Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
VILLA MUNGIL.


__ADS_3

Dewa mengajak Sascha mulai mendekati halaman villa itu. Mereka melihat hamparan pasir putih mengelilingi villa tersebut. Dengan senyum sumringah Sascha merasakan kebahagiaan tiada tara. Lain lagi dengan Dewa, coba berpikir bagaimana caranya untuk mengurung Sascha di dalam kamar selama bulan madu? Karena tempat ini sangat cocok sekali buat mereka yang sedang memadu kasih.


"Rasanya aku ingin bermain pasir putih itu. Ayolah Kak cepetan masuk! Aku ingin menaruh semua barang-barangku di sini. Setelah itu kita bermain pasir putih," rengek Sascha yang tidak tahu akal bulus sang suaminya itu.


"Kalau seperti ini aku tidak bisa melakukan apa-apa. Bagaimana caranya aku bisa mengurung wanitaku ini? Agar tidak kabur selama bulan madu," ucap Dewa dalam hati.


Sebelum Antonius pergi, Antonius memberikan sebuah kunci ke Sascha. Lalu Antonius berpamitan dan meninggalkan mereka. Melihat sang pembantu wisatanya itu pergi, Sascha melihat Dewa seperti orang yang mulai aneh. Tiba-tiba saja Dewa merebut kunci itu sambil tertawa jahat.


Wanita cantik itu hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Ternyata oh ternyata papanya sudah menjebaknya. Kenapa bulan madu ini sangat mencekam? Sedangkan dirinya sudah menyusun banyak acara termasuk bermain pasir putih.


Lalu Dewa membuka pintu itu dan melihat ruang tamu sangat mungil. Entah kenapa Papa mertuanya itu suka sekali dengan villa mungil seperti ini? Seharusnya Papa mertuanya itu membuat villa sangat besar sekali? Apakah dirinya bermimpi karena salah masuk villa?


Tak lama telepon Sascha berdering. Iya segera mengambil ponselnya di kantong celana dan melihat nama yang tertera di layar benda pipihnya itu. Lalu dirinya tersenyum karena yang menghubungi adalah papanya sendiri.


Sasha menggeser tombol hijau itu dan menyapa orang di seberang sana dengan nada lembut, "Papa."


"Apakah kamu sudah sampai ke villa?" tanya Gerre.


"Sudah barusan saja," jawab Sascha sambil melihat Dewa membuka pintu.


"Apakah kamu menyukai villa yang Papa berikan itu?" tanya Gerre balik.


"Sangat suka sekali. Meskipun mungil aku sangat menyukainya. Semoga selama bulan madu ini tidak ada orang yang datang ke villa ini," jawab Sascha yang tidak ingin bulan madunya terganggu oleh orang lain.


"Tenang saja. Villa itu sepi dari jangkauan orang lain. Kamu bisa menikmati bulan madumu bersama Dewa sialan itu!" geram Gerre yang mulai lagi dengan ulahnya itu.

__ADS_1


"Kalau begitu syukurlah. Aku tidak mau Kak Dewa ngamuk seenaknya. Papa tahu kan kalau Kak Dewa sekarang you know lah," kata Sascha yang tangannya ditarik oleh Dewa dan merebut ponsel itu lalu dimatikan.


"Kak Dewa," pekik Sascha.


"Ada apa?" tanya Dewa. "Tidak perlu kau menghubungi papamu itu. Mari kita merasakan bulan madu di villa mungil ini. Aku ingin mengurungmu di dalam sini selama bulan madu."


"Aish... Mulai lagi. Nggak papa... Nggak Dewa... Semuanya sangat posesif sekali terhadapku. Okelah lebih baik aku pergi tidur saja. Hari ini sangat melelahkan bagiku," kesal Sascha.


Dewa langsung menarik tubuh mungil Sascha dan memeluknya dengan erat. Lalu pria itu mencium bibir sang istri dan tidak melepaskannya sama sekali. Kemudian Dewa menatap wajah sang istri sambil berkata, "Aku harap kamu tidak marah sama aku."


"Buat apa aku marah? Kakak ini aneh sekali. Oh iya kak... Di sini kan nggak ada orang sama sekali? Lalu aku makan bagaimana?" tanya Sascha.


