Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
SIAPAKAH DIA?


__ADS_3

"Ya itu benar. Sebenarnya aku sendiri terkejut mendengar secara langsung dan melihatnya. Kalau aku tidak ditahan sama Bima saat itu. Kemungkinan besar aku menghantam mereka dengan tanganku sendiri,' jelas Dewa.


"Sebegitu Kah parahnya jika melihat kalian bertengkar?" tanya Sascha.


"Kamu tahu sendiri, kalau aku mengamuk seperti apa? Jujur aku sendiri hanya ingin membela kakek dari mereka. Namun mereka masih saja membuat ulah," jawab Dewa yang mengingat kejadian di masa lalunya.


"Kalau seperti ini memang tidak bisa dibiarkan. Aku memutuskan untuk berpura-pura menjadi wanita lemah dan bodoh," kesal Sascha yang tiba-tiba saja memiliki ide.


"Kenapa kamu menjadi wanita lemah? Aku lebih suka menjadi kamu menjadi wanita tangguh dan tahan banting seperti mama," tanya Dewa yang mengerutkan keningnya yang mulai berbaring di ranjang.


"Itu terpaksa. Aku memang sengaja melakukannya. Aku memiliki sebuah ide untuk menjebak mereka," jawab Sascha yang membalikkan badannya dan melihat Dewa.


"Terserah kamu. Yang penting kamu tidak melakukan pukulan fisik," ucap Dewa sengaja membiarkan Sascha melakukan apa yang disukanya itu.


"Aku harap kamu tidak marah sama aku," pinta Sascha.


"Aku tidak marah sama kamu," ucap Dewa. "Ayo kita tidur siang!"


Sascha menganggukkan kepalanya. Entah kenapa dirinya selalu mendapatkan peringatan tidur siang dari sang suami. Padahal dirinya sudah dewasa dan akan menjadi seorang ibu. Disisi lain, Dewa memang sengaja memberikan pengertian lebih buat Sascha. Karena dirinya ingin menjaga kesehatan Sascha.


Sementara di saung ada tiga orang tampan sedang menikmati hari terakhir di sawah. mereka adalah Bima, Timothy dan Ian. Disana mereka sedang merasakan angin yang berasal dari pegunungan.


“Rencana kalian setelah kasus ini selesai?“ tanya Timothy.


“Aku memilih untuk membangun pabrik di Indonesia,” jawab Bima.


“Aku masih bertahan untuk bekerja bersama Dewa. Aku tidak ingin kembali ke perusahaan. Biarkan perusahaan dipegang sama adik-adikku. Aku lebih baik mengalah dan membiarkan mereka berkembang dan mempelajari bisnis dengan tekun,” jawab Ian dengan jujur.


“Berarti sama seperti aku?“ tanya Timothy yang memang memiliki rencana sama dengan Ian.


“Kita memang sudah dewasa. Ngapain kita harus bertengkar sama saudara sendiri? Aku sudah memiliki target di usia ke tiga puluh sekian. Aku harus memiliki perusahaan sendiri. Inilah yang sedang aku rancang sendiri,” jelas Ian.

__ADS_1


“Itu benar. Apa yang akan kita cita-citakan bisa tercapai. Asalkan kita berusaha dengan kuat,” sahut Timothy.


“Lalu bagaimana dengan kamu?“ tanya Ian sambil menatap Timothy.


“Tetap menjadi asistennya Dewa. Bukan berarti aku tidak bisa membangun  perusahaan. Tapi aku memang sengaja mendedikasikan hidupku untuk Dewa,” jawab Timothy.


“Semuanya itu tidak jadi masalah. Jika merasa nyaman. Kenapa tidak? Lagian kedua orang tua kita tidak menyuruh untuk bekerja di perusahaannya sendiri,” ujar Bima yaang meraih ponselnya.


“Ya hitung-hitung mencari pengalaman di luar perusahaan keluarga. Aku sendiri sangat malas sekali jika ada jam yang menuntut harus sedia kala. Di perusahaannya Dewa, mau jungkir balik pun, Dewa tidak akan protes. Bahkan sendiri pernah bekerja di atas gunung. Yang penting pekerjaan selesai,” jelas Ian.  


Mereka sengaja menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Mereka sengaja membetulkan pernyataan dari Ian.


“Apa benar Eric akan mengikuti jejak sang papa nantinya?“ tanya Bima.


