
Siang menjelang Gerre kembali ke mansion lalu mencari keberadaan Sascha. Ketika mencari keberadaan Sascha, Chloe segera mendekatinya sambil membawa buah apel, "Sascha lagi tidur di kamar."
"Ayo, ikut aku!" ajak Gerre.
"Kemana?" tanya Chloe.
"Ikut sajalah. Aku ingin bicara sama kamu," ucap Gerre.
Gerre langsung memegang tangan Chloe sambil mengajaknya ke ruangan kerja. Chloe akhirnya menurut saja dan mengikuti Gerre. Sesampainya di sana Gerre membantu sang istri duduk.
"Ada apa?" tanya Chloe.
"Enggak ada apa-apa," jawab Gerre yang selesai membantu sang istri duduk.
"Kalau begini kamu lagi terkena masalah," tebak Chloe kepada sang suami.
"Aku enggak ada masalah sama sekali. Tapi putri kita yang sedang membuat masalah," ujar Gerre.
"Masalah apa?" tanya Chloe. "Tadi Sascha bercerita kalau dirinya sudah membeli saham milik DT Groups sebesar sembilan puluh persen."
"Kalau itu memang aku memberikan uang kepadanya untuk membeli saham. Kamu tahukan kalau Devan terkena masalah pelik? Perusahaannya akan segera gulung tikar jika tidak diselamatkan," jawab Gerre.
"Lalu apa masalahnya?" tanya Chloe.
"Masalahnya hanya satu yaitu Sascha telah membeli saham sebesar sembilan puluh lima persen milik Theodore Yi," jawab Gerre yang mengusap wajahnya.
"Apa?" pekik Chloe.
Sontak saja Chloe sangat terkejut dengan jawaban sang suami. Bagaimana bisa Sascha membeli saham milik Theodore Yi sebesar sembilan puluh lima persen? Apa yang Sascha yang akan dilakukannya setelah ini? Padahal mereka tahu kalau Theodore Yi adalah rival utama Devan. Ya... Rival di semua bidang.
"Iya itu benar. Dia sangat berani menantang Theodore Yi," jawab Gerre.
"Habislah putriku," ucap Chloe secara lirih.
"Putrimu tidak akan habis. Malahan Sascha memiliki bakat bisnis dari aku. Dia adalah fotokopiku," puji Gerre.
"Lalu bagaimana dengan Theodore yang akan menyerang Sascha kelak?" tanya Chloe yang cemas.
__ADS_1
"Tinggal aku beri ilmu sedikit saja. Jika Sascha bisa menguasai ilmuku yang satu ini bisa dipastikan Sascha bisa melakukannya," jawab Gerre yang tersenyum manis.
"Aku memang sudah menyelidikinya jauh-jauh hari tentang semuanya. Meskipun Sascha hidup di keluarga kurang mampu, namun Sascha bisa mengolah dirinya dengan baik. Ditambah lagi ilmu pengetahuannya pun sangat luas. Sascha sering sekali memenangkan perlombaan cerdas cermat yang dilakukan antar sekolah, antar kabupaten, antar provinsi. Bahkan Sascha sering mendapatkan hadiah. Selain itu juga Sascha sering berbisnis kecil-kecilan untuk menyambung hidup keluarga Pak Andika," jelas Gerre.
"Ternyata Tuhan telah menganugerahkan putri yang baik dan cerdas buat kita ya. Aku sangat bersyukur sekali karena putri kita termasuk gadis yang pemberani," puji Chloe.
"Besok aku akan mengakuisisi perusahaan Masters Corps. Aku sudah menghubungi pengacara untuk segera ke sini,'' ujar Gerre yang tersenyum manis.
"Apakah itu tidak bahaya buat Sascha?" tanya Chloe.
"Tidak. Aku sangat menginginkan Sascha berkembang dan menjadi wanita yang sukses. Aku akan meminta Dewa untuk membantunya,'' jawab Gerre. "Janganlah kamu khawatir. Aku yakin Sascha adalah wanita serba bisah.''
Jakarta Indonesia.
Jaya yang selesai membersihkan tubuhnya teringat akan Sascha. Dirinya membayangkan bersanding dengannya. Jujur saja Jaya menjadikan Sascha sebagai ratu di kerajaan cintanya. Lalu bagaimana dengan Risa? Risa adalah seorang boneka untuk dijadikan alat agar bisa mencapai keinginannya.
Flashback On.
Minggu pagi di Senayan.