"Tenang saja. Di kulkas sudah ada isinya. Kamu bisa membuat makanan sesuka hatimu," jawab Dewa. "Villa ini sangat kecil sekali. Aku baru sadar kalau tempat ini sangat mungil."


"Aku juga baru tahu kalau ada villa mungil seperti ini. Tapi jujur meskipun mungil dan kecil villa ini sangat mewah," ucap Sascha.


"Sepertinya aku memiliki ide," jawab Sascha.


"Ide apa? Jangan-jangan kamu ingin berbisnis villa ya?"


"Kemungkinan sih iya. Bagaimana kalau aku membuat villa seperti ini? Tapi aku ingin memiliki beberapa unit saja."


"Buat apa?"


"Aku ingin bisnis di bidang wisata. Memiliki villa mungil dengan harga yang terjangkau."

__ADS_1


"Ngapain kecil-kecil seperti itu? Lebih baik kau buat hotel nggak tinggi buat disewakan oleh orang-orang yang sedang berlibur di sini."


"Apakah kakak mendukungku?"


"Ya aku selalu mendukungmu. Belajarlah dengan giat nanti kamu akan mendapatkan hasilnya."


"Aku sudah sering belajar Kak. Aku ingin membuat beberapa vila mungil itu."


"Kapan-kapan kita bahas itu aja ya."


Sascha mengganggu tanda setuju. Lalu dirinya mulai mengelilingi villa itu. Matanya dimanjakan oleh motif-motif klasik nan indah. Entah kenapa Sascha sangat penasaran sekali terhadap villa itu.


"Aku menemukan sebuah fakta yang berada di villa itu. Faktanya adalah setiap desain yang berada di dinding itu menceritakan seorang pria sangat mencintai istrinya. Aku tahu maksud dari desain tersebut. Kalau aku boleh menebak bahwa villa itu kemungkinan besar memiliki sejarah di dalam kehidupan papa," celetuk Sascha.


"Kamu benar. Papamu itu sangat posesif sekali kepada Mama. Ditambah lagi bapakmu itu tidak mau kehilangan mamamu," jelas Dewa.


Dewa segera mengajak saja pergi melihat kamarnya. Setiap kaki melangkah sepasang suami istri itu dimanjakan dengan gaya eropa simple tapi cantik. Jujur mereka mengacungkan jempol buat Gerre.


"Siapa ya yang membuat villa seperti ini? Jauh dari keramaian kota. Jauh dari kebisingan. Jauh dari para tetangga yang suka ngegosip. Setahuku mendirikan villa di sini itu tidak mudah. Harus izin sana-sini dulu," jelas Sascha.


"Nah makanya itu. Aku kan tanya secara serius tadi. Kenapa kamu membuat villa mungil seperti ini? Seharusnya kamu membuat hotel yang berukuran besar sekalian. Kamu bisa menentukan harganya berapa? Saran dari aku ya. Kalau kamu membuat hotel di tempat wisata seperti ini. Kamu bisa mematok harga mahal. Tapi mahalnya bagaimana ya? Jadi kamu survei terlebih dahulu berapa tiap harga hotel itu di tempat wisata seperti ini. Lalu kamu tentukan sendiri di bawah harga standar dari hotel tersebut. Apakah kamu paham soal itu?" tanya Dewa.


Sascha mengangguk tanda setuju. Benar apa yang dikatakan oleh Dewa. Dirinya tidak boleh gegabah untuk membangun villa-vila mungil seperti ini. Ia harus survei terlebih dahulu dan mematok harga di bawah standar lalu menghitung keuntungan dan kerugian tempat tersebut.


Memang bagi Sascha ini sangat berat sekali. Ingin membantu para wisatawan menginap di tempatnya. Dirinya harus menghitung konsekuensinya terlebih dahulu. Setelah mendapat ilmu Sascha akan meminta bantuan suaminya untuk berdiskusi lebih lanjut.

__ADS_1


Setelah kedatangannya, Sascha menuju dapur dan melihat isi ruangannya tersebut. Betapa bahagianya ia mendapatkan reward dari sang papa. Ternyata sang Papa sengaja menyiapkan villa ini. Ditambah lagi dengan tempatnya sangat damai. Ingin rasanya Sascha tidak ingin pulang ke kota lagi.


"Bagaimana kalau kita menginap di sini hingga akhir hayat?" tanya Sascha.


__ADS_2