“Dengar-dengar begitu. Tapi Eric tidak mau mengurusi barang-barang itu. Jujur selama ini Eric ingin hidup normal. Memiliki keluarga yang sangat utuh. Bisa bermain bersama anak-anaknya. Maka dari itu Eric memutuskan diri untuk mundur dari organisasi hitam milik papanya itu,” jawab Timothy.


“Lalu bagaimana dengan papanya?“ tanya Bima. “Kalau tidak mau biasanya akan disiksa dan dipaksa.“


“Sepertinya kamu mengenal jelas. Siapa ayahnya Eric sebenarnya?“ tanya Ian.


“Black Tiger berkaitan dengan papanya Eric. Saat pembangunan Black Tiger, papanya memang sengaja ikut membantu dan mengarahkan Papa Devan sebagai ketua. Bahkan Papanya Eric mengenal betul siapa Kakek Aoyama,” jelas Timothy.


“Tapi kenapa sekarang Black Tiger dipegang sama Mama Tara ya?“ tanya Bima.


“Saat Papa Devan mengundurkan diri dari dunia mafia. Dengan terpaksa Kakek Aoyama memilih Mama Tara sebagai ketua mafia selanjutnya. Dan itu memang sudah diuji melalui misi yang sengaja melibatkan mama. Jadinya tidak heran, jika mama berhasil membawa Black Tiger hingga ke puncak dan ditakuti oleh banyak orang,” jelas Timothy.


“Memang Mama Tara patut diperhitungkan sebagai ketua mafia wanita yang sangat menggila. Jika belum selesai melakukan misi, Mama Tara memang sengaja tiada henti akan menyelesaikan masalah itu,” tambah Timothy.


“Rasanya kita harus berbangga memiliki seorang mama angkat yang sangat hebat sekali,” puji Ian kepada Mama Tara.


“Ya harus. Tapi jangan lupakan sama mama kandung kita. Aku sangat merindukan mama,” ucap Bima dengan sedih.

__ADS_1


“Hehehe… Besok kita akan kembali ke New York Kita bisa bertemu dengan para mama,” saran Timothy yang sebenarnya sangat merindukan mamanya.


“Baiklah,” balas Ian dengan serempak.


New York City, Amerika Serikat.


 Seorang wanita yang berusia kurang lebih delapan puluh tujuh tahun sedang menikmati suasana mendung. Wanita itu sengaja menunggu seseorang di rumahnya.


Sembari menunggu, wanita itu menulis sebuah rencana. Yang dimana rencana itu dibuat untuk menghancurkan perusahaan terbesar di dunia ini.


“Aku yakin kali ini Gerre dan Chloe tidak akan bisa mengambil perusahaan ini. Karena perusahaan ini akan menjadi milikku selamanya,” ucap wanita yang berusia senja itu dalam hatinya.


Tak lama datang seseorang yang memakai baju rapi dan juga formal. Namun wajah pria itu sangat menyeramkan. Bahkan bisa dikatakan kalau pria itu terlalu menyeramkan. Semua orang yang berada di restoran itu langsung bergidik ngeri. Mereka langsung membuang wajahnya dan tidak ingin mantapnya lama-lama.


“Kalau seperti ini terus. Bisa-bisa kita mati di tangan orang itu,” batin para pengunjung dengan serempak.


Namun pria itu tidak ambil pusing. Pria itu menghempaskan bokongnya yang berhadapan mancing dengan wanita berusia senja itu.


“Untung kamu datang dengan cepat,” ucap wanita itu.


“Oh nyonya Anette. Maafkanlah karena keterlambatan aku ini. Di simpang jalan sana ada sebuah mobil kecelakaan. Lalu kami terjebak macet,” jelas pria itu.


“Yang namanya jalanan memang begitu. Kita nggak bisa memprediksi apa yang akan terjadi nantinya. Apakah kamu sudah siap untuk mendapatkan perintah dariku?“ tanya Anette sambil menatap wajah pria yang menyeramkan itu.


“Dengan senang hati. Kapan akan dimulai perebutan perusahaan Khans Company itu?“ tanya pria itu.


“Secepatnya kalo bisa. Aku tidak ingin berlama-lama menunggumu untuk melaksanakan tugas.


“Karena sang pemilik tidak ada disini. jadi kita harus menyelesaikan dengan cepat. Ketika kembali mereka akan terkejut dengan perusahaan yang sudah berganti nama,” ucap Anette dengan senyuman simpulnya.


“Lalu bagaimana bayaranku?“ tanya pria itu.

__ADS_1


__ADS_2