhana mungkin. Lalu merasakan malaam sunyi. Saking sibuknya membuat hati menjadi damai. Beda lagi di kota. Di kota sangat bising sekali. Mau tidur enggak bisa. Terkadang tetangga membuat konflik dengan parah membuatku tidak bisa tidur. Inilah papa harapkan Selatan ini,' jelas Gerre yang dulu pernah merasakan hidup sederhana.
"Enggak usah sungkan sama papa. Kelak jika anak-anakmu lahir. Ajarkan mereka hidup sederhana. Jangan pernah diberikan kemewahan. Biarkanlah anak-anakmu mandiri dan bisa menjalani hidupnya dengan baik tanpa harus merendahkan orang lain," sambung Devan yang memberikan motivasi hidup.
Dewa menganggukkan hidupnya. Memegang benar apa yang dikatakan oleh sang papa. Ia akan mengajarkan sederhana mungkin. Ia berharap anak-anaknya kelak tidak merendahkan sesamanya.
"Kamu tahu kenapa papa membiarkan kamu mencari Aulia?" tanya Devan yang membuat Dewa bertanya-tanya.
__ADS_1
Dewa menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu dan tidak mau tahu dengan jawabannya sang papa. Ia sekarang sudah menemukan Aulianya. Bahkan sekarang Aulia sudah menjadi miliknya dengan utuh. Bahkan Aulia sekarang membawa calon anaknya kemana-mana.
"Sekarang sudah ketemu pa. Mungkin aku sekarang sudah tidak membutuhkan jawabannya lagi," jawab Dewa.
"Kenapa? Seharusnya kamu tahu kenapa?" tanya Devan.
"Karena Aulia sudah berada di dalam pelukanku," jawab Dewa.
"Memangnya apa jawabannya apa?" tanya Gerre.
"Aku sudah menyuruhnya hidup menderita. Aku memang pernah mengusirnya dari rumah. Aku pernah menyuruhnya berpetualangan mencari keberadaan Aulia," jawab Devan.
"Dengan naluriku, aku bisa menemukan keberadaan Aulia," sambung Dewa.
"Good boy," sahut Devan sambil meninju lengan kekar Dewa.
"Ya... aku memang sengaja memakai naluriku," imbuh Dewa yang membuat Gerre tersenyum.
"Kamu pastinya mencari Aulia dengan cinta?" tanya Gerre.
"Iya pa. Aku sendiri tidak menyangka kalau Sascha adalah Aulia saat itu. Jika tahu kalau Sascha semenjak SMA, kemungkinan besar aku akan menikahinya dengan cepat," jawab Dewa.
"Hmmp... Sepertinya kamu harus menunggui waktu yang tepat. Dan inilah waktu tepat untuk memilikinya. Sekarang cinta kalian memang sudah dipersatukan. Dan tugasmu selanjutnya adalah menjaganya dari pria yang tidak bertanggung jawab. Sekarang banyak yang sedang mengincar Sascha. Terutama dari pebisnis. Mereka menganggap Sascha adalah permata," tambah Gerre.
"Darimana Papa tahu soal itu?" tanya Dewa.
"Hey... kamu jangan meremehkan aku. Aku sering sekali mendapatkan lamaran dari banyak pria. Mereka tahu kalau aku sudah menemukan Sascha. Setelah itu mereka jatuh cinta dan berbondong-bondong melamar Sascha dari email. Mereka menawarkan mahar banyak. Termasuk pangeran dari beberapa negara," jawab Gerre dengan jujur.
Dewa menelan salivanya dengan sudah payah. Sebegitukah istrinya sangat cantik sekali? Ya... memang Sascha sangat cantik. Mulai dari wajah dan jiwanya. Gerre pernah memposting foto ketika bersama Sascha di sosial medianya. Lalu saat itu juga mereka mulai mengintip sosial media milik Sascha. saat itulah mereka para pria mulai mengincarnya.
Mereka sangat menginginkan Sascha menjadi kekasihnya. Bahkan ada yang berani melamar Sascha secara terang-terangan. Namun Gerre menolaknya secara halus. Gerre tahu kalau Sascha sangat menyukai Dewa.
__ADS_1
"Saingan dech," celetuk Devan.