"Amin,'' teriak Ricky yang paling kencang sendiri. "Buruan nikahnya. Nanti lu jadi perjaka tua lapuk.''
"Cih... perjaka tua lapuk. Mana ada seorang badboy bisa menjadi perjaka tua lapuk?" kesal Jaya.
"Kok gue baru sadar kalau lu adalah badboy?' tanya Ricky.
"Kemana aja lu selama ini? Bukannya gara-gara lu gue jadi badboy?" tanya Jaya yang malas sambil memutar bola matanya dengan malas.
"Bener juga apa kata lu,'' kesal Ricky yang sebenarnya tidak mau disalahkan.
"Ayo mari pagi! Keburu siang!" ajak Jaya yang menarik baju Ricky.
Jaya adalah seorang pria tampan nan berkharismatik. Dia adalah seorang CEO dari perusahaan Gunadi Grup yang bekerja di bidang properti. Jaya memiliki sifat yang baik dan lucu. Namun dibalik itu semuanya Jaya adalah seorang psikopat yang mengerikan.
Pagi ini Jaya mengajak Ricky lari pagi ke Senayan. Jarak antara mansion ke Senayan cukup dekat. Bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Ketika lari pagi Jaya tidak sengaja menabrak seorang gadis hingga terpental jauh beberapa meter. Sangking kuatnya gadis itu bisa jatuh tersungkur. Devan kesalnya gadis itu memaki orang yang sudah menabraknya tadi.
"Sungguh sial hidupku pagi ini! Aku ditabrak oleh gardu listrik,'' omel gadis itu yang mulai berdiri sambil menatap tajam Jaya.
__ADS_1
Akan tetapi Jaya memasang wajah tidak berdosa. Jaya juga tidak meminta maaf kepada gadis itu malahan pergi meninggalkannya.
Gadis itu melepaskan sepatunya dan melemparkan ke arah Jaya sambil memakinya dengan kencang. "Dasar kampret!"
Bugh!
Jaya langsung jauh tersungkur karena sepatu terbang tadi. Sedangkan gadis itu hanya menatap sinis kepada Jaya sambil tersenyum meledek. Sebelum mengambil sepatu, gadis itu ditahan oleh temannya sambil menatap matanya, "Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa,'' gadis itu.
"Sascha, ceritakan padaku. Kenapa sepatumu bisa terbang ke sana?'' tanya temannya lagi.
Gadis itu adalah Sascha Herdiansyah yang telah berani melemparkan sepatu ke arah Jaya. Sascha sangat kesal sekali karena bertemu dengan pria yang tidak memiliki akhlak. Ingin rasanya Sascha menghajarnya. Namun temannya memberikan sebuah kode agar tidak berbuat onar.
"Chika,'' panggil Sascha sambil menatap sepatunya.
"Ada apa lagi sih?" tanya Chika nama gadis yang tadi menghalangi Sascha.
"Aku mau mengambil sepatu. Kamu tahu sepatuku itu hadiah ulang tahun Kak Dewa ketika tugas di Batam,'' jawab Sascha.
"Ambil saja gih! terus kamu minta maaf sama itu orang,'' suruh Chika.
"Minta maaf!" ucap Sascha dengan nada tinggi.
"Ya iyalah kamu minta maaf. Kamu sudah melemparkan sepatumu terbang ke kepalanya,'' jawab Chika.
"Cih... enak sekali aku yang meminta maaf. Dia sendiri menabrak aku hingga jatuh,'' kesal Sascha.
"Apa kamu bilang?" tanya Chika.
"Ya... dia yang melakukannya," kesal Sascha. "Kenapa aku meminta awan?"
Sascha langsung pergi meninggalkan Chika menuju ke Jaya yang masih berpura-pura pingsan. Padahal dirinya sedang ingin dibangunkan oleh Sascha. Menurut Jaya, Sascha itu sangat santun sekali. Bahkan lucu ketika marah.
Sascha melewatkan saja Jaya yang masih tidur di aspal. Ia tahu kalau Jaya sedang berpura-pura agar dirinya mendapatkan simpati. Namun Sascha paham apa yang akan terjadi -selanjutnya. Setelah mengambil sepatu Sascha pergi meninggalkan Jaya dengan santai.
Jaya yang tahu Sascha lewat hanya bisa menghembuskan nafasnya. Bagaimana bisa Sascha tidak menolongnya? Diam-diam Jaya mengepalkan tangannya sambil bersumpah dalam hati, "Jika aku tidak dapat mendapatkanmu. Aku pastikan kamu tidak akan pernah menikah dengan gadis lain."
__ADS